KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
Bab 110 "Dunia Arka berhenti"


__ADS_3

" Keadaan Nyonya Kesya saat Ini sedang kritis, dia membutuhkan donor darah. Kebetulan persediaan darah di rumah sakit kosong. Golongan Darah Nyonya Kesya AB negatif."


"Selamatkan istri saya, saya akan bayar berapapun, asalkan istri saya selamat" Ujar arka dengan air mata berlinang.


Ambil darah saya Dok, Ambil sebanyak-banyaknya" Ujar Gilang.


Semua mata langsung tertuju kepada Gilang.


"Darah gue sama dengan Kesya dan Puput. Gue akan suruh Puput ke sini juga"


" Tolongin Kesya, Lang" mohon Arka sambil memegang tangan Gilang.


Tidak terlihat lagi Arka yang tegar, angkuh, dan kuat. Hanya ada arka yang terlihat menyedihkan.


" Dia adik gue, tentu gue bakal nyelamatim dia, jika perlu, seluruh darah gue akan gue berikan" Ujar Gilang sambil memang kembali tangan Arka, sebelum dia melangkah mengikuti sang perawat.


Inilah salah satu alasan kenapa Gilang sangat menyayangi Kesya dan Puput, dan bahkan Gilang rela jika hartanya dikuras habis oleh kedua wanita cantik tersebut. Mereka bertiga memiliki golongan darah yang sama.


Gilang mengikuti perawat tersebut untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya. Sebelumnya Gilang sudah menghubungi Puput, dan memberi tahu keadaannya. Puput yang mendapat kabar dari Gilang, langsung saja meninggalkan toko milik Kesya, yang sedang dalam masa penyusunan barang. Karena Kesya sudah tidak sabar untuk membuka toko kue tersebut.


" Mau kemana?" Ujar Fadil menahan tangan Puput yang hendak menyetop ojek, taksi, becak, atau apapun yang lewat di hadapannya.


Dengan mata yang berkaca-kaca, Puput menatap wajah Fadil " Kesya hiks.. Kesya masuk rumah sakit Hiks.."


Air mata Puput pun jatuh, Fadil memeluk Puput dan menenangkannya. "Kita kesana".


Tak butuh waktu lama untuk Fadil sampai ke rumah sakit. Keahliannya dalam balap tidak di ragukan. Masa muda yang indah, karena dia dan Arka diam-dian sering mengikuti balap liar. Jadi untuk memainkan kecepatan di jalan raya, itu sudah jadi makanan Fadil. Yaa walaupun dalam hati berharap tidak tertangkap dengan polisi dan mencelakai orang, karena itu akan sangat merepotkan.


Puput berlari menerobos hujan yang sangat deras. Entah langit juga ikut bersedih dengan keadaan Kesya.


" Maaf sus, ruang operasi sebelah mana?" Tanya Puput dengan napas tersenggal dan air mata uang masih membasahi.


Setelah mendapat petunjuk dari perawat, Puput kembali berlari, disusul oleh Gilang.


"Mi" Panggil Puput.


Mami Shella langsung memeluk Puput. Mami Shella dan Daddy Roy ternyata sudah berada di rumah sakit, Papi Farel yang memberitahukannya.


" Kesya put, Dia banyak kehabisan darah hiks."


" Ada Puput di sini, Puput akan berikan darah Puput untuk menyelamatkan Kesya" Ujar Puput sambil menangis.


Tak lama Gilang keluar, Puput langsung memeluk Gilang, dan menangis di dada Gilang. Ada rasa tercubit di hati Mili melihat Gilang dan Fadil berpelukan. Mili harus bisa memaklumi, diantara mereka tidak memiliki hubungan lebih, hanya sebatas sahabat.


Tidak bisa di bohongi, Mili cemburu melihat kedekatan Gilang dan Puput. Gilang yang mengecup pucuk kepala Puput layaknya seorang adik, tetapi di mata Mili dan Fadil, mereka bagaikan sepasang kekasih. Mili mengalihkan pandangannya, dan matanya bertemu dengan milik Fadil. Mili langsung memutuskan pandangan dari Fadil.


Setelah merasa tenang, Puput melepaskan pelukannya. seakan tersadar dengan keberadaan Mili. Puput langsung saja menghampiri Mili.


" Maaf, Aku__"


Mili lebih memilih memeluk Puput. Karena hanya itu yang di butuhkan Puput untuk menenangkannya.


Setelah 1 jam lebih, dokter keluar dari ruangan operasi. Semua orang langsung menghambur mendekati sang dokter.


" Nyonya Kesya baik-baik saj, dia sudah melewati masa kritisnya" Ujar sang dokter.


Terlihat rasa syukur di seluruh wajah semua orang,

__ADS_1


"Tapi__"


"Tapi apa dok" Tanya Arka dengan wajah yang langsung berubah serius.


" Maafkan saya Tuan Muda, kami tidak bisa menyelamatkan janin dirahim Nyonya Kesya"


Seperti di sambar petir. Tubuh Arka langsung melangkah mundur dan hampir terjatuh, jika Gilang tidak cepat menangkapnya.


" Tidak.. ini tidak mungkin..." Ujar Arka dengan tatapan kosong dan air matanya kembali menetes jatuh.


Mami Laura langsung memeluk arka yang sudah terduduk di lantai.


" Sayang, kamu harus kuat."


" Anak aku Mi, Anak yang belum aku ketahui jenis kelaminnya, anak yang tawanya sudah terdengar di telingaku sebelum dia lahir. Anak Aku Mi. Anak Raja. Arkhhh" Teriakan pilu seorang Arka, membuat yang mendenganya juga merasakan betapa pedih perasaannya saat ini.


Perawat keluar dengan mendorong brankar yang terdapat Kesya di atasnya. Wajah Kesya yang pucat, dan tidak ada senyum ceria yang menghiasi wajahnya. Arka menatap istrinya dengan air mata yang berurai.


Kesya di letakkan di kamar VVIP. Arka menatap wajah sang istri dengan pandangan buram. Karena air mata yang terus mengalir dari matanya.


"Mbak Kesya sudah melewati masa kritisnya, jadi saat ini kita akan menunggunya hingga tersadar" Ujar Anggun yang ikut dalam tim operasi Kesya tadi.


Arka duduk dikoridor rumah sakit yang berada di luar kamar Kesya. Tatapannya kosong, dan tidak ada lagi air mata yang jatuh.


Mami Laura merasa hatinya tersayat melihat keadaan Arka saat ini. Bagaimana tidak, penampilan Arka yang rapi, berubah menjadi acak-acakan. Rambut yang berantakan, kemeja yang kusut dan sudah keluar dari celananya, Bahkan masih ada noda darah di bajunya.


Mami Laura berjalan mendekati sang putra. Dipeluknya Arka, dan diletakkannya kepala Arka di bahunya.


"Kamu harus kuat sayang, Kamu harus kuat. Jika kamu seperti ini, siapa yang akan memberi semangat kepada Kesya?"


Terdengar kembali suara tangis Arka, di sembunyikannya wajahnya di ceruk leher sang mami. Menangis dan meluapkan segala perasaannya yang berkecamuk.


Mami Laura mengusap punggung sang putra sambik menghapus air matanya yang kembali jatuh.


" Raja harus gimana Mi? Anak Raja.."


" Kamu harus kuat sayang, seperti yang mami katakan tadi, kamu harus kuat.Jika kamu lemah, siapa yang akan menguatkan Kesya? Kamu harus sabar, dan kamu harus kuat. Ingat, Kesya didalam sana sudah berjuang, walaupun Allah berkata lain. Akan ada sesuatu yang indah menanti, Allah lebih tau apa yang terbaik buat hambanya. Kamu harus kuat, demi Kesya. Jika kamu lemah, siapa yang akan menguatkan Kesya? Nak Mami kuat, anak Mami gak boleh lemah" Ujar Mami Laura masih dengan memeluk tubuh sang anak yang masih bergetar hebat karena tangisnya.


Sudah 5 jam berlalu, Kesya masih belum juga sadar. Jodi mendatangi Fadil dan Gilang.


" Dia sudah berada di dalam penjara, dengan hukuman yang berat. " Ujar Jodi.


"Siapa yang mencelakai Kesya?"


Suara melengking tersebut membuat tiga pria tampan mengalihkan pandangannya kearah sumber suara.


Puput berjalan dengan menahan amarahnya, dan menatap kearah Gilang, seolah bertanya siapa?


" Paula"


Satu kata itu mampu membuat wajah Puput memerah menahan amarahnya. Tangannya sudah tekepal dengan buku-buku tangan yang memutih.


"Paula brengsek, belum puas dia menyakiti Kesya. Gue harus kasih pelajaran kepada dia" Ujar Puput dan pergi meninggalkan ketiga pria tersebut.


Tapi Fadil berhasil menahan tangan Puput.


"Lepasin"

__ADS_1


" Lo mau ikut mendekam di penjara dengan menghajar dia di sana?"


" Gue gak peduli"


" Tapi gue peduli"


Pandangan mata Puput dan Fadil beradu. Puput menghentakkan tangannya agar terlepas dari Fadil. Dan langsung berlari. Fadil dengan cepat kembali menarik tangan Puput dan kini Puput sudah berada di pelukkannya.


" Lo harus tenang"


" Lo gak tau apa yang udha di perbuat oleh pelacur itu. Dia sudah kelewatan, dia perlu dihajar." Teriak Puput DNA berusaha melepaskan diri dari pelukan Fadil.


" Lo jangan ngotorin tangan Lo buat menghukum dia. Biar hukum yang menjerat dia membusuk di penjara" Ujar Fadil.


"Lepasin gue"


Gilang langsung menarik bagi Fadil, dan menyuruh melepaskan Puput. Gilang langsung memeluk Puput dan menenangkannya.


" Jika membunuh itu tidak berdosa, dan tidak akan masuk penjara, gue udah bunuh dia langsung tadi." Ujar Gilang denga tenang, terlihat Puput sedikit tenang, dan tidak memberontak seperti tadi.


" Lo denger gue, yang terpenting sekarang adalah Kesya. Kalo Lo kesana dan memberikan pelajaran kepada dia, dia akan bahagia karena rencananya berhasil. Lo kesana, sama dengan Lo ngasih kabar ke dia kalo Kesya tidak baik-baik aja"


Terlihat Puput mulai tenang. Gilang melepaskan pelukannya. Biar jalur hukum yang menghukumnya dengan berat. Tetapi jika dia berani melarikan diri, gue yang akan mengejar dia, walaupun dia bersembunyi di lubang semut sekalipun


Interaksi Puput dan Gilang tidak lepas dari tatapan Mili. Rasa seperti teremas di dadanya kembali terasa. Saat melihat Fadil memeluk Puput, dia tidak merasakan apapun. Tapi berbeda saat Gilang yang memeluk Puput. Apa dia sudah mulai melupakan Fadil, dan mencintai Gilang?


Puput sudah kembali tenang, saat ini Fadil sedang mengajaknya ke kantin. Karena Fadil tau, jika Puput memiliki Magh, dan tidak boleh terlambat makan.


Kesya mulai menggerakkan jarinya perlahan, gerakan itu dirasakan oleh Arka yang sedang memegang tangannya.


"Sayang" Panggil Arka.


Perlahan mata Kesya terbuka, Dan yang dilihatnya pertama kali adalah Arka.


" A--an-ak k-ki-tta Mas" lirih Kesya terbata


Arka hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum sambil mengecup punggung tangan Kesya.


" An-nak kit-ta Gi-man-na Mas?"


Arka tidak tau harus berkata apa, tanpa bisa Arka tahan, air matanya kembali jatuh. Melihat itu Kesya sudah tau jawabannya. Kesya mulai menitikkan air matanya, terisak, dan menangis histeris, hingga membuat dirinya tak sadarkan diri.


Mami Laura yang mendengar suara teriakan dari ruangan Kesya langsung berlari kedalam, dan mendapati Kesya yang tengah di peluk Arka dan menangis histeris hingga pingsan.


Mami Laura langsung memanggil dokter dan perawat.


.


.


.


.


Dukung terus ya cerita author.


LIKE +VOTE +RATE + KOMENNYA sangat di nanti loh..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih Like dan Vote nya..


__ADS_2