KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
Bab 146 " Suasana Asri"


__ADS_3

" Udara di sini segar ya " Ujar Arka kepada Duda. Saat ini mereka sedang berjalan kaki menuju grosir yang berada di jalan besar, yang tidak terlalu jauh dari rumah Duda.


" Iya pak, masih banyak pepohonan, dan belum banyak polusi udara."


Tampak terlihat gadis-gadis desa yang melirik kearah Duda dan Arka.


" Nak Duda?" Tegur seorang pria paruh Baya.


Duda membeku sesaat, namun cepat dia menetralkan raut wajahnya.


" Bapak!!" Duda mencium punggung tangan pria itu.


" Wah, kamu sudah jadi orang kota ya. Sudah tampan dan sangat mapan"


Duda hanya tersenyum kikuk.


" Ini siapa?"


" Oh, ini Bos saya pak"


" Oh, perkenalkan, saya pak Budi, mantan mertuanya Duda"


Arka meraih uluran tangan Pak Budi yang katanya mantan mertua Duda. " Arka "


" Bos kamu tampan ya, tapi tetap kamu yang paling tampan menurut bapak"


Duda hanya tersenyum kikuk. " Kalo gitu kami permisi dulu ya pak"


" Iya silahkan. Oh ya Duda, Bapak masih berharap dengan kamu"


Duda tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Sepertinya mantan mertua kamu itu sangat sayang dengan kamu"


" Yaah, begitu lah Bos, cuma saya nya aja yang belum berjodoh dengan anaknya"


" Kalo saya boleh tau, kenapa kamu bisa bercerai?"


" Dulu, sebelum saya bekerja dengan Bos, saya hanya tukang kebun, dan mantan istri saya berselingkuh dengan lurah di sini"


" Maaf"


" Gak pa-pa Bos, sudah jalan hidup saya. Lagian dia juga tidak menghargai kedua orang tua saya dulu. Dan dia juga memakai uang yang saya sisipkan untuk sekolah Ami dan Lehah."


" Oh ya, saya heran, rumah kamu kenapa tidak kamu rehap? Gaji yang saya kasih kan besar"


" Gaji yang Bos kasih memang besar, Alhamdulillah gaji yang Bos berikan bisa membuat saya membelikan sawah untuk kedua orang tua saya, jadi orang tua saya tidak perlu menyewa sawah lagi kalo mau bertani. bahkan sawah kami yang disewa oleh petani lain, Alhamdulillah Bos hasil sewanya, dan juga saya menyekolahkan adik-adik saya di perguruan tinggi"


" Oh ya? "


" Iya Bos, Alhamdulillah Ami, adik saya yang tua sudah menjadi dokter. Dan sekarang bekerja di Pustu desa ini. Ya walaupun tidak mendapatkan gaji, yang penting warga di sini mendapatkan pelayanan kesehatan dengan cepat"


" Kenapa tidak ada gaji?"


" Sebenarnya ada, namun gajinya itu di buat untuk membeli peralatan medis. Karena peralatan di Pustu tidak di tanggung oleh dana desa"


" Kenapa begitu? seharusnya kan sudah di tanggung oleh dana desa semua perlengkapan kesehatan"

__ADS_1


" Yah, kalo itu saya juga kurang tau Bos. Yang terpenting bagi saya dan keluarga saya, bisa membantu warga sekitar aja sudah sangat bersyukur. Kalo masalah rezeki, semuanya udah di atur oleh Allah."


Arka mengerti, kenapa Duda tidak merehab rumahnya. Ternyata selama ini Duda membiayai pendidikan adik-adiknya. Arka merasa tertampar, dirinya sudah merasa jika orang-orang yang berada di sekelilingnya sudah hidup enak, ternyata orang yang terdekatnya masih merasakan kesusahan. Arka salut terhadap Duda.


Setelah berbelanja pesanan Kesya, Arka dan Duda kembali lagi ke rumah. Di perjalanan, terlihat anak-anak berlari dengan baju yang basah.


" Sepertinya tidak ada hujan, kenapa mereka basah-basah?" Tanya Arka menunjuk kearah anak-anak yang berlari-lari itu.


" Oh, di dekat sini ada sungai Bos, dulu waktu saya kecil, saya juga seperti mereka, pulang sekolah, mandi ke sungai, dan pulangnya kena marah sama Ibuk"


" Wah, seru banget pasti ya"


" Tentu Bos"


" Kita kesana sekarang?"


" Tapi Bos, pesanan Non Kesya gimana?" Ujar Duda sambil mengangkat belanjaannya.


" Kamu benar, kita pulang dulu. Besok kita ke sungainya."


" Siap Bos"


Sesampainya di rumah, Arka melihat Jodi sedang membantu Pak Rojak memanen Ubi.


" Wah, besar-besar Ini nya pak. Mantap ini jika di bakar"


" Iya, sebagian kita bakar nanti malam, sebagian lagi mau jadiin oleh-oleh untuk orang tuanya Nak Arka."


" Wah, kebetulan Papi suka banget sama Ubi. Makasih ya Pak."


Arka ikut membantu memanen Ubi. Arka sampai tersungkur kebelakang saat menarik Ubi. Duda sudah tertawa melihat bosnya terjungkir balik, tapi cepat dia meredakan tawanya agar tidak kenak kartu merah.


" Wah, wanginya enak banget. Boleh Ibuk cicipi?"


Kesya memotong bolu tersebut, dan memberikannya kepada ibuk Siti.


" Emm, enak banget ini mah. Pantes aja toko kue kamu laris ya. Lehah, ilmu yang sudah di ajarkan oleh Kak Kesya, harus kamu amalkan. Mana tau kamu bisa sesukses Nak Kesya"


" Amiinn" Kesya dan Lehah mengaminkan.


Kesya, Lehah, dan buk Siti keluar menghampiri para lelaki dengan membawa teh hangat dan bolu yang baru di masak.


" Ayo mari, istirahat dulu"


Kesya tersenyum melihat sang suami yang sudah kotor-kotoran, dan terlihat sangat akrab dengan Duda dan Jodi.


Mereka menikmati sore yang indah, dan sangat menyenangkan.


" Bos, mau coba makan Mie instan di atas pohon?" Ajak Duda.


" Jangaann" Teriak Kesya. Kesya tidak ingin kejadian di rumah Orang tuanya Roy terulang kembali di sini.


Duda dan Jodi sudah mengulum senyumnya. Kapan lagi bisa ngejain Bos nya. Mumpung mood nya lagi bagus.


Setelah makan malam, Arka menemani Kesya di kamar.


" Sayang, besok kita ke Pustu ya. Aku mau liat keadaan di Pustu"

__ADS_1


" Iya, Mas juga rencananya besok mau ke Pustu, tadi Duda sudah cerita. Dan Mas rencananya mau menjadi donatur di Pustu tersebut. Mas mau buat izin untuk Ami membuka kliniknya sendiri, jadi pengolahannya lebih enak, dan tidak ada campur tangan dengan perangkat desa."


" Iya Mas, aku setuju. "


Arka mengelus rambut Kesya, hingga Kesya tertidur. Setelah memastikan Kesya tertidur, Arka keluar dari kamar dan menghampiri Duda dan Jodi.


" Jahe Bos?"


Arka menganggukkan kepalanya, kemudian mengambil gelas yang di sodorkan oleh Duda tadi.


" Kalian kenapa masih di luar?"


" Nikmati malam Bos, mumpung di kampung."


Arka pun bergabung dan mendengarkan cerita tentang Duda. Kehidupan Duda yang berjuang demi orang tuanya dan adik-adiknya, serta cita-cita mulia yang di turunkan kepada adiknya, agar dapat membantu warga desa.


" Sudah tengah malam, sebaiknya tidur. " Tegur Pak Rojak.


" Iya pak"


Duda, Arka, dan Jodi pun akhirnya bubar barisan. Arka menuju ke kamarnya, sedangkan Duda dan Jodi tidur di ruang TV.


Kesya bangun dan melihat sudah tidak ada Arka di sebelahnya. Kesya keluar dari kamarnya dan sudah mendengar berisik-berisik di dapur. Kesya melihat jam, masih pukul 4, tapi di rumah Duda ini semua orang sudah pada sibuk-sibuk.


" Buk"


" Eh, Nak Kesya"


" Bapak dan yang lain kemana?"


" Oh, mereka ke surau, ke mesjid. Biasanya kalo subuh bapak yang sering jadi imam di mesjid"


Kesya menganggukkan kepalanya. " Ibuk masak apa?'


" Oh, ini nasi gurih, untuk ditarok di warung kopi"


" Saya Bantu Buk"


Kesya pun membantu buk Siti membungkus Nasi gurih yang akan di jual di warung kopi simpang rumahnya.


Arka dan yang lainnya pulang dari mesjid. Kesya langsung membawakan teh hangat untuk mereka, dengan di bantu oleh Lehah. Sedangkan Ami membantu Buk Siti untuk menyiapkan sarapan.


Setelah sarapan, Duda mengajak Arka keliling desa. Banyak gadis-gadis desa yang melirik kearah Arka, Duda, dan Jodi. Sedangkan Kesya ikut dengan Ami dan Lehah ke Pustu.


Duda mengajak Arka ke sungai, seperti janjinya kemarin. Arka sangat antusias, walaupun masih pagi, tetapi Arka sangat merasakan nikmatnya dan segarnya air sungai yang mengalir. Mereka menjadi pusat perhatian dari para wanita yang sedang mencuci di sungai. Wanita-wanita itu tersenyum malu kepada ketiga pria tampan yang sedang menikmati segarnya air sungai.


Salah satu wanita yang sedang mencuci adalah mantan istri Duda. Dia terlihat sangat kesal terhadap Duda. Duda yang dulu dengan Duda yang sekarang sangat jauh berbeda. Duda yang sekarang memiliki tubuh yang proporsional, dan sudah memiliki banyak uang. Menyesal pun sudah terlambat, dulu saat Duda mengemis untuk rujuk, Ratna mantan istri Duda menolak dan mengusir Duda dengan cara mempermalukannya.


" Duda, kamu benar-benar beruntung memiliki kampung halaman seindah ini" Arka sudah mandi di dalam sungai dengan bersandar di batu-batu besar.


" Alhamdulillah Bos"


Jodi dengan kalemnya merebahkan dirinya di batu besar di dekat Arka. Rasa dingin dari udara pagi pun sudah tidak terasa, hanya ada rasa segar yang sejuk yang menyentuh kulit. Kapan lagi bisa menikmati suasana yang asri seperti ini.


** Hai readers...


Budayakan setelah membaca untuk menancapkan jempolnya ya...

__ADS_1


Terima kasih. Salam KesAr.


__ADS_2