
"Mungil ..." Daddy Bara menggenggam tangan Bunda Sasa yang terasa bergerak.
"Mas," Bunda Sasa melihat jika tangannya sudah terpasang inpus dan berbaring di ranjang pasien.
"Aku kenapa, Mas?"
"Tensi kamu rendah, sayang." Daddy Bara membelai rambut Bunda Sasa.
"Fatih Gimana Mas?" Tanya Bunda Sasa Panik.
"Tenang sayang, Fatih baik-baik aja."
Raysa membuka gorden pemisah antara pasien. Terlihat Fatih sedang duduk di atas brankar sambil melambaikan tangannya kepada Bunda Sasa.
Bunda Sasa menitikan air matanya dan tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah, kamu baik-baik aja, sayang."
"Pasti cepat baik dong Mbak, dari tadi Layca nya gak berpindah loh." Ujar Mami Mili menghampiri brankar Bunda Sasa.
Bunda Sasa menatap wajah sang putri yang sudah bersemu merah.
"I-ica cuma merasa bersalah dengan Fatih. Maka nya Ica jagain Fatih." Ujar Raysa dengan bergetar.
"Hah, masih belum mau ngakui cinta juga." Gumam Fatih.
Raysa melirik kearah Fatih, kemudian mencebikkan bibirnya.
"Mbak." Mama Kesya datang dan mencium pipi Bunda Sasa.
"Key."
"Mbak gimana keadaannya? baik-baik aja kan?"
"Alhamdulillah key, udah lebih enakan. Apalagi lihat Fatih sehat seperti itu."
Mama Kesya pun tersenyum. Daddy Bara sudah memperingati semua orang untuk tidak mengatakan kepada Bunda Sasa, jika Lengan Fatih terkena peluru yang meleset. Itu juga anjuran dari Opa Bram, yang mengatakan takut jika Bunda Sasa kembali mengalami trauma nya yang lama tak pernah muncul.
"Bundaaa ...." Teriak Quin dan memeluk Bunda Sasa.
"Quin, Bunda masih sakit loh." Mama Kesya memperingati Quin yang memeluk Bunda Sasa dengan erat, sampai Bunda Sasa meringis.
"Hikss.. Maaf... Bunda gak papa kan?"
"Bunda gak papa sayang."
"Alhamdulillah, "
"Hai Bunda sayang." Lucas datang dengan baju dokter nya, dan memeriksa keadaan Bunda Sasa.
"Permisi ya buk, saya periksa dulu tensi nya." Ujar seorang perawat yang datang dengan Lucas.
"Tensi nya 90/60 dok." Ujar Suster kepada Lucas.
Lucas menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih. Suster pun undur diri setelah berpamitan kepada semua orang.
"Udah mendekati normal Dad, tapi tetap Bunda harus banyak istirahat dan makan buah-buahan serta sayuran yang sehat."
"Buah?? Taraaaa ... lihat Mami bawa apa." Ujar Mami Ara dan mendekati semuanya dengan keceriaan.
"Makan buah kan? nih, Ara udah bawain Mbak Sa buah apel, jeruk, mangga. Ini mangga nya maaniissss banget Mbak. Mbak mau buah apa? biar Ara kupasin deh."
__ADS_1
Kedatangan Mami Ara membuat suasana menjadi ramai. Tak akan ada yang menyangka jika Jordan dan Jonathan yang pendiam adalah anak dari Mami Ara. Bagaimana tidak, kedua anak nya memilki sifat sang Papa.
"Mangga alpukat ya? Mbak mau dong." Ujar Bunda Sasa.
"Siap Mbak, Ara kupasin ya.."
Mami Ara pun mencuci buah Mangga tersebut sebelum mengupasnya.
"Sayang.." Oma Shella yang baru saja datang langsung memeluk Bunda Sasa dan menangis.
Ya, selama keadaan belum aman, tak ada keluarga yang boleh menjenguk Nafi dan Anggel. Bahkan keluarga yang sudah berada di dalam rumah sakit, tak di izinkan keluar. Karena tak ingin terjadi apa-apa kepada anggota keluarga. Seperti apa yang terjadi kepada Anggel.
"Mami, Sa gak papa kok."
"Hiks .." Oma Shella merelai pelukannya, dan memandang Daddy Bara dengan kesal.
Plaak ..
Oma Shea memukul lengan Daddy Bara bertubi-tubi.
"Udah Mami bilangan, Jangan bawa menantu kesayangan Mami. Kamu ini, lihat, kamu jadi bahayain dia." Kesal Mami Shella.
"Ampun Mi, Ampun.." Daddy Bara menerima pukulan Oma Shella, namun juga meminta ampunan kepada Oma Shella.
"Mi, udah Mi." Mama Kesya menenangkan Oma Shella.
Oma shella pun memandang Mama Kesya, dan memeriksa tubuhnya.
"Kamu gak papa kan? Kamu gak terluka kan? Mami dengar si Jamal ikan asin itu mau nyelakai kalian juga bersama ibu nya?"
"Semua udah selesai Mi, bahkan Paula sudah kembali di tahan di penjara. Tapi ..." Mami Kesya menjeda ucapannya, rasanya berat sekali memberikan kabar tentang Jamal.
"Tapi kenapa?" Tanya Oma Shea bingung.
Semua orang yang ada di dalam ruangan menutup mulutnya, terkejut dengan berita yang di berikan oleh Mama Kesya.
"Koma? bagaimana bisa?" Tanya Oma Shella.
"Eem, nanti aja ya Key ceritanya Ma." Ujar Mama Kesya.
Oma Shella pun menghela napasnya, Oma mengerti, karena saat ini bukan lah tempat yang tepat untuk menjelaskan hal seperti itu.
"Taraa, mangga nya udah Ara kupasin. Udah, yang lain jangan tegang wajahnya. Ayoo, senyum.. Semua udah berakhir kan. Semoga gak ada lagi kejadian sepeti ini kedepan nya, Amin.."
"Amiiinn..." Jawab semua orang.
"Nih Mbak, mau aku siapin atau Mas Bara yang siapain?"
"Mbak bisa makan sendiri."
"Aku suapin ya mungil." Ujar Daddy Bara sambil mengambil alih piring yang ada di tangan Mami Ara.
"Ya udah, sebaiknya kita keluar ya. Biar Bunda bisa istirahat." Ujar Lucas mengajak semuanya untuk membiarkan Bunda Sasa beristirahat.
"Iya .."
"Layca, aku mau juga." Tunjuk Fatih kearah mangga yang belum di kupas.
*
"Jadi, saat kami sedang menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi, Paula tiba-tiba saja mengambil pistol dan menodongkannya kepada Quin dan Kesya. Saat itu Agus, selaku pengawal Abi melindungi Quin dan Abi. Sedangkan Jamal melindungi Kesya." Jelas Mama Kesya kepada Oma Shella, Mama Rosa, dan anggota keluarga yang lainnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kamu dan Quin gak kenapa-napa sayang." Ujar Oma Shella.
"Alhamdulillah."
"Oh ya, keadaan Nafi dan Anggel gimana?"
*
"Oma, Lana mohon, Lana ingin melihat keadaan Anggel."
"Lana, Anggel sedang istirahat. Biarin Anggel istirahat yaa." Ujar Oma Mega lembut.
"Sebentar aja Oma."
"Lana, sebaiknya kamu dengar kata Oma Mega ya. Biarin Anggel istirahat dulu." Ujar Mama Puput.
Lana menghela napasnya, ia merasa aneh dengan sikap Oma Mega hari ini. Sedari tadi, ada saja alasan Oma Mega untuk melarang Lana bertemu dengan Anggel.
Saat ini, kamar Anggel dan Nafi telah terpisah. Namun tetap dalam penjagaan ketat.
Dengan lesu, Lana kembali menyeret langkahnya menjauh dari kamar inap Anggel. Di dalam kamar, Anggel mendengar semuanya, karena memang pintu yang tak tertutup rapat. Anggel merasa sang Mami sedikit berubah kepada Lana. Entahlah, Anggel juga tak tau, kenapa Mami Mega melarang Lana bertemu dengannya. Bahkan Anggel di larang untuk mengangkat panggilan dari Lana. Mami Mega sedetik pun tak meninggalkan Anggel sendiri, dan anggel merasa seolah gerak-gerik nya sedang di pantau oleh Mami Mega.
*
Veer menggenggam tangan Nafi yang sedang tertidur pulas. Sejak kejadian malam itu, Nafi tak mau Veer jauh dari nya.
"Nafi masih tidur?" Tanya Quin yang baru masuk kedalam kamar inap Nafi.
"Baru aja tidur lagi, habis minum obat."
Quin mengangguk.
"Abi mana?"
"Oh, Abi sedang pergi dengan Arash. Untuk mengurus segalanya hingga benar-benar situasi kita aman."
Quin menatap Veer, dan Veer membalas menatap Quin. Veer tau, jika saat ini Pasti Quin ingin memeluknya.
"Kemari lah," Veer merentangkan tangannya.
Tanpa ragu, Quin menghambur kedalam pelukan Veer.
"Hikkss ..."
"Hei, kenapa? kenapa menangis?"
"Aku takut Veer, hikss.."
" Tenanglah, bukankah kamu mengatakan jika Abi sedang menyelesaikan semuanya bersama Arash?"
"Hikss, aku takut." Liriknya. "Aku takut kembali kecewa, aku takut Veer, aku takut kembali jatuh cinta. Aku takut jatuh cinta dengan Abi." Tambahnya di dalam hati.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF.