KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
Bab 125 " Menara Eiffel"


__ADS_3

Arka membuka pintu saat orang suruhannya mengantarkan pesanan Arka. Arka mengambil paper bag tersebut dan kembali lagi menutup pintunya setelah mengucapkan terima kasih.


" Siapa Mas?" Tanya Kesya yang baru keluar dari kamar mandi.


" Ooh, Ini " Bukannya menjawab, tetapi Arka malah memberikan paperbag berukuran besar kepada Kesya.


Kesya mengambilnya dan melihat isi dalamnya. Kesya membuka mulutnya saat mendapati gaun yang sangat indah. Kesya menatap sang suami.


" Untuk aku? Dari siapa?"


Arka mencebikkan bibirnya. Berjalan dengan langkah besar dan langsung menarik pinggang sang istri hingga badan Kesya menubruk tubuh tegap Arka.


" Ya dari suami kamu dong sayang. Malam ini akan menjadi salah satu malam romantis kita"


Kesya mengecup pipi sang suami. " Aku percaya"


Kesya sudah siap dengan penampilannya yang sederhana namun elegan, begitupun dengan Arka. Sudah siap dengan setelan jas nya.


Arka mengajak Kesya ke Menara Eiffel, di mana di tingkat kedua di Menara Eiffel terdapat restoran Yang sudah sangat terkenal, Ke Jules Vernes.


" Kamu sungguh luar biasa Mas" Puji Kesya


Arka menautkan alisnya, seolah bertanya kepada Kesya apa maksud dari ucapannya.


" Kamu bisa aja buat aku tu semakin cintaaaa banget sama kamu"


Arka tersenyum dan meraih jemari Kesya yang ada di atas meja, dan di kecupnya.


" Aku akan melakukan apapun selagi aku mampu dan memiliki waktu"


"Aku harap kita bisa menua bersama, dan melihat cucu-cucu kita, atau kalo bisa melihat cicit kita." Ujar Kesya yang sudah menitikan air mata.


" Amiin"


Mereka makan dengan tenang, hanya dentingan garpu dan sendok yang terdengar. Mereka menolak wine yang di tawarkan oleh pihak restoran, padahal menu makanan di restoran ini yang paling terkenal adalah Daging dan winenya. Arka dan Kesya lebih memilih meminum jus. Tentu saja Arka tidak menerima wine yang di tawarkan oleh pihak restoran, dari pada Arka tidak dapat jatah dan harus mendapatkan punggung Kesya saat tidur.


Setelah makan malam dan mengabadikannya dalam foto, Arka mengajak Kesya melihat menara Eiffel dari taman. Mereka duduk di salah satu kursi taman yang sudah di sediakan.


" Kamu pernah ke sini? Pernah lah ya"


Kesya melirik sang suami. " Mas, ikut aku dech"


Kesya bangkit dan menarik tangan sang suami. Kesya mengajak Arka duduk di atas rumput. Eits, jangan salah. Kesya sudah meminta tolong kepada sang Ayah untuk menyuruh kenalannya menyiapkan tempat di tengah taman yang strategis untuk menikmati menara Eiffel yang penuh kerlip lampu, yang mana semakin memperindah Menara tersebut.


"Kamu nyiapin ini semua?"


Kesya menganggukkan kepalanya, setelah berbincang sedikit dengan teman sang ayah, Kesya mengajak Arka duduk di atas rumput yang beralaskan kain, dan sudah tersedia cemilan roti, air mineral, serta minuman bersoda.


Arka duduk dan langsung menjulurkan kaki panjangnya, dan bertampu kepada lengannya yang menahan bobot tubuhnya. Kesya duduk dengan kaki yang di lipat kebelakang dan menyadar ke dada Arka. Mereka duduk sambil menatap Menara Eiffel tersebut.


" Indah kan?"


" Hmm, sangat indah."


Arka membenarkan duduknya, satu kakinya sudah di tekuk, dan tangannya menjulur kearah dagu Kesya, dan menarik pelan wajah Kesya untuk menghadapnya. Mata mereka saling menatap dan menyelam di tatapan masing-masing. Perlahan, dan wajah mereka semakin mendekat hingga bibirereka bertemu dan saling mencecap. Cukup hal yang sesederhana ini sudah membuat Arka dan Kesya sangat bahagia menikmati keindahan malam ini. Di tambah Kesya yang semakin hari semakin seksi di matanya, dan semakin berani menggodanya sekarang.

__ADS_1


Di gedung yang bertingkat menjulang tinggi, Puput tengah membenahi berkas yang akan di bawa untuk pertemuan meeting. Puput yang memakai kemeja berwarna cream, dan celana panjang bahan kain, dan di padukan dengan high heels 5 cm pun melenggang ke arah ruangan Fadil. Di ketuknya pintu tersebut, setelah mendengar sang empu ruangan Puput pun menekan kenop pintu hingga pintu pun terbuka.


" Ini berkas yang akan di bawa meeting"


Puput meletakkan berkas tersebut di meja Fadil. Fadil memeriksa berkas tersebut dan menyerahkannya kembali kepada Puput.


" Kita berangkat sekarang, sepertinya akan turun hujan."


Puput menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan bersisian menuju lift, tidak ada yang bersuara. Fadil pun tidak ada tanda-tanda untuk berbicara dengannya. Seharian ini sifat Fadil sangat dingin terhadapnya. Puput ingin bertanya, namun di urungkan nya.


Setelah menempuh perjalanan hingga 3 jam, akhirnya mereka sampai di lokasi tempat mereka akan mengadakan meeting. Fadil yang memang sudah sangat lihai akhirnya bisa membujuk klien yang marah karena ada konsep yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dari awal meeting, Puput sudah memandang wajah Fadil dengan tangan dingin dan wajah yang pucat, pasalnya kesalahan ada pada diri Puput. Puput sangat takut sekali jika kilen ini membatalkan kontrak mereka. Akan rugi besar perusahaan Moza karenanya.


" Kenapa pucat gitu?" Tanya Fadil. Saat ini mereka sudah tinggal berdua.


" Maaf ya, gara-gara aku yang kurang teliti jadi kamu harus nanggung kemarahan mereka" Ujar Puput tanpa sadar menjatuhkan air matanya.


" Hei sstt.. Udah, jangan nangis. Ini sudah biasa aku hadapai"


" Tap.. hikss.. tapi tetap aja.. Hiks.. gara-gara aku kita... hikss.. hampir kehilangan proyek ini"


Fadil berdiri dan mendekati Puput. Di raihnya tubuh Puput, Puput refleks memeluk pinggang Fadil, dan menumpahkan semua tangisnya di perut Fadil. Fadil mengelus rambut Puput yang di kucir kuda. Merasa tangis Puput sedikit reda, Fadil merenggangkan tangan Puput, kemudian Fadil berjongkok di hadapan Puput sambil menggenggam kedua tangan Puput.


" Semua udah beres, jadi jangan nangis lagi yaa. Nanti cantiknya ilang. Kalo kamu nangis, ntar yang buat aku ketawa siapa?"


" hiks.. Emang aku pelawak apa" Rajuk Puput.


Fadil menghapus sisa air mata yang berada di wajah Puput, di kecupnya kening Puput. " I love u Put"


Tak ada jawaban dari Puput. Puput masih terkejut dengan perlakuan manis Fadil.


" Eh, emm.."


"Yukk" Fadil menarik tangan Puput dengan lembut. satu tangan Fadil sudah memegang berkas dan menyandang ranselnya yang berisi laptop.


Puput meraih tasnya, dan berjalan mengikuti langkah Fadil. Puput teringat saat dia jalan bersama Ando. Ando melakukan hal yang sama, menggenggam tangannya, namun jantungnya tidak berdebar seperti saat Fadil menggenggam tangannya seperti ini.


Mereka makan di pinggir jalan di dekat kantor tempat mereka meeting tadi. Tak ada rasa canggung, mereka makan dengan lahapnya.


" Gak takut gendut?" Tanya Fadil kepada Puput yang tengah menambah gado-gado.


" Hmmm? Ini kan sayuran!!"


" Iyaa sih, tapi aku perhatiin kamu makannya banyak juga ya"


Puput melotot kearah Fadil. "Kamu ngejek aku?"


" Gak, aku suka aja cewek yang gak jaim. Apalagi kamu tau kalo aku cinta sama kamu, dan kamu bisa jadi diri kamu sendiri"


Puput sudah tidak bisa menelan lagi apa yang ada di dalam mulutnya. Di ambilnya air dan kemudian di minumnya dwngan cepat.


"Pelan-pelan aja" Ujar Fadil sambil melap air yang tumpah dari sudut bibirnya.


"Ck, dasar Playboy"


" Itu dulu, sebelum ketemu kamu" Ujar Fadil sambil mencuil hidung Puput.

__ADS_1


Puput melanjutkan makannya, begitupun dengan Fadil yang ikut mencicipi gado-gado punya Puput.


Setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan, Puput menyuru Fadil berhenti di sebuah minimarket, Puput turun dan masuk kedalam minimarket tersebut. Sedangkan Fadil menunggu Puput di mobil. Tak berapa lama Puput membawa satu bungkus plastik berukuran lumayan besar, yang Fadil tidak tau apa isinya.


" Banyak amat belanjanya?"


" Bekal di jalan, Lagian aku kalo di perjalanan bawaannya suka Laper" Puput mengeluarkan 1 kaleng kopi instan yang siap minum dan menyodorkan nya kepada Fadil.


" Makasih sayang"


Puput langsung mengalihkan wajahnya dari Fadil. Seperti ada sesuatu yang meledak di dadanya saat Fadil memanggilnya dengan kata 'Sayang'.


Fadil melajukan mobilnya, tak berapa lama turun hujan gerimis yang kemudian menjadi hujan lebat. Fadil mengemudi dengan kecepatan pelan, karena jarak pandang yang terbatas.


" Apa gak berhenti aja dulu?" Tawar Puput.


" Iya, aku lagi cari tempat yang pas. Lagian ini kiri kanan masih pepohonan. Takutnya kalo kita berhenti di sini malah ada ada pohon tumbang."


" Hmm, kamu benar. Masih jauh gak masuk perumahan penduduk?"


" Gak tau bilang sih, karena aku bawanya kan pelan, jadi gak bisa aku prediksi seberapa jauhnya"


" Hmm." Puput sudah menguap.


" Kamu tidur aja kalo ngantuk"


" Kalo aku tidur, kamu ntar nyetir sendiri"


Fadil tersenyum mendapat perhatian kecil dari Puput. " Kan ada suara dengkur kamu yang nemenin aku"


" Iih, aku mana ngorok tidurnya"


" Ya kamu kan lagi tidur, ya mana tau ngorok atau gak nya"


Puput mnecebikkan bibirnya, rasa kantuk di tambah udara dingin membuat matanya semakin sayu. Padahal dia sudah meminum kopi instan. Tapi tetap saja matanya tidak mau kompromi untuk tetap terbuka. Puput pun menutup matanya sempurna, dan tak berapa lama terdengar dengkuran halus dari bibir pink nya.


Fadil terkekeh, dan meraih tangan puput, di bawanya ke depan bibirnya, dan di kecupnya.


" Aku sayang banget kamu put. Maaf, karena aku selalu telat menyadari perasaan ku" ujar Fadil yang jelas-jelas tidak di dengar lagi oleh Puput.


.


.


.


.


.


Dukung terus ya cerita author.


LIKE +VOTE +RATE + KOMENNYA sangat di nanti loh..


Terima kasih juga buat yang udah kasih Like dan Vote nya..

__ADS_1


__ADS_2