KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 136


__ADS_3

“Sial,rencana gue gagal. Brengs*k. Lihat saja Quin, aku kan mengahncurkan rumah tangga kamu secepatnya. Akan aku jadikan Abi menjadi milik aku seutuhnya, lihat saja.” Geram Anita sambil melemparkan Vas bunga kelantai hingga pecah tak berbentuk.


 Anita membuka pintu apartemennya di saat ada seseorang yang mengetuknya.


“Maaf Nona, ada paket untuk Anda.” Ujar seorang kurir.


“Dari siapa?”


“Tuan Abimana.”


Senyum Anita pun langsung mengembang, Anita menerima paket tersebut dengan hati yang berbunga. Setelah membubuhkan tanda tangan, Anita kembali menutup pintu Apartemennya. Dengan tak sabaran Anita membuka bungkusan berbentuk kubus itu dengan semangat yang menggebu-gebu.


Anita mengernyit di saat melihat sebuah ponsel di sana dan selembar kertas.


“Tekan play dan lihatlah.”


Anita pun meraih ponsel tersebut dan menghidupkannya. Di saat Anita menyentuh tombol kunci, di layar ponsel langsung muncul sebuah video. Anita yang penasaran pun langsung memutar video tersebut. Anita menganga melihat video dirinya dan seorang pengusaha kaya yang tengah mencumbui dirinya. Anita langsung membanting


ponsel tersebut hingga hancur.


Jantung Anita berdegup kencang, tangannya gemetar dan saling merem*s. Tak hanya tangan, tubuhnya juga ikut bergetar hebat. Mata Anita terasa panas hingga air mata mendesak keluar.


“Kamu jahat Abi, kamu jahat. Kamu gak ngerti kenapa aku melakukan itu. Kamu gak ngerti. Ini semua demi kamu, aku melakukan hal itu demi kehidupan yang enak untuk kita nanti. Hiks ...” Anita meremas rambutnya dan terduduk di lantai dengan air mata yang terus berderai.


Drrt ... Drrtt ...


Anita menoleh saat mendengar suara ponselnya yang berdering dengan nyaringnya. Anita pun mengabaikan dering ponsel tersebut.


Drrt ... Drrt ...


Lagi, suara ponsel nya kembali berdering, Anita pun mengusap kasar air matanya dan meraih ponselnya yang ada di atas meja.


‘A-abi?’ lirihnya dengan bergetar.


Dengan tangan yang bergetar Anita menggeser tombol hijau tersebut.


“Ha-halo ...”


“Bagaimana? Kamu suka dengan hadiah yang aku kirimkan kepada mu?” ujar Abi dari seberang panggilan.


“A-abi, aku bisa jelaskan semuanya, hiks ...”


“Aku peringatkan untuk pertama dan terakhir kalinya, jangan pernah mengusik istri ku. Antara kita sudah berakhir


Anita, dan kamu yang memilih untuk mengakhirinya dulu.”


“Abi, aku melakukan itu semua demi kamu, demi masa depan kita.” Pekik Anita.


“Demi aku? Cih, aku tak pernah menyuruh mu untuk menjual tubuh mu. Bahkan aku selalu menjaga dan menghormati mu.”


“Abi, aku salah, aku minta maaf, tapi aku mohon jangan akhiri hubungan kita. Aku gak bisa tanpa kamu, Abi. Aku gak bisa.”


“Sudahlah, hentikan akting dan tangis mu. Aku muak mendengarnya.”


Abi pun mengakhiri panggilannya secara sephak.


“A-abi ... Abi ... halo ... Abi..” Anita memerika ponselnya yang sudah ke tampilan awal.


“Aaaaaaa .... Abiiii .....” pekik Anita sambil menangis meraung dan memukul-mukul dadanya.


*


“Dia sudah melihatnya?” tanya Jo, lebih tepatnya bukan sebagai pertanyaan, melainkan pernyataan.


“Ya, dia sudah melihatnya.”


“Lo menyesal?”


Abi menatap kearah Jo dan menaikkan alisnya sebelah. “Apa aku terlihat seperti menyesal?”


Jo menaikkan kedua bahunya. “Entahlah, tapi wajah mu terlihat murung.”


“Aku tak mencintainya dan aku membencinya karena telah mempermalukan Quin. Tapi bukan berarti aku senang di atas penderitaan orang lain. Lagi pula, dia pernah menjadi pusat bahagia ku,” Abi mendengus dan tersenyum miring. “Tapi semua sudah berakhir, dan benar-benar berakhir. Aku hanya akan memaafkan dia untuk kali


ini, tapi tidak untuk yang kedua kalinya.”


“Lo yakin jika dia gak akan menggangu Quin lagi?”


“Entah lah, tapi jika dia berani mengganggu Quin, maka tiada ampun bagi nya.”


“Baiklah, sebaiknya kita tetap memiliki rencana untuk melindungi Quin.”


“Kamu benar. Aku mungkin mengenal Anita, tapi itu Anita yang dulu, bukan Anita yang sekarang. Aku sama sekali tidak mengenalinya sebagai Anita yang pernah aku kenal.”


“Baguslah, karena gue takut lo akan menyia-nyiakan Quin dan kembali kepdanya.”


Abi terkekeh, “Aku tidak sebodoh itu. Jika pun Anita yang sekarang masih sama dengan Anita yang dulu, aku akan tetap mencintai Quin. Karena batas ku menunggunya telah berakhir, dan aku telah menemukan cinta ku sekarang.”


Jo menganggukkan kepalanya dan menaikkan alisnya sebelah. “Gue memang belum percaya sepenuhnya sama lo, tapi gue rasa saat ini gue akan mencoba untuk percaya dengan lo, tapi ingat, sekali aja lo nyakiti Quin, gue bakal bikin wajah lo babak belur.”


“Aku terima, dan jika aku benar-benar membuktikan bahwa aku sangat emncintai Quin dan tak akan meninggalkannya, aku ingin kamu jadi pengawal pribadi ku. Sekaligus sahabat ku.” Ujar Abi sambil tersenyum lebar.


“Baiklah, gue setuju, tapi tidak untuk menjadi sahabat lo.”


Abi merenguk dan berjalan mendekati Jo dengan wajah yang di sendu-sendu kan.

__ADS_1


“Ayo lah, aku ingin kita bersahabat.” Ujar Abi sambil meraih lengan Jo dan menggoyang-goyangkannya seperti anak kecil.


Jo mendengus kesal dan bergidik ngeri melihat kelakuan Abi yang seperti anak kecil. “Dasar gak sadar diri, udah tua masih kelakuan seperti anak-anak.”


“Kita bersahabat?” Tanya Abi sambil mengedip-ngedipkan matanya.


“Gak.” Jawab Jo tegas dan meninggalkan Abi di dalam kamarnya.


Abi yang merasa di cueki oleh Jo pun langsung mengikuti nya dari belakang. “Jo, jangan tinggalin aku.”


*


“Apa aku mengganggu kalian?”


Anggel, Desi, dan Quin yang sedang berbincang dan tertawa pun menoleh kesumber suara. Dapat mereka lihat pria tinggi dan tampan dengan rambut klimis dan wajah yang tak asing.


“Martin?” tebak Quin setelah beberapa menit di landa kehening hanay untuk menilai penampilan pria tampan yang ada di hadapannya ini.


Anggel ternganga melihat wajah pria tampan yang ada di depannya. Tak hanya Anggel, Quin dan Desi pun juga merasa terkejut dan takjub.


“Ya, ini aku.”


“Ya apun, kok gak dari kemarin-kemarin brpenampilan seperti ini, ya gak An?” Quin menyenggol lengan Anggel, Anggel menoleh dan hanya memberikan wajah datarnya kepada Quin.


Martin hanya tersenyum dan menunduk sebentar. “Bisakah aku berbicara berdua dengan Anggel?” tanya Martin sopan kepada Quin dan Desi.


“Baiklah, kalian emang perlu waktu berdua aku rasa.” Quin sudah siap berdiri, namun Anggel menahan lengannya dan menggelengkan kepalanya pelan.


“Kami duduk di sana, tenang lah. Aku yakin Tuan Martin tak akan menyakiti Aunty kesayangan ku ini.” Ujar Quin menatap tajam kearah Martin namun masih ada senyum tipis di bibirnya.


Martin tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Kamu bisa mencari ku, jika aku berani melukainya.”


“See, kamu dengan kan. Jadi berbicanglah sebentar. Aku rasa ada yang mau kamu sampaikan juga kan kepada Martin?”


Anggel menghela napasnya pelan. “Jangan jauh-jauh, tetaplah berada di dekat ku.”


“Tentu, kami akan duduk di meja sana.” Quin menunjuk kearah meja yang berjarak beberapa meter dari meja yang Anggel duduki.


Setelah kepergian Desi dan Quin, Martin pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Anggel.


“Maaf jika selama ini aku membuat kamu tak nyaman dan merasa jijik dengan wajah buruk rupa ku.” Martin terssenyum dengan lembut kepada Angel.


Anggel  berdehem dan menghela napasnya. “Martin, aku minta maaf karena telah membuat kamu merasa terhina atau tak nyaman berada di dekat ku. Tapi aku bersungguh-sungguh, bagaimana pun rupa kamu, aku tetap gak


bisa menerima kamu dihati aku. Akugak tau kenapa, tapi aku benar-benar membenci kamu. Dari awal pertama kali kita berjumpa, hingga saat ini.”


“Maafkan aku.”


“Kamu gak salah, hanya saja waktu kita yang salah.”


 Martin menatap wajah Anggel yang lebih memilih melihat ke arah lain.


Anggel menoleh kearah Martin. “Karena kamu hadir di saat aku ingin berjuang mempertahankan orang yang aku cintai. Kamu menghancurkan semua rencana yang udah aku susun dengan matang. Kamu menghancurkannya. Jadi, setelah kamu mengetahui alasan ku membenci mu, bisakah kamu memutuskan perjodohan ini?”


Martin tersenyum dengan lembut, “Maaf, tapi aku sudah sangat jatuh cinta kepada kamu.  Aku gak bisa melepaskan kamu. Ini sudah menjadi keputusanku.”


Anggel berdecih, akhirnya filling nya tentang Martin tak salah. Martin pria egois yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Anggel juga sudah menebak jika Martin tak selugu dan tak secupu yang terlihat sebelumnya.


“Hanya butuh waktu, dan aku yakin suatu saat kamu pasti juga akan mencintai aku.”


Anggel menghela napasnya dengan sedikti berat. “Entahlah, aku gak yakin.”


“Bagaimana jika hubungan kita ini, kita mulai dari awal lagi?”


“Maksud kamu?”


“Nama aku Martin, dan aku sudah mencintai mu sejak lama.”


“Aku gak tanya dan aku juga gak mau tau.”


“Hei, ayolah ... Mari kita awali hubungan ini dengan pertemanan. Bagaimana?” Martin mengulurkan lengannya untuk berjabat tangan dengan Anggel.


Anggel menatap uluran tangan Martin, kemudian ia memandang wajah Martin. Martin menunjuk kearah tangannya dengan matanya, agar Quin menerima uluran jabat tangan mereka.


Anggel menghela napas kembali,  kemudian ia menerima uluran tangan Martin. Martin tersenyum dengan begitu manis, Anggel sempat tertegun, namun semuanya hilang di saat Anggel merasa jika yang ia bayangkan


saat ini bukanlah Martin, melainkan Lana. Anggel kembali menghela napas lelahnya.


“Kamu ingin makan sesuatu? “


“Aku masih kenyang,” ujar Anggel seraya menunjuk kearah piring kosong yang ada di meja tersebut.


“Bagaimana jika menemani aku makan siang? Hitug-hitung merayakan hari pertemanan kita.”


“Martin ...”


“Aku mohon, besok aku sudah akan kembali,” Martin memasang wajah sedihnya.


 “Hah, baiklah.”


Martin pun tersenyum lepas dan memanggil seorang pelayan.


“Kamu mau sweet strawberry cake? Di sini dessert tersebut sangat terkenal dan sangat enak.”


“Hmm, baiklah.”

__ADS_1


Martin memesan makanan mereka kepada pelayan dan tak lupa untuk membersihkan meja yang terdapat piring kotor di atas meja nya saat ini.


*


Abi melihat wajah Quin yang terlihat bahagia sambil bersenandung pelan. Abi pun penasaran dan merengkuh tubuh sang istri dengan pelan, sehingga memuat Quin terkejut.


“Abi ...” Quin memukul pelan lengan Abi.


“Kelihatannya kamu bahagia? Ada apa?”


“Kamu tau ternyata Martin itu tak seculun yang kita lihat biasanya. Dia sangat tampan.”


Abi memperkuat rengkuhan di tubuh istrinya sehingga membuat Quin sedikt terjepit.


“Jangan memuji pria lain selain aku.” Ujar Abi yang terdengar sangat posesif.


“Maaf, aku hanya ingin bilang jika Anggel dan Martin akan memulai hubungan mereka dengan pertemanan. Tapi yang membuat aku bahagia adalah, video empus yang terlihat membaur bersama kekasihnya.”


Abi tersenyum, ia sengaja mengirimkan video tersebut untuk menghibur sang istri yang semalam mengigau dan menyebut nama empus. Hah, empus aja di sebut dalam mimpi, Abi kapan?


 Duh, Abi sama empus aja cemburuh nih, gimana dengan berbi? Mungin Abi akan menjadikan berbi sebagai tali untuknya olah raga lompat tali kali ya.


“Abi, apa kamu sibuk malam ini?”


“Tidak, kenapa?” Abi mengecup pucuk kepala Quin.


“Aku ingin jalan-jalan melihat kota Soeul. Seru deh kayaknya jalan kaki di pinggir jalan dengan kerlap kerlip lampu jalanan.”


 “Dingin Quin.”


“Kan aku udah beliin kamu mantel yang sama bareng aku? Kita pake nya samaan, biar couple-an. Mau?”


“Baiklah, aku mau, tapi ada syaratnya.”


“Apa?”


Abi mengerucutkan bibirnya tanda untuk di cium oleh Quin. Quin tersenyum malu kemudian ia mengecup pipi Abi.


“Bukan di situ, tapi di sini.” Abi kembali mengerucutkan bibirnya.


Dengan wajah yang memerah, Quin mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Abi. Namun saat Quin baru saja menempelkan bibirnya, Abi langsung menahan kepala Quin dari samping dan ******* bibir yang sudah menjadi candu bagi nya itu.


*


“Veer, apa yang terjadi? Kenapa semua orang terlihat tegang sekali hari ini, dan kenapa jantung kakek tiba-tiba bisa kumat?”


Seluruh anggota keluarga sengaja merahasiakan berita tentang Quin dari Nafi. Itu bertujuan agar tak membuat Nafi kefikiran dan stres. Semenjak kepergian Quin, baru sehari aja Nafi sudah menangis karena merindukan Quin. Ia mengatakan jika sangat ingin memandang wajah Quin dan menghirup aroma tubuhnya. Entahlah, mungkin Nafi sedang ngidam. Tapi ngidamnya membuat Veer merasa cemburu.


“Tidak ada sayang.” Veer mengelus pucuk kepala Nafi dengan sayang.


“Jangan bohong Veer, jika tak ada terjadi apapun, bagaiman mungkin berita tentang pernikahan Quin tersiar di seluruh siaran televisi?”


“Itu karena memang sudah waktunya dunia tahu tentang pernikahan Quin dan Abi. Agar tak menjadi Fitnah karena Quin menemani Abi ke Korea.”


Mendengar kata Korea, Nafi tiba-tiba saja merasa wajahnya memanas dan bersemu merah. Veer yang menyadari itu langsung terlihat sangat khawatir.


“Kamu kenapa? Sakit?”


Nafi menggeleng pelan. “Tidak, hanya saja---“


“Hanya saja apa?” tanya Veer dengan nada paniknya.


“Aku mengingat kejadian saat pertama kali kita melakukan itu. Aku mengingatnya.”


Veer mengerjapkan matanya. “Kamu sudah ingat semuanya?” Tanya Veer dengan jantung berdebar dan siap meledak karena bahagia.


“Tidak semua, aku hanya mengigat setiap moment kebersamaan kita di Korea. Dan juga, kita melakukan ‘hal itu’ pertama kali di sana.”


Veer menarik sudut bibirnya. Veer bahagia, di saat ingatan Nafi memilih untuk mengingta hal paling bersejarah dan penting di hidupnya.


“Kamu ingin melakukannya lagi di sana? Mengulang semua kenangan manis kita dulu saat pertama kali melakukannya?”


Dengan wajah merona Nafi pun menganggukkan kepalanya.


 “Baiklah, aku akan mengatur jadwal ku dan kita bisa berlibur ke sana.”


 “Terima kasih Verr, aku mencintai kamu.”


“Aku juga.” Veer membalas pelukan Nafi dan menghujani pucuk kepala Nafi dengan ciuman yang bertubi-tubi.


 


**


Yang belum favoritkan TWINS A and MISS CERIWIS,


Buruan di favoritkan ya ... jangan lupa like dan komen juga ..


 Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2