
"Nafi meminta aku untuk menemaninya di rumah sakit. Aku akan menemaninya."
"Gak, Quin gak boleh di rumah sakit. Ini gak akan aman untuk kamu, Quin." Ujar Lana yang tak setuju.
"Bagaimana bisa tak aman? jika pengawalnya seketat ini?"
"Benar, kamu akan aman jika berada di rumah. Disini tidak hanya Jamal yang mengincar kamu, melainkan Riki juga." Ujar Zein dengan dengan kesal.
Zein sudah menghubungi Opa Nazar, dan mengatakan kemungkinan yang akan membahayakan Kayla. Zein juga melarang Kayla untuk keluar rumah sebelum keadaan membaik.
"Tapi Nafi membutuhkan aku."
"Quin, aku mohon dengarkan aku kali ini." Pinta Lana.
"Quin, Lana benar. Kita pulang ya!! besok kita akan kembali ke sini."
"Abi, aku gak tega dengan Nafi. Dia butuh aku."
"Dan keselamatan kamu dalam bahaya." Abi menangkup wajah Quin dan menatap kedalam matanya.
Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari luar rumah sakit, mengatakan jika Dokter Anggel emergency.
Lana yang mendengar nama Anggel di sebut pun langsung berlari menghampiri. Di susul oleh Zein dan Veer.
"Abi, Anggel ..."
Quin pun ikut berlari menyusul Lana, Zein, dan Veer. Sedangkan Abi langsung mengejar Quin. Ia tak akan membiarkan Quin lepas dari pandangannya.
Terlihat Desi berdiri menunggu di luar ruang IGD dengan darah di tangan dan bajunya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Lana saat sudah berada di depan Desi.
"Bajingan itu juga mengincar kak Anggel."
"Siapa? Riki?"
"Ya, Anggel salah satu wanita cantik yang berprestasi. Dia mengincar wanita-wanita cantik dan berprestasi."
"Bagaimana bisa kamu mengetahui nya?"
"Aku mengikut Anggel saat mendengar kabar jika Quin ikut menjadi incarannya. Awalnya aku berfikir karena Quin telah menyuruh seseorang untuk mencari tahu tentang nya. Namun, saat mengetahui siapa Quin, dia tertarik dan ingin menjadikan Quin incarannya. Saat di rumah sakit, Anggel adalah salah satu dokter muda yang berprestasi, dan juga dia keturunan darah Biru. Maka dari itu Naggel termasuk incarannya. Saat Anggel pulang, aku mengikuti nya dan bersembunyi di bangku penumpang. Ternyata firasatku benar, Anggel di jegat ditengah jalan. Untung aku bisa menyelamatkannya sebelum pria itu membawa Anggel." Jelas Desi.
Lana mengusap kasar wajahnya. Padahal ia sudah mengatakan kepada Anggel untuk tak pulang sendirian, dan Lana berpesan kepada Anggel untuk pulang bersamanya. Namun Anggel sangat keras kepala, Anggel tak mendengarkan ucapan Lana.
"Tenanglah, Anggel pasti baik-baik aja."
Om Bram, Leo, dan Lucas yang mendengar kabar jika Anggel kecelakaan pun langsung berlari menghampiri.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Om Bram.
Desi kembali menjelaskan apa yang terjadi. Desi juga mengatakan jika pelakunya tak hanya satu orang, tetapi ada 5. Desi takut jika mereka bisa saja lebih dari itu.
Sekarang, keselamatan Anggel, Quin, dan Nafi berada dalam bahaya. Desi juga menyarankan agar tidak ada dulu yang keluar dari rumah sakit ini. Karena akan sangat berbahaya dan mempersulit penjagaan.
Kabar ini juga sampai ke telinga Jamal. Jamal tersenyum puas, dan mungkin Jamal akan mengambil kesempatan ini untuk membalaskan dendam nya kepada Mama Kesya dan Papa Arka.
"Dokter Bram, keadaan Dokter Anggel baik-baik saja. Hanya benturan terjadi benturan di kepala yang membuat Dokter Anggel harus menerima jahitan. Begitu pun dengan lengannya yang terkena goresan pisau.
Opa Bram melihat keadaan Anggel yang sudah siuman.
"Papi ..." Lirih Anggel.
"Sayang, Papi di sini."
"Seharusnya Anggel dengerin Lana. Hiks .. Maaf, udah buat Papi khawatir."
__ADS_1
Opa Bram hanya memelik putri satu-satunnya itu. Putri kesayanganya.
Om Leo dan Lucas pun bergantian menjenguk Anggel. Quin, Abi, Veer, dan Lana pun masuk bersamaan.
"Abi, Jaga Quin. Jangan biarkan dia terluka."
"An, jangan banyak bicara. Kamu harus istirahat." Ujar Quin menggenggam tangan Anggel.
Anggel mengangguk lemah. Abi, Veer, dan Quin pun keluar, membiarkan Lana bersama Anggel.
"Maaf ..." Lirih Anggel.
Anggel terkejut saat Lana menunduk sambil mencium tangannya. Tak ada suara, namun Anggel tau jika saat ini Lana menangis. Terasa air hangat itu menetes di tangan Anggel.
"Na ..." Panggil Anggel dengan lirih.
"Aku mencintai mu, An. Aku mohon, jangan ragukan cinta ku. Aku benar-benar gak ingin kehilangan kamu."
"Maaf ... hiks ..."
"Bukan salah kamu, An. Ini salah aku. Seharusnya aku tak hanya mengatakannya kepada kamu. Tapi aku harus memaksa kamu untuk tetap berada di dekat ku."
Air mata Anggel ikut mengalir dari sudut matanya. Lana menghapus air mata itu. Dikecupnya kedua mata itu.
"Jangan menangis. Sebaiknya kamu istirahat. Aku akan tetap di sini. Aku gak akan ninggalin kamu, sedetik pun."
Anggel menganggukkan kepalanya, ia menurut kepada Lana, dan menutup matanya. Lagi pula Anggel merasa pusing karena benturan yang di dapat nya tadi.
*
Ruangan Opa Bram adalah ruangan yang terbilang Aman. Jadi, ruangan Opa Bram di jadikan tempat rapat dadakan oleh Papa Arka dan yang lainnya.
Papa Arka menyarankan agar Anggel dan Nafi di rawat di dalam satu ruangan. Agar mempermudah penjagaan dan pemantauan.
Lucas juga menyarankan Veer harus bisa meyakinkan Nafi jika dirinya adalah suami nya. Ini akan mempermudah mereka untuk menjaga Nafi, karena Nafi tak ingin ada pria yang masuk kedalam ruangannya.
Quin setuju untuk membantu Nafi, setidaknya Quin tau bagaimana cara nya memberikan pengertian kepada Nafi. Walaupun Quin tak yakin itu akan berhasil, namun tak ada salahnya kan untuk di coba?
Setelah semua rencana dan strategi di susun rapi, mereka semua pun bersiap menjalankan misi nya.
Anggel dan Nafi sudah di pindahkan di sebuah ruangan yang lebih besar, dengan fasilitas yang lengkap. Nafi sempat terheran kenapa dirinya di pindahkan ke kamar lain? Bahkan satu kamar dengan Dokter anggel. Tunggu, apa yang terjadi dengan Dokter Anggel? Nafi terus memandang ke arah dokter Anggel yang tertidur pulas.
"Dokter Anggel kenapa, Qila?" Tanya Nafi yang menatap ke arah Anggel. Yang mana kepalanya sedang terbalut perban, begitu pun dengan lengannya.
"Oh, terjadi kecelakaan lalu lintas."
"Lalu, kenapa di tempatkan satu ruangan sama aku?"
"Biar enak aku nya jaga aja." Ucap Quin sambil tersenyum.
"Naf, ada yang mau aku omongin."
"Apa?"
"Begini, pertama kamu gak boleh panik. Kamu bisa kan?"
Nafi menganggukkan kepalanya.
"Oke, Sekarang tarik napas kamu."
Nafi pun mengikuti saran Quin, dan membuangnya secara perlahan.
"Baiklah, aku akan katakan kepada kamu. Saat ini aku sudah menikah." Quin menunjukkan cincin kawin nya kepada Nafi.
"Lalu?"
__ADS_1
"Saat suami ku butuh aku, aku akan datang kepadanya. Jadi, Mama Ayu atau Mama kesya akan bergantian menjaga kamu. Namun mereka kan udah tua, gak mungkin juga bergadang."
"Kamu mau aku ditemani dengan Tuan Veer?" Tebak Nafi.
Quin menganggukkan kepalanya. "Dia suami kamu. dan kamu harus percaya kepada dia."
"Tapi aku .."
"Tenang saja, Veer tak akan menyakiti kamu. Jika dia menyakiti kamu, maka katakan pada ku. aku akan menghajarnya habis-habisan."
Nafi terkekeh.
"Kamu mau kan mencobanya?"
"Tapi kamu di sini kan?"
"Tentu. ah ya satu lagi, kekasih Anggel ingin menemaninya juga, kamu harus berkenalan juga dengannya."
"Siapa dia?"
"Produser muda, kamu mengenalnya juga. eem, mungkin kamu mengetahui siapa dia."
"Apa dia jahat?"
"Tidak, Aku sudah mengenalnya sedari kecil"
"Aku kan mencobanya." Ujar Nafi memberanikan diri.
Tadi Mama Ayu sudah menceritakan bagaimana dirinya dan Nafi bisa menikah, hingga mereka memutuskan untuk mengumumkan pernikahan mereka. Awalnya mereka memang berniat untuk mengakhiri pernikahan, namun Mama Ayu mengatakan jika di antara mereka telah tumbuh benih-benih cinta.
Mama Ayu meminta kepada Nafi untuk menerima kehadiran Veer. Seperti Nafi menerima kehadiran Papa nya.
"Hai ..." Veer mencoba menyapa Nafi.
Nafi terlihat masih bergetar dan ragu menatap Veer. Namun saat Nafi memberanikan diri untuk lihat Veer, tatapan Nafi bertemu dengan Veer. Nafi seakan merasakan hangat yang menjalar di hatinya saat melihat tatapan Veer.
"Boleh aku mendekat?" tanya Veer lembut.
Nafi melirik kearah Quin, Quin pun menganggukkan kepalanya. Hingga Nafi juga ikut menganggukkan kepala.
Perlahan Veer mendekat, kemudian ia mengulurkan tangannya. Nafi melihat cincin dari rerumputan yang sudah mengering di jari manis Veer, yang berhimpitan dengan cincin kawin mereka.
Perlahan tangan Nafi terulur untuk menyentuhnya. Ia juga melihat cincin yang sama di jari nya. Sudut bibir Nafi terangkat membentuk satu ukiran senyuman. Ia merasa kisah cinta nya dengan Veer bagaikan dongeng.
Mata Nafi kemudian menangkap sosok Lana yang berdiri di belakang Quin, sambil tersenyum kearahnya.
"Ah, ini Lana. kekasih nya Anggel."
"Hai, Kakak ipar." Sapa Lana.
Hai Kakak ipar.... hai Kakak ipar ...
kata- kata itu seolah tak asing di telinga Nafi. Ia juga merasa tak takut melihat Lana. Tanpa sadar pun saat ini Nafi sedang menggenggam tangan Veer. Veer tersenyum saat bagian refleks Nafi menyentuh nya.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.
__ADS_1