KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
Bab 119 " Sunset"


__ADS_3

Kesya merenggangkan ototnya, merasakan pegal yang luar biasa akibat pertempuran panasnya dengan Arka. Seakan-akan tidak ada hari esok bagi Arka untuk menyentuhnya. Dari kolam renang, mereka berpindah ke kamar mandi, lalu berpindah ke kamar, dan lagi berpindah ke Jazuki, hingga tubuh Kesya benar-benar lemas tak bertenaga. Jangankan berjalan ke tempat tidur, untuk berdiri saja Kesya sudah tak kuasa, hingga Arka menggendongnya ke tempat tidur. Tanpa ingin repot mengganti pakaiannya, Kesya langsung saja terlelap saat kepalanya sudah bertemu dengan bantal.


Arka hanya terkekeh mendapati dengkuran halus sang istri yang sangat di cintainya itu. Arka perlahan melepaskan lengannya dari leher Kesya, kemudian menyelimuti tubuh sang istri. Arka mengeringkan rambut Kesya yang masih tergulung handuk, agak tidak terlalu basah.


Di Negara lain, Puput sedang menunggu Ando di toko kue milik Kesya. Sudah 30 menit dia menunggu, tapi Ando tidak kunjung datang. Puput menghela napasnya, kemudian dia bangkit dan berpamitan kepada orang kepercayaan Kesya yang menjaga toko di saat Kesya tidak ada.


" Sa, gue balik ya" Pamit Puput kepada Sasa.


" Loh, gak jadi ketemuannya Mbak?"


" Gak tau, udah 30 menit gak datang orang nya, di hubungi ponselnya juga gak aktif"


" Oh, ya udah Mbak, hati-hati di jalan ya"


Puput mengacungkan jempolnya kepada Sasa, tapi saat dia berbalik, dia bertemu dengan Fadil yang baru saja masuk. Mereka sempat bertatapan, namun Puput lebih dulu memutuskan pandangannya dan berjalan meninggalkan Fadil.


Fadil menghampiri Sasa yang sedang menjaga kasir.


" Lain kali nomor rekeningnya di hafal " Ujar Fadil sambil memberikan amplop coklat kepada Sasa


Sasa meringis mendengar Omelan Fadil, pasalnya tadi dia memberitahu kepada Fadil, jika bahan pokok sudah menipis, sedangkan mereka lagi ada orderan kue. Jadi Fadil meminta Sasa untuk mengirimkan nomor rekeningnya, akan tetapi Sasa lupa dengan nomor rekeningnya, dan di sinilah Fadil, mengantarkan uang belanja bahan pokok kepada Sasa.


" Pak Fadil baik-baik aja? Kok pucet banget?"


Fadil hanya bergumam, lalu saat dia ingin membalikkan badannya, dia merasakan kepalanya yang sangat pusing, dan Bruukk...


"Pak Fadil" Teriak Sasa.


Puput yang ingin membuka pintu di urungkan nya karena mendengar teriakan Sasa, dan melihat Fadil yang terhoyong dan kemudian jatuh. Puput berlari agar kepala Fadil tidak terbentur lantai.


" Auuww" Ringis Puput karena tangannya tertimpa oleh kepala Fadil.


" Kak Fadil" Panggil Puput sambil menepuk-nepuk pipi Fadil.


Sasa yang berniat ingin memanggil ambulance, terhenti karena saat itu ada pria tampan yang masuk ke dalam dan langsung berlari ke arah Puput yang tengah memangku kepala Fadil.


" Kenapa ini?" Tanya nya.


" Ando!! Ando tolong bawa Fadil ke rumah sakit" Pinta Puput dengan mata yang berkaca-kaca.


Ando langsung menggendong Fadil di punggungnya, dan membawanya ke dalam mobil. Puput mengekor mereka, dan duluan masuk ke dalam mobil, dan langsung memangku kepala Fadil saat Ando telah memasukkan Fadil ke dalam mobil.


Ando langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.


Puput meremas tangannya, menunggu dokter yang memeriksa Fadil keluar. Ando menatap Puput dengan tatapan yang tidak bisa di baca, terlihat di mata Ando bahwa Puput sangat mengkhawatirkan keadaan pria yang di bawanya tadi.


Ando mendekat ke arah Puput, bertepatan dengan Puput yang diri tiba-tiba karena dokter telah keluar dari IGD.

__ADS_1


" Dokter, bagaimana keadaan nya?"


" Tuan Fadil hanya kelelahan, dan kemungkinan dia tidak tidur dalam beberapa hari, maka dari itu tubuhnya lemah."


Puput menutup mulutnya, masalah yang terjadi di antar mereka ternyata sampai membuat Fadil melewati waktu istirahatnya. Puput jadi ingat, saat tujuh bulanan Vina, Fadil juga terlihat pucat, dan dia sempat mengatakan jika mulutnya saat ini terasa pait.


Puput langsung mendekati brankar Fadil. Di genggamnya tangan Fadil. Tanpa Puput sadari, air matanya terjatuh dengan mulus.


" Apa dia baik-baik saja?"


Suara Ando menyadarkan Puput, bahwa pria itu masih berada di sana. Puput dengan segera melepaskan genggaman tangannya, dan berdiri di hadapan Ando.


" Maaf"


Ando hanya tersenyum. Kenapa dia selalu datang terlambat?. Puput mengajak Ando berbicara di taman.


" Apa dia pacar mu?" Tanya Ando, setelah dari mereka tidak ada yang membuka suara dari tadi.


" kami hanya teman "


" Apa kau mencintainya?"


Puput tidak menjawab pertanyaan Ando, di tatapnya wajah Ando dan tersenyum.


" Maaf, karena kejadian ini aku tidak jadi membantu memilihkan kue untuk arisan ibu mu."


" Aku ikut" Ucap Puput cepat.


" Bagaimana dengan teman mu?"


" Aku sudah menghubungi keluarganya"


Puput mengikuti Ando, dan masuk kedalam mobilnya. Ando melajukan mobilnya menjauh dari rumah sakit, dan kembali menuju toko kue.


Puput sudah memberitahukan keadaan Fadil kepada Gilang. Biarlah selanjutnya menjadi urusan Gilang.


******


Kesya merenggangkan ototnya, di lihatnya ke sekeliling, tidak ada Arka. Kesya turun dari tempat tidur, dan melangkahkan kakinya menuju balkon yang menyuguhkan pemandangan lautan.


Kesya memeluk tubuhnya sendiri karena merasakan terpaan angin laut yang sudah beranjak malam. Di mana di suguhkan matahari yang sedang turun dan tenggelam.


" Apa kau suka?" Arka memeluk Kesya dari belakang.


" Hhmm,"


Kesya melepaskan tangan Arka dari perutnya, kemudian dia menghadap sang suami.

__ADS_1


" Dari mana saja?"


" Memesan makanan untuk nanti malam"


Kesya kembali membalikkan badannya, dan kembali menatap matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.


" Sungguh indah" gumam Kesya.


Arka masih memeluk Kesya dari belakang, dan kemudia Arka mendekatkan wajahnya di bahu Kesya, Kesya melihat ke arah sang suami, mata mereka bertemu. Perlahan tapi pasti, entah siapa yang duluan mendekatkan wajah mereka, Dan saat ini bibir mereka sudah saling bertaut dan menyambut serta mencecap satu sama lain. Hingga perlahan Arka membalikkan tubuh istrinya, dan Kesya mengalungkan tangannya di leher Arka.


Kesya membuka kopernya, dan seperti Dejavu. Koper miliknya berisi dengan pakaian seksi, tipis, menggoda, dengan berbagai warna.


Kesya menarik satu pakaian lingerie itu, dan menatapnya dengan mulut terbuka. " Dasar mesum" Monolog Kesya melihat pakaian kurang bahan berwarna hitam itu.


Kesya membuka koper Arka, dan memakai baju kaos kebesaran milik Arka. Biarlah bagian bawahnya tidak terlalu tertutup, sudah sah aja pun.


Kesya melihat ke arah kamar mandi, sang suami belum juga selesai. Tak berapa lama arka keluar dengan menggunakan handuk putih yang hanya tertutup bagian bawahnya. Dan memamerkan dada bidang sang suami. Kesya menelan ludahnya, isi fikirannya sudah berkelana entah kemana.


' Ahh, ini gara-gara Puput dan Mili yang mengajarinya untuk menjadi seorang pemimpin dalam pertempuran desah. Ya ampun, bagaimana Puput yang masih virgin itu bisa berfikir liar seperti ini' Batin Kesya sambil menepuk dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa Kesya sadari jika Arka sudah berada di depannya.


Kesya terkesiap saat menyadari pinggangnya di tarik oleh Arka. "M-Maas.."


" Kamu mikirin apa?"


"Hah? Eng, anu itu.. "


Arka menundukkan sedikit kepalanya, dan membisikkan sesuatu kepada Kesya, membuat mata Kesya melotot dengan mulut terbuka. Arka mengerlingkan matanya saat mendapati ekspresi sang istri yang terlihat terkejut dengan wajah yang memerah padam.


" Aaahhhh, dasar mesum" Pekik Kesya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan berlari ke arah tempat tidur dan sembunyi di dalam selimut.


Arka tertawa lepas melihat tingkah konyol sang istri. Dan akan sangat menyenangkan jika bisa melihatnya malu-malu tapi mau seperti itu.


.


.


.


.


.


.


Dukung terus ya cerita author.


LIKE +VOTE +RATE + KOMENNYA sangat di nanti loh..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih Like dan Vote nya..


__ADS_2