
Abi menyatukan keningnya dengan kening Quin. Napas mereka saling memburu untuk menghirup oksigen.
"Apa itu artinya kamu memberikan aku kesempatan?" Tanya Abi setelah napasnya kembali normal.
Quin masih tak percaya dengan apa baru saja ia lakukan dengan Abi. Bagaimana bis ia membalas ciuman Abi, dan Quin tak bisa membohongi dirinya, jika ia juga menikmati hal tersebut.
'Quin, sadarlah ... Apa yang kamu lakukan?' Batinnya.
Quin mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Quin menatap kearah berlawan dari Abi. Setelah beberapa menit, Taka da sahutan apapun dari Quin.
" Quin ..."
"Maaf, aku hanya terbawa suasana." Quin berdiri dan meninggalkan Abi yang masih terduduk dan memandangi punggungnya Quin yang semakin menjauh.
"Apa yang membuatmu ragu, Quin?" Monolog Abi dengan tatapan yang masih tertuju ke punggung Quin yang perlahan menghilang di balik pintu.
Quin berjalan sambil memegang dadanya yang masih berdeguo kencang. Fikirannya masih terfokus kepada ciumannya dan Abi. Quin menggeleng dan berusaha menghilangkan fikiran yang membuatnya untuk ingin kembali merasakan bibir Abi.
"Kamu Gila Quin, kamu harus ingat, suatu saat pasti dia juga akan meninggalkanmu. Kamu harus sadar, sebelum terjatuh lebih dalam, dan kembali merasakan sakit itu kembali." Gumam Quin dan berjalan cepat menuju ruangan Anggel.
Quin yang sudah mengetahui password ruangan Anggel tinggal membuka pintu itu. Di dalam ruangan, Quin melihat Anggel yang sedang menutup mata di bangku kebesarannya sambil memegang bibirnya.
"Apa yang kamu lakukan?"
Lihatlah, Anggel tak menyadari kehadiran Quin, karena masih sibuk mengingat ciumannya dengan Lana. Bisakah itu dikatakan ciuman pertama mereka? atau kedua?
"Quin? Kapan kamu masuk? dan ... dan dari mana kamu masuk? aku tak mendengar pintu terbuka." Ujar Angg dengan sedikit gugup.
"Tembus tembok." Ujar Quin asal dan duduk di hadapan Anggel dengan mata menatap curiga.
"Apa?" Tanya Anggel karena merasa seakan Quin sedang mengintimidasi dirinya.
"Apa yang terjadi? Apa kamu dan Lana?"
"Tidak, kami tidak berciuman ..." Jawab Naggel cepat.
"Ahh ... Jadi kalian berciuman?"
Anggel membolakan matanya, sepertinya ia baru saja membongkar aibnya sendiri.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." Anggel mengusap bahunya kemudian ia menggaruk hidupnya. Tanda jika anggel sedang melajukan kesalahan dan berbohong, mencoba untuk menutupi nya.
"Katakan, Apa kalian sudah resmi jadian?" Quin semakin gencar menggoda Anggel.
"Tidak, kami tidak pacaran."
"Aahh ... Jadi kalian berciuman tanpa memiliki status?" Quin berdecak-decak sambil menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak berciuman." Kesal Anggel dengan melototkan matanya kepada Quin.
"Benarkah? Hmm ... Haruskah aku memeriksa cctv?"
__ADS_1
"Quin ..." Pekik Anggel dengan kesal.
Quin terbahak-bahak melihat reaksi sang aunty nya yang sangat lucu. Kemudian Anggel menyeringai dan berniat membalas Quin.
"Bagaimana ciuman mu dengan Abi? Apa sangat nikmat?"
Uhukk ... uhukk ... uhukk ...
Quin tersedak dengan ludahnya sendiri. Quin melototkan matanya kepada Anggel, dan saat ini Anggel sedang menatapnya dengan menggoda.
"Ahh ... Tentu saja nikmat, kamu sampai mengalungkan tanganmu di lehernya."
"Anggel ..." Pekik Quin dan melihat ke kiri dan kenanan untuk memastikan jika tidak ada yang mendengarnya.
Gantian Anggel yang tertawa terbahak-bahak sekarang. Oke, sekarang mereka satu sama.
*
Pintu ruangan Lucas terbuka dan menampilkan Abi dari balik pintu.
"Waahh ... Baru dapat imun tubuh kok lesu banget wajahnya ..." Goda Lucas dan Lana memberikan tatapan menggoda.
Abi menatap Lana dan Lucas bergantian. Ia mengernyitkan keningnya seolah bertanya apa maksud dari perkataan Lucas.
"Sepertinya guru mu itu belum menyadari apa maksud dari ucapan kita." Ucap Lucas kepada Lana, dan di angguki oleh Lana.
"Menyadari apa?"
Tangan Lucas terangkat, kemudian ia menyatukan semua jarinya di setiap sisi sehingga membentu kerucut atau sering di bilang kepala bebek. Lucas menyatukan ujung jari nya seolah membuat sebuah gerakan sedang berciuman.
"Apa itu sangat nikmat?" Tanya Lucas yang memang tidak pernah berpacaran dan otomatis tak pernah merasakan ciuman.
Ukkh, membayangkannya saja Lucas sudah jijik. Jangankan ciuman, untuk mengenakan baju orang lain saja Lucas merasa tubuhnya gatal. Apalagi jika harus saling berbagi Saliva, uweekk ... Lucas, sudah mau muntah rasanya.
"Sangat, sangat nikmat ..." Ujar Abi dengan tersenyum bangga.
"Waah, pantes saja Lana langsung mempraktekkannya." Goda Lucas kepada Lana yang kembali canggung, namun ia memaksa untuk tersenyum.
Abi menoleh kepada Lana, dan seketika ia langsung dapat menangkap situasi yang terjadi saat ini.
"Kalian melihatnya?" Ujar Abi yang baru menyadari ya.
"Yaa, kami melihatnya." Ujar Lana dan Lucas bersamaan.
Abi mendesah berat dan mengusap wajahnya.
"Jangan katakan apapun kepada Quin, aku hanya tak ingin dirinya merasa tak nyaman."
"Apa kamu fikir mulut kami seember itu? Tidak Lorenzo .." Ujar Lucas sambil menunjukan hari telunjuknya yang bergerak kekiri dan kekanan.
"Tapi, aku tak yakin jika Anggel tak menggodanya." Ujar Lana dan menatap Abi dengan menggoda.
__ADS_1
"Jadi Kalian semua melihatnya?"
"Yups, kami melihatnya."
"Dan Lana langsung mempraktekkannya." Ujar Lucas dan langsung mendapatkan lemparan bantal sofa dari Lana.
Lucas tertawa terbahak-bahak dan Abi ikut menggoda Lana. Tadinya Abi yang menjadi sasaran empuk Lana dan Lucas, namun sepertinya sekarang menjadi terbalik. Abi dan Lucas kompak menggoda Lana.
Abi tersenyum, dalam hati ia berkata bahwa Lana tak seburuk yang di fikirkannya. Ia akan berfikir jika Lana akan membencinya karena telah merebut pujaan hati nya.
"Kamu tau Abi? Lana pernah bercita-cita ingin menikahi Quin dan Anggel."
"Apa?" Pekik Abi terkejut.
"Brengsek." Ujar Lana dan kembali melayangkan bantal sofa kepada Lucas yang sudah tertawa terbahak-bahak.
"Untung saja aku sudah menikahi Quin, dan itu tandanya aku sudah menyelamatkan Quin dari terkaman Buaya buntung." Ujar Abi sambil menatap iba kepada Lana.
"Kampr**t" Ujar Lana dan melempar bantal sofa kepada Abi.
Tawa Lucas dan Abi semakin pecah di kala melihat Lana sudah kesal kepada mereka berdua, dan terjadilah peperangan bantal di antara mereka bertiga.
*
Di Seoul, Veer memegang tangan Nafi tanpa sedetikpun ingin melepaskannya. Dedi masuk setelah mengetuk pintu dan mendapatkan izin dari Veer.
"Semua sudah siap. Tinggal kapan Bos ingin berangkat."
"Bagaimana dengan Tata?"
"Tata sudah sadar dan sudah di periksa oelh dokter. Keadaannya baik-baik saja, dan Dokter sudah memberi izin untuk Tata kembali ke Indonesia."
Veer menganggukkan kepalanya. Ia menarik napas sejenak sambil menatap wajah Nafi yang masih setia menutup matanya. Entah berapa banyak dosis yang disuntikkan oleh bajingan tersebut, sehingga sudah 2 jam ini Nafi belum juga sadar.
"Kita berangkat sekarang."
"Baik Bos."
Dedi menundukkan Badannya dan keluar dari ruangan Nafi. Dedi memberikan perintah kepada pengawal untuk bersiap akan Keberangkatan mereka.
Helikopter juga sudah siap siaga di atap gedung rumah sakit, dan itu semua atas perintah Veer. Veer akan membawa Nafi dan Tata memakai helikopter menuju lapangan penerbangan jet pribadi mereka.
Ini yang terbaik yang harus Veer lakukan. Kembali ke Indonesia adalah tempat yang aman, sampai Veer menangkap kembali sipelaku.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.