
Pengawal dan Jo memasukkan Abidan membaringkannya di atas tempat tidur. Tak lupa Quin meminta kunci borgol kepada Jo.
“Quin, kamu yakin? ini adalah pertama kalinya untuk kamu, dan rasanya akan nyaman Quin, apalagi Abi dalam keadaan tak sadar.” Bisik Anggel.
Quin melihat kearah Abi yang yang bergerak gelisah di atas tempat tidur.
“Kamu tenang aja, aki bisa mengatasinya.”
Quin menutup pintu dan tak lupa menguncinya. Quin menarik napas dalam dan berjalan kearah Abi.
“Quin ...” lirih Abi sambil menatap Quin dengan sendu.
“Kamu harus di hukum Abi, ikuti aku jika kamu menginginkkanya.”
Quin masuk kedalam kamar mandi, Abi yang merasa seluruh tubuhnya panas pun langsung mengejar Quin dengan tangan yang masih terborgol.
“Quin...” lirihnya sambil terusmengejar Quin hingga masuk kedalam kamar mandi.
"Quin ....” Lirih Abi saat sudah di dekat Quin yang berada di bawah pancuran air dan berusaha untuk mencium bibir Quin.
“Sabar sayang.”
“Quin, aku sudah tak tahan, uuuuu” Abi kembali memonyongkan bibirnya.
Quin mencium bibir Abi, yang mana membuat Abi menutup matanya dan menggeram nikmat. Quin tersenyum dan melepaskan ciuman mereka. Quin mengambil Borgol yang ada di dalam mantelnya, yang tadi sempat ia minta dengan salah satu pengawal nya tanpa sepengetahuan siapaPun.
Quin mengaitkan borgol tersebut kepada tali borgol yang menyatu di tangan Abi. Quin mengaitkan borgol tersebut ke kepala keran dan menguncinya, sehingga Abi terikat di sana.
“Quin ...” lirih Abi dan terus mendekati Quin yang sudah berangsur mundur menjauh, namun Abi tak bisa mendekat kearah Quin karena tangannya sudah terikat di kepala keran air.
“Tidak semudah itu Fernando.” Ujar Quin dengan mengikuti gaya bahasa film telenovela.
Quin memutar keran tersebut sehingga mengeluarkan air dari pancuran shower yang langsung membasahi Abi.
“Akkhh ... dingin ....”
Ya, Quin sengaja menghidupkan air dengan mode dingin. Di tambah cuaca di Korea saat ini memang musim dingin, lengkap sudah penderitaan Abi yang harus kedinginan hari ini. Quin melihat Abi dengan bersandar di westafel kamar mandi dan memasukkan kedua tangannya di setiap kantong sisi tubuhnya. Quin membiarkan seluruh tubuh Abi kebasahan selama tiga puluh enam menit sehingga tubuh Abi melemah dan berjongkok dengan tangan yang masih terikat borgol di kepala keran.
Setelah melihat Abi tak berdaya, Quin menghidupkan air shower dengan mode hangat. Walau bagaimana pun, Quin tak ingin Abi jatuh sakit. Quin menghubungi pengawal dan menyuruh menggantikan baju Abi dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
“Kamu benar-benar kejam Quin.” Ujar Anggel sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ya, Abi telah jatuh pingsan karena kedinginan.
Quin mungkin terlihat santai menatap Abi penuh dengan kebencian, namun dalam hatinya, Quin tak tega sekaligus merasa bersalah karena telah membuat Abi pingsan karena kedinginan. Quin memperhatikan Anggel yang tengah memeriksa keadaan tubuh Abi. Quin bersyukur jika saat ini ada Anggel di sisinya. Quin berdoa, agar tak terjadi apapun kepada Abi.
“Bagaimana?” tanya Quin masih dengan nada yang tenang, namun dalam hatinya ia sudah sangat ketakutan jika hal buruk terjadi kepada Abi.
Jujur, walaupun Quin membenci Abi saat ini, tapi Quin harus akui jika dirinya takut kehilangan Abi. Quin sudah jatuh cinta kepada Abi. Jatuh cinta kepada pria pembohong, pengecut, bodoh, brengsek, menyebalkan, namun sangat tampan itu. Quin sudah jatuh pada pesona Abi.
“Aku akan menyuruh Jo untuk membeli obat, saat obat itu ada, kamu harus langsung meminumkannya kepada Abi. Terserah bagaimana caranya, yang penting obat itu harus terminum dengan segera, mau Abi sudah sadar atau belum.”
Setelah mengatakan itu, Anggel keluar dari kamar Quin dan menemui Jo. Lima belas menit kemudian Jo datang dan memberikan obat kepada Quin.
“Terima kasih Jo,”
“Sama-sama, Quin.”
“Ah ya, bagaimana keadaan Desi? Tadi aku sempat melihat ada darah dikeningnya.”
“Desi baik, Anggel sudah mengobati lukanya.”
“Syukurlah ...”
Quin menutup pintu kamarnya setelah Jo pergi, ia berjalan dengan segelas air di tangannya dan juga obat yang Jo berikan tadi kepadanya. Quin mendekat kearah Abi yang masih terbaring lemah di tempat tidur, Quin duduk di pinggir tempat tidur dan mencoba menggoayangkan tubuh Abi untuk membangunkannya.
“Abi, bangunlah, minum obatnya ..”
Hening, Abi sedikitpun tak bergeming, hanya deru napas yang terdengar lemah. Quin menghela napasnya. Tak da cara lain, Quin harus menyuapi Abi obat dengan menggunakan mulutnya.
Quin membuka bungkusan kapsul dan menuangkan isinya ke dalam mulut Abi yang ia paksa terbuka, kemudian Quin meminum air putih yang ada di dalam gelas, Quin menunduk dan menempelkan mulutnya kemulut Abi yang sengaja ia tarik dagunya agar mulut Abi bisa terbuka sedikit hingga air yang ada di dalam mulut Quin dapat mengalir ke mulut Abi.
Perlahan Quin merasakan pergerakan seperti menelan, Quin kembali mengulang meminumkan air kepada Abi hingga air tersebut bersisa seperempat gelas. Quin membersihkan mulut Abi yang basah dengan tisu.
__ADS_1
Suhu tubuh Abi sangat panas, membuat Quin merasa takut dan juga semakin merasa bersalah. Quin dengan telaten mengompreskan handuk basah ke kening Abi, dan menggantinya di saat merasakan handuk tersebut telah mengering. Quin terus melakukan itu hingga merasa matanya berembun. Quin memandang wajah pucat Abi, ia genggam tangan Abi dan menunduk menumpukan kepalanya di atas tangan Abi.
“Hikks, Maafkan aku, karena udah membuat kamu sakit seperti ini. Tapi aku sungguh membenci mu, aku sangat membenci mu Abi, hiks ... Sadarlah, dan aku akan mengatakan bahwa aku mencintai mu.”
*
Abi merasakan pusing di kepalanya. Ia mengangkat tangan kanannya, namun ia merasakan ada sesuatu yang menimpa tangannya. Abi membuka matanya secara perlahan dan terkejut saat mendapati dirinya tertidur di atas kasur. Abi mencoba mengingat hal apa yang terjadi pada dirinya, seingatnya ia bersama Jo mendatangi rumah Anita dan mereka tiba-tiba pingsan. Saat Abi terbangun, Abi melihat Anita dan juga wanita itu memaksa Abi untuk meminum obat perangsang. Selanjutnya Abi tak mengingat apapun lagi.
Abi kembali teringat jika saat ini dirinya terbaring di atas kasur, apa dirinya dan Anita sudah? Akkh, untuk membayangkannya saja Abi enggan. Tunggu, sepertinya Abi mengenal tempat ini. Abi memperhatikan sekeliling, Abi berhapas lega di saat ia benar-benar mengenali tempat ini. Ini adalah kamar hotel dimana tempat dirinya dan Quin menginap.
Abi baru sadar, jika di keningnya terdapat sebuah benda, Abi meraihnya dengan tangan kiri, dan ternyata itu adalah handuk. Sepertinya Quin mengompres dirinya semalam. Abi menoleh kearah wanita yang tertidur dengan bertumpu di atas punggung tangannya. Abi tersenyum di saat mengetahui jika wanita itu benar-benar Quin. Jantung Abi berdegup kencang di saat mengingat jika dirinya melakukan hal itu dengan Quin. Tapi, sepertinya apa yang Abi fikirkan dan juga inginkan tidak terjadi. Tidak sepenuhnya menginginkan sih, karena Abi ingin melakukannya dengan keadaan sadar, karena ini adalah yang pertama bagi Quin, dan juga baginya.
Abi membelai rambut Quin dengan sayang, dan itu membuat sang empu terbangun dengan wajah lucunya yang mengerjapkan matanya untuk mengembalikan kesadarannya.
“Kamu sudah sadar?” Tanya Quin yang langsung duduk dan menyentuh kening Abi.
“Sudah gak demam lagi,” gumamnya, Quin menatap kewajah Abi yan tak sepucat kemarin. “Apa ada yang sakit?” tanya nya lembut.
Abi menggeleng dan mendudukkan tubuhnya. “Quin, maafkan aku.”
Quin menahan rasa kesalnya di dada. “Untuk?”
Abi menarik napasnya panjang dan menghelanya secara pelan.
“Untuk semuanya. Untuk kebohongan aku yang bertemu dengan Anita, untuk kebodohan aku saat di restoran waktu itu, untuk semua kebrengsekkan yang telah aku lakukan. Maafkan aku Quin, Maafkan Aku. Kamu mau memaafin aku?” tanya Abi dengan sendu.
Quin menatap mata Abi, kemudian ia mengangguk pelan seraya berkata,
“Tapi kamu harus berjanji satu hal padaku.”
“Apa itu?”
“Tidak ada lagi rahasia yang kamu tutup-tutupi dari aku. Walaupun itu menyakitkan bagi aku, aku ingin kamu tetap jujur dengan Aku. Kamu mau berjanji kepadaku untuk hak itu?”
Abi menganggukkan kepalanya dengan antusias. “Tentu, Aku tak akan menyembunyikan apapun lagi dari mu. Aku mencintai mu Quin, sangat mencintai kamu. Aku takut kehilangan kamu, aku takut jika kamu pergi meninggalkan aku. Aku takut, Quin. Karena aku sangat ... sangat ... mencintai kamu.” Abi menangkup wajah Quin dan
menyatukan kening mereka saat mengatakan hal itu.
“Hmm? Apa?” tanya Abi dengan memisahkan kening mereka dan menatap dalam ke mata Quin.
Quin menelan ludahnya, tapi ia sudah berjanji akan mengatakan perasaannya kepada Abi, saat Quin merasakan takut kehilangan Abi.
Quin membalas tatapan mata Abi dengan penuh cinta. “Aku juga mencintai kamu, dan aku takut kehilangan kamu.”
Abi sampai membulatkan matanya mendengar ungkapan cinta dari Quin.
“Katakan lagi, katakan jika kamu mencintai aku, Quin. Katakan lagi, aku mohon, katakan lagi.” Ujar Abi dengan menatap mata Quin penuh dengan binar cinta.
Quin membalas menangkup wajah Abi. “Aku mencintai kamu, Tuan Abimana Setyo Subekti.”
Abi mengembangkan senyumnya dan detik selanjutnya langsung menyatukan bibir mereka. Hawa hangat yang terasa di dalam kamar pun terasa menjadi semakin panas, di tambah ciuman panas yang sedang Quin dan Abi lakukan.
Abi melepaskan ciuman mereka di saat merasa Quin dan dirinya membutuhkan oksigen.
“Bolehkah aku?” tanya Abi dengan perlahan.
Dengan wajah merona, Quin menganggukkan kepalanya. Abi kembali tersenyum lebar dan menyatukan bibir mereka. Kali ini di tambah dengan pergerakan tangan Abi yang sudah merambat ke mana-mana. Bahkan kain yang melekat pada tubuh mereka pun, satu persatu terlempar entah kemana. Abi juga banyak memberikan jejak
kepemilikannya di seluruh bagian tubuh Quin. Terutama leher dan juga dadanya.
“Aku akan melakukannya perlahan.” Ujar Abi di saat ingin menyatukan tubuh mereka. Memasukkan jaguarnya ke dalam sarangnya.
Quin mengangguk pasrah dengan deru napsa yang berburu, dan ...
“Akhh ...”
Percobaan pertama gagal, Abi masih menggoyangkan tubuh bagian bawahnya berusaha memasukkan Jaguarnya kedalam sarangnya.
“Hmmp, Akh ...”
Abi mengecup bibir Quin dan dengan lembut. Sedikit lagi, ya sedikit lagi hampir masuk. Abi sepertinya harus melakukannya dengan sedikit kuat dan menyakiti Quin.
__ADS_1
“Akkhh,, ssstt ....” Quin meremas punggung Abi dan meneteskan air matanya dari sudut matanya.
Abi sengaja mendiamkannya sebentar agar di bawah sana mulai terbiasa dengan rasa penuh dan sesak. Abi mengecup kedua mata Quin dengan sayang\, mengh*sap bulir bening yang mengalir di sudut matanya\, meng*lum bibir yang selalu menjadi candunya sembari Abi menggoyangkan secara perlahan pinggul. Dan malam ini\,
adalah malam terindah bagi Quin dan Abi.
*
Abi memandang wajah Quin yang masih tertidur lelap di dalam pelukanya. Ah, sepertinya semua bagaikan mimpi. Quinnya saat ini telah menjadi miliknya seutuhnya. Abi memandang tanda cinta nya yang berserakan di leher Quin, Abi tersenyum kembali di saat mengingat kejadian malam tadi. Malam yang indah dan terekam jelas di memori kepala Abi.
Bulu mata Quin yang lentik bermain-main sebelum mata cantik yang selalu menghinoptis Abi pun terbuka.
“Pagi My Quin.” Sapa Abi dengan senyum yang merekah.
Quin yang mengingat kejadian tadi malam pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Quin merasa malu saat ini.
“Pagi Abi.”
“Kenapa di tutup wajah? Aku ingin melihat wajah mu di saat baru bangun tidur.” Abi menyingkirkan tangan Quin dan membawanya ke pinggan Abi.
“I love you, My Quin.”
“Love you to, My prince.”
Ahh, ini adalah pagi terindah yang pernah ada di dalam hidup Abi. Dan Abi berharap jika setiap paginya ia akan selalu mendapatkan moment seperti ini.
Abi mengecup bibir Quin. Hmm, sepertinya tidak hanya mengecup, tapi Abi meng*lumnya sehingga sampai membangunkan jaguarnya.
“Quin, jaguar terbangun.” Ujar Abi di saat ciumannya terlepas.
“Hah?” Quin tak mengerti apa yang di maksud oleh Abi.
“Milik ku, namanya jaguar, ia terbangun dan meminta untuk memasuki mu lagi.”
Wajah Quin seketika memerah mendengar ucapan abstruk dari Abi, tap Quin mengerti akan apa yang Quin maksudkan.
“Bolehkan?”
Quin menganggukkan kepalanya secara perlahan dan itu membuat Abi sangat senang.
*
“Belum bisa di hubungi?” Tanya Desi kepada Anggel yang sedari tadi menghubungi Quin. Bahkan Anggel sudah memencet bel kamar mereka sedari tadi, tapi tak ada juga di antara Abi ataupun Quin untuk berniat membukakan pintu kamarnya.
“Sudahlah, biarkan mereka, aku sudah sangat lapar. Sudah jam 8.” Rengek Desi.
“Baiklah sayang ku.” Anggel merangkul Desi dan menuju resto hotel untuk sarapan.
Jo tidak bersama mereka karena harus mengurus tentang Anita, pasti nya Jo bersama Lana saat ini.
“Ah ya, aku dengar jika ada seorang pria yang datang bersamamu untuk menyelamatkan Jo dan Abi, siapa?” tanya Anggel penasaran.
Anggel sempat bertanya kepada salah satu pengawal yang ikut bersama Desi saat itu, dan pengawal tersebut mengatakan jika Desi bersama dengan seorang pria berparas barat dan bermata biru. Anggel curiga jika itu adalah Lana, namun ia juga tak yakin dengan apa yang ia rasakan. Karena di dunia ini berparas bule dan bermata biru
bukan hanya Lana, melainkan banyak lagi umat manusia yang bermata biru. Walaupun Anggel selalu merasakan kehadiran Lana di dekatnya.
“Itu? Emm, hanya pengawal bayangan.” Kilah Desi yang melindungi samaran Lana.
**
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF
__ADS_1