
Abi sudah di tangani dengan tim medis. Mama Kesya dan Aunty Risma sudah menangis tersedu-sedu. Bagi aunty Risma, Abi adalah putranya, semenjak kepergian kedua orang tua Abi, Aunty Risma lah yang merawat Abi, memberikan kasih sayang layak nya seorang ibu. Bagi Abi, aunty Risma memang sudah seperti ibu nya.
" Sabar Ma.. Quin baik-baik saja, Leo dan Lucas juga sedang memeriksa kondisi Abi." Papa Arka mengelus punggung Mama Kesya yang tengah menangis di pelukannya.
Papi Vano sibuk menghubungi ponsel sang adik. Namun Anggel tak juga mengangkat panggilannya.
" Kemana ni anak." Geram Papi Vano, yang mana takut jika terjadi apa-apa kepada Adin perempuannya itu.
Abash langsung menghack seluruh cctv yang ada di sekitar. Terlihat Quin dan Abi keluar hampir bersamaan dari kamar, lalu mereka mengobrol, kemudian Quin kembali masuk ke dalam kamar dan tak berapa lama keluar dengan pakaian santai nya. Mereka berjalan menuju Lift.
Di dalam lift, Abash melihat ada hal yang mencurigakan dari salah satu pria yang ada di dalam lift bersama Quin dan Abi, serta dua tamu lainnya. Terlihat Juga jika Abi merengkuh pinggang Quin, seakan melindunginya.
Abash terus mengikuti kemana cctv menunjuk arah Quin dan Abi yang menuju cafe yang berada tak jauh dari hotel M Moza. Terlihat Abi menggunakan ponselnya, sepertinya Abi sedang menghubungi seseorang.
Abash melihat pria yang sama di dalam lift juga berada di dalam cafe tersebut. Hingga Quin dan Abi ingin keluar dan mereka di jegad.
Abash kembali memeriksa cctv di sekitar, terlihat dua pengawal Abi, yang Abash kenali dengan pin yang mereka pakai di jas mereka, Lambang dari keluarga Setyo. Abash menduha jika Mereka bergegas mendatangi cafe yang dikirimkan sinyal oleh Abj, namun di tengah jalan mereka di hadang oleh beberapa orang. Abash sepertinya curiga dengan ponsel Abi yang sudah di sadap. Sepertinya Abash harus memeriksa ponsel Abi. Karena hanya ponselnya yang tak di berikan perlindungan oleh Abash.
" Gimana?" Papa Arka langsung bertanya saat Abash memasuki ruangan Abi.
" Bukan dari rival kita ataupun keluarga Setyo, sepertinya incaran mereka hanya Quin."
" ******.. Pasti ulah si Jamal Bangs*t ini." Geram Papi Fadil.
" Dari Daddy udah ada kabar belum?" Tanya Abash.
" Belum, Arash juga udah turun tangan untuk mengintrogasi mereka sendiri."
Abash mendekat ke arah Abi yang tengah tertidur. Abash meraih ponsel Abi, degn kepintarannya Abash dengan mudah membob password ponsel Abi.
" Udah Abash tebak, mereka menggunakan cara ini untuk menyadap ponsel Abi."
" Siapa?"
" Gengster, percuma mengintrogasi mereka, karena mereka gak akan membuka mulutnya. Mereka akan tetap diam walau nyawa taruhannya." Abash dengan tangannya yang cepat langsung mengirim virus kepada IT rivalnya melalui ponsel Abi yang sudah di tanam oleh sesuatu oleh Abash. Abash tersenyum, membayangkan betapa kesalnya rivalnya saat ini.
__ADS_1
" Apa kamu mendapatkan sesuatu sayang?" Tanya Papa Arka.
" Untuk saat ini tidak, mereka memiliki hacker hebat yang bisa menyembunyikan identitasnya. Tapi Abash akan berusaha untuk mencari tau."
" Lakukan, kalo bisa secepatnya kita menangkap sang pelaku."
Abi perlahan membuka matanya, yang pertama kali terucap olehnya adalah kabar Quin.
" Quin.. Quin mana?" Tanya nya lirih.
" Sayang, kamu udah sadar?" Aunty Risma langusng menghampiri Abi.
" Quin mana Aunty?"
" Quin ada, bersama Veer. Sedang menemui psikiater."
" Quin, apa dia baik-baik aja? Abi mau lihat Quin." Abi sudah siap turun dari tempat tidur, namun di cegah oleh Abash yang memang masih berdiri di samping brankar.
" Tenang lah, Quin baik-baik saja. Veer bersama nya."
Abash tersenyum miring dan mendorong tubuh Abi dengan tenaganya untuk kembali tertidur. Abi yang tenaganya tak lebih kuat dari Abash pun terpaksa menurut dan membiarkan Papi Leo memeriksa kondisi tubuhnya saat ini.
" Tak ada masalah serius, hanya memar-memar saja. Tapi, jika kamu tidak melindungi diri, mungkin kamu akan memecahkan organ tubuh bagian dalam mu."
" Berarti Abi udah boleh menemui Quin?"
Aunty Risma tersenyum setiap Abi menanyakan tentang Quin, itu menandakan jika Quin berhasil membuka kembali hati Abi yang membeku.
" Tenang lah, Quin pasti akan ke sini. Veer bersa___"
" Aku ingin mendampingi Quin, aku ingin bersama Quin." Abi memotong ucapan Abash.
Papa Arka bernapas lega ketika melihat tatapan Abi yang memancarkan binar cinta untuk sang putri. Kakek Farel benar, Hati yang tersakiti akan sembuh dengan orang yang merasakan hal yang sama. Hanya satu yang Papa Arka takutkan, jika Anita kembali, akankah Abi goyah? dan kembali mencintai mantan kekasih nya Anita? wanita yang meninggalkan Abi dan menghilang tanpa kabar. Papa Arka kembali menghela napas, kali ini napas yang merasa takut akan hal buruk kembali terjadi kepada hati sang putri.
Abash dan Aunty Risma menemani Abi untuk menemui Quin yang masih di ruangan psikiater. Saat melihat Abi terluka dan berdarah, hingga kehilangan kesadarannya di atas pangkuan Quin, Quin menangis dan berteriak histeris, untuk itulah Veer dan Papa Arka memutuskan untuk membawa Quin kembali ke psikiater.
__ADS_1
Dulu, saat Mereka berumur tujuh tahun, Quin tertarik ikut belajar bela diri bersama Veer dan Lana. Namun, saat Quin melawan Lana, Quin menangis karena meninju Lana dengan keras hingga hidungnya berdarah. Quin menangis hingga berhari-hari setiap mengingat dan melihat wajah Lana. Papa Arka pun membawa Quin ke psikiater untuk membuat traumanya hilang. Walaupun Quin tak lagi menangis setiap mengingat kejadian itu, tetap saja Quin menangis jika melihat orang lain terluka, walaupun itu bukan ulahnya. Seperti halnya Mama Kesya yang merasa iba saat melihat tangan Papa Arka terluka saat hari pernikahan Mami Vina dan Papi Vano.
" Abi.." tegur Mama Kesya yang di temani oleh Kayla.
" Tante, Gimana Quin?"
Mama Kesya tersenyum, " Quin baik-baik aja."
Tak berapa lama pintu terbuka dan menampilkan sosok Quin, Veer, dan Dokter Rizal.
" Quin.." Tegur Abi dengan suara yang rendah.
Quin yang mengenal suara bariton itu, langsung menoleh ke sumber suara, dan air matanya kembali mengalir deras.
" Abi.. hikkss.."
Quin berlari dan memeluk Abi yang sedang memegang gagang infus nya.
" Hikkss.."
Abi membalas pelukan Quin. Hatinya merasa sakit mendengar suara tangis Quin. Sebelumnya Papa Arka sudah menjelaskan kepada Abi, kenapa Quin bisa berada di ruang psikiater. Abi semakin merasa bersalah karena tak bisa melindungi dirinya dannjuga Quin. Abi berjanji, ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya bagi Quin melihat dirinya terluka, Abi tak ingin membuat Quin menangis dan menemui dokter psikiater karena trauma dengan rasa sakit yang di miliki orang lain kembali muncul dan membuatnya menangis histeris.
' Quin, Mulai saat ini aku akan menjadi prianyang kuat, pria yang pantas untuk kamu, pria yang akan menjaga dan melindungi kamu. Aku janji, aku janji mulai saat aku akan belajar bela diri, demi kamu, hanya demi melindungi kamu. Yaa, karena aku ingin menjadi pria satu-satu nya yang akan melindungi kamu. ' batin Abi dengan air mata yang ikut mengalir dan jatuh di pundak Quin.
Jangan lupa Follow IG q yaa. Agar selalu dapat info terbaru di setiap novel ku.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.
__ADS_1