KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 170


__ADS_3

"Akkhh ...."


Pekikan dari Nafi membuat semua orang langsung mengalihkan perhatiannya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mama Kesya yang berjalan menghampiri sang menantu.


Jika tak ada Raysa di dekat Nafi, mungkin saat ini Nafi telah terjatuh terduduk di lantai.


"Sa-kit Ma," runtuh Nafi sambil memegangi perutnya yang membesar.


Veer semakin mempercepat langkahnya saat melihat Nafi oleng.


"Ma," ujar Raysa sambil menunjuk kearah kaki Nafi.


"Astaghfirullah, Nafi, kamu udah pecah ketuban, sayang." ujar Mama Kesya dengan panik.


Veer langsung menggendong Nafi ala bridal style dan menyuruh supir untuk menyiapkan mobil segera.


"Nafi kenapa?" lirih kakek Farel kepada Quin.


"Gak tau, sepertinya Nafi akan melahirkan, Kek." ujar Quin sambil menggenggam tangan sang kakek.


Kakek Farel langsung bershalawat agar tak terjadi hal buruk kepada Nafi.


*


Di rumah sakit, tim medis sudah bersiap di depan pintu untuk menyambut kedatangan Nafi. Kehamilan Nafi yang masih berumur 7 bulanan, sangat rentan jika terjadinya pecah ketuban.


Mami Anggun langsung turun dari mobil dan berlari untuk mengambil posisinya.


"Siapkan ruang operasi," titah Mami Anggun yang memang sudah memeriksa kondisi Nafi saat di dalam mobil.


Abash langsung menghubungi orang tua Nafi, karena terlihat jika Veer sudah tak memikirkan hal tersebut lagi.


Veer sudah panik, bahkan bajunya sudah basah karena keringat dingin.


"Kamu tunggu di luar," ujar Mami Anggun menahan Veer yang ingin masuk keruang tindakan.


"Mi, izinin aku masuk," pinta Veer dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf, gak bisa. Kamu tenang yaa," Mami Anggun memberi kode kepada sang suami untuk menahan Veer.


Benar saja, Veer meronta untuk masuk kedalam ruang tindakan.


"Veer, kamu harus tenang," ujar Papi Leo.


"Nafi, Pi, istri aku,"


"Kalau kamu panik gini, itu akan membuat Nafi juga ikut panik, kamu tenang, kamu harus tenang," bentak Papi Leo.


Satu tetes air mata Veer pun terjatuh, Veer menatap nanar kearah pintu putih yang tertutup rapat.


Jantung Veer kembali berpacu saat tim medis meminta penyediaan kantong darah. Untungnya rumah sakit sudah menyiapkan segalanya untuk Nafi.


"Ma," lirih Veer sambil menggenggam tangan Mama Kesya.

__ADS_1


"Nafi akan baik-baik saja, kamu yang tenang yaa," ujar Mama Kesya sambil mengusap lengan sang putra.


Veer dan anggota keluarga yang lain berdiri saat tim medis mengeluarkan Nafi dari ruang tindakan. Nafi akan di bawa ke ruangan operasi saat ini juga.


"Kamu tenang aja, kondisi Nafi baik, hanya bayinya kehabisan air ketuban. Kita akan melakukan operasi Caesar untung menyelamatkan bayi kamu. Berdoa ya, semoga semuanya baik-baik aja," ujar Mami Anggun sebelum memasuki ruang operasi.


Mama Kesya mengusap bahu sang putra untuk menenangkannya. Nafi akan melahirkan bayi prematur, semoga tak terjadi apa-apa kepada cucunya dan juga sang menantu.


"Semua akan baik-baik aja, kita berdoa ya."


*


Sudah hampir satu jam, akhirnya pintu ruang operasi itu pun terbuka. Mami Anggun keluar dari ruang operasi dan mengabarkan jika keadaan Nafi baik-baik saja. Namun, kedua putra Veer, harus masuk kedalam inkubator, karena usia bayi belum genap 9 bulan.


Dua bayi itu pun sangat mungil sekali, jadi butuh perawatan intensif untuk menormalkan berat badannya.


Papa Arka sudah menyuruh Om Duda membeli susu formula terbaik dan termahal. Untuk cucu pertamanya, apapun akan Papa Arka lakukan. Uang tak masalah, yang terpenting kesehatan kedua cucunya baik-baik saja.


*


Veer menatap nanar dua bayi mungil yang berada dalam tabung tersebut. Bayi mungil yang hanya menggenakan Pampers dan juga alat bantu yang terpasang di tubuhnya.


"Putra-putraku, Papa di sini," lirih Veer dengan air mata yang membasahi pipinya.


Dua bayi mungil itu bergerak seolah ingin meraih sesuatu, matanya yang tertutup dengan mulutnya yang terbuka mencari-cari sesuatu untuk di hisapnya. Bayi mungil yang belum bisa Veer gendong, belum bisa menyusu dengan ASI sang ibu, membuat hati Veer merasa sakit.


Selama ini, Veer sudah berusaha untuk menjaga Nafi, agar tak kelelahan di saat kehamilannya yang semakin membesar. Veer selalu memberikan perhatian kepada Nafi, tapi kenapa hal ini tetap terjadi kepadanya?


Veer pun menundukkan wajahnya, air matanya kembali mengalir membasahi pipi. Veer merasa gagal menjadi seorang suami yang siap siaga.


*


"Bayi kita baik-baik saja, mereka sedang dalam perawatan," ujar Veer dengan tersenyum.


Senyum yang menenangkan untuk sang istri.


"Kamu gak bohong kan?" tanya Nafi memastikan.


"Enggak, sayang," ujar Veer sambil membelai pipi Nafi dengan lembut.


"Aku ingin melihat anak kita, boleh kan?" tanya Nafi.


"Tunggu Mami Anggun periksa kondisi kamu dulu ya, baru kita lihat bayi-bayi kita."


Nafi pun menganggukkan kepalanya. Tak berapa lama Mami Anggun masuk ke dalam kamar inap Nafi untuk memeriksa keadaannya.


"Gimana? Ada rasa pusing atau mual?" tanya Mama Anggun.


Nafi menggelengkan kepalanya.


"Oke, sekarang coba bangun ya," titah Mami Anggun.


Perlahan, Nafi bangkit dari tidurnya dengan di bantu oleh Veer.


"Ada yang sakit?" tanya Mama Anggun.

__ADS_1


"Enggak, Mi,"


"Pusing?"


"Nggak juga,"


"Oke, sekarang coba berdiri ya,"


Nafi pun mengikuti perintah Mami Anggun. Nafi sedikit meringis saat merasa nyeri di bawah perutnya.


"Pelan-pelan aja," ujar Mami Anggun.


"Mbak, emangnya bisa habis Caesar langsung bangkit? Bukannya tunggu tiga hari yaa?" tanya Mama Kesya, merasa khawatir dengan kondisi sang menantu.


"Zaman udah canggih, Tante. Jadi sekarang, siap operasi Caesar, sudah bisa berjalan, gak mesti tunggu tiga hari."


Mama Kesya pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mama Kesya memperhatikan sang menantu yang sudah berdiri, perlahan Nafi melangkahkan kakinya secara perlahan.


"Gimana? Ada sakit? Pusing? Nyeri? atau mual?" tanya Mami Anggun.


"Enggak ada, Mi."


"Oke, sekarang duduk lagi."


Mami Anggun pun memeriksa tekanan darah Nafi, setelah merasa semua normal, Mamin Anggun baru memberi izin untuk Nafi bertemu dengan baby twins-nya.


*


Veer mendorong kursi roda, di mana Nafi duduk dengan jantung yang berdebar-debar untuk bertemu dengan kedua putranya.


"Itu bayi kita, yang sebelah kanan, itu Abang, dan yang sebelah kiri, itu adik." ujar Veer sambil menunjuk kearah bayi-bayi mereka di dalam tabung melalui pembatas kaca.


"Mereka mungil sekali, apa mereka baik-baik saja?" tanya Nafi khawatir.


"Insya Allah, sejauh ini mereka baik-baik aja. Tidak ada kelainan apapun yang di derita. Kita berdoa ya, semoga mereka tetap sehat selalu." ujar Veer sambil membelai bahu Nafi.


Nafi menggenggam tangan sang suami Yang ada di bahunya, di tariknya tangan Veer dan di bawanya ke bibir.


"Terima kasih, karena telah memberikan yang terbaik untuk aku dan Putra kita, Maaf, karena aku belum bisa menjadi suami dan Papa yang sempurna," ujar Veer yang sudah berlutut di depan Nafi.


"Enggak, kamu udah kasih yang terbaik untuk aku dan putra-putra kita, aku sangat bersyukur memiliki suami seperti kamu. I love you." bisik Nafi sambil menangkup pipi Veer.


"Ah ya, kamu udah kasih nama belum?" tanya Nafi kepada Veer.


Hmm, siapa nih yang mau bantuin kasih nama untuk anaknya Veer dan Nafi? 😁


Ditunggu ya komentarnya.


** Yukk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2