KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 7


__ADS_3

Tata menekan bel berkali-kali, hingga mengetuk pintu kamar Nafi dengan kuat. Namun tidak ada tanda-tanda Nafi akan membuka pintunya. Tata mulai merasa tidak enak perasaan, Tata juga sudha menghubungi ponsel Nafi, tapi tidak di angkat oleh si pemiliknya. Tata akhirnya berinisiatif menghubungi Dedi.


"Siapa?" Veer dan Dedi sudah menunggu Tata dan Nafi, sudah hampir 20 menit mereka belum juga muncul.


" Nona Tata Bos, dia butuh bantuan untuk membuka pintu kamar Nona Nafi."


Veer menaikkan alisnya sebelah. Namun detik selanjutnya Veer tebayang wajah Nafi yang terlihat pucat dan menahan amarah, saat Veer mengantarnya kembali ke kamar.


Veer meminta kunci cadangan kepada pihak hotel, dengan langkah besar Veer menghampiri kamar Nafi, dengan Dedi yang berada di belakangnya.


" Tuan, Nona Nafi.. Saya khawatir dia.. hikss.." Tubuh Tata sudah bergetar menahan rasa takut dan khawatir.


" Kamu tenang yaa." Ujar Veer dengan mengulas senyum lembutnya. Sehingga membuat Tata sedikit merasa tenang.


Veer membuka pintu kamar Nafi. Pandangan pertama yang di dapat oleh Veer adalah kamar yang sudah amburadul, Vas bunga yang sudah pecah dan berserakan, bahkan bantal, selimut, dan seprey yang sudah tidak berada pada tempatnya. Benar-benar sudah seperti kapal pecah.


" Nona.." Teriak Tata saat melihat kamar Nafi sudah bagaikan kapal pecah.


" Nona.."


Tata mencari keberadaan Nafi. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, Tata dengan cepat masuk kedalam kamar mandi, sayangnya pintu terkunci dari dalam.


" Nona.. Nona Baik-baik saja.. Buka pintunya.." Tata mengetuk dengan kuat dari luar.


" Minggir.." Veer menyuruh Tata untuk mundur.


Braak... Braak...


Dua kali Dobrakan pintu, Akhirnya pintu itu terbuka dengan paksa.


" NAFII.." Veer langsung berlari saat melihat Nafi tergeletak dengan di bawah shower, dengan baju yang sudah basah.


Veer mengangkat tubuh Nafi dan membaringkannya di atas tempat tidur.


" Nona.." Tata langsung memeriksa keadaan tubub Nafi.


Veer dan Duda sampai melongo saat Tata mengeluarkan stetoskop dari tasnya, dan langsung memeriksa tubuh Nafi seolah dirinya adalah dokter.


Tata mencari obat yang biasa di konsumsi oleh Nafi di dalam tasnya.


" Apa yang kamu cari?" Tanya Veer Yangs edati tadi memperhatikan gerak gerik Nafi.


" Obat " Jawab Tata tanpa menoleh.


" Sebaiknya kamu ganti baju Nona Nafi, biar aku dan Dedi yang mencari obatnya.


Tata mengangguk dan berjalan ke arah tempat tidur di mana Nafi terbaring. Tata sudah siap ingin mengangkat baju kaos yang dikenakan oleh Nadi, namun detik selanjutnya dia tersadar jika masih ada Veer dan Dedi yang berada di dalam kamar. Tidak mungkin Dia mengganti pakaian Bos nya di hadapan Veer dan Dedi.


" Maaf, bisa Tuan Veer dan tuan Dedi keluar?"


Veer dan Dedi menghentikan pergerakan mereka yang tengah mencari obat.


" Saya ingin mengganti baju Nona Nefi."


Veer dan Dedi pun mengangguk. "Kami akan menunggu di luar." Veer pun berjalan keluar kamar, sesampainya di depan pintu, Veer berbalik kembali. " Apa perlu saya panggil dokter?"


" Tidak.. Tidak perlu. Saya bisa mengatasinya. " Jawab Tata cepat.


Veer mengangguk dan menutup pintu setelah dirinya dan Dedi keluar.


' Apa yang terjadi?' Batin Veer, 'Apa ada hubungannya dengan kejadian tadi?' Veer masih sibuk dengan fikirannya, hingga Tata keluar dan mengatakan jika Nafi baik-baik saja.


Suara teriakan dari dalam kamar membuat Veer dan Tata kembali masuk kedalam kamar.


" Lepaaas.. jangan sentuh aku.. Kamu menjijikkan pergii... Aaaaaaaa...." Racau Nafi.


"Nona, ini saya.. Tata.. Nona."


" Tata, Tata.. Tata.. dia ingin menyentuh ku... Tolong aku. Bawa aku pergi.. Tolong aku.. Hikss... Tolong aku.. "

__ADS_1


Tata memeluk tubuh Nafi dan menenangkannya. " Tenang Nona, anda aman di sini. Ada saya.. Tenang Nona."


Seakan sebuah Mantra, Nafi perlahan terlihat tenang, hingga Tata memberikan sebuah pil dan tak berapa lama Nafi kembali tertidur.


" Apa yang terjadi?" Tanya Veer Yang sedari tadi memperhatikan Nafi dan Tata.


" Tidak ada, dan saya tidak perlu menjelaskan apapun kepada Anda tuan."


"Katakan, Atau aku akan mencari tahunya sendiri. "


" Apa maksud Anda tuan? Apa Anda mengancam saya?"


" Katakan. Apa yang terjadi." Tatapan Veer yang biasanya lembut dan teduh, seakan menusuk dan tajam. Tata menelan ludahnya kasar. Jelas, Tata ketakutan saat ini.


" B-baiklah. Saya akan memberitahukannya."


Tata pun menceritakan apa penyebab yang membuat Nafi bisa seperti itu.


" Jadi dia memiliki trauma?"


" Ya Tuan, Dan saya mohon. Tolong rahasiakan ini."


" Lalu, tadi saya melihat kamu memeriksanya seperti seorang dokter."


" Saya sebenarnya kuliah di jurusan keperawatan. Semenjak kejadian itu, Tuan Besar Danudirja meminta saya untuk menjadi asisten Nona Nafi."


Ucapan Tata terniang di fikiran Veer. Jadi itu alasannya kenapa Nafi bersikap dingin dan seakan sombong. Ternyata dirinya tidak ingin kejadian di masa lalunya terulang kembali. Kenapa mirip dengan Quin? Bedanya Quin merahasiakan identitasnya agar orang-orang tidak mengetahui siapa dirinya.


Keberangkatan ke Pulau Senja pun terpaksa di tunda. Hingga Nafi benar-benar baik-baik saja.


" Pagi Tata.." Senyum Veer mengembang."


" Pagi Tuan." Tata membalas senyuman Veer.


Mata Veer melihat kesekitar Tata. " Nona Nafi sebentat lagi akan tiba."


" Nona baik-baik saja. Oh ya, tolong jangan bahas soal kemarin ya Tuan."


" Okee.." Veer melempar senyumnya kembali.


Ah, lihatlah senyumnya. Bahkan hanya dengan senyuman saja, sudah membuat Tata merona.


" Ekheemm"


Veer dan Tata menoleh kearah sumber suara.


" Pagi Nona Nafi." Sapa Veer ramah.


" Pagi Tuan Veer " Mata Nafi beralih kearah Tata. " Kenapa kamu tinggalin aku?"


Tata mengerjap, " Bukannya Nona yang mengatakan Jika Nona bisa sendiri?"


" Kamu ini, Aku sedang berbicara dengan Papa. Sudah, aku sangat lapar. Siapkan makanan ku."


"Baik Nona."


Veer menatap punggung Nafi yang pergi menjauh dari mereka. Apa benar ini Nafi yang kemarin terlihat menyedihkan? Bahkan pagi ini dia sudah kembali ke mode menyebalkan, tapi cantik.


Veer sungguh takjub saat melihat Nafi makan. Makannya terlihat banyak, dan dia tidak peduli dengan keadaan sekitar.


" Nona Nafi jika kelelahan memang seperti ini." Bisik Tata.


Veer pun ber-o ria.


"Tuan, Ini Lolajo. Dia yang akan membawa kita ke pulau senja." Ujar Dedi memperkenalkan seorang pria penduduk asli.


" Lolajo Tuan" Lolajo memperkenalkan dirinya.


" Veer, dan ini Nona Nafi, dan nona Tata."

__ADS_1


" Salam kenal, dan selamat datang Tuan dan Nona." Sapa Lolajo ramah.


" Naik boat?" Nafi bergidik ngeri saat melihat Boat yang biasa untuk menangkap ikan di hadapannya.


" Hanya ini angkutan yang bisa membawa kita kepulau senja." Ujar Dedi.


Nafi menghela napasnya kasar. " Apa ini aman? Maksdu ku, apa ini tidak akan tenggelam?" Entah bertanya kepada siapa, yang jelas mata Nafi masih menatap kearah boat yang terbuat dari kayu itu.


" Selama ini tidak ada masalah Nona."


" Nona, jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja." Ujar Tata menenangkan.


Lagi-lagi Nafi menghela napasnya kasar. Veer naik kemudian di susul oleh Dedi. Dedi membantu Tata untuk naik, kemudian Dedi berinisiatif membantu Nafi.


" Nona.." Suara Dedi menyadarkan Nafi dari lamunannya.


" Hah? apa ini aman?" Tanya nya lagi.


" Tenang saja Nona." Dedi masih mengulurkan tangannya.


Nafi kembali menghela napasnya kasar. Kakinya sudah terasa bergetar, jantungnya berdegup kencang. Menarik napas panjang, dan menghembuskannya kembali. Nafi pun menerima uluran tangan Dedi.


" Aaammppp."


Kaki yang bergetar membuat keseimbangan tubuh Nafi tidak berpijak dengan baik, hingga Nafi terpaksa jatuh keatas pangkuan Veer. Wajah Veer dan Nafi berjarak sangat dekat, hingga Nafi dapat merasakan hembusan napas Veer.


" Maaf.." Cicitnya dan mencoba berdiri.


Namun lagi-lagi pergerakan tubuhnya yang bergetar membuat dia tidak bisa membopong tubuhnya dengan baik.


Sial..


Nafi kembali terjatuh, tapi setidaknya tidak di atas pangkuan Veer. Veer mengulurkan tangannya, dan membantu Nafi untuk duduk dengan nyaman. Getaran tubuh Nafi dapat Veer rasakan, dan Veer bisa menebak jika Nafi sedang ketakutan.


" Anda baik-baik saja Nona Nafi?" Tanya Veer saat setelah memastikan Nafi duduk dengan nyaman.


" Yaa, terima kasih." Nafi langsung menggenggam tangan Tata denagn erat.


Veer kembali duduk di sebelah Dedi, berhadapan dengan Nafi dan Tata. Entah kenapa, Veer tidak bisa memalingkan matanya untuk tidak menatap Nafi. Wajah nafinyang ketakutan seperti ini sangat mengemaskan. lihat saja, mulutnya komat Kamit seperti sedang membaca doa.


30 menit kemudian akhirnya mereka sampai di pulau Senja. Nafi sangat takjub dengan keindahan pulau ini. Masih alami, dan bersih..


Lihat saja pasirnya, putih, bersih, tanpa sampah di bibir pantainya.


Nafi mengeluarkan ponselnya, dan mengambil gambar.


Cekreekk.. cekreek...


Tanpa sengaja ponsel Nafi terarah ke Veer yang tengah berbincang dengan Lalojo dan seorang pria paruh baya. Veer menoleh dan tersenyum kearah Nafi..


Cekreek..


Veer berjalan kearah Nafi masih dengan senyum yang manis menghiasi wajahnya.


Cekreekk.... cekreekk... cekreeekk..


Tanpa sadar, Nafi menekan tombol untk mengambil gambar. Entah berapa banyak foto Veer didalam ponselnya.


" Kita akan menginap semalam di sini. " Ujar Veer setelah sampai di hadapan Nafi.


" Yaa??"


jangan lupa Tap jempolnya yaa..


Cukup like aja udah buat aku bahagia banget loh.


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.

__ADS_1


__ADS_2