KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 23


__ADS_3

Veer yang mendapatkan kabar jika kaki Quin keselo pun langsung bergerak cepat untuk melihat keadaan Quin. Veer sebenarnya sudah mencoba menghubungi Quin, namun ternyata ponsel Quin tertinggal di rumah. Bisa-bisanya Quin ceroboh hingga meninggalkan ponselnya.


Braak..


" Kamu gak papa?"


Semua mata langsung tertuju kepada Veer yang baru masuk kedalam toko. Untungnya belum ada pelanggan yang datang, karena masih pagi.


" Aku baik.. kamuu.. veer" Quin terpekik saat veer langsung menggendongnya.


Veer membawa Quin keatap, tempat favorit Veer jika menyelesaikan masalah dengan Quin.


" Kamu marah?"


Veer sudah mendudukkan Quin di ayunan. Yaa, atap gedung ini memang sudah di sulap menjadi tempat yang indah, dan sekali lagi, hanya orang spesial yang bisa naik keatas ini. Gak usah di sebut siapa-siapa saja kan orang spesial itu..


Veer berjongkok dihadapan Quin, melihat keadaan kaki Quin.


" Apa sakit?"


Quin masih diam, memandang wajah sang kembaran yang terlihat khawatir.


" Quin.."


" Bagaimana Nafi? apa kamu ada memperhatikan dia seperti ini?"


" Aku sedang tidak membahas Nafi, aku bertanya keadaan kamu, Quin."


" Aku baik, dan aku bisa berjalan."


" Quin.."


" Veer, cobalah buka hati kamu untuk Nafi, dia anak yang baik. Percaya sama aku.."


" Lalu? Apa aku akan memakan makanan dari tangan bibi?"


" Nafi bisa belajar memasak!"


" Bagaimana jika masakannya tidak enak. kamu saja yang pintar masak, tapi cake buatan kamu tidak ada yang enak. semuanya gagal."


" Veer.. itu jelas beda.. aku pasti bisa membuatnya. Kemarin aku sudah membuat satu cake, dan berhasil. Kamu mau coba?"


" Baiklah.."


Quin membuat panggilan kepada Lala, dan meminta mengantarkan cake yang kemarin Quin buat.


" Cobain deh.."


" Hemm, dari wanginya enak, hiasan cake nya juga cantik. " Veer memotong cake dan memakannya.


" Gimana?" Quin sudah menunggu dengan wajah berbinar.


" sedikit terasa pait, " Kembali Veer memasukkan potongan cake tersebut kedalam mulut.


" Bohong banget, kalo pait kenapa kamu makan lagi?"


" hanya menghargai usaha kamu."


Quin mengambil alih sendok di tangan Veer, dan dia mencoba mencicipi rasa cake tersebut.


" Gimana? aku gak bohong kan?"


" Heum, pait.. kok bisa ya.. padahal gak gosong loh.." Quin lemas, usahanya gagal lagi, sudah sebulan Quin mencoba, tapi masih saja gagal, jika begini Papa dan Veer akan memaksanya untuk bekerja di kantor. Quin masih menyukai statusnya sekarang, status yang tidak ada kamera, dan sorot tatapan dari orang yang hanya ingin memanfaatkan dirinya.


Veer mengambil alih sendok dan kembali menyuapkan cake tersebut.


" Jangan di makan, aku takut kamu nanti sakit perut."


" Kamu masih marah dengan aku?'


" Tidak, aku tidak marah. Lagian kamu juga sudah ada Nafi, dan perhatian kamu sudah tentu terbagi."


" Aku tetap ada untuk kamu Quin, sampai seorang pria datang dan menjemput kamu. bahkan aku tetap akan selalu ada, selagi aku masih bisa bernapas."


Veer merasa jika quin akan pergi darinya, ada rasa tidak iklas di hati Veer, Veer sudah menyuruh orang untuk menyelidiki pria yang ada di foto bersama Quin.


" Kamu terdengar seperti pacar aku tau.. "


" Bukannya aku kekasih bayangan mu?"


Quin tersenyum, " Haruskah aku mencari kekasih bayangan yang baru? gimana kalo Zein? Dia belum menikah!!"

__ADS_1


" Aku tidak akan mengizinkannya. cukup aku yang menjadi kekasih bayanganmu" Veer memeluk Quin.


" Tapi kamu memiliki saingan, Lana Selalu mengangap dia kekasih bayangan aku"


" Itu karena dia mencintai kamu. "


" Tapi aku tidak."


" Aku akan tenang jika kamu bersama Lana,"


" Tidak, jika aku bersama dia, akan ada hati yang terluka. dan itu bukan hati ku. "


Veer merelai pelukannya. " Apa kamu menemukan pria lain?"


" Tidak, aku belum menemukannya. Kamu tau, sulit untukku jatuh cinta. "


" Yaa, aku tau. "


" Kamu tidak ke kantor?"


" kamu mengusirku?"


" Yaa, karena aku harus bekerja. Bekerja keras membuat satu cake terenak agar Papa dan Mas Veer ku ini tidak memaksaku untuk ke kantor."


" Waah, kamu sudah mulai bertanggung jawab yaa.."


" Hidup harus punya pilihan kan?"


" Tentu.. Ayo naik.." Veer sudah berjongkok dan memberikan punggungnya untuk Quin. Quin dengan senang hati untuk naik ke punggung Veer.


Di seberang gedung, Abi melihat semua kejadian itu. Abi mengenal pria itu, siapa yang tidak mengenal Safeer Arkana Moza?, Wajahnya selalu tampil di setiap majalah bisnis.


" Jadi dia memiliki hubungan dengan Veer?, lalu siapa pria yang tadi pagi mengecup keningnya?. Atau jangan-jangan... cih,.. pantes saja dia bisa memelihara ular piton. " Abi kembali sibuk dengan orang utan yang baru saja di mandikan.


.


.


Nafi masih memikirkan kejadian tadi pagi, saat Veer ingin berangkat kerja.


" Kamu beristirahatlah, aku sudah menghubungi Tata untuk membawa pekerjaan yang memang membutuhkan tanda tangan kamu."


Veer masih memakai Dasi nya, lalu dia berdecak kesal. " Semua ini salah Quin." Gumammnya.


" Aku tidak menggunakan Dasi dengan benar karena dia yang selalu memakaikannya."


Veer menarik dasinya, dan menyimpulkannya lagi, tapi hasilnya sama saja, tidak rapi. Veer kesal.


" Aku bisa membantu mu. kemari lah.."


" Kau yakin?"


" Kau meremehkan ku?"


Veer hanya mengendikkan bahunya, namun dia tetap berjalan kearah Nafi, dan memberikan dasinya kepada Nafi.


" Mendongaklah sedikit.."


Nafi pun menyimpulkan dasi Veer hingga rapi, mata Veer tidak beralih menatap wajah Nafi yang jaraknya sangat dekat.


' Cantik, alami, terlihat polos, dan sangat imut' batin Veer yang sedang memandangi wajah polos Nafi tanpa make up.


Mata Veer pun turun ke hidung dan kemudian berakhir ke bibirnya. ' Hidung yang mungil, tidak terlalu mancung, dan tidak juga pesek. bibir yang terlihat pink merekah, apa dia tidur menggunakan lipstik, kenapa bibirnya bisa Semerah itu? ah, apa yang kau fikirkan veer, apa kau penasaran dengan rasa bibir itu.?'


" Selesai.."


Cup..


Nafi membelalakkan matanya saat Veer mendaratkan bibirnya di atas bibir Nafi.


" Kam__"


" Kamu sengaja narik dasi aku biar bisa mengecup bibir ku?" Sela Veer sebelum Nafi menghujatnya.


" Apa? "


" Apa kamu penasaran setelah merasakan bibirku semalam?"


" Apa? ka_"


" Sudahlah, aku tidak ada waktu berdebat dengan mu. pagi-pagi berdebat dengan mu bisa membuat rezekiku di patok ayam." Veer pun meraih tas dan ponselnya. Dia melenggang keluar dari kamar Nafi.

__ADS_1


" Apa? dia yang menciumku, tapi dia yang menuduhku? Dasar pria brengsek.. Playboy kampret, kutu kupret.. lelaki kardus..keong beracun..." Seluruh umpatan pun keluar dari bibir seksi Nafi.


Di luar kamar, Veer sedang memegang dadanya, seolah sedang menahan jantungnya untuk tidak keluar. " kau gila Veer.."


.


.


Quin melihat jam yang menunjukkan pukul 3. Quin ingat janjinya kepada Dokter Abi, Quin pun menyiapkan satu potong cake red Velvet dan memasukannya kedalam mika.


" Mau ke mana mbak?" Tanya Lala.


" Ooh, itu.. Dokter Abi memesan cake."


" cieee.. kayak nya ada yang lagi pdkt nih.."


" Huss, jangan berfikir yang macam-macam deh.."


" Iyaa deh.. iyaa deh, yang cintanya hanya untuk tuan muda Veer."


Quin hanya menggelengkan kepalanya, dan melenggang pergi menuju klinik Abi dengan jalan yang sedikit pincang.


" Siang menjelang sore Dok" Quin menyapa Abi yang sedang melihat stok makanan hewan di kliniknya bersama karyawannya.


" Hai Qila." Abi memberikan senyum tipisnya. "Ada perlu apa?"


Quin menunjukkan kotak mika ditanganya. "Bayaran Dokter."


" Ooh, ayo masuk keruangan saya.."


Quin mengikuti Abi masuk kedalam ruangannya.


" Waah, ruangan dokter unik ya.."


Abi menaikkan alisnya sebelah, " Kenapa?"


" Saya fikir tadi bakal banyak gambar hewan ataupun manekin hewan di sini."


" Saya tidak suka patung ."


Quin pun ber o ria. " Oh ya, ini.." Quin memberikan kotak mika yang berisi cake kepada Abi.


" Sepertinya enak.." Abi langsung melahap cake yang menggoda lidahnya.


" Sepertinya saya harus rajin berolah raga setelah ini.."


" Kenapa?"


" kalo tidak saya akan buncit karena makan cake yang sangat enak ini.."


Quin tertawa, tapi tawa Quin menarik perhatian Abi. Abi sempat terpana, namun dia menggelengkan kepalanya. Abi sudah memperingatkan dirinya, untuk tidak terpesona dengan Quin. Ingat, tertarik belum tentu menyukai kan..


" Dokter, sepertinya saya harus kembali.."


" bagaimana dengan kaki kamu?"


" sudah membaik dok."


" Qila, bisa saya meminta nomor ponsel kamu?"


" Untuk?"


" Hanya untuk memberi tahu keadaan Berbi."


" Bukannya di formulir saya sudah menulis nomor ponsel saya ya dok?"


Abi mengerjap, " Oh yaa, saya lupa . Maaf.."


Quin tersenyum, "kalo begitu saya permisi dok."


" Silahkan"


Quin pun meninggalkan klinik Abi.


" Abi, apa yang kamu fikirkan?, Apa kamu ingin memanfaatkannya untuk melupakan Anita?." Fikiran Abi membisikkan dirinya.


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2