
Seperti apa yang Quin inginkan, saat ini Abi dan Quin sedang berjalan di pinggir jalan bergabung bersama masyarak asli korea lainnya. Quin dan Abi saling bergandengan tangan dan tersenyum saat tatapan mereka saling bertemu.
“Aku rasanya seperti sedang shooting drama film saat ini.” Ujar Quin sambil terkekeh.
“Ah ya, dalam drama korea yang sering kamu tonton mereka sering menikmati jajananan pinggir jalan kan? Bagaimana jika kita mencoba nya?”
“Kamu yakin di sini halal?”
“Di sini memang tidak, tapi aku tau di mana tempat yang halal.”
Abi mengajak Quin untuk menunggu sebuah Bus yang menuju ketempat dimana terdapat jajanan-jajanan pinggir jalan yang halal. Sebuah bus berhenti di halte bus, Abi dan Quin pun menaiki bus tersebut. Abi meraih jari jemari Quin dan menggenggamnya di atas pangkuannya. Quin tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Abi.
“Aku menyukai hal sederhana seperti ini.” Ujar Quin sambil ikut membalas genggaman tangannya di atas tangan Abi.
“Aku juga, hal apapun jika itu bersama kamu, semua itu akan menjadi sangat berarti bagi aku.”
Bus yang mereka tumpangi pun akhirnya sampai di halte di mana mereka akan turun.
“Di sini suasananya sedikit berbeda ya.” Ujar Quin saat melihat beberapa penjual menggunakan hijab dan ada juga pejalan kaki yang menggunakan hijab.
“
Karena ini adalah kampung muslim di tengah kota Seoul.”
“Benarkah? Sepertinya aku baru mendengarnya.”
“Karena banyaknya pecinta K-pop, maka pemerintah Seoul sengaja membuat kampung muslim ini, agar umat muslim yang berkunjung ke korea bisa menikmati apa yang tersaji di dalam film-film mereka.”
“Marketing yang bagus.”
“Kamu benar, yuuk, di sana ada kue yang pasti kamu sukai.”
“Kamu tau kue ini?” tanya Abi. “Kue ini sering juga tampil di serial drama K-pop.”
Quin membulatkan matanya. “Dari mana kamu tau?”
Abi hanya tersenyum menanggapi ucapan Quin. Abi memesan dua Hotteok untuk mereka makan.
“Ayo duduk sana.” Abi menunjuk sebuah bangku yang berada di sana.
“Eem, ini enak banget. Di indonesia juga ada makanan berbentuk seperti ini. Hanya saja isiannya yang berbeda.”
“Benarkah?“
“Hmm, tapi aku lupa apa namanya, biasanya di isi dengan kacang marah yang sudah di haluskan.”
Abi menganggukan kepalanya, mereka pun kembali berjalan dan menikmati kuliner yang lainnya. Sepanjang perjalanan, Abi tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Quin dengan waktu yang lama.
Hingga mereka akhirnya tiba di salah satu tower yang berada di tengah kota, di mana tower tersebut sering sekali masuk kedalam serial drama K-pop.
“Kamu menyukainya?”
“Hmm, pemandangan di atas sini sungguh indah.” Quin merapatkan mantelnya. Semakin malam, cuaca pun semakin dingin.
Abi yang melihat Quin memeluk tubuhnya pun, berpindah ke belakang Quin dan memeluknya dari belakang.
“Sekarang bagaimana? Apa sudah hangat?” tanya Abi sambil mengecup pucuk kepala Quin.
“Abi, jangan begini, aku malu.”
“Kenapa harus malu? Kita sudah menikah Quin, bahkan kemungkinan sebagian dari mereka ada yang belum menikah.” Abi menunjuk kearah beberapa pasang kekasih yang tengah berpelukan, bahkan ada juga yang sedang berciuman.
“Jangan bilang kalo kamu akan melakukan hal yang sama seperti mereka.”
Abi tersenyum miring, perlahan Abi mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Quin. Quin hanya diam dan tak merespon apapun. Quin merasa kecewa di saat Abi hanya mengecup dengan singkat bibirnya.
“Kamu menginginkan lebih?” tanya Abi dengan senyum yang menggoda.
Quin seakan ketahuan sedang mencuri, ia pun mencebikkan bibirnya dan kembali melihat kearah depan.
“Tidak, siapa yang ingin di cium di tempat umum.” Ujar Quin dengan kesal, yang mana membuat Abi semakin gemes dengannya.
Abi mempererat pelukanya, sehingga Quin kembali menoleh kepadanya dan Cup.
Quin membelalakan matanya, namun seiring dengan permainan bibir Abi yang terasa sangat hangat, Quin perlahan memejamkan matanya dan membalas ciuman Abi.
“Aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu.” Ujar Abi setelah melepaskan ciumannya.
Quin hanya tersipu malu dengan apa yang telah mereka perbuat saat ini. Jantung Quin terasa berdebar dengan hebat di saat Abi menciumnya. Di tambah lagi, pernyataan cinta Abi yang sehari sudah seperti minum obat bagi Quin. Bolehkah Quin berharap jika Anita tak pernah kembali?
Ya, Quin masih berfikir jika Abi belum bertemu dengan Anita. Untuk itu Quin masih ragu dengan perasaan Abi kepadanya. Quin masih takut, jika Abi akan meninggalkannya setelah bertemu dengan Anita.
*
Sudah dua hari semenjak berita tersebut menyebar. Hingga saat ini Quin juga belum mengetahui tentang pemberitaan dirinya. Sedangkan Anggel suah mengetahinya di saat ia tanpa sengaja mendengar pembicaraan Desi dan Jo. Luar biasa mereka bisa menyembunyikan berita tersebut.
“Kalian tahu, ada berita bagus saat ini.” Ujar Quin dengan bersemangat.
“Apa?” tanya Anggel sambil memasukkan tteokbokki nya.
“Veer dan Nafi akan menyusul ke sini.”
“Benarkah?” pekik Anggel dengan semangat.
“Hmm, kita bertambah personil deh.” Ujar Quin.
Di sudut sana, Anita benar-benar menatap benci kepada Quin.
“Aku belum kalah Quin, lihat saja. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Abi. Aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Abi kembali.”
__ADS_1
Anita memakai kembali kacamata hitamnya dan meninggalkan meja tersebut.
Jo yang mendapakan kabar jika Anita masih mengikuti Quin pun menghela napasnya.
“Wanita itu benar-benar meresahkan.” Geramnya.
*
Abi sedang sibuk dengan laptopnya, ia tak menyadari jika ada orang asing yang masuk keruangannya.
“Bisakah aku berbicara dengan mu?”
Abi mendongakkan kepalanya dan menatap tajam kearah wanita yang berdiri di hadapanya dengan wajah sendu.
“Gak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Anita.”
“Ada, banyak. Termasuk perihal aku ingin meminta maaf dengan mu.”
“Aku sudah memaafkan mu, jadi pergilah. Aku sibuk.”
“Hanya sebentar, tak bisakah hanya sebentar kamu meluangkan waktu untuk ku?”
“Silahkan pergi, atau aku akan menyuruh satpam untuk mengusir mu dari sini.”
Abi memang sudah mengatakan kepada Mr. Kim, bahwa dirinya tak ingin bekerja sama dengan Anita. Awalnya Mr. Kim menolak, karena Anita adalah salah satu orang kepercayaannya yang selalu handal dalam menangani semua proyek. Apapun proyek yang Anita pegang, pasti selalu berhasil dan memuaskkan.
Abi mengancam untuk membatalkan kerja sama mereka, dan itu akan sangat merugikan bagi Mr. Kim. Sehingga Mr. Kim pun mengikuti kemauan Abi.
“Hanya sekali saja Abi, aku mohon.”
“Tidak, dan silahkan pergi sebelum kesabaranku habis.”
Anita mendengus kesal dalam hati, Abi nya benar-benar telah berubah. Lihat saja, Anita akan benar-benar menghancurkan rumah tangga Abi dan Quin, serta merebut Abi dari Quin.
Sebuah rencana telah tersusun rapi dalam fikiran Anita, ia juga sudah menyiapkan segala konsekuensi yang akan terjadi. Anita berdiri dan meninggalkan Abi tanpa sepatah katapun.
Setelah pintu itu tertutup, Abi menghela napasnya berat dan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya itu. Abi menutup matanya hingga senyuman Quin hadir dalam benaknya. Abi merindukan istri cantiknya itu.
Abi membenarkan posisi duduknya dan membuat panggilan video.
“Hai,” sapa Quin saat wajahnya sudah memenuhi layar ponsel Abi.
“Aku merindukan kamu.” Lirihnya sambil tersenyum manis.
Quin melihat kearah jam tangannya. “Baru tiga jam kita berpisah, Abi. Kamu sudah merindukan aku?”
“Apa tidak boleh?”
“Tentu saja boleh, kamu suami ku. Dan hanya kamu yang akan mendapatkan balasan rindu dari ku.”
“Aku senang mendengarnya, ke mari lah. Temani aku di sini.”
“Aku ingin, tapi aku sedang berada di spa. Aku ingin selalu terlihat cantik di hadapan kamu.”
“Abi, aku harus memutuskan panggilan ku, ponselku sudah mau habis baterai.”
“Baiklah, nanti hubungi aku ya setelah kamu selesai.”
“Iya sayang ku.”
“Aku mencintai kamu.”
“Aku tau, selamat bekerja.”
Abi tersenyum sendu, karena sampai saat ini Quin belum juga membalas ungkapan cintanya. Tapi Abi yakin, jika Quin pasti juga mencintai dirinya, karena Quin selalu membalas ciumannya dengan mesra.
Quin men-charger ponselnya dengan kondisi menyala, setelah memastikan dayanya tersambung, Quin pun mengganti baju nya dengan kimono yang telah di sediakan oleh pihak salon.
Seroang pelayan salon tersebut dengan perlahan bergerak mendekati ponsel Abi. Ia di suruh oleh seseorang untuk mengirim pesan kepada Abi kemudian menghapusnya. Wnaita itu tersenyum di saat melihat pekerjaannya berjalan dengan baik. Pesan telah terkirim, ia pun segera menghapus pesan tersebut.
Di tempatnya, Abi yang mendengar notifikasi pun meraih ponselnya, ia mengernyitkan kening di saat mendapatkan sebuah pesan biasa, Abi membukanya dan ternyata dari sang istri tercintanya.
My Quin : Aku tunggu kamu di restoran xxx pukul 7 malam, ada kejutan untuk kamu.
Abi tersenyum dan memegang jantungnya yang berdebar. Apa mungkin akan membalas pernyataan cintanya kepada Abi?
Ah, rasanya Abi ingin waktu berjalan dengan cepat.
*
“Bagaiama?” tanay Anita kepada orang suruhannya.
“Beres.”
Anita tersenyum dan memberikan amplop yang berisi sejumlah uang. Setelah kepergian wanita itu, Anita menatap kearah Quin dan teman-temannya yang sedang menikmati pijatan di kepalanya.
“Kita lihat, apa kamu bisa tersenyum setelah ini?”
*
“Apa? Wanita itu ke sini?” pekik Jo yang mana di angguki oleh Abi.
“Gila, tuh cewek setelah diam beberapa hari akhirnya muncul lagi. Gue kok jadi ngerasa bakal ada sesuatu yang terjadi ya?”
“Entahlah,” Abi masih tersenyum membayangkan makan malam yang romantis, yang akan ia lakukan bersama Quin.
Jo yang melihat Abi senyum-senyum pun menatapnya dengan curiga. “Apa yan terjadi dengan kalian?” tanay Jo dengan tatapan yang masih sama tajamnya.
Abi menoleh dan menyadari jika saat ini Jo sedang mengintimidasinya.
__ADS_1
“Tidak ada, aku mengusirnya sebelum ia melakukan hal menjijikkan itu lagi.”
“Benarkah? Lalu kenala lo senyum-senyum?”
Abi kembali tersenyum, “Quin ngajakin aku makan malam romantis.” Ujarnya malu-malu.
“Masa?”
“Iya, kamu jangan cemburu, kalo kamu mau, kamu bisa mengajak Desi untuk makan malam romantis, mumpung di sini juga kan?”
“Gue kalo kerja profesional. Kerja ya kerja, pacaran ya pacaran, gak kaya lo yang lagi kerja bisa nya pacaran.”
“Namanya juga udah halal, mau ngapain aja boleh dong.”
“Wajar sih, lo kandah tua ya, pasti butuh belaian.”
Abi menatap Jo tak suka, Jo menelan ludahnya di saat melihat tatapan mata Abi yang mengerikan.
“Emm, canda gue. Gue bikin kopi dulu. Lo mau?” ujar Jo gugup.
“Coklat panas,” titah Abi.
Jo hanya menggerutu dalam hati, kemudian ia keluar dari ruangan Abi menuju pantry. Abi terkekeh di saat melihat wajah ketakutan Jo.
“Bisa takut juga tu orang sama aku.”
*
“Maaf Nona, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda.” Ujar seorang pelayan dengan menggunakan bahasa inggris.
“Benarkah? Siapa?”
“Saya tidak tahu, tapi nona itu mengatakan jika ia teman lama Anda.”
“Baiklah, di mana dia?” tanya Quin kepada pelayan spa tersebut.
“Mari ikut saya.”
Quin mengikuti pelayan itu kesebuah ruangan yang khusus pelanggan VIP, di mana mereka bisa menikmati layanan yang lebih baik lagi dengan fasilitas yang lebih cangih.
Bukannya Quin tak mampu untuk membayar pelayanan tersebut, akan tetapi ia hanya tak ingin di perlakukan secara berlebihan. Lagi pula menurut Quin, pelayanannya sama saja. Pelayan di sini melakukan semua pelanggan nya dengan baik dan ramah.
“Silahkan duduk.” Ujar pelayan tersebut, Quin pun duduk dan menantikan seseorang yang ingin bertemu dengannya.
“Apa kabar Quin?”
Quin menoleh ke sumber suara. Terdapat wanita cantik di sana yang berjalan ke arahnya.
“Apa kamu ingin minum?”
“Tidak, terima kash.”
“Perkenalkan, nama aku ANITA.” Anita sengaja menekan namanya biar terdengar sangat jelas di telinga Quin.
Seketika jantung Quin berdegup dengan kencang. Benarkah wanita ini bernama Anita? Apa wanita ini Anita yang sama dengan Anita cinta pertama Abi?
Anita terkekeh melihat keterkejutan Quin.
“Apa Abi tak memberitahu mu tentang pertemuan kami?”
Quin membulatkan matanya karena terkejut. Tentu saja Quin terkejut. Apa ABi sudah bertemu dengan Anita? Lalu kenapa Abi tak mengatakannya kepadanya?
“Lihatlh, fasilitas ini Abi yang memberikannya. Abi ingin aku selalu terlihat cantik di matanya.”
Quin meremas kimono yang ia pakai, jantungnya berdegupkencang. Sebelumnya Quin sudah pernah mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Anita, tapi sepertinya semua latihannya itu sia-sia. Anita terlihat sangat cantik dan menawan, jauh dari bayangan Quin yang pernah melihat foto Anita. Mereka seperti wanita yang berbeda.
“Apa mau mu?” Akhirnya Quin membuka suaranya.
Anita pun tersenyum manis. “Jauhi Abi, lepaskan ikatan kalian agar ia bisa dengan mudah kembali bersama ku tanpa rasa bersalahnya kepada mu.”
Quin mendnegus mendengar ucapan Anita. “Abi tidak akan pernah melepaskan aku, begitu pun sebaliknya. Lagi pula, aku yakin hubungan kalian telah berakhir,” Ujar Quin yang mana membuat Anita kesal.
Eits, tidak sampai di situ, banyak cara yang telah Anita persiapkan. Anita menyodorkan sebuah foto di mana dirinya dan abi berciuman. Lebih tepatnya dirinya yang mencium Abi.
“Apa ini yang di katakan berakhir?”
Quin meremas kimononya dengan semakin kuat. Sekuat tenaga Quin menahan air matanya untuk tidak keluar.
“Baiklah, mungkin kamu akan berfikiran jika ini adalah sebuah editan. Tidak masalah. Taoi, bagaimana jika kamu melihatnya secara langsung?”
Quin mengernyitkan kening.
“Nanti malam, pukul 7, datang lah ke restoran xxx, kamu akan melihat bagaimana Abi menyipakan makan malam romantis kami.”
**
Yang belum favoritkan TWINS A and MISS CERIWIS,
Buruan di favoritkan ya ... jangan lupa like dan komen juga ..
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF