
"Ayo .." Abi meraih tangan Quin. Dilepaskannya tas yang menyandang di bahu Quin dan di letakkan nya di atas sofa.
Dengan tangan yang saling bergandengan, Abi dan Quin pun menuju kebun buatan milik Abi.
Abi menggeser pintu kaca itu kesamping, dan berjalan beberapa meter hingga Abi dan Quin berada di kebun buatan milik Abi.
Quin berdecak kagum melihat betapa indahnya kebun Anggur milik Abi. Padahal luas kebunnya Quin perkirakan hanya 10 meter x 6 meter. Ini benar-benar sungguh menakjubkan, belum lagi buah yang bergantungan dan mulai berubah warna menjadi merah keunguan.
"Indah ..." Gumam Quin yang masih di dengar oleh Abi.
"Kamu suka?"
"Hmm, banget. Aku gak nyangka kamu suka berkebun." Ujar Quin sambil menoleh kearah Abi, kemudian ia kembali fokus dan berjalan di bawah teduhnya ranting-ranting yang menjalar di sebuah kawat yang ada di atas kepala Quin.
Abi tersenyum, "Dan kamu juga suka berkebun. Aku gak nyangka bakal dapat istri yang memilki hobi yang sama dengan ku."
"Dari mana kamu tau aku suka berkebun?" Quin menoleh kepada Abi, lebih tepatnya Quin sudah berdiri di hadapan Abi sambil menatapnya curiga.
Abi hanya tersenyum, kemudian ia mengangkat tangannya keatas kedekat kepala Quin. Abi memetik sebuah anggur yang terlihat sudah matang.
Tanpa bicara, Abi membersihkan buah anggur tersebut dan menyodorkannya ke depan mulut Quin. Quin menatap tangan Abi yang memegang sebutir buah anggur.
"Ayo, kamu pasti suka."
Quin pun membuka mulutnya, hingga Abi memasukkan buah anggur tersebut kedalam mulut Quin.
"Eemm, manis banget. Biji nya gak ada" serunya yang masih mengunyah buah anggur.
"Alhamdulillah kalo kamu suka."
Quin menganggukkan kepalanya.
"Kalo mau lagi, petik aja."
"Serius? boleh aku metik nya?"
"Iya, apapun yang My Quin inginkan."
Quin memetik beberapa buah anggur yang masih berada di dalam satu tangkai. Quin memasukkan nya kedalam mulutnya.
"Eeemm, Manis ... Enak Bangeet .." Serunya sambil menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Seperti anak kecil yang sedang bersorak mendapatkan sebuah mainan yang di sukai nya.
"Cobain deh."
__ADS_1
Quin menyodorkan sebuah anggur ke depan mulut Abi, saat Abi membuka mulutnya, Quin menarik tangannya dengan cepat dan memasukkan anggur tersebut kedalam mulutnya.
Abi terkejut, namun ia merasa lucu dengan reaksi yang Quin berikan. Quin menjulurkan lidahnya mengejek Abi karena telah di kerjai olehnya.
"Kalo mau ambil sendiri, kan kebun kamu." Ujar Quin sambil meledek Abi.
Abi gemes dengan bibir Quin yang terus bergerak dengan seksi di mata Abi, sambil memasukkan setiap buah anggur kedalam mulutnya dan mengunyahnya, memasukkannya lagi dan mengunyahnya lagi. Sampai Abi benar-benar ingin mencicipi buah anggur tersebut. Tidak, bukan buah anggur, melainkan bibir Quin.
Quin terkejut saat Abi menarik tengkuknya dan menempelkan bibirnya ke bibir Quin. Lebih tepatnya Abi mengambil buah Anggur yang baru saja Quin masukkan kedalam mulut nya.
Abi memisahkan bibirnya dari bibir Quin, namun jarak mereka masih sangat dekat. Abi mengunyah buah tersebut sambil menetap kedalam mata Quin yang juga menatap matanya.
"Manis, seperti kamu." bisik Abi tepat di depan wajah Quin.
Melihat Quin tak bereaksi, Abi kembali mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka kembali menempel. Abi menghisap dan Melu**t bibir Quin yang sedikit terbuka itu sehingga Quin perlahan menutup matanya di kala Abi mulai menyusupkan lidahnya kedalam mulut Quin.
Mengabsen dan memanjakan lidahnya dengan rasa mulut Quin yang manis. Abi menarik pinggang Quin sampai jarak di antara mereka terkikis habis. Tangan Abi yang satu lagi masih menahan kepala Quin Yang sedikit mendongak karena jarak tinggi mereka yang berbeda.
Abi tersenyum di kala perlahan tangan Quin naik ke lengannya dan mengalungkan tangannya di leher Abi, beserta Quin yang juga ikut membalas ciuman Abi. Abi bersorak bahagia dalam hati, karena merasa yakin jika saat ini dirinya mulai memiliki tempat di hati Quin. Abi berjanji, jika dirinya akan selalu menjadi yang terbaik untuk Quin, dan tak akan mengkhianati kesempatan yang sudah Quin berikan untuknya berada di dalam kehidupan Quin.
Merasa kehabisan napas, Abi merelai ciuman mereka dan menyatukan kening. Meraup oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi kembali paru-paru mereka yang mulai kehabisan stok oksigen.
Abi mengusap bibir Quin yang masih terdapat jejak Saliva nya, Mata Quin masih terpejam dengan apa yang Abi lakukan. Setiap sentuhan tangan Abi, membuat darah Quin berdesir hebat, dan menginginkan sentuhan-sentuhan tangan Abi yang lainnya.
"I love you, My Quin." Bisik Abi, sebelum ia kembali menempelkan bibir nya lagi.
Perlahan Abi mendorong tubuh Quin dan menuntutnya berjalan mundur. Quin mengikuti setiap dorongan Abi yang lembut dengan mengikuti nalurinya. Hingga Abi berhenti mendorong tubuhnya, namun Quin merasakan tangan Abi yang berada di kepalanya perlahan turun meraba punggungnya, kemudian turun ke bokongnya, dan berhenti di pahanya. Quin pun mempererat pelukannya di leher Abi, masih dengan bibir mereka yang saling berpagut.
Quin terkejut dan melenguh saat Abi Mengangkat tubuhnya, refleks Quin mengalungkan kakinya di pinggang Abi, Namun tak membuat ciuman mereka terlepas. Perlahan Abi melangkahkan kaki nya semakin kedepan dengan langkah yang pelan. Quin merasakan jika Abi menaikkan kakinya dan mulai merebahkan tubuhnya di atas sesuatu yang empuk. Quin menebak jika saat ini ia sedang berada di atas sofa outdor yang sempat di lihatnya tadi.
Abi masih terus mencium Quin dengan mengikuti irama yang pelan, Abi bisa menebak, jika Quin belum pernah berciuman sama siapapun, di lihat dari cara Quin membalas ciuman Abi, yang masih terasa kaku. Abi menikmati ciuman Quin yang masih kaku itu, apa lagi saat ini Quin berada di bawah kungkungannya.
Abi melepaskan ciuman mereka sesaat, memberikan Quin waktu untuk menghirup oksigen, sebelum Abi melanjutkan kembali Ciuman mereka ketahap selanjutnya.
Lagi, bibir mereka saling berpagut, hingga perlahan tangan Abi meraba gundukan kembar milik Quin.
"Abhihmmpp.." Lenguh Quin dalam ciuman mereka.
Merasa jika Abi sedang meremas lembut aset kembarnya, Quin dengan cepat menahan tangan Abi yang ingin melakukan hal itu lagi, membuat ciuman intens mereka pun terhenti. Dengan napas yang tersenggal dan saling memburu, Quin menatap mata Abi dengan wajah yang memerah.
"Ma-maaf. Aku belum siap." Lirih nya.
Abi mencerna ucapan Quin, kemudian detik selanjutnya ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku akan menunggu, maafkan aku yang terlalu terburu-buru."
Quin menganggukkan kepalanya sambil menundukkan pandangannya. Quin tak sanggup membalas tatapan mata Abi yang sayu, dan Quin yakin jika saat ini Abi sudah sangat menginginkannya.
Quin merasakan keningnya basah oleh kecupan Abi, kemudian merasakan pergerakan Abi yang berpindah ke samping nya.
Abi memberikan lengannya kepada Quin sebagai bantal, kemudian Abi melihat tangannya satu lagi di bawah kepala, dan menjadikannya bantal untuk nya.
Mereka berdua sama-smaa menatap kearah langit yang biru, yang bersih tanpa awan.
"Warna langitnya sangat indah." Ujar Quin.
"Hmm, Dan sangat menenangkan."
Quin menoleh kapada Abi, begitu dengan Abi. Melihat wajah Quin yang sangat cantik, Abi kembali mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Quin. Hanya sebentar saja, karena Abi tak ingin jika dirinya kelepasan lagi.
Abi pun melepaskan ciumannya dengan terpaksa.
"Bolehkah Aku tidur sambil memelukmu?" Pintanya.
Quin tersenyum dengan wajah yang memerah. Quin pun menganggukkan kepalanya, untuk menyetujui permintaan Abi.
Abi langsung saja menenggelamkan tubuh Quin kedalam pelukannya.
"Terima kasih." Abi menutup matanya sambil tersenyum.
Tak menyangka jika jatuh cinta kepada gadis kaya raya namun sangat sederhana ini begitu menyenangkan.
Selama ini Abi berfikir, jika hati nya tak akan pernah terbuka untuk wanita lain, maka dari itu Abi selalu menanti Anita untuk kembali. Namun siapa sangka? jika hati Abi jatuh kepada gadis yang terlihat sederhana, dan siapa sangka jika dirinya memiliki segalanya di balik kesederhanaannya.
Jatuh cinta kepada Quin adalah satu anugra terindah yang Abi dapatkan. Abi sudah berjanji kepada dirinya dan hatinya, bahwa apapun yang terjadi, dan sampai kapan pun, Abi tak akan pernah melepaskan genggaman tangannya dari Quin.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF
__ADS_1