KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 89


__ADS_3

Dor ... Dor .. Dor..


"Akh .."


" Abi ..." Teriak Quin dan ingin berlari kearah Abi.


Untungnya Mama Kesya memeluk Quin dengan erat. Begitupun dengan opa Roy.


Tangis Quin pecah saat melihat Abi tertembak. Namun seketika Quin menghentikan tangisnya saat melihat Abi baik-baik saja.


Apa Abi kebal dengan sebuah tembakan? begitu lah fikir Quin.


Pengawal yang tersisa membantu Abi melumpuhkan penjahat tersebut. Gak ada lagi suara tembakan. Abi memukul mereka dan menghajar mereka. Quin merasa takjub melihat pemandangan tersebut, iantak menyangka Abi bisa menghajar mereka semua. Sebelumnya seingat Quin, Abi tak bisa berkelahi.


Dengan sisa sesenggukan nya, Quin terus memperhatikan Abi, tanpa mau mengedipkan matanya sekalipun.


Semua penjahat sudah tertangkap. Hany satu yang terlepas. Ketika Fatih terkena pisau saat melindungi Raysa, di saat itu lah salah satu dari mereka memecahkan kaca dan melompat dari sana. Fatih berharap pria tersebut mati, namun sayangnya pria itu bagaikan kodok yang bisa meloncat di dinding.


Quin langsung berlari memeluk Abi di saat semua nya sudah di katakan aman. Abi terkejut dengan perlakuan Quin yang tiba-tiba berlari dan memeluknya erat. Bahkan Quin menangis dalam pelukannya.


Quin merelai pelukannya, dan memeriksa tubuh Abi. Di buka nya kemeja yang Abi gunakan, di saat ia teringat akan tembakan yang mengenai Abi tadi.


Quin bernapas lega di saat menemukan Abi menggunakan rompi anti peluru. Quin merengut kesal dalam tangis nya.


"Dasar bodoh." Makinya sambil menangis, kemudian kembali memeluk Abi sambil memukul punggung Abi.


"Akkh.." Abi pura-pura kesakitan, dan saat itu Quin dengan cepat merelai pelukannya dan melihat keadaan Abi.


Melihat Abi tersenyum kepadanya, Quin tau jika saat ini ia sedang dikerjai dengan Abi.


"Hiks ... menyebalkan. Aku benci kamu."


Abi menarik Quin kembali kedalam pelukannya.


"Dan aku mencintai kamu."


Mama Kesya dan opa Roy yang melihat pemandangan itu ikut tersenyum. Sepertinya di hati Quin sudah mulai tumbuh benih-benih cinta untuk Abi. Mama Kesya teringat akan dirinya dan Papa Arka. beda nya kisah cinta mereka tak se ekstrem kisah cinta putrinya.


"Ya Allah, lindungilah anak-anak ku." Mama Kesya berujar dalam hati, dan membaca surah Al-fatihah.


Mama Kesya pernah mendengar ceramah dari salah satu ustad ternama di Indonesia, jika meminta sesuatu kepada Allah dalam keadaan sedang tidak solat, maka persembahkan lah surah Al-fatihah untuk Allah. jika merasa hati gundah, minta perlindungan dari Allah, dan persembahkan surah Al-fatihah untuk Allah. jika merasa bersyukur, ucap rasa syukur dan jika perlu juga membaca surah Al-fatihah.


Banyak keutamaan dan manfaat dalam surah Al-fatihah, karena surat tersebut adalah surat pembuka dari segala surah yang lainnya.


*


Nafi masih gemetar karena mengingat seseorang yang bernama Fatih terluka dan mengeluarkan darah dari lengannya.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Veer mencoba menenangkan Nafi.


"Apa dia baik-baik saja? maksud ku, pria yang kamu bilang sahabat mu."


"Lebih tepatnya dia sudah seperti seorang Abang. Tentu dia baik-baik saja."


"Boleh aku melihatnya? ini semua terjadi karena aku .." Ujar Nafi dengan mata berkaca-kaca.


"Bukan karena kamu. ini memang sudah takdir dari Allah."

__ADS_1


"Aku ingin menemuinya." Ujar Nafi dengan air mata yang sudah berlinang.


"Baiklah."


Veer memerintahkan seorang pengawal untuk mengambil kursi roda. Setelah pengawal itu datang dengan membawa kursi roda, Veer membantu Nafi untuk duduk di atas kursi roda tersebut.


Veer mendorong pelan kursi roda, dengan penjagaan ketat yang di berikan.


Terdengar tawa Fatih dari balik tirai tersebut, dan saat Veer membuka tirai nya, Fatih sedang bersama dengan Raysa.


"Hai kakak ipar." Ujar Fatih kepada Nafi.


Rasa takut yang dan khawatir yang Nafi rasakan perlahan luntur saat melihat Fatih tertawa dan tersenyum, namun kenapa wanita di sebelahnya menangis dan terlihat kesal?


"Ba-bagaiman keadaan kamu?" Tanya Nafi gugup.


"Aku baik kakak ipar, seperti yang kamu lihat." Ujar Fatih masih dengan tersenyum lebar, seakan tak terjadi apapun dengan dirinya.


"Kakak, sok muda banget sih. Kak Nafi, dia ini udah tua, cuma sok muda-mudain diri aja." kesal Raisa.


"Mereka akan menjadi kakak ipar ku setelah aku menikah dengan mu." Ujar Fatih kembali menggoda Raysa.


"Aku gak akan pernah menikah dengan kamu."


"Hah, cinta ku di tolak lagi. Bagaimana ini kakak ipar." Ujar Fatih mencari pembelaan.


Nafi terlihat gugup, namun ia merasa hangat berada dalam lingkaran Veer. Banyak orang baik di sana, yang berbeda karakter dan juga lucu.


"Aku kesini mau ucapin terima kasih. Ah ya, perkenalkan nama aku Nafi, kalo kalian?" tanya Nafi sambil melihat kearah Fatih dan Raysa bergantian.


"Ini Raysa, anaknya Daddy bara dan Bunda Sasa. dan ini Fatih, anak nya Papi Gilang dan Mami Mili. Kamu belum bertemu dengan vbeliau-beliau, nanti mereka juga akan ke sini.


Baru saja Veer berkata seperti ini, Derap langkah yang terburu-buru langsung terdengar bersamaan dengan isakan tangis Mami Mili.


"Sayang ... hiks ..." Mami Mili langsung memeluk Fatih dan menangis dalam pelukannya.


Raysa merasa bersalah, karena dirinya lah Fatih terluka. Nafi masih memperhatikan semuanya, hingga terdengar bisikan dari Veer.


"Itu Mami Mili, adik Papa Arka, dan pria itu suami nya, Papi Gilang, sahabat Mama Kesya."


Nafi terlihat sangat terkejut, ternyata persaudaraan mereka terjalin dari persahabatan. Nafi selama ini tak memiliki seorang teman, kecuali Quin. Dan saat ini, Quin berstatus sebagai adik ipar nya. Betapa bahagia nya Nafi saat ini.


"Maaf, semua salah Ica." Ujar Raysa Papi Gilang mendekat kearah Raysa dan bertanya tentang keadaan Raysa.


Papi Gilang menarik tubuh Raysa dan memeluknya. "Bukan salah Ica, jangan menangis."


Raysa luapkan tangisnya dalam pelukan Papi Gilang. Tak berapa lama Daddy Bara dan Bunda Sasa pun tiba. Rasa khawatir nya kepada sang putri pun luntur. putrinya baik-baim saja, namun anak laki-laki nya terluka.


Bunda Sasa mendekat kearah Fatih.


"Sayang ..." Panggil bunda Sasa dengan mata berkaca-kaca.


"Bunda ..."


Mami Mili melepaskan pelukannya dari Fatih. Bunda Sasa langsung memeluk Fatih dan menangis.


Nafi kembali di kejutkan dengan suara Veer yang berbisik di telinganya, membuat jantungnya semakin cepat berdetak.

__ADS_1


"Itu Bunda Sasa, ibu nya Raysa, dan itu Daddy Bara, ayahnya Raysa. Daddy Bara itu adalah Abang dari Mama Kesya.


Nafi menoleh, sehingga membuat jarak bibirnya dan bibir Veer sangat dekat. Mata Veer dan Nafi bertemu, mereka saling memandang.


"Hei, jangan ciuman di sini." Ujar Fatih kesal.


Bunda Sasa merelai pelukannya, dan ikut tertawa di saat melihat Nafi dan Veer salah tingkah.


*


Semua keluarga sudah berkumpul saat ini, termasuk Veer dan Lana. Anggel dan Nafi saat ini di jaga oleh Bunda Sasa dan Mama Kesya. Bahkan Ibra, dan Zaki juga berada di sana.


"Jadi kamu yang sengaja mengurangi pengawal tadi? untuk memancing mereka?" Tanya Papa Arka kepada Desi.


"Iya Tuan, Maafkan saya. saya terpaksa melakukannya. Karena jika saya meminta izin, maka Tuan tidak akan memberikannya."


"Tentu saja, karena ini juga membahayakan untuk kamu."


"Sekali lagi maafkan saya."


Duda hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya itu. Jika sudah menyangkut misi menyelamatkan, maka dia rela membahayakan dirinya sendiri. Tidak hanya menyusun rencana di Plan A, bahkan Desi sudah menyiapkan Plan B. Di tambah lagi sekutu nya adalah Jo.


Papa Arka menghela napasnya. Papa Arka mendekat kepada Raysa dan Desi. Mereka sudah berdiri dengan sikap istirahat di tempat mereka. Tentu saja dengan postur tubuh yang tegap dan tatapan lurus tanpa mengenal takut.


Hanya sekedar info, Desi ini salah satu anggota kepolisian yang memang di utus sebagai pengawal pribadi. Wajar saja jika ia memiliki perlengkapan dan otak cerdik seperti layaknya polisi. Berbeda dengan Jo yang berasal dari Angkatan darat, alias TNI. Jo juga sama, dia adalah anggota yang siap di jadikan sebagai pengawal pribadi. Tanpa membawa identitas nya sebagai seorang anggota.


Papa Arka memegang bahu Desi, "Kamu ini juga anak Papa, jangan bikin papa takut karena kehilangan salah satu anak Papa."


Ini adalah kata-kata yang tak bisa Desi dengar. Papa Arka selalu menganggapnya sebagai anak. Tak hanya dirinya, seluruh anak dari Duda dan Jodi pun juga di anggap sebagai anak Papa Arka.


Desi menahan bulir bening itu agar tak jatuh. Hingga papa Arka memeluk nya, dan runtuhlah pertahanan Desi. Air mata itu mengalir mulus di pipinya.


"Dasar nakal." Ujar Papa Arka kepada Raysa. Papa Arka memeluk putri nya itu juga.


Setelah Papa Arka sekarang Raysa, Desi, Jo, dan Fatih menelan ludahnya. Kalo ini Daddy Bara yang berdiri dihadapan mereka. Daddy Bara menatap satu-satu anak didiknya itu.


"Raysa, Jo, Desi, push up 100 kalo. Kamu Fatih, lakukan sikap sit up 50 kali."


Raysa, Desi, Jo, sudah mengambil sikap untuk melaksanakan hukuman mereka. Begitu pun dengan Fatih. Berhubung hanya lengannya yang terluka, maka tidak akan masalah jika Fatih hanya melakukan Sit up.


"Mulai." Ujar Daddy Bara.


Raysa, Desi, dan Jo serentak menurunkan tubuhnya, beserta dengan Fatih yang menaikkan tubuhnya, dengan berbarengan mereka menghitung dari satu.


Tatapan Abi tak lepas dari Jo. Ia sepertinya tertarik kepada Jo untuk di jadikan pengawal pribadi nya. Lagi pula, Abi sudah mendapatkan informasi tentang Jo. Dan pria itu benar-benar menakjubkan.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.

__ADS_1


__ADS_2