KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF -113


__ADS_3

"Vina?" Oma Rosa terkejut karena tepukan halus di bahu nya.


Mami Vina terkekeh dan duduk di sebelah Bunda Sasa.


"Jadi Ma, Mi, Vina udah buntutin itu si Zein sama Ila. Dan sepertinya mereka memang memiliki hubungan yang spesial. Pokoknya Vina mau lamar Ila untuk Zein." Mami Vina menoleh kearah Oma Rosa.


"Sekarang yang jadi pertanyaan, Mama mau gak besanan sama Vina?" Tanya Mama Vina sambil menaik turunkan alisnya.


"Ya ... ya... Mama sih tergantung sama anak-anak aja. Kalo mereka saling mencintai, kenapa gak?"


"Nah, intinya mereka harus cepat-cepat di nikahi. Vina gak mau Zein dan Ila makin banyak numpukin dosa."


"Maksud kamu?" Tanya Oma Shella dan Oma Rossa berbarengan.


Mami Vina dan Bunda Sasa pun saling melirik. Bukannya Bunda Sasa tak tau sampai mana hubungan Zein dan Kayla, karena Mami Vina yang sering curhat dengan Bunda Sasa. Kan gak mungkin ya bilang sama Oma Rosa kalo Zein main cium-cium Kayla? Bisa di kulitin Zein sama Opa Nazar.


"Eemm, itu ..."


"Pacaran lama-lama kan gak baik Ma, Mi. Mending di nikahi aja mereka terus, gak enak juga di lihat tetangga kan? takut jadi gosip yang enggak-enggak." Sambung Bunda Sasa saat melihat Mami Vina gugup.


"Iya, bener Ma, Mi. Mending nikahi aja lah mereka." Tambah Mami Vina. "Dari pada kebablasan entar, habis Zein di cincang sama Mas Vano dan Di kuliti oleh Ayah Nazar." Batin Mami Vina.


"Tapi, jika mereka saling mencintai, kenapa Ila menyetujui perjodohan yang pernah Mama tawarkan kepada Ila?"


"Perjodohan?" Tanya Mami Vina dan Bunda Sasa berbarengan.


"Hmm, waktu Ila baru tiba di Indo, anak teman Mama ada yang mau minang Ila. Mama kan harus tanya persetujuan Ila dulu, dan Ila menolak perjodohan itu. Tapi sekarang Ila nya sendiri yang malah meminta perjodohan itu di lanjutkan."


"Terus Ma? Mama udah bilang sama teman Mama itu?" Mami Vina sudah mulai heboh sendiri.


"Mama belum ngomong lagi sama teman Mama. Mama ke sini karena Mama mau menanyakan pendapat Mami kamu."


Mami Vina menghela napasnya lega.


"Yang bisa korek-korek informasi, ya Sasa Ma." Ujar Mami Vina, yang mana Oma Shella dan Oma Rosa pun memandang Bunda Sasa.


"Hah, baiklah ... Nanti Sa coba bicara dengan Ila."


"Oh ya, Tadi Kesya telpon, dia bilang Empus sudah di bawa pergi."


"Empus di bawa ke mana?" Tanya Bunda saa dan Mami Vina berbarengan.


"Mau di bawa ke German. Abi sudah membeli hutan pribadi di sana. Lagi pula, Quin dan Abi akan tinggal di sana dalam beberapa bulan."


"Waaww, Abi sampai beli hutan pribadi untuk Quin khusus Empus?" Tanya Mami Vina antusias.


"Heuem "


"Kenapa harus di sana? kenapa gak di sini aja?"


"Kalo di sini yang begituan susah pengurusannya. Lagian di sana teman Abi yang juga seorang dokter hewan yang membantu mengelola nya. Jadi mereka aman-aman aja kalo Empus sakit. Lagi pula di sana Empus gak bakal sendiri kok, Empus bakal punya pasangan nya."


"Oh yaa? waah, Empus gak jomblo lagi dong." Ujar Vinda dan Bunda Sasa berbarengan.


"Eh, Kabar Quin gimana?"


"Tadi sih kata Key masih nangis. Abi Sampai gak ke klinik karena gak tega lihat Quin."


*


Di kediaman Papa Arka, Veer dan Nafi baru saja tiba. Veer langsung mengajak Nafi pulang karena mendengar Quin sedari tadi menangis tanpa henti.


"Veer, Nafi," tegur Mama Kesya menyambut anak dan menantunya itu.


"Quin mana Ma?"


"Di kamar nya."


"Masih nangis?"


"Hem, Abi sedari tadi udah bujukin Quin, tapi masih nangis juga. Coba kamu yang bujuk Quin?"


"Fi, aku ke kamar Quin dulu ya. Kamu mau ikut?"


Nafi menggeleng, ia mengerti jika Quin membutuhkan qualitu time bersama kembarannya.


"Nafi bantu Mama di dapur aja yuk." ajak Mama Kesya.


"Eh, tapi Nafi gak bisa masak, Ma."


"Gak papa, bantu liat aja. Ayook."


Nafi pun menurut dan mengikuti Mama Kesya ke dapur. Veer melangkahkan kaki nya menaiki undakan tangga hingga membawanya ke lantai dua, di mana kamar Quin dan Abi berada.


Veer mengetuk pintu kamar yang tak tertutup rapat itu. Kemudian ia membuka pelan pintu itu. Veer langsung mendapatkan pemandangan di mana Quin tengah tertidur di dalam pelukan Abi, sedangkan Abi memberi kode dengan meletakkan jari telunjuk nya di bibir, menandakan kepada Veer agar tak bersuara keras.

__ADS_1


Veer mendekat dan melihat wajah kembarannya yang sembab karena menangis.


"Apa dia baru saja tidur?" Tanya Veer sambil mengelus rambut Quin dengan sayang.


Bukan nya terganggu, Quin malah semakin menelusupkan wajahnya ke dada bidang Abi dan mempererat pelukannya.


"Baru 10 menit yang lalu."


"Apa dia sudah makan?"


"Belum, dia menangis tanpa henti."


"Coba bujuk dia untuk makan nanti, aku gak mau Quin sakit."


"Tentu kakak ipar." Ujar Abi dengan tersenyum lebar.


"Jangan panggil aku begitu, sungguh menggelikan." Ujar Veer sambil mencebikkan bibirnya dan keluar dari kamar Abi dan Quin.


*


"Gimana Quin?" Tanya Nafi saat melihat Veer muncul di dapur.


"Udah tidur."


"Kalian makan siang di sini kan?" Tanya Mama Kesya.


"Mulai malam ini kami juga bakal tidur di sini, Ma."


"Benarkah? syukurlah, Mama akhirnya gak merasa kesepian." ujar Mama Kesya sambil memeluk Nafi.


Veer hanya terkekeh melihat tingkah manja sang Mama.


"Ada apa ini? kok berpelukan?" Tanya Papa Arka yang juga ikut muncul di dapur.


"Ini loh Pa, Veer dan Nafi bakal tinggal di sini lagi."


" Oh ya? benarkah? Waah, bagus itu."


Nafi merasakan kehangatan yang berbeda di keluarga Veer. Bukannya Nafi tak mendapatkan kehangatan di keluarganya, berhubung Nafi hanya anak tinggal, jadi Nafi sering merasa kesepian jika sang Mama dan Papa nya sibuk dengan pekerjaan mereka.


*


Berbeda dengan Quin yang menangis karena kepergian Empus. Anggel menangis karena lagi-lagi Lana di usir oleh Mami nya.


Emang sih, Oma Mega gak ngusir Lana dengan kasar kayak di film-film ikan terbang gitu, tapi Lana tak di izinkan untuk bertemu dengan Anggel. Jangan bertemu, memegang ponsel nya sjaa Anggel tak di izinkan.


"Hmm, bawa balik aja sana. Aku gak mau makan."


"Kamu harus makan, kalo kamu lemah, kamu gak akan bisa bertahan melawan Mami kamu." Ujara Lucas sambil duduk di sebelah Anggel.


"Aku rindu Lana," Ujar Anggel to the point.


"Aku di izinkan masuk ke kamar kamu tanpa menbawa ponsel. Oma sepertinya benar-benar serius untuk menjodohkan kamu."


Anggel langsung menoleh kearah Lucas. "Apa maksud kamu?"


Lucas menghela napasnya. " Tadi aku gak sengaja dengar kalo Oma Mega mau jodohi kamu dengan anak temannya. Katanya anaknya baik, dan sudah lama punya rasa dengan kamu."


"Aku gak kenal." Ujar Anggel dengan jutek.


"Ya makanya, aku dengar nanti malam mereka akan datang kerumah untuk makan malam. Sekalian kenalan dengan kamu."


"Aku gak mau."


"Kamu gak bisa menolak." Ujar Oma Mega yang mendengar percakapan Lucas dan Anggel.


"Mami ...." Lirih Anggel.


"Mami sudah atur semuanya, kamu gak akan bertunangan dengan pria itu, melainkan Mami akan langsung menikahi kalian."


"Anggel gak mau." Pekik Anggel sambil berdiri dari duduknya.


"Anggel gak mau nikah selain sama Lana."


"Baiklah, silahkan kamu menolak dan merusak makan malam kita nanti dengan keluarga calon suami kamu. Maka esoknya kamu akan mendapatkan Mami tak bernyawa."


Setelah mengatakan itu, Oma Mega pun keluar dari kamar nya.


"Mami egooiiss ..." Pekik Anggel dan melempar beberapa barang di kamarnya hingga pecah.


*


Lucas memberi tahu kepada Lana bahwa Anggel akan dinikahkan dalam waktu dekat dengan seorang pria yang tak di ketahui namanya, membuat Lana semakin gusar. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Lo jangan becanda Luc." Ujar Lana dengan wajah yang menahan emosi.

__ADS_1


"Gue gak bakal becanda tentang hal seperti ini. Lo tau gue gimana kan?"


Lana berteriak meluapkan emosinya. Fatih hanya memandang sahabat-sahabatnya itu, belum lagi lusa adalah pertunangan Raysa dan Farhan.


"Lo harus sabar, Na. Kalo Lo emang berjodoh dengan Anggel, kalian akan tetap bersama." Ujar Fatih dengan bijak.


Lana menatap Fatih dan Lucas dengan emosi yang meluap.


"Kalian gak pernah tau apa yang aku rasakan. Kalian punya orang tua, sedangkan aku gak. Aku bahkan gak tau siapa ayah aku dan bagaimana rupanya. Aku gak tau apa aku anak haram atau terlahir atas pernikahan. Kalian gak tau gimana rasanya jadi aku." Pekik Lana.


Bugh ....


Satu pukulan mendarat di wajah Lana hingga membuatnya terhoyong kebelakang dan terduduk. Lucas menatap Fatih dengan terkejut.


"Lo kira cuma Lo yang ngerasai bagaimana terlahir dengan status yang tak sah? Lo kira bagaimana gue bisa berada di dunia ini, Hah?" Bentak Fatih sambil mencengkram kerah baju Lana.


"Lo kalo ngomong, Lo pakek dikit otak Lo itu. Jangan Lo salahin orang tua Lo. Salah Lo sendiri Na, gue dari awal udah bilang sama Lo, lepasin Anggel jika Lo masih ngejar Quin, tapi Lo gak pernah dengar nasehat gue." Bentak Fatih.


Air mata Lana seakan mengalir dengan deras. Ia meraih kepalam tangan Fatih yang ada di kerah bajunya, dan membawa kepalan tangan Fatih kembali kewajahnya.


"Pukul Gue Fat, Pukul. Gue emang anak yang gak tau bersyukur. Pukul Gue ... huaaa ...." Teriak Lana dengan kuat di depan wajah Fatih.


Buughh ....


Fatih kembali memukul Lana hingga darah segar itu pun kembali mengalir deras. Lana sudah tersungkur di lantai dengan bibir dan hidung yang berdarah.


"Lo gila Fat? Lo bisa bunuh dia." Pekik Lucas.


"Dia yang minta di pukul sambil berteriak di depan wajah gue." Jawab Fatih polos.


Lucas mengusap wajahnya kasar. Kemudian ia mendengar Lana tertawa, yang mana membuat Lucas mengerutkan keningnya.


"Tapi gak kuat-kuat juga kali Fat. Lo tau sendiri pukulan Lo bisa membunuh." gerutu Lana.


"Siapa suruh Lo teriak depan muka gue. Bisa pekak telinga gue ntar. Hilang cakep gue, udah lah Layca gak bisa gue dapati, masa iya cewek lain gue juga gak bisa dapati?" Ujar Fatih dengan santai.


"Gilaaa emang kalian. Kalian emang benar-benar pria gila akan cinta." Pekik Lucas tak suka.


"Lo belum nemu cewek yang bisa buat Lo nyaman aja. Kalo udah Nemu, gue yakin Lo bakal bucin kayak Papi Lo." Ujar Lana.


"Gimana mau bucin, ciuman aja dia malah muntah-muntah, BwahahhA ...." Ledek Fatih.


"Jangan kan ciuman, bayangin ngelakuinnya aja udah muntah mencret." Sambung Lana.


"Maka nya Stella mutusin dia, takut gak bisa muasin." Tambah Fatih.


Lana dan Fatih pun tertawa terbahak-bahak melihat Lucas yang sudah seperti Tuan crab.


Bugh .... Bugh ...


Lana kembali tergolek di lantai setelah mendapatkan pukulan dari Lucas, begitu pun dengan Fatih yang mengusap sudut bibirnya yang terasa anyir.


"Brengs*k Lo." Maki Fatih dan melayangkan tinju nya.


Lana tak mau kalah, ia juga ikut memukul Lucas, sehingga terjadilah perkelahian yang membuat mereka saling memaki, mengejek, dan tertawa di bawah guyuran hujan deras.


Ketiga pria kekanak-kanakan itu pun akhirnya tergolek lemas dengan perbuatan mereka sendiri. Jangan di tanya lagi bagaimana penampilan acak-acakan mereka.


"Luc, Lo serius Angel mau nikah?" Tanya Fatih yang mana kembali mengambil perhatian Lana.


"Udah gue bilang tadi kan, kalo gue gak bercanda. Bahkan malam ini mereka akan menjamu tamu spesial itu."


Lana dan Fatih saling memandang.


"Oh ****, kenapa Lo baru bilang sekarang?" Pekik Lana.


"Lo aja yang lebay sampai minta di pukul."


Lana bergegas berdiri dan berlari meninggalkan atap gedung tersebut. Fatih dan Lucas saling pandang.


"Apa perlu kita ikut?" Tanya Fatih.


"Yok lah, dari pada meraung-raung gak jelas tuh anak di rumah Oma Mega."


Fatih dan Lucas pun bergegas mengejar Lana.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2