KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 32


__ADS_3

Mata Nafi berbinar saat melihat semangkok Mie instan hasil buatan Veer di hadapannya.


" Wanginya enak banget.."


Nafi meniup dan memasukkan mie instan itu kedalam mulutnya..


" Eemm, benar-benar enak.. Kamu memang koki terbaik.." Ujar Nafi dengan mulut penuh.


Ini pertama kalinya Nafi berbicara dengan mulut penuh makanan.


Veer terkekeh melihat Nafi makan seperti anak kecil. Nafi terus memasukkan Mie instan itu kedalam mulutnya, hingga bibirnya belepotan.


" Naf.."


" Heemm?" Nafi menoleh.


Veer membersihkan sisa makanan di sudut bibir Nafi.


" Belepotan gini, persis anak kecil tau gak.." Veer tersenyum dan itu membuat kinerja jantung Nafi bertambah.


Nafi membeku saat Veer mengusap sudut bibirnya, belum lagi senyuman Veer yang membuat ketampanannya bertambah-tambah..


Veer membalas tatapan Nafi, hingga akhirnya Veer mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Nafi.


Veer melihat ke mata Nafi, Tidak ada perlawanan atau pun penolakan, Veer kembali mendekatkan bibirnya untuk menempel ke bibir Nafi. ******* dan menghisap bibir yang mulai menjadi candu bagi Veer. Entah sejak kapan rasa ingin terus mencicipi bibir itu muncul.


Veer melihat mata Nafi mulai tertutup, Veer pun semakin menguasai bibir Nafi, yang hanya diam menerima semua tindakan Veer.


" Empuss.. Kok di sini?, Eeh. Maaf aku gak tau ada Mas Veer dan Kak Nafi.."


Seketika ciuman itu pun terlepas. Nafi dan Veer sudah salah tingkah, hingga Nafi berdiri.


" Kamu mau kemana? Mie nya belum habis.."


" A-Aku mau minum" Wajah Nafi sudah seperti kepiting rebus.


" Biar aku ambilkan "


Shaka merasa bersalah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Kamu kenapa belum tidur?"


" Shaka haus ."


" Mas Ambilkan, mau minum apa?"


" Susu.."


"Tunggu sebentar.."


Veer menuju pantri dan menuangkan air mineral untuk Nafi, kemudian beralih ke kulkas, mengambil susu dan menghangatkannya.


Veer membelai bibirnya, rasa Manis bercampur asin dari bumbu Mie itu terasa nikmat sekali. Veer pun membayangkan bagaiman rasanya jika memakan Mie bersama dengan Nafi, menggigit tiap ujungnya, hingga bibir mereka bertemu dan kembali menghisap habis rasa itu dari bibir masing-masing.


" Mas, masih lama?" Suara Shaka membuyarkan lamunan Veer.


" Iyaa, ini udah selesai "


Veer kembali dengan membawa dua gelas air, satu untuk Nafi, dan satu susu untuk Shaka yang masih berdiam diri di tempatnya semula.


" Nih.."


" Makasih Mas," Sakha berbalik, namun kemudian suara Shaka berhasil membuat Nafi terbatuk-batuk.


" Maaf Mas, udah ganggu adegan romantis kalian." Ujar Shaka dengan wajah polosnya.


Uhuukk... uhuukk...uhuukk...uhukk...


.


.


" Abi, sebaiknya kamu antar Quin pulang yaa.."


" Eeh, gak usah kek. Quin bisa pulang dengan Papa dan Mama." Quin memberikan senyuman terbaiknya.


" Udah, jangan malu-malu. Mama kamu dulu gitu juga saat Papa mendekatinya. Biar kalian makin akrab, pulang bareng Abi ya. Mama dan Papa mau pacaran dulu.." Ujar Papa Arka.


" Tapi..."


" Udaah, gak pake tapi-tapi "


" Bukan gitu Ma, Pa, Quin lupa memasukkan Empus kerumahnya. Gimana kalo dia berkeliaran di rumah, ada Nafi di rumah, pasti dia ketakutan."


" Mama yakin, pasti Veer sudah berada di rumah dan melindungi Nafi."


" Tapi..."


" Nak Abi ini Dokter hewan kan?"


"Iya Tante.."


" Lain kali main ke rumah yaa.. kenalan dengan hewan peliharaan Quin, terutama si Empus, yang paling di sayang."


" Iya Tante, lain kali Abi main kerumah."


" Jangan panggil Tante dong, Panggil Mama dan Papa, sebentar lagi kan kalian akan menikah"


" Maa..." Rengek Quin.


" Kenapa? kalian saling mencintai kan? Lagian sepertinya Mama dan Papa tidak sabar untuk menimang cucu.."


" Maa, " Quin mengerucutkan bibirnya. Dan itu sangat menggemaskan.


" Mama gak bilang kalo kalian harus menikah besok, Tapi jika lebih cepat akan lebih bagus. Gak baik pacaran lama-lama. Bisa bikin Fitnah dan dosa."

__ADS_1


" Ma.."


" Lagian Abi sudah berumur 31 tahun, sudah pantas menjadi kepala keluarga. Dan sudah seharusnya menjadi seorang ayah. Bukan begitu Abi?"


" Eh.. I-iya Tante.. eh, Mama." Abi langsung meralat panggilannya saat melihat mata Kesya membulat.


" Ya sudah, kamu Antar anak gadis Mama pulang ya. Ingat, jangan malam-malam kali pulangnya. "


" Iya Ma.."


Quin rasanya sudah ingin terbang saja dari tempatnya berpijak saat ini. Di katain kuntilanak biar deh, yang penting tidak bersama Abi dan situasi seperti ini.


Quin memakai kembali masker dari sapu tangan Abi tadi. Setelah mengantar Mama, Papa, Kakek Farel, Kakek Andreas ke dalam mobil mereka masing-masing. Quin pun menghentak-hentakkan kakinya kesal, persis seperti anak kecil.


" Kamu gak mau pulang?"


Quin menoleh kearah Abi, kemudian dia berjalan kearah mobil Pajero yang terparkir di baseman.


" Mau ke mana?" Tanya Abi menghentikan pergerakan Quin.


" Mobil.."


tit..tit..


Quin mengerjap saat mobil Lamborghini keluaran terbaru itu mengedipkan lampunya saat Abi menekan sensornya.


" Ayoo.." Abi membukakan pintu untuk Quin.


" Waaah, karena ingin bertemu dengan keturunan Moza, kamu membawa mobil mahal ini? CK...CK..CK..." Quin berdecak kesal, tidak suka dengan orang yang memamerkan hartanya.


" Kakek yang memaksa ku."


"Yang penting ada alasan ." Quin masuk dan membiarkan Abi menutup pintu nya.


" Mau langsung pulang?" Tanya Abi setelah berada di belakang kemudi.


" Hemm.." Quin kesal, entahlah.. rasanya semakin kesal saat mengetahui Abi mengendarai mobil mewah dan sering di juluki mobil sultan ini. Seakan Abi sedang memamerkan kekayaannya.


Quin hanya memandang kearah luar jendela, berharap nasibnya tidak seburuk cerita di novel-novel. Di mana, harus terpaksa menikah dengan orang yang tidak di cintainya, bahkan pria itu juga tidak mencintainya, dan lebih parahnya sang pria masih mencintai mantan kekasihnya. Quin berharap tidak merasakan hal itu. Quin hanya ingin di cintai, dan mencintai, Quin hanya ingin dimiliki oleh satu orang, dan untuk selamanya, dan begitu juga sebaliknya, hanya Quin yang boleh memiliki sang pria, dan hanya Quin yang harus menjadi ratu di hari pria miliknya.


" Apa yang kamu fikirkan?" Abi mencoba mencairkan suasana.


" Tidak ada "


" Benarkah?"


" Bisakah kamu berhenti di sana?"


" Untuk apa? "


" Sudah, berhenti saja, jangan bertanya lagi.."


Abi pun menghentikan mobilnya, " Aku mengantar mu pulang." Abi siap menjalankan lagi mobilnya.


" Kamu yakin?"


" Apa?"


" Kamu yakin perutmu tidak akan sakit jika makan di pinggir jalan?"


" Jangan sama kan aku dengan perempuan tajir lainnya Tuan." Geram Quin.


" Oke, baiklah.." Abi membuka kunci, dan membiarkan Quin turun tanpa menunggu dirinya untuk membukakan pintu.


" Gadis yang unik." Gumam Abi..


Abi mengikuti Quin, dan juga ikut duduk di hadapan Quin.


" Kamu mau?"


" Tidak, aku masih kenyang."


Quin pun hanya memesan satu porsi mie tiaw.


" Kamu sering ke sini?"


" Heum, bersama Veer, Lana, Arash, Abash, Fatih, Dan kadang juga bersama Kak Zein."


Abi mengangguk-anggukkan kepalanya. " Apa dari sekian pria di dekat mu tidak ada yang kamu sukai?"


" Ada, Veer. Dia yang paling sempurna."


" Dia kembaran mu."


" Aku tau, dan aku akan mencari pria yang melebihi Veer. Pria yang mencintai aku melebihi Papa, Mama, Arash, Abash, Shaka, dan Veer "


" Arash? Abash? Shaka?"


" Mereka adik-adik ku. Dan kamu? Apa kamu masih mencintai Anita?"


" Anita? Dari mana kamu tau?"


" Aku tidak sengaja mendengar saat aunty berbisik kepada mu. Katakan, kenapa kalian putus?"


" Aku tidak akan mengatakannya."


" Terserah, lagian itu bukan urusanku."


" Maaf Mbak, ini pesanannya."


" Makasih Mas."


Quin sangat bersemangat melihat Mie yang mengeluarkan asap itu.


" Kamu yakin tidka ingin mencobanya?"

__ADS_1


" Hemm.."


Setelah mengucapkan bismillah, Quin memasukkan mie tiaw itu ke dalam mulutnya.


" Eemmm, ini memang enak. Kamu akan menyesal jika tidak mencobanya."


" Aku sudah kenyang."


" Ayo lah.. Apa kamu takut sakit perut? Dasar Sultan manja.."


" Apa kamu bilang? Aku tidak seperti ithmpp.." Quin memasukkan sesendok mie tiaw kedalam mulut Abi.


" Gimana?"


Abi mengunyah mie tiaw itu, namun rasanya benar-benar sangat enak. Quin tidak bohong, seketika peliharaab Abi yang ada di dalam perutnya meronta-ronta untuk mencicipi Mie tiaw itu.


" Ini sungguh enak."


" Aku gak bohong kan.. Ayoo lagi.. Aaa.."


Abi pun membuka mulutnya, dan membiarkan Quin menyuapi nya.


" Mau lagi?"


Abi menganggukkan kepalanya.


" Mas, satu lagi yaa makan di sini, Lima dibungkus."


" Banyak banget?"


Quin hanya tersenyum dan melanjutkan makannya.


" Kamu tidak ingin menyuapiku lagi?" Abi sudah menelan ludahnya saat melihat Quin memasukkan mie tiaw kedalam mulutnya.


" Hei, aku yang lapar kenapa kamu yang kelaparan?"


Abi cengegesan dan menggaruk kepalanya. "Ini enak, benar-benar enak."


" Apa ini yang pertama untuk mu makan di pinggir jalan?"


" Iyaa.."


" Waah, pasti Anita dari kalangan sultan, jadi kalian hanya menikmati makanan mewah. "


Abi hanya tersenyum menanggapi ucapan Quin. Yang mana sebenarnya Anita adalah dari kalangan Biasa, namun Anita selalu menyukai makanan di restoran, berbeda dengan Quin yang dari kalangan sultan, tapi tidak malu untuk makan di pinggir jalan. Padahal pakaian yang di kenakannya sangat mahal, dan dia tidak peduli itu.


" Lain kali aku akan membawa mu makan nasi Padang. Aku tau tempat yang enak, apa kamu pernah makan gulai kikil? itu sangat nikmat.."


" Benarkah? aku tidak sabar untuk mencobanya.."


" Baiklah, lain kali kita pergi yaa.. ingat, kosongkan perut mu."


" Okee..."


Tak berapa lama pesanan Abi datang, dengan berbinar dan semangat 45 Abi menyantap Mie tiaw itu.


" Heeii, santailah.. Tidak akan ada yang mengambil makananmu."


Abi menyengir, " Ini sangat enak.. "


"Apa kamu suka pedas?"


Abi mengangguk.


" Tambah cabai ini sedikit, maka rasanya akan semakin duaar.. liar biasa.."


" Benarkah?" Abi pun mencoba, dan benar saja. Rasanya sangat nikmat dan cocok dengan lidah Abi.


Abi mengelus perutnya yang kekenyangan.


" Ini sungguh enak, apa selain di sini masih ada tempat makan enak lainnya?"


" Lain kali aku akan mengajak mu."


" Kamu sudah janji, dan harus menepatinya."


" Tentu, aku bukan tipe orang yang suka mengingkari janji."


Setelah membayar, walaupun ada perdebatan antara Quin dan Abi. Akhirnya Quin membiarkan Abi untuk membayarnya.


Quin memeluk dirinya saat menunggu Abi menantikan kembaliannya. Tadinya Bai sudah mengatakan untuk mengambil kembaliannya, tapi si penjual menolaknya.


Abi membuka jasnya saat melihat Quin memeluk dirinya. Abi pun membungkus tubuh Quin dengan jaketnya.


" Terima kasih, aku fikir kamu tidak peka."


Abi mengerjap, Abi fikir Quin akan tersanjung dengan perlakuan manisnya.


" Hei, apa yang kamu fikirkan. Uppss.. jangan katakan jika aku akan tersentuh dengan perlakuan mu. Ha..ha..ha.. Abi..Abi.., bukankah sudah aku katakan jika Veer pria paling sempurna? Ah, aku lupa mengatakan jika Lana adalah plagiat Veer. Jadi aku sudha terbiasa dengan perhatian kecil seperti ini. Ha..ha..".


Quin berjalan meninggalkan Abi di belakangnya.


" Wow, benar-benar wanita tangguh."


Abi merasa tertantang untuk membuat Quin tersanjung.


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.

__ADS_1


__ADS_2