
Setelah mengantar Kakek dan Aunty Risma ke dalam mobil mereka, Quin dan Abi pun melenggang menuju mobil mereka. Quin membolakan matanya saat melihat mobil Abash memasuki halaman parkir restoran.
Quin menarik tangan Abi untuk mengikutinya. Quin mengajak Abi bersembunyi di balik pilar, Quin pun berdiri di hadapan Abi, dan memegang jaket berbahan jeans itu untuk menutupi wajahnya. Abi sempat bingung, namun saat mata Abi mengikuti arah tatapan Quin, Abi mengerti. Apa Quin takut ketahuan selingkuh?.
" Kenapa?"
" Diamlah, jangan berisik."
Setelah merasa aman, Quin menghela napasnya lega.
" Aku heran, kalo kamu punya pacar secakep itu, kenapa masih meminta ku untuk menjadi pacar bohongan kamu?"
" Dia bukan pacar ku."
" Lalu?" Abi menaikkan alisnya sebelah.
Quin membenarkan posisi berdirinya. " Baiklah, kita berpisah di sini. Bye.."
Quin berlari menuju taksi yang baru saja menuruni penumpangnya.
" Qila, aku yang akan mengantar mu.." ujar Abi yang sudah menahan tangan Quin untuk masuk kedalam taksi.
" Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri."
" Kamu masih tanggung jawab ku. Ayoo.." Abi meminta maaf kepada sang supir, dan menarik tubuh Quin untuk masuk kedalam mobilnya.
Di dalam mobil, Quin berfikir, jika Abi mengantarkannya ke rumah, maka sang Papa kali ini tidak akan membiarkan Abi pergi dengan mudah. Dan penyamarannya selama ini akan ketahuan, Sebaiknya Quin tidak pulang kerumah.
" Eem, bisakah kamu mengantarku ke alamat ini.?" Quin memberikan alamat rumah Oma Shella
" Rumah siapa ini?"
" Rumah Oma ku. Hari ini aku sudah berjanji untuk menginap di rumah Oma."
" Baiklah."
Tanpa bertanya lagi, Abi mengantarkan Quin kealamat yang di berikannya tadi.
" Terima kasih.." Ujar Quin ketika mobil yang dikendarai Abi sudah sampai di depan rumah Oma Shella.
" Tunggu." Abi turun dan segera membukakan pintu untuk Quin.
" Terima kasih, seharusnya kamu tidak perlu melakukan itu."
" Sudah tugas ku sebagai seorang pria "
Quin hanya mengendikkan bahunya.
" Quin? "
Quin langsung berbalik saat mendengar suara sang Bunda.
" Bunda.." Quin gugup, tentu saja. Quin fikir jika Bunda Sasa sudah tertidur, karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
" Kamu sama siapa?"
" Eem, ini.. Kenalin, ini Dokter Abi Bund, dan Dokter Abi, ini Bunda."
" Malam Tante.."
" Malam.." Bunda Sasa memperhatikan Abi, ingatan Bunda Sasa langsung menuju pria yang keluar dari ruangan Quin bersama. "Dia, __"
" Bunda kok belum tidur? Tungguin Daddy ya?" Quin sengaja mengalihkan pembicaraan.
" Oh, enggak kok. Bunda tungguin Zein. Nah, itu dia.."
Tak berapa lama Zein yang mengendarai motor sport nya pun sampai, dengan membawa bungkusan yang berisi makanan.
" Quin, tumben pulang ke sini?"
" Kenapa? gak boleh Quin rindu Bunda?"
Zein langsung menyadari kehadiran Abi. " Dia.."
" Oh teman Aku. Makasih ya Dokter, sudah mengantarkan saya.." Quin mengusir secara halus Abi. Abi pun berpamitan karena mengingat waktu yang sudah terlalu malam.
" Zein juga Bun, Zein pulang yaa... Besok Zein harus kerja."
" Iya sayang, Makasih yaa.."
" sama-sama Bunda ku sayang." Zein mengecup pipi Bunda Sasa.
Abi melihat kepergian Zein, sebelum mobilnya melaju meninggalkan rumah Oma nya Quin.
" ooh, Pantes aja Qila dekat juga dengan Zein, ternyata tetanggaan." Ujar Abi berbicara dengan dirinya sendiri.
.
__ADS_1
.
" Kamu gak pulang semalam? Kenapa?" Veer mendatangi Quin yang berada di toko.
" Kangen Bunda, Oma, dan Opa."
" Ooh... Oh ya, nanti malam jangan lupa ya."
" CK, kamu ke sini karena khawatirin aku atau ngingatin aku sih?" Kesal Quin.
" Dua-dua Quin, ini pertemuan penting, ingat itu"
" Awas aja kalo berani bahas perjodohan, jangan salahkan aku jika membuat masalah"
" Quin.. Kita sudah bicarakan ini sebelumnya kan?"
" Veer nyebelin.." Quin berdiri dan pergi dari hadapan Veer. Veer hanya menghela napasnya pelan melihat kembarannya itu merajuk.
.
.
Mama Kesya sudah memilihkan gaun untuk Quin pakai di acara makan malam. Quin mendengus kesal melihat gaun yang ada di atas tempat tidur itu.
" Quin, apa kamu sudah selesai?, ayo kita berangkat, nanti terlambat.." Panggil Veer
" Sebentar.." Teriak Quin, dan mengambil gaun Yang ada di atas tempat tidur tersebut.
Quin terus saja menggerutu kesal, hingga dirinya selesai berdandan. Quin tidak suka riasan tebal, cukup menggunakan pelembab dan sedikit bedak padat, serta memoles bibbir nya dengan lipstik berwarna soft pink.
" Waaww, yang mau ketemu calon suami, cakep bener.."
" CK, nyebelin banget siih.." Kesal Quin dan menginjak kaki Veer dengan tumit high heels nya.
" Aaww,, sakit Quin.." Veer meringis perih.
" Gak rasa.."
" Waaah.. anak Papa cantik banget.."
Quin memutar bola matanya malas.
" Udah cantik gini jangan cemberut dong.."
" Oh yaa? Kenalin dong ke Papa.."
" Quin emang mau kenalin dia ke Papa, Mama , dan Kakek, tapi makan malam ini yang merusak rencana Quin buat kenalin dia.." Quin memajukan bibirnya.
" Duuh.. jangan ngambek gitu deh.. Kalo Quin udah punya pilihan sendiri, Nanti Papa coba bujuk kakek ya.."
" Ciuss..? Papa Janji?"
" Iya sayang.."
Quin memeluk lengan sang Papa, dan bergelayut Manja.
" Nafi gak ikut?" Tanya Papa kepada Veer yang melihat pakaian Nafi masih biasa-biasa aja.
" Gak Pa, Nafi di rumah aja. Lagian kalo Nafi ikut, terlalu mencolok untuk status kami."
" Yaah, sayang banget Kakakp Ipar gak ikut."
Nafi hanya memberikan senyuman kepada Quin.
" Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu ya. Kakek sudah menunggu di sana."
" Iya Pa, Ma, hati-hati yaa.." Nafi mencium punggung tangan Mama dan Papa.
" Eiits, ke Veer juga dong." Goda Quin.
"Ehh, eem.." Pandangan mata Mama dan Papa yang menuntut Nafi untuk mencium punggung tangan Veer pun, akhirnya membuat Nafi mengulurkan tangannya kearah Veer, dan mencium punggung tangan Veer.
Deg..
" Hati-hati.."
" Iya.. Kalo ada apa-apa, hubungin aku aja yaa.."
" Iyaa.."
" Duuh, serasa nonton film romantis deh.." Goda Quin.
" Udah yukk Ma, Pa. Lama-lama si Quin ngehalunya makin tinggi."
Quin, Veer, Papa Arka, dan Mama Kesya pun berangkat emnuju restoran milik keluarga Moza. Sesampainya di restoran, Quin yang sudah memakai masker pun turun dan Bergandengan dengan Veer.
__ADS_1
" Veer, pokoknya kamu harus janji buat bujuk kakek untuk membatalkan perjodohan ini. Ingat, aku punya pilihan sendiri."
" Iya Quin, iyaa... bawel banget sih.."
Semua pelayan restoran menundukkan setengah tubuhnya saat melihat kedatangan Papa Arka, Mama Kesya, Veer, dan wanita yang memakai masker, yang mereka duga adalah Quin.
Di ruangan VVIP, Kakek Farel dan sahabat lamanya, Tuan Andreas pun sudah duluan hadir dan berbincanh-bincanh bersama, Termasuk cucu dari Tuan Andreas.
Pintu terbuka dan menampilkan Papa Arka, Mama Kesya.
" Nah itu mereka sudah datang."
Papa Arka pun berkenalan dengan calon menantunya dan Tuan Andreas.
" Quin dan Veer mana?" Tanya Kakek Farel.
" Quin ke kamar mandi, dan Veer menemaninya."
" Anak itu.. Apa sudah menjaga pengawalan untuknya?"
" Sudah Pi.."
Kakek Farel berharap, agar Quin tidak melarikan diri.
Di dalam kamar mandi, Veer benar-benar mengikuti Quin masuk kedalam bilik kamar mandi, karena takut Quin akan melarikan diri.
" Dasar penguntit, tidak istri, tidak adik, di intip aja.." Kesal Quin karena rencananya untuk melarikan diri gagal.
" Aku tidak mengintip, Aku hanya menunggu kamu Quin."
Quin hanya mencibir mendengar ucapan Veer. Dengan kesal Quin melenggang keluar toilet wanita, dan mendapati betapa banyaknya pengawal yang sudah menunggu.
" Menyebalkan.." Kesal Quin menatap tajam kearah para pengawal yang tidak berani menatap kembali Quin.
Saat pintu di ketuk, Pengawal Kakek Farel langsung membukakan pintu, dan Quin masuk dengan mata yang menyipit, menandakan jika dirinya tersenyum.
"Nah, yang di tunggu tiba. Quin, Ke mari sayang.."
Dengan berat hati Quin mendekat, namun langkahnya terhenti saat melihat tamu makan malam mereka, Quin menelan ludahnya kasar, takut jika pemikirannya benar.
Quin melangkah mundur, namun Veer menahan pinggang Quin, dan mendorong tubuh Quin untuk maju.
' Mampus gue..'
" Quin, Veer, perkenalkan, ini Kakek Andreas."
Quin mencium punggung tangan Kakek Andreas. Dan menyambut uluran tangan Cucu dari kakek Andreas.
' Pepatah ternyata benar, jika dunia sebesar daun kelor. Mati gue.. mati..'
" Quin.. "
Quin menatap kearah sang Papa yang memberikan kode untuk membuka maskernya. Quin menggeleng, namun tatapan tajam langsung keluar dari Papa, kakek, dan Mama.
" Veer, buka masker mu" Bisik Veer.
Kakek Andreas menatap Quin dengan sabar, untuk membuka maskernya. Sedangkan cucu Kakek Andreas lebih fokus ke meja makannya.
Dengan gemetar dan slow motion, Quin membuka maskernya, membuat Mata Kakek Andreas membesar dan terbit senyum lebar di wajahnya.
" Qila.."
Quin memaksa senyumnya. Cucu dari Kakek Andreas yang tak lain adalah Abi pun langsung menoleh saat mendengar sang Kakek menyebut nama Qila.
' Ini gak mungkin.. gak mungkin.. jangan katakan jika dia Quin..'
Mata Quin dan Abi saling beradu, hingga suara Kakek Farel mengambil perhatian mereka.
" Kamu kenal Yas?"
" Tentu, aku baru saja bertemu dengan Qila kemarin, Walaupun rambutnya berubah, tapi aku tetap bisa mengenalinya. Dia kekasih cucu ku, dan mereka saling mencintai. Bukan begitu Abi? Qila?"
Mati kutu... Quin dan Abi mati kutu...
Abi memaksakan senyumnya, dan menganggung. Sedangkan Quin sudah menggeleng untuk menyangkalnya.
" Aaahhh, jadi Dokter Abi ini kekasih kamu?" Goda Veer.
Quin langsung menancapkan High heelsnya ke ujung sepatu Veer, sehingga membuat Veer tersenyum sambil menahan rasa sakit di kakinya.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF.