
Quin mengantarkan Veer dan Nafi sampai kedepan toko.
" Sampai ketemu di rumah yaa.. pokoknya nanti malam kita berpestaa..."
Quin sangat ceria karena Veer mengatakan akan mengadakan pesta untuk menyambut Kayla dan Zein. ini bentuk rasa bersalah Veer karena tidak dapat hadir saat itu. Quin pun memelik Veer dan Nafi bergantian. Tak lupa pula Quin melambai saat mobil Veer telah berlalu dari hadapannya.
" Qila, saya ingin bicara." Suara bariton yang beberapa hari ini membuat Quin kesal, tiba-tiba saja hadir di belakang Quin.
Quin hanya melirik kearah Abi. " Saya sibuk, permisi."
Bukan Abi namanya jika tidak mampu mewujudkan keinginannya.
" Hanya sebentar." Abi menahan lengan Quin.
" Lepaas.." ujar Quin tajam.
" Pliiss, hanya sebentar..."
" Gak." Quin menghempas tangan Abi, namun naasnya Quin malah terpelekok karena dan hampir terjatuh.
Sial, seharusnya Quin tidak memakai high heels, berhubung hari ini di toko akan kedatangan para dosen dan dekan, maka dari itu Quin harus berpenampilan menarik.
Untungnya Abi sigap dan meraih pinggang Quin. Setelah Quin berdiri dengan baik, Abi melepaskan tangannya.
Rasanya sulit sekali bagi Quin untuk mengucapkan terima kasih, karena Quin sudah terlalu benci dan kesal dengan Abi.
" Hanya sebentar, pliiss.. saya janji.. saya gak akan macam-macam, saya hanya ingin meminta maaf, dan.."
Quin memandang wajah Abi, melihat apa Abi benar-benar tulus meminta maaf kepadanya?, oke.. sepertinya Abi tulus..
" Baiklah, ikut saya.." Quin mengajak Abi keruangannya.
Abi terpana dengan dekorasi ruangan kerja Quin. tidak seperti ruang kerja pada umumnya, dan tidak juga seperti ruang kerja seorang chef, atau pembuat kue?. Ruangan Quin di dominasi dengan warna krem dan pink. Serta banyak pernak-pernik kuda poni. Apa Quin masih kecil? ruangannya ini mirip kamar anak2.
" Langsung saja, "
Suara Quin menyadarkan Abi yang masih terpana dengan dekorasi ruangan Quin.
" Kamu suka kuda poni?"
" Anda di sini tidak untuk membahas ruangan saya, dan apa yang saya suka. langsung saja ketujuan anda yang ingin berbicara dengan saya."
Abi seperti tidak mengenali Quin yang beberapa hari ini berteman dengannya. Quin yang ini sungguh sangat angkuh, dan menyebalkan.
" Baiklah, pertama. Saya minta maaf karena sudah berlaku tidak sopan kepada Nona Qila." Abi menjeda ucapannya, melihat reaksi Quin.
" Saya tidak bermaksud untuk melecehkan Nona, akan tetapi situasi yang mendesak saya melakukannya. Saya terpaksa, dan saya menyesal."
Quin masih menatap Abi dengan tajam, dalam hati, sudah ada api yang berkobar-kobar ingin melayangkan anak panah tepat ke dua lobang hidung Abi. Menyebalkan ....
" Maaf, saya benar-benar minta maaf.."
Quin masih bungkam, dan itu membuat Abi merasa kesal.
'sabar Abi.. sabar... '
" Nona Qila, apa anda memaafkan saya?"
" Entah, sepertinya kekesalan saya ke Anda sudah sampai ke ubun-ubun."
Abi mengerjap. Sekesal itu kah?.
" Maafkan saya Nona Qila. " Abi bersungguh-sungguh.
" Baiklah, tapi jangan di ulangi lagi.."
" Terima kasih.."
Quin masih menatap Abi, kenapa dia masih disitu? kenapa dia tidak keluar dari ruangan Quin?.
" Apa ada lagi?" Tanya Quin akhirnya setelah beberapa menit di landa kesunyian, dan melihat sepertinya masih ada yang ingin Abi katakan.
__ADS_1
" Be-begini. Saat itu saya mengatakan jika Nona Qila adalah pacar saya, dan calon istri saya. Jadi.."
Quin menaikkan alisnya sebelah, ah.. sudah bisa Quin tebak ke mana arahnya.
" Jadi, Kinan mengatakan kepada kakek saya, dan beliau meminta untuk bertemu dengan Nona Qila. calon istri saya."
" Apa?, heh.. maaf ya Dokter Abi yang terhormat. Saya tidak mau berhubungan apapun dengan anda. Cukup hubungan kita hanya dilandaskan atas dokter dan pemilik pasien. Dan tidak lebih dari itu.."
" Saya mohon, bantu saya.. Kakek saya terkena kanker ginjal, dan saya tidak tau berapa lama hidupnya lagi.. Saya mohon."
" Tidak."
" Nona Qila, saya mohon. Cuma Nona yang bisa membantu saya.. Pliss.. saya mohon, mati dan hidup kakek saya berada di tangan anda. biarkan saya sekali saja membahagiakan kehidupan kakek saya."
" Cucu durhaka.."
" Yaa, saya memang cucu durhaka, jika saya tidak memperkenalkan Nona Qila kepada kakek saya.. saya mohon.. Saya akan mengabulkan apapun yang Nona Minta. Saya bisa membelika. Nona mobil baru, atau motor baru? atau.. atau.. saya akan memberikan hewan apa saja yang Nona suka.. saya mohon.."
" Maaf, Anda tidak bisa menyogok saya Dokter. Sebaiknya anda keluar."
" Nona, saya mohoon.." Abi sudah memasang wajah memelas, berharap Quin iba kepadanya.
" Maaf Tuan, sebaiknya anda keluar sekarang, sebelum saya memanggil orang untuk menyeret anda."
" Nona, kita bisa buat kesepakatan, Nona Qila tidak perlu menikah dengan saya, cukup menjadi pacar pura-pura saya.. Saya mohon nona."
Abi sudah frustasi, pasalnya sang kakek yang berada di German sedang menuju ke Indonesia, untuk bertemu dengan wanita yang di sebut sebagai pacar dan calon istri oleh Abi. Dan jika Abi tidak bisa membuktikannya, maka Abi harus bersedia menerima perjodohan yang telah di rencanakan oleh sang kakek.
" Keluar, selagi kesabaran saya masih tersisa."
Sangat terlihat jelas jika napas Quin mulai memburu, menahan amarahnya.
Tokk.. tok.. tok..
" Masuk.."
" Permisi Mbak Qila, maaf ganggu, ada tamu di luar."
" Qila.. "
Quin tidak peduli dengan wajah sendu dan iba milik Abi. Qila berjalan melewati Abi, dan keluar dari ruangannya. Abi hanya bisa menghela napasnya lelah. Usahanya sia-sia, dan Abi salah mengenai Quin.
"Bundaa???"
Qila langsung memeluk tubuh wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik itu.
" Bunda tumben ke sini? ada apa?"
" Gak boleh nih bunda kangen sama anaknya? hmm?"
" Boleh dong.." Quin kembali memeluk Bunda Sasa.
" Oh yaa, Bunda bawa Nasi bakar buat kamu.."
" Oh yaa? waah, quin jadi laperr.."
Tanpa mereka sadari, Abi masih memperhatikan kedua wanita beda generasi itu.
" Eemmm, Dia?" Bunda Sasa menunjuk kearah Abi yang berdiri mematung memandang mereka.
" Ooh, bukan siapa-siapa, cuma dokter di klinik sebelah.. Ayo Bunda.." Quin mengajak Bunda Sasa masuk ke ruangan VIP.
Mata Quin sudah berbinar melihat nasi bakar yang di bawa oleh Bunda Sasa. " Raisa kapan pulang Bunda?"...
Dan, mengalirlah cerita dari Bunda Sasa tentang putri sulungnya.
.
.
" Ila.."
__ADS_1
Kayla yang sedang fokus keponselnya pun terkejut saat Zein memanggilnya.
" Kak Zein.."
" Kamu mau ke tempat Mama Kesya kan?"
" Hmm.."
" Kita pergi bareng yaa..."
" Tapi kak.."
" Udaah, pergi sama Zein aja Kay. Lagian pulangnya kan bisa sekalian juga dengan Zein. Yaa kan Zein?"
" Iya Oma.."
Kayla yang merasa terjebak dalan situasi pun, terpaksa menuruti sang Mama. Padahal Kayla sengaja pergi cepat, agar tidak bertemu dengan Zein, tapi rasanya takdir berkata lain. Huh..
" Anggel gak bareng kita?"
" Anggel sepertinya terlambat, karena dia dinas sore."
Suasana dalam mobil pun terasa dingin, di tambah Kayla dan Zein yang lebih memilih diam.
.
.
" Veer, apa ini cocok?" Nafi memperlihatkan busana yang akan di pakainya untuk nanti malam.
" Cocok, "
" Kalo yang ini?"
" Cocok.."
" Ini dan ini? mana yang paling cocok?"
Veer menaikkan alisnya sebelah, pasalnya baju yang di tunjuk oleh Nafi adalah setelan jeans dan kaos, serta jeans dan kemeja, lalu dress selutut, intinya semua baju yang Nafi tanya adalah baju santai.
" Veer.." Nafi kembali memanggil Veer, karena Veer masih diam dan menatapnya.
" Naf, kita hanya mengadakan acara barbeque di halaman rumah, kenapa kamu pusing ingin mengenakan baju yang mana? Dan asal kamu tau, semua baju itu, cocok dengan kamu."
" Veer, ini pertama kalinya aku bergabung dengan sepupu mu, aku takut jika penampilan ku jelek, dan mereka tidak menyukai ku."
" Naf, dengarkan aku." Veer berjalan kearah Nafi, dan memegang kedua bahunya. Membuat Nafi menatap wajah Veer.
" Jadilah diri kamu sendiri, jangan memikirkan pendapat orang lain. Kamu ya kamu, mereka ya mereka, jika kamu tidak nyaman dengan yang mereka suka, tinggalkan. Karena itu menyiksa diri kamu, maka jadilah diri kamu sendiri, maka kamu tidak akan ragu untuk melangkah."
Mata Nafi masih memandangi wajah Veer. Sebenarnya apa yang di katakan Veer benar, namun Nafi tidak percaya diri dengan apa yang menjadi pilihannya.
" Kamu mengerti?"
Nafi pun menganggukkan kepalanya.
" Good.." Veer mengacak rambut Nafi, membuat getaran hebat dari dalam dada Nafi, bahkan nafi sampai menahan napasnya.
" Bersiap lah, aku tunggu di bawah."
Veer pun berlalu, hingga terdengar suara pintu tertutup, Nafi menghembuskan napasnya.
" Huuff... apa-apan itu? Sungguh membuat orang sesak.."
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF.