
Sasa menggigit kuat bibir Bara, hingga Bara melepaskan ciumannya.
Plaak...
Bara Tercengang menatap Sasa yang wajahnya sudah basah dengan Air mata. Sasa membuka kaitan seatbelt nya, namun Bara menahan tangannya.
" Awww" Ringis Sasa.
Bara terkejut, dan melihat sudah ada darah di tangan Sasa. Darah dari mana? Bara menarik tangan Sasa, membuka laci dasboard dan mengambil kotak P3K. Sasa menarik tangannya, namun Bara dengan kuat menahannya.
" Maaf" Ujar Bara sambil membersihkan luka Sasa.
Sasa masih sesenggukan dan menangis. Dia menghapus Air matanya kasar, dengan menggunakan tangannya satu lagi.
" Sa "
Sasa masih belum menoleh kearah Bara. Dia masih menunduk dengan sesekali menghapus Air matanya yang masih jatuh mengalir di pipinya. Setelah mengobati tangan Sasa, Bara membuka bajunya, dan di situ Bara lihat ada bekas darah, sekarang Bara tau dari mana asal luka di tangan Sasa. Bara melempar bajunya ke kursi penumpang bagian belakang.
" Sa, liat aku" Ujar Bara lembut.
Sasa perlahan mengangkat kepalanya, dan melihat wajah Bara, betapa terkejutnya Sasa saat melihat bibir Bara yang sudah mengalir darah segar. Sasa mengambil tisu dan menghapus darah yang berada di bibir Bara. Bara terkejut dengan perlakuan Sasa, dia sendiri sudah tidak bisa merasakan darah yang mengalir dari bibirnya, akibat bibirnya yang terasa kebas.
Bara memperhatikan wajah Sasa yang masih sesenggukan sesekali. Asal Bara tau saja, ini adalah ciuman pertama Sasa, dan Bara dengan kurang ajarnya mengambilnya seolah-olah seperti merebut permen dari orang lain. Preman sih preman, tapi harga diri Sasa sebagai perempuan yang tidak gampang di sentuh oleh pria mana pun tetap di jaganya selama ni. Gara-gara Bara api sialan, seenaknya saja mencium bibirnya.
Kesya melihat kedatangan Sasa yang bersama Bara. Kesya melirik kearah suaminya yang ternyata juga melirik kearah dirinya.
" Mas, aku curiga, kayaknya ada sesuatu deh sama mereka."
" Mas rasa juga begitu, tapi itu bukan urusan kita sayang"
"Mbak, maaf ya lama" Ujar Sasa yang sudah berdiri di depan Kesya dan Arka.
" Kamu kok bisa dengan Mas Bara"
" Oh itu__"
" Key, selamat ya atas kehamilan kamu, Semoga sehat selalu" Potong Bara dan memeluk Kesya.
" Makasih ya Mas"
" Selamat ya Ar"
" Makasih Mas"
" Sa, nanti malam kamu datang kan? aku suruh Bang Jodi jemput kamu ya?"
" Biar bareng Mas aja, kan sekalian Mas antar pulang, trus bisa sekalian ke rumah kamu"
Sasa hanya bisa menggaruk alisnya yang tidak gatal, kenapa si Bara api ini mengambil keputusan sendiri tanpa meminta izinnya? Dan kenapa semua pertanyaan yang di tujukan olehnya, dia yang jawab? Apa dia sudah menjadi juru bicara dirinya? Suka-suka dia aja lah.
" Bibir Mas kenapa?" Tanya Kesya saat melihat bibir Bara yang bengkak dan seperti habis berdarah.
" Ooh, itu tadi, di jalan ada kucing nyebrang gak liat kiri kanan, jadi pas rem mendadak tergigit deh." Ujar Bara sambil melirik kearah Sasa, sedangkan yang dilirik sudah memang tampang tidak berdosa.
" Ya udah, masuk dulu yuk" Ajak Kesya.
" Emm, kami balik aja ya, lagian Mas mau pulang dulu, mau mandi. Sekalian nanti kan singgah ke rumah Sasa lagi"
" Emm, Mbak Lia gimana? gak di ajak?" Tanya Kesya dengan jantung yang berdebar dan ingin melihat reaksi Bara.
" Lia sibuk, jadi dia gak bisa ikut" Ujar Bara santai.
Kesya melirik kearah suaminya, " Ya udah, makasih ya Mas udah temenin Sasa. Makasih ya Sa. Hati di jalan ya Mas"
__ADS_1
Sasa dan Bara pun pamit untuk pulang dan bersiap. Diperjalanan, tidak ada percakapan kembali, mereka sama-sama diam dengan fikirannya masing-masing. Hingga Sasa merasakan kantuk yang teramat sangat, dan perlahan Sasa menutup matanya.
Bara memandang wajah wanita yang tertidur di sebelah, tanpa ingin membangunkannya.
" Kamu bukan tipe ku, tapi kenapa saat pertama kali melihat mu, aku merasakan sesuatu yang berbeda? selama ini aku sudah mencoba dekat dengan wanita lain, tapi aku tidak bisa melupakan Lia, tapi kenapa melihat kejutekanmu membuat aku gemas dengan tingkah mu. Awalnya aku fikir hanya seru saja jika menggoda mu, tapi aku salah, aku malah mendapatkan kenyamanan dari mu. Hah, kau tau, 13 tahun aku mencintai Lia, dari awal aku jatuh cinta, tidak pernah ada wanita yang bisa membuat aku terpana selain dirinya, hingga perjuanganku tidak sia-sia. Dan akhirnya aku bisa bertunangan dengannya 4 tahun terakhir ini. Tapi setiap aku melamarnya, dia selalu menolak ku, ku fikir mungkin dia masih ingin fokus dengan karirnya, ternyata aku salah, ada pria lain di hatinya, dan aku? aku hanya pengisi kekosongannya selama ini. Kau tau, aku masih mencintainya walaupun aku tau jika bersama pria lain di belakangku, Terlalu sering aku memergokinya, dan tidak terhitung lagi berapa banyak rasa sakit yang aku rasakan. Tapi aku tetap masih mencintainya. Sampai aku bertemu dengan mu. Sa, bisakah kamu mencintai ku?"
Sayangnya ungkapan perasaan Bara sama sekali tidak di dengar oleh Sasa. Bara hanya mampu memandang wajah tenang Sasa saat tidur. Benar-benar tenang bagaikan bayi.
" Sayang, kamu jadi kan jemput aku?" Tanya Puput si seberang panggilan telpon.
" Iya, ini aku mau menuju ke sana"
" Ya udah, aku tunggu ya. Kamu hati-hati dijalan"
Puout sudah menunggu kedatangan Fadil selama 30 menit, tapi Fadil belum juga muncul. Hingga sapaan dari sang Ayah menyadarkannya dari lamunan.
" Kak, ada tamu di luar"
" Hah? Siapa Yah?
" Teman pria kamu yang waktu itu, siapa namanya? Ando kalo tidak salah"
" Ando? Oh, iya Yah"
Puput menuju ruang tamu, dan benar saja, Ando sudah berada di sana.
" Hai, kamu mau ke mana?" Tanya Ando saat melihat Puput sudah rapi.
" Oh, aku mau ke rumah Kesya. Oh ya, Ada apa?"
" Oh, ini. Aku kemarin dapat kiriman lilin aroma terapi dari teman Bisnisku, Ini?" Anis memberikan Paper bag yang Puput tebak isinya itu lilin aroma terapi yang dimaksud Ando tadi.
Puput meraih Paperbag itu, dan dilihtanya isinya. Benar saja, lilin aroma terapi yang dengan beberapa aroma berbeda.
" Kenapa kamu kasih ke aku?"
Puput mengangguk-anggukkan kepalanya, "Jadi untuk aku nih ceritanya?"
Ando mengangguk dan tersenyum.
Drrtt..drrt...
" Halo sayang"
" ......."
" Oh, gitu ya. Tapi kamu gak pa-pa kan?"
"........"
" Hmm, ya udah deh, kalo gitu sampai jumpa di tempat Kesya ya."
"........."
" Oke, bye sayang, kamu hati-hati ya"
"......."
" Love you to"
" Tunangan kamu gak jadi jemput?" Tanya Ando setelah Puput mengakhiri panggilannya.
" Iya, Ban mobilnya bocor."
__ADS_1
" Emm, kalo aku antar gimana?"
" Hah? Gak usah, aku naik taksi aja"
" Ck, kayak sama siapa aja kamu. Sesama teman tidak boleh menolak kebaikan temannya sendiri kan?" Ujar Ando . "Apalagi kamu sebentar lagi akan menjadi teman hidupku" Sambungnya dalam hati.
Puput terlihat menimbah, kemudian dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sepanjang perjalanan, Ando sangat antusias menceritakan tentang rencana pernikahannya. Dan Puput sangat terkejut saat mengetahui jika calon istri Ando benar-benar tidak mengetahui tentang rencana pernikahan ini.
" Jadi calon istri kamu tidak tau gitu tentang rencana ini?" Tanya Puput terkejut.
" Hmm, Dia hanya tau jika aku sedang membuat kejutan besar di hari yang spesial untuknya"
" Wah, biar aku tebak, pasti calon pengantin wanita kamu itu sangat bahagia dan senang dengan kejutannya ini"
" Benarkah? Aku harap begitu" Ujar Ando dengan senyum yang penuh arti. " Oh ya, aku kemarin fitting baju dengan Mama, cuma aku bingung dengan seleranya, pilihan Mama pun juga aku rasa kurang cocok untuknya, kamu mau gak bantuin aku?"
" Emm, boleh, kapan?"
" Gimana kalo lusa?"
" Baiklah, "
" Aku jemput kamu sepulang kerja ya"
" Emm, nanti aku kabari lagi ya"
Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah keluarga Moza.
" Emm, Maaf ya, aku gak bisa ajak kamu mampir. Tapi makasih banyak loh udah mau antar aku"
" Gak pa-pa, santai aja, lagian kamu udah banyak nolong aku."
" Makasih ya sekali lagi"
" Oke "
Ando melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah keluarga Moza.
" Sama siapa?, Kak Fadil mana?" Tanya Kesya saat melihat Puput turun dari mobil yang tidak di kenalnya.
"Oh itu, Ando. Tadi dia mampir ke rumah buat kasih oleh-oleh. Fadil mungkin lagi di jalan, dia gak bisa jemput, karena ban mobilnya bocor."
Kesya pun menganggukkan kepalanya, Kemudian menggandeng tangan Puput untuk masuk kedalam rumah.
" Btw, kamu cantik banget berhijab" Bisik Puput.
Ada rasa berdesir di hati Kesya saat mendengar pukut memujinya. Hari ini semua orang yang berpas-pasan dengannya mengatakan dia cocok berhijab. Arka saja sampai tidak berpaling dari tadi melihat Kesya. Tatapannya terus saja mengekori kemana Kesya pergi.
.
.
.
.
.
.
.
Readers..
__ADS_1
Jempolnya Manaa....
Yukkm janganh lupa pencet jempolnya...