
Setelah menunaikan solat ashar, Zein dan Kayla pun bersiap untuk menemui seluruh anggota keluarga yang telah menunggu kehadiran mereka.
"Duh, seger banget yang habis keramas," goda Anggel yang mana di angguki oleh Raysa, Desi, dan Quin.
Wajah Kayla langsung memerah, walaupun tak terjadi apapun antara dirinya dan Zein, akan tetapi tetap saja Kayla merasa malu mendengar ledekan dari para sahabatnya itu.
"Zein?" tegur Mama Vina.
Zein yang di tegur pun hanya mengedipkan matanya. Dia tak tahu apa salahnya sekarang.
"Sabar dong, ingat kaki Kayla masih sakit," ujar Papi Vano.
Seketika, Zein membulatkan matanya, yang mana membuat semua orang tertawa terbahak-bahak puas mengerjain pengantin baru tersebut.
Ini semua pasal rambut basah dan juga hairdryer yang tak ada di dalam kamar. Jadi-lah Kayla mengipas-ngipasi rambutnya yang basah hingga tak terlalu basah.
Seluruh anggota keluarga pun bersiap, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.
"Pelan-pelan, Zein," ujar Oma Rosa saat Zein memindahkan Kayla ke dalam mobil.
"Duh, pengantin baru asik di gendong-gendong aja, jadi iri deh," ujar Raysa dengan nada menggoda.
"Kamu mau aku gendong? Sini," bisik Fatih yang mana membuat Raysa meninju perutnya pelan.
Raysa tak peduli dengan ringisan yang Fatih berikan, yang pasti saat ini, Raysa tak sabar menanti hari itu tiba.
Mobil pun mulai melaju dengan berjalan beriringan menuju hotel M Moza. Sesampainya di lobi hotel, Zein kembali menggendong Kayla dan mendudukkannha di atas kursi roda.
Zein mendorong pelan kursi roda yang di duduki oleh Kayla, memasuki lobi dan menuju kamar yang akan mereka tempati untuk bersiap.
Tak hanya Kayla yang duduk di kursi roda. Quin dan Farel juga duduk di kursi roda. Mama Kesya dan Papa Arka tak ingin membuat sang anak kelelahan dengan berjalan kaki memasuki hotel yang super megah dan luas tersebut. Bahkan, Papa Arka memberikan syarat kepada Quin untuk tetap duduk di kursi roda selama pesta berlangsung. Ini semua bertujuan demi kesehatan Quin agar tak mudah letih.
"Wow, cantik banget gaunnya?" puji Quin saat melihat gaun sederhana milik Kayla yang berada di manekin.
Untungnya Kayla tak memilih gaun kembang seperti Quin dan juga Anggel. Kayla lebih menyukai gaun yang sederhana dengan warna putih dan juga tak terlalu wow.
Bukannya tak ingin menggunakan gaun kembang bagaikan tokoh princes, akan tetapi Kayla seolah memiliki firasat akan hal ini. Maka dari itu, Kayla lebih memilih gaun yang biasa-biasa saja, namun tetap terlihat mewah.
Setelah melaksanakan sholat magrib bersama, Zein pun keluar kamar dan memasuki kamar khusus pria. Di mana semua baju dan juga perlengkapan mereka telah di siapkan di dalam kamar tersebut.
Mami Ara menghampiri Kayla yang sedang di make up oleh tim MUA.
"Kayla yakin gak mau pake sepatu?" tanya Mami Ara.
"Iya, Ma. Kakinya sakit pas pake sepatu tadi."
"Hmm, ini ada sepatu flatshoes, cuma ada hak-nya, mau? Lagi pula kan gak di pake untuk jalan."
"Boleh deh, Mi, dari pada pake sendal hotel," ujar Kayla dengan menyengir.
Kayla telah selesai berdandan, begitu pun dengan yang lainnya. Kayla terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang sangat pas di tubuhnya. Walaupun duduk di kursi roda, tetap saja kecantikan Kayla tak berkurang.
Yaa, walaupun keindahan bajunya tak terlihat lagi. Mau gimana lagi, sudah nasib dan takdir yang harus Kayla jalani.
"Ya Allah, Kayla." pekik Oma Rosa saat melihat tanda merah keunguan di leher sang putri.
Kayla yang tak tahu apa-apa pun hanya menatap polos sang Mama.
"Kenapa?" tanyanya.
"Itu, leher kamu." Oma Rosa menepuk jidadnya sendiri.
Kayla yang merasa penasaran pun meminta anak buah Mami Ara untuk menggeser kursi rodanya ke depan cermin.
Kayla membulatkan matanya dan menutup lehernya cepat dengan menggunakan tangannya.
__ADS_1
"Ini kok bisa merah?" seru Kayla dengan wajah merona.
Anggel dan Quin sudah tertawa terbahak-bahak, karena mereka sangat tahu tanda apa itu yang ada di leher Kayla, sedangkan Raysa dan Desi, merasa penasaran dengan tanda yang ada di leher Kayla.
Tadi, saat menggunakan make up, Kayla yang hanya mengenakan bathroom pun tak perhatian dengan sekitar lehernya.
Pantes aja, saat anak buah Mami Ara membantunya memakai gaun pengantin, mereka tersenyum menatap kearah Kayla.
Duh, sungguh malu rasanya diri ini.
"Udah, itu tolong di tutupin. Duh, Zein ini gak sabaran banget sih," gerutu Mami Vina.
"Emangnya kak Vano sabar, Mbak?" tanya Mama Kesya dengan nada menggoda.
"Duh, jadi ke ingat malam pertama kan," ujar Mami Vina sambil tersenyum lebar.
Setelah tim MUA menutupi bekas kissmark yang ada di area leher dan tulang selangka Kayla, Mami Ara pun menyuruh anak buahnya untuk memakaikan sepatu kepada Kayla.
"Buk, sepatunya kekecilan ini," ujar pekerja Mami Ara.
"Masa sih?" Mami Ara pun memakaikan sepatu tersebut kepada Kayla.
"Iya bener, karena kaki kamu bengkak, makanya ini sepatu kekecilan," ujar Mami Ara dengan sendu.
"Maaf ya, sayang," sesak Mami Ara.
"Gak papa, Mi. Lagi pula Kayla emang gak berniat pakai sepatu."
Tak berapa lama pintu terbuka, menampilkan sosok tampan yang sedang memegang sebuah kotak dan berjalan ke arah Kayla.
"Zein? Apa itu?" tanya Mami Vina kepada sang putra.
Ya, sosok tampan yang baru masuk adalah Zein. Zein tak menjawab pertanyaan sang Mami, pria itu langsung berlutut di hadapan Kayla dan menarik kaki sang istri dengan perlahan.
Zein letakkan kaki Kayla di atas pahanya, kemudian dengan perlahan memakaikan sebuah sepatu yang sangat cantik sekali.
Mama Kesya langsung tersenyum dengan wajah yang memerah. Kejadian indah itu kembali terniang dalam benaknya. Di mana Papa Arka memakaikan sebuah sepatu yang sangat cantik, hingga sepatu tersebut menjadikan dirinya sebagai sosok Cinderella si pemikat keturunan Moza.
"Duh, ada yang nostalgia nih," goda Mami Vina yang sangat tahu akan kejadian tersebut.
Tak hanya Mami Vina, Oma Shea dan Oma Mega pun juga ikut menggoda Mama Kesya, sehingga membuat wajah Mama Kesya memerah malu.
"Ada apa nih?" tanya Papa Arka yang baru saja masuk bersama dengan Papi Vano.
"Nih, Ada yang nostalgia." ujar Oma Shella sambil menunjuk ke arah Mama Kesya dan ke arah Kayla.
Papa Arka menggaruk alisnya yang tak gatal dengan senyum yang menggoda. Siapa yang tak ingat akan hal romantis yang pernah di lakukan oleh seorang Raja Arkana Mahaputra Moza.
Karena hal tersebut lah, Oma Laura semakin berniat dan memiliki keinginan untuk menjadikan Mama Kesya sebagai menantunya.
"Emangnya Papa pernah lakuin hal tersebut?" tanya Quin penasaran.
"Tentu, karena asal muasal julukan cinderella di berikan kepada Mama, kamu. Ya karena sepatu itu. Sepatu yang sangat indah," ujar Oma Shella.
Ya, para anak-anak memang mengetahui kisah cinta akan orang tua mereka. Akan tetapi, mereka tak sepenuhnya tau bagaimana semua itu bermula.
"Sepatu yang cantik," puji Mama Kesya kepada sang adik.
"Makasih, Mbak." Kayla tersenyum dengan malu.
Mendengar sebuah kikikan dari Raysa dan Desi, membuat semua orang menoleh ke arah mereka.
"Kenapa tertawa?" tanya Bunda Sasa.
"Lucu aja, kalau Kak Kayla memanggil Mama Kesya dengan sebutan Mbak, kemudian Kak Zein memanggil Mama Kesya dengan sebutan Mama! Lalu? saat mereka menikah? Bagaimana dengan panggilan tersebut?" tanya Raysa dengan bingung.
__ADS_1
"Iya, ya. Bingung jadinya," ujar Desi kemudian.
Mereka tak tahu saja, jika Mama Kesya dan Mami Vina sudah duluan bingung saat anak mereka lahir. Di tambah lagi Anggel yang tak ingin di panggil dengan embel-embek tante di depan namanya, sehingga membuat silsilahnya menjadi hilang.
"Udah, gak usah di bingungin. Intinya, anak mereka akan tetap memanggil Mama dengan sebutan Oma," ujar Mama Kesya akhirnya.
Kebingungan akan panggilan pun akhirnya terselesaikan. Sepertinya keluarga Moza ini, memang memiliki hubungan yang sedikit rumit dan unik.
*
Zein mendorong kursi roda Kayla melewati karpet merah yang terbentang panjang menuju pelaminan.
Walaupun memiliki kekurangan saat ini, setidaknya Kayla masih bisa merasakan yang namanya memotong kue pernikahan dan juga beberapa acara lainnya.
Hanya saja, Kayla tak bisa menikmati pesta dansa.
"Kenapa?" tanya Zein sambil mengusap punggung tangan Kayla.
"Gak ada," Kayla menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Zein tahu, jika saat ini Kayla pasti ingin sekali berdansa seperti yang lainnya. Tak ingin kehilangan moment tersebut, Zein menggendong Kayla ala bridal style dan membawanya ke lantai dansa.
Seluruh anggota keluarga yang tengah berdansa pun langsung bersorak riang saat Zein menggendong Kayla dan membawanya berdansa.
"Kak, aku malu," bisik Kayla sambil memeluk leher Zein.
"Nikmati saja, lagi pula ini pernikahan kita yang pertama dan terkakhir. Moment ini tak akan pernah terulang kembali," bisik Zein lagi.
Kayla tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ngomong-ngomong, tanda yang aku buat di leher kamu kok gak ada ya?" tanya Zein yang mana membuat Kayla kembali merasakan malu saat di kamar ganti tadi.
Tawa Quin dan Anggel yang menggelegar satu ruangan membuat Kayla tak bisa melupakan kejadian memalukan tersebut dalam seumur hidupnya.
"Kakak Ih, ngapain buat merah-merah gitu?" kesal Kayla.
"Tes, hasil dari gogling," jawab Zein enteng dan tersenyum lebar saat mendapati wajah Kayla semakin merona.
*
Acara pesta dansa pun berakhir. Kata dan Zein memang tak berdansa hingga akhir, bisa keram tangan Zein angkat Kayla lama-lama.
Saatnya acara pelemparan buket bunga.
"Luc, ayo sini," ajak Fatih.
"Ogah, males. lagian siapa juga yang mau kawin?" ujar Lucas sambil menyesap minumannya.
"Ayolah, rame-ramein." ajak Fatih sambil menarik paksa tubuh Lucas bersama Jo.
Lucas terlihat malas dan hanya berdiri dengan memegang gelas yang berisi jus jeruknya.
Satu .... Dua ... Tiga ...
Hap ....
Semua mata langsung tertuju kepada Lucas.
Ya, bunga itu kembali terjatuh ke tangan pria dingin dan anti romantis itu.
"Woy, kok ngelemlar ke gue sih? Gue belum mau menikah," pekik Lucas dengan kesal saat tiba-tiba saja bunga itu mengenai dadanya dan terpaksa Lucas menangkap bunga tersebut. Hingga akhirnya buket bunga itu berada di tangannya.
"Kayaknya sebentar lagi Lo bakal nyusul deh. Ini bukan yang pertama loh. Ingat, saat pesta Anggel dan Quin, Lo juga dapatin buket tersebut," ujar Fatih dengan nada mengejek. "Pertanyaannya, lo mau nikah sama siapa?" tawa pun kembali pecah dan membuat Lucas kesal.
"Ini hanya mitos," kesal Lucas dan memberikan buket bunga tersebut kepada Fatih.
__ADS_1
** Hei readers, jangan lupa Vote dan likenya yaa...