
Hampir seharian ini hujan, namun Arka menikmati setiap detik dan menitnya.
" Eeegggrrhh" Duda sudah sendawa dari tadi.
Benar saja, Arka, Duda, dan Jodi sudah masuk angin karena terlalu lama bermain hujan. Duda sedang di urut dengan Ami, sedangkan Jodi di urut oleh Pak Rojak.
" Sayang" Panggil Arka memelas, Namun Kesya hanya melewatinya dan menuju dapur.
Kesya kembali dengan membawa sepiring minyak makan, kemudian Kesya mengeluarkan uang koin dan minyak kayu putih dari kantong nya.
" Buka baju" Titah Kesya.
" Malu yank" Bisik Arka.
" Malu-maluin iya. Cepat Buka"
Dengan ragu Arka membuka bajunya, terpampang lah tubuh polos, putih, bersih, berotot, perut kotak-kotak, sehingga Ami dan Lehah sampai memalingkan wajahnya. Arka menutup bagian depannya dengan baju yang dipegangnya.
" Mau di kerok ya Nak Kesya" Ujar Buk Siti dengan senyum penuh arti.
" Iya buk, biar anginnya keluar"
Kesya sudah tersenyum penuh arti bersama buk Siti, kemudian Lehah juga ikut-ikutan.
" Duduk berhadapan kalian bertiga" Titah Kesya.
Dari pada mendapati kemarahan Kesya, mereka langsung saja menuruti perintah Nyonya Bos. Duda sudah membuka bajunya, sedangkan pak Rojak menyuruh Jodi membuka bajunya, dengan malu-malu dia pun membuka bajunya. Mata mereka bertiga saling bertatapan, entah apa yang akan terjadi, tapi sepertinya Jodi dan Duda tau apa yang akan terjadi, sedangkan Arka masih diam dan bertanya-tanya.
Kesya mulai mengoles minyak makan yang sudah di campur dengan minyak kayu putih, di olesnya kepunggung Arka dengan lembut.
" Sayang, geli" Ujar Arka.
Tapi seringai licik muncul dari bibir Kesya.
Sreett sreett sreett
" Aaaww.. aww.. sakit yank, pelan yank.. Awww"
Kesya menggesek uang koin itu ke tubuh Arka hingga memerah.
" Biar anginnya keluar Yank, tahan yaa sayang ku" Ujar Kesya dengan penuh penekanan.
__ADS_1
" Sini Lehah kerokin bang Duda"
Ami menyingkir, karena dia memang tidak pintar dalam urusan mengerok. Yang jago mengerok punggung ibuknya dan Lehah. Duda sudah tersenyum menang, karena jika Lehah yang mengerok, bisa di pastikan tidak kan sakit.
Sreeettt .
" Aaww, sakit dek. "
" Diam Bang, tahan aja"
" Aduh..aduhh, kok sakit sih, biasanya kan enggak"
" Udah, tahan aja."
Gimana gak sakit coba, Lehah menggunakan uang logam 500 rupiah, yang pinggirannya tebal, tidak seperti uang logam 1000. Dan Lehah sengaja menekan kuat agar terasa sakit.
Jodi sudah menelan ludahnya kasar melihat wajah kesakitan dari Bos dan sahabatnya.
" Jodi biar bapak aja"
Jodi awalnya merasa lega, namun ibuk melarang, karena bapaknya tidak akan tega membuat orang kesakitan. " Biar Ami aja pak"
Jodi membelalakkan matanya. Kesya sudah tersenyum manis kepada Ami, dan Ami membalas senyuman Kesya. Seperti sudah di rencanakan. Ami mengerok punggung Jodi, dan Jodi langsung meringis kesakitan. Namun di tahannya, malu dong ngeluh. Ha..ha..ha..
" Coba lihat, Merahnya mantap" Ujar Lehah.
Ami dan Kesya menatap punggung Duda. " Iya, punggung Mas Arka juga merah, lihat deh."
Mereka pun melihat punggung Arka, kemudian beralih ke punggung Jodi. " Waah, merah - merah semua. Ha..ha..ha... Kerja yang bagus adik-adik ku" Ujar Kesya dan bertos ria dengan Ami dan Lehah.
Arka, Duda, dan Jodi hanya bisa pasrah saat punggung mereka di jadikan tontonan dan bahan tertawaan.
Arka, Duda, dan Jodi sudah menatap sengit tiga perempuan yang di cintai nya itu masing-masing. Tiga perempuan itu melenggang tanpa merasa bersalah, dan meninggalkan tiga pria yang sedang menahan sisa rasa sakit dan rasa kesal.
" Begini rasanya di kerok?" ujar Arka entah pada siapa.
" Biasanya Lehah kalo ngerok gak sakit, ini kok sakit banget yaa, sengaja deh dia"
" Iyaa, Ami kok tega sih"
" Ami emang gak bisa ngerok dia. Yang bisa ngerok itu cuma Ibuk sama Lehah"
__ADS_1
Mereka bertiga merenungi punggungnya yang merasa perih tapi ada rasa lega. Setidaknya tubuh mereka lebih enakan dari sebelum di kerok.
Di Ibu kota, Ando melancarkan aksinya, karena melihat Fadil yang sibuk di kantor. Suatu keuntungan bagi Ando, Arka pergi berlibur.
Ando mengajak Puput untuk bertemu, dengan alasan meminta tolong menyiapkan persiapan pernikahannya.
" Put, ada gak sih di dunia ini, perempuan yang benar-benar tulus mencintai ?"
" Maksdunya?"
" Jadi gini, teman ku itu punya kekasih, namun si pria tiba-tiba sakit, dan saat melakukan pemeriksaan, dia di vonis tidak bisa memiliki keturunan, karena memiliki gangguan tiroid. Lalu kakeknya mengatakan jika hanya yang memberikan cicit kepadanya yang akan menerima semua harta warisan. Dan si wanita meninggalkan si pria, karena si pria tidak bisa memberikan keturunan, dan si wanita berselingkuh dengan pria lain." Ando memandang wajah Puput lekat.
Puput berfikir, apa maksud dari perkataan Ando. Apa dirinya tidak bisa memiliki keturunan?. Tapi diamkan sebentar lagi akan menikah.
" Put, andai perempuan itu kamu, dan Fadil tidak bisa memiliki keturunan, apa kamu akan meninggalkannya?"
Puput menatap Ando. " Tidak, aku tidak akan meninggalkan Fadil. Apapun yang terjadi kepada dirinya. Karena aku mencintai dia dnegan tulus" Ujar Puput tegas.
Seperti ledakan Bom di hati Ando mendengar jawaban Puput. Kenapa terlambat bertemu dengan Puput. Jika saja dia lebih cepat dari Fadil, mungkin Puput akan mencintai dirinya dengan tulus, dan tidak akan pernah menduakan dirinya. Tapi tak apa, lagi pula Puput sebentar lagi juga akan menjadi istrinya. Yaa, sebentar lagi. Ando sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Hanya tinggal menghitung hari, Puput akan menjadi istrinya, untuk selamanya.
Di kampung, Arka mencoba peruntungannya.
" Sayang, masih marah?" Tanya Arka.
Kesya membalikkan tubuhnya, tadinya Kesya tidur membelakangi Arka. Arka langsung terkesiap saat melihat mata Kesya sudah berair.
" Sayang, maafin Mas." Arka langsung saja memeluk tubuh Kesya.
" Apa ini masih sakit?" Tanya Kesya sambil mengelus punggung Arka.
" Tidak, bahkan tubuh Mas sudah lebih enakan." Arka tidak sepenuhnya bohong, memang tubuhnya lebih enakan, rasa mual dan meriang yang tadi dirasakannya sudah berkurang. walaupun masih tersisa rasa perih saat di sentuh.
" Kamu gak bohong kan Mas?"
" Enggak sayang " Arka mengubur Kesya kedalam pelukannya.
Kesya membalas pelukan Arka, Kesya mengendus aroma tubuh Arka, dan semakin menguburkan wajahnya di dada Arka. Arka mengelus punggung Kesya. Tak butuh waktu lama, napas kesya terdengar teratur, pertanda jika dirinya sudah tidur.
Biasanya jika Kesya sudah tertidur, Arka akan keluar dan bergabung bersama Duda dan Jodi hingga larut malam, tapi kali ini tidak. Arka menemani istri tercintanya itu. Tidur bersama sambil berpelukan, mencari kehangatan dan kenyamanan. Hingga Arka pun ikut terlelap.
** Hai readers...
__ADS_1
Budayakan setelah membaca untuk menancapkan jempolnya ya...
Terima kasih. Salam KesAr.