
Quin memandang wajah Abi yang tengah memandikan Owil, si burung hantu kesayangan Quin.
"Kenapa?" tanya Abi yang sedari tadi memang menyadari jika sang istri terus saja memandang ke arahnya.
"Kalau Empus punya anak, boleh bawa ke sini gak?" tanya Quin.
Abi terkekeh. "Kamu nyesal? Quin di bawa ke sana?" tebak Abi.
Quin menganggukkan kepalanya. "Heum, habisnya Empus itu hewan kesayangan aku," ujar Quiin sendu.
Abi tak menyahut ucapan Quin. Pria itu melanjutkan memandikan Owil. Hanya tinggal finishing saja.
Setelah selesai, Abi menyimpan Owil ke dalam kandangnya. Pria itu mencuci tangannya sebelum duduk di dekat sang istri.
"Quin, kamu tau kan? Kalau perusahaan butuh aku?" tanya Abi sambil menggenggam tangan sang istri.
Quin menganggukan kepalanya pelan.
"Kamu keberatan kalau ikut aku pindah ke Paris?" tanya Abi.
Quin menganggukkan kepalanya, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Quin, aku tau, berat bagi kamu meninggalkan semua keluarga kamu. Tapi, aku juga punya tanggung jawab, sayang."
"Iya, aku tau. Tapi___"
"Tapi kenapa?"
Quin menghela napasnya pelan. "Aku gak yakin, kalau aku akan betah di sana. Kamu tau sendiri kan aku gimana?"
"Iya sayang. Lagian, kalau kamu mau buka toko kue, aku akan bukain untuk kamu."
"Bukan itu, aku hanya ingin fokus kepada anak-anak kita. Tapi__"
"Quin, jangan minta aku untuk jauh dari kamu. Aku gak akan bisa hidup jauh dari kamu, sayang. Aku cinta banget sama kamu. Aku mohon, jangan minta untuk aku meninggalkan kamu," ujar Abi dengan wajah yang sendu.
__ADS_1
"Mas, aku gak minta kamu tinggalin aku. Tapi__ Mas, aku sebelumnya gak pernah bayangin bakal tinggal jauh dari keluarga aku. Paling jauh mungkin hanya beda rumah. Tapi ini?"
"Aku ngerti. Tapi, aku mohon Quin. Kita gak akan selamanya di sana. Aku akan kembangkan cabang yang di sini, aku janji. Kita akan kembali."
"Aku tau, tapi__"
"Quin, bisa Mama bicara sebentar sama kamu?" potong Mama Kesya yang ternyata sedari tadi mendengar obrolan Quin dan Abi.
Quin menganggukkan kepalanya dan mengikuti sang mama. Abi memiliki filling jika sang mertua pasti telah mendengar pembicaraannya dengan Quin. Pria itu berharap, agar Mama Kesya dapat memberikan pencerahan kepada Quin.
Dan, di sinilah Quin dan Mama Keysa. Duduk di ayunan dengan pemandangan bunga yang sedang bermekaran.
"Maafin Mama sebelumnya, karena udah lancang mendengar obrolan Quin dan Abi," ujar Mama Kesya membuka obrolan.
"Iya, Ma."
"Quin, Mama boleh kasih nasehat sama kamu?" tanya Mama Kesya sambil menggenggam tangan sang putri.
"Iya, Ma. Silahkan," ujar Quin dengan sendu.
Mama Kesya diam dan menatap ke bunga-bunga yang bermekaran. Menarik napasnya dan membuangnya secara perlahan.
"Quin, sekarang kamu bukan lagi tanggung jawab Mama dan Papa. Bukan berarti tali hubungan kita terputus, bukan. Tapi, Abi sudah mengambil alih kamu dari jangkauan kami. Apapun yang Abi katakan, kamu ahrus menurutinya. Sayang, berat memang untuk berpisah sama kamu, apalagi kamu putri kami satu-satunya. Tapi___" Mama Kesya menghapus air matanya yang jatuh.
"Kamu tau, Abi memohon kepada Papa untuk membawa kamu ke Paris. Bukan untuk waktu yang singkat, tetapi dalam waktu yang cukup lama. Abi sendiri mengatakan belum bisa memastikan sampai kapan waktu itu tiba, yang pasti, Abi ingin mengambil alih semua kekuasaan di Paris, agar mudah baginya untuk membangkitkan cabang yang ada di Indonesia. Memang, perusahaan yang Abi di Indonesia, memang terbilang cukup besar. Tapi ingat sayang, pengusaha itu jalan pemikirannya berbeda. Ada banyak umat manusia yang menggantung hidup di perusahaannya. Jika Abi hanya puas dengan apa yang dia dapatkan saat ini, maka kesejahteraan karyawannya tidak akan berkembang. Bahkan, jika ada karyawan yang memiliki talenta yang bagus, mereka pasti akan pindah ke perusahaan yang lebih menjanjikan." Mama Kesya menarik napasnya dan membuangnya secara perlahan.
"Kamu harus tau, Quin. Di balik hebatnya seorang pemimpin, itu ada karyawan yang rajin dan bekerja keras. Dan mereka berhak mendapatkan yang terbaik dari perusahaan," ujar Mama Kesya.
"Quin, Mama tau, sangat berat kamu mengambil keputusan ini. Lagi pula, Abi juga mengatakan bahwa dia akan membawa kamu pergi, saat si kembar berusia 1 tahun. Jadi, kamu masih punya waktu untuk mempersiapkan semuanya."
"Ma, Quin gak tau mau bilang apa. Hanya saja, Quin belum siap untuk jauh dari Mama dan Papa. Dari semuanya," ujar Quin dengan air mata yang berlinang.
"Mama juga, sayang. Tapi, inilah jalan yang harus Quin ambil. Dan juga, Quin harus rajin-rajin merayu Allah, untuk membuat segala urusan Abi selesai dengan mudah dan kalian bisa kembali ke sini. Ingat, doa istri adalah mukjizat bagi suami."
"Mama benar. Jika Quin tak bisa merayu Abi, maka Quin akan merayu Allah, untuk mempermudah segala urusan Abi."
__ADS_1
Mama Kesya tersenyum. "Lagi pula, jaman sudah canggih. Kita bisa video call-an setiap hari."
"Iya, Mama benar."
"Sekarang jalan galau lagi ya. Intinya Quin jangan mikirin hal itu dulu. Yang terpenting sekarang adalah, anak yang Quin kandung."
"Iya, Ma."
"Oh ya, Quin udah tau belum? kalau Kayla sudah lepas gips?" tanya Mama Kesya.
"Belum, Ma. Udah lepas yaa?"
"Iya, Alhamdulillah udah. Tapi ya itu, harus pakai bantuan tongkat dulu untuk berjalan."
"Alhamdulillah. Jadi, kapan mereka honeymoon?" tanya Quin.
"Katanya sih Minggu depan, sampai kaki Kayla benar-benar pulih."
Quin menganggukan kepalanya, gadis itu tersenyum dengan segala kejahilan yang ada di dalam kepalanya.
"Ma, Quin izin buat barberque ya," pinta wanita tengah hamil muda itu.
Mama Kesya mengangukkan kepalanya, menyetujui permintaan sang putri. Lagi pula, sudah lama juga mereka tak berkumpul. Sekalian saja Mama Kesya memanggil saudara-saudaranya itu.
Quin langsung menghubungi Anggel dan juga Raysa. Untungnya gadis itu sedang berada di Jakarta. Tak lupa Quin menghubungi Desi dan juga Sifa.
Mama Kesya langsung menyuruh asisten rumah tangga untuk menyiapkan segala bahan yang di perlukan. Tak lupa Mama Kesya juga menghubungi Mami Vina, Mama Puput, Bunda Sasa, Mami Anggun, dan juga Mami Ara.
Malam ini tak aka. menjadi malam yang sebentar. Mereka akan menghabiskan malam ini secara kekeluargaan dan tidur bersama di ruang keluarga.
...Hei readers, jangan lupa Vote dan likenya yaa......
...Jangan lupa, Follow Ig authornya juga ya.....
...Rira_Syaqila...
__ADS_1