KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 62


__ADS_3

Quin menatap dalam ke mata Abi, tak ada kebohongan, bahkan Quin melihat Abi mengatakannya dengan serius.


" Aku serius Quin. Menikah lah dengan ku secepatnya.."


Abi mengelus pipi Quin, mata mereka bertemu dan saling mengunci, hingga Abi mendekatkan wajahnya. Perlahan Abi semakin mendekatkan wajahnya, hingga hembusan napas Quin terasa di kulit wajah Abi.


" Eh, maaf Mbak... Aku gak liat.."


Desi langsung membalikkan tubuhnya dengan tangan yang menutup wajahnya. Abi dan Quin sontak langsung memberi jarak dan menggaruk tengguk mereka yang tak gatal.


" Emm, ada apa Des?" Tanya Quin setelah beberapa saat di landa keheningan.


" Itu, Dokter Abi di cariin. Katanya ada pasien." Ujar Desi dengan kikuk, merasa bersalah karena memergoki bos nya yang sedang bermesraan.


Jangan salahkan Desi, sebelumnya Desi sudah memberi tanda akan kehadirannya. Mungkin karena terlalu hanyut, Quin dan Abi sampai tak mendengar tanda-tanda itu.


" Emm, seperti nya aku harus kembali bekerja." Ujar Abi kikuk.


" Aku juga."


Abi berdiri duluan, kemudian ia memberikan tangannya kepada Quin untuk berpegangan, Quin pun meraih nya.


" Makasih.."


Quin dan Abi berjalan berdampingan, melewati Desi yang kembali bersikap siaga dan seolah tak melihat apapaun. Quin melirik kearah Desi, dan mendapati Desi tersenyum tipis. Quin menyadarinya itu. Quin langsung memberikan tatapan tajam, agar Desi menutup mulutnya. Desi pun akan menuruti perintah sang majikan.


.


.


Lana membuktikan kepada Angel, jika ia bersungguh-sungguh akan menjadikan Angel satu-satunya di hati. Namun Anggel yang merasa jika dirinya hanya di hadikan sebagai pelarian pun, memilih menghindar.


Sudah hampir sebulan ini, Lana terus mengirimkan Sebuket bunga kepada Anggel setiap pagi. Terkadang Lana mengirimkan ke rumah, terkadang juga mengirimkan ke kampus, bahkan juga ke klinik serta rumah sakit. Lana juga memesankan makan siang dan juga cemilan untuk Anggel.


" So sweet banget sih, siapa sih Aunty?" Tanya Lucas yang tengah makan siang di ruangan Anggel.


" Bukan siapa-siapa, hanya orang iseng aja."


" Masa sih? yang bener iseng? isengnya serius banget sih?"


" Ya mau gimana lagi? Kebanyakan duit kali, makanya dia iseng gini."


" Enak banget jadi cewek ya, selalu dapat kiriman bunga, terus kiriman makanan lagi. Andai aja ada yang kirimin aku bunga dan bekal makanan tiap hari gini."


" Ya oplas aja tuh jenis kelamin."


" Iihh, tajam banget sih mulutnya. Ini mah pusaka ajaib tau,"


" Lah, tadi bilang enak jadi perempuan,!!"


" Ya maksud aku sih, aku sebagai seorang laki-laki kan pingin juga dapat bunga dan bekal makanan tiap hari gini."


Anggel hanya mencibir saat mendengar Lucas berbicara. Yang benar saja, bukannya dia sendiri yang menolak semua pemberian dari para dokter serta suster yang ingin memikat hati nya? Aneh-aneh saja Lucas ini.


" Eemm, Luc, kamu pernah jatuh cinta gak?"


" Enggak, kenapa?"


" Gak papa"


Anggel melanjutkan makannya dengan mengaduk-ngaduk menu makanannya.


" Tapi aku pernah naksir seseorang." Ujar Lucas yang mana membuat Anggel mencibir.


" Itu sama aja kali kamu jatuh cinta."


" Beda dong, Jatuh cinta itu buat jantung aku bekerja dua atau tiga kali lebih cepat dari biasanya. "


" Kalo Naksir?"


" kalo Naksir, ya aku cuma hanya senang aja melihat si dia, tapi jantung aku gak berdebar-debar gitu."


Anggel memandang Lucas, kemudian ia kembali mengaduk-aduk makanannya.


" Eemm, kalo seorang pria jatuh cinta dengan dua wanita dalam waktu yang sama, mungkin gak sih?" Tanyanya dengan ragu.


" Ya mungkin aja, Toh dalam agama gak di larang kan buat pria menikah lebih dari satu. Ya pastinya si pria memiliki banyak ruang di hati nya untuk mencintai."


" Ya gak di larang sih, cuma apa masuk akal gitu? jika seseorang yang punya kekasih, mencintai orang lain lagi?"


" Bisa jadi, kalo gak mungkin, ya mana ada yang namanya perselingkuhan."


Anggel terlihat berfikir, namun matanya membesar kala mendengar pertanyaan dari Lucas.


" Aunty gak lagi jadi orang ketiga kan?"


" Sialan kamu. Ya gak lah." Anggel melempar timun yang ada di piringnya.


'Orang ketiga? apa benar jika Lana juga mencintaiku? hah, sepertinya aku harus semakin jaga jarak dengan Lana.' Batin Anggel.


.


.


Kayla yang baru saja selesai mengajarkan nada-nada di studio milik Lana pun memainkan ponselnya, hingga Lana datang menghampirinya.


" Aku ganggu?"


" Eh.." Kayla terkejut dan menjatuhkan ponselnya.


Lana mengambil ponsel Kayla, begitupun dengan Kayla, sehingga tanpa sengaja Lana menyentuh tangan Kayla.


" Maaf.." Ujar Lana.


" hmm.."


" Kay, boleh aku meminta bantuanmu?"

__ADS_1


" Bantuan apa?"


Lana pun mengungkapkan apa yang ingin di sampaikan nya. Kayla mengernyitkan keningnya, dan juga terkejut dengan pernyataan yang Lana berikan. Kayla menghela napasnya berat, di saat Lana meminta bantuannya.


" Pliiss, aku mohon, bantu aku."


" Haah.. Baiklah, aku akan mencobanya."


" Terima kasih."


.


.


Nafi kesal kepada kliennya. Masalahnya kliennya ingin bertemu langsung dan membahas proyek yang akan mereka jalin kerja samanya di Korea. Yang bikin Nafi kesal adalah, saat ini di Korea tengah musim dingin, dan Nafi benci musim dingin, karena Nafi memiliki penyakit Hipotermia.


" Cemberut aja, kenapa?"


" Seminggu lagi pesta pernikahan kita, tapi klienku meminta melakukan pertemuannya di Korea. Aku benci.."


" Kenapa benci?" Veer membelai wajah Sang istri.


" Di sana lagi musim dingin Veer, kamu tau aku benci musim dingin. Lagi pula, jika aku hipotermia ku kambuh, bagaimana dengan pesta pernikahan kita? Aku gak mau haribyanh spesial ini kembali di undur."


" Emang harus ke sana?" Tanya Veer tanpa mau berhenti untuk membelai wajah sang istri.


" Hmm, ini salah satu klien penting."


" Berapa hari?"


" Paling lama dua hari."


" Aku akan menemani mu."


Nafi menoleh menatap wajah Veer.


" Kamu serius?"


" Hmm, Aku serius."


" bagaimana dengan Pekerjaanmu?"


" Hanya dua hari, dan kebetulan tidak ada pekerjaan yang terlalu berat. Aku bisa mengerjakannya melalui email yang dikirim kan Dedi."


Dedi yang menjadi supir pun memutar bola matanya, jika sudah begini, maka dirinya akan benar-benar menjadi seorang jomblo tiada lawan.


" Terserah kamu deh, Aku senang kamu bisa ikut."


" Kalo aku khilaf? Kamu senang gak?" Veer menaik turunkan alisnya.


" Eh, itu.. eng..."


Wajah Nafi memerah, ia ingat beberapa malam lalu, saat hujan deras, Veer mengajaknya untuk bermain hujan di balkon kamar mereka. Mereka pun berdansa di bawah derasnya, hingga Veer mencium bibir Nafi, membawa ciuman itu semakin dalam, dan kemudian Veer menuntun Nafi untuk masuk kedalam kamar mereka. Veer dan Nafi yang tersulut napsu pun semakin bergerak cepat. Nafi meremas rambut Veer, hingga tangannya turun dan menyusup kedalam kaos oblong yang Veer pakai. Veer pun juga membuka kancing piyama Nafi, dan melepaskannya dari tubuh Nafi, hingga menyisakan Bra.


Veer membawa Nafi ke kasur, dan merebahkannya tanpa melepaskan ciuman mereka. Ciuman Nafi pun turun ke leher, dan ke dada Nafi, memberikan beberapa tanda di sana.


.


.


Seperti janji Abi siang tadi, Abi akan membawa Quin untuk menikmati apa yang Quin inginkan saat ini.


Sebelumnya Abi sudah mencari tahu tentang jajanan yang Quin inginkan tadi. Dan Abi juga sudah meminta rekomendasi dari Bunda Sasa.


Yupss, Abi dan Bunda Sasa sudah sangat dekat. Bahkan Abi terkadang mencurahkan isi hatinya kepada Bunda Sasa Dan Daddy Bara. Abi juga sampai heran, kenapa bisa dia sangat cepat dekat dan terbuka dengan Bunda Sasa dan Bara. Padahal Abi adalah orang yang enggan membicarakan masalah pribadinya kepada orang lain. Kepada Aunty Risma saja Abi enggan untuk mengungkapkan isi hatinya, kecuali jika Abi benar-benar lagi butuh pendapat.


Abi juga sudah menyuruh orang untuk menyewa tempat jajanan tersebut, sehingga Quin akan terasa aman dan Nyaman.


" Astaghfirullah, Abi.." Quin terpekik terkejut saat melihat Abi sudah berdiri di belakangnya.


" Kenapa kamu yang cuci piringnya?"


" Duh, aku udah biasa Bi, "


Quin mengeringkan tangannya dengan serbet yang ada di sana. Quin berjalan ke arah cookies yang baru saja di panggangnya. Ia mengambil satu cookies hangat itu, dan membawanya kepada Abi.


" Cobain deh."


Abi langsung membuka mulutnya, Agar Quin menyuapi nya.


" Emm, enak.. Gak terlalu manis, tapi masih terasa enak."


Quin tersenyum. " Ini cookies emang khusus untuk pelanggan yang mengidap diabetes."


" Wow, aku gak nyangka jika calon istri ku ini sangat peduli dengan seluruh pelanggannya."


" Gak usah gombal deh. "


" Aku serius, Dan aku gak sabar untuk melihat kamu kamu saat pertama kali aku membuka mata, dan melihat kamu saat aku ingin terlap bersama lelah ku. Hanya melihat ka.u, semua lelah ku akan sirna."


" Waahh, ternyata kamu gombalnya tingkat dewa yaa.. Saingannya Lana ini mah, si buaya darat Kam to the pret."


" Apaan tu?"


" Kampr*t"


Abi membesarkan bola matanya. " Quin, kamu bisa menghujat orang ternyata?"


" Tentu, cuma gak tega aja. ha..ha.."


Abi melihat wajah Quin yang selalu seakan tak memiliki beban. Namum semakin mengenal Quin, Abi semakin memahami Quin, Di balik tawa dan senyumnya, ada kegelisahan yang Abi masih belum tau apa. Bahkan Abi juga belum mengetahui penyebab utama putusnya Quin dan Jamal, mantan kekasih Quin. Abi sudah menyuruh orang untuk mencari tau latar belakang Jamal, dan sepertinya ada yang tidak beres dengan data diri Jamal selama ini.


Quin membereskan perlengkapan masak ya, dan menyimpan cookies tersebut kedalam wadah.


" Sudah?" Tanya Abi yang matanya sedari tadi tak berpindah dari Quin.


" Hmm, sudah. Kenapa?"

__ADS_1


" Aku mau bawa kamu ke suatu tempat."


" Kemana?"


" Ada deh.. yuuk.."


Abi meraih jari jemari Quin, dan menggenggamnya lembut.


Seeer...


Untuk pertama kalinya, darah Quin berdesih merasakan sentuhan Abi. Quin memperhatikan tangannya yang di genggam oleh Abi sepanjang mereka keluar dari toko.


" Aku akan mengemudi, kalian ikuti di belakang." Ujar Abi kepada Desi.


Desi selaku ketua tim perlindungan Quin pun menganggukkan kepalanya, dan membungkukkan sedikit tubuhnya, dengan di ikuti oleh pengawal yang lain.


Desi tersenyum, saat melihat Abi menggenggam tangan Quin dengan posesif. Desi berharap, jika Abi adalah pangeran yang akan menjaga Quin seumur hidupnya dengan cinta.


" Kita mau ke mana Bi?"


Abi hanya menoleh dan tersenyum.


" Ih, nyebelin deh. Di tanyain malah senyum-senyum."


Quin cemberut dan memanyunkan bibirnya. Abi gemes dengan bibir Quin yang menggoda, rasanya ia ingin menarik tengkuk Quin dan ******* bibir itu. Tapi Abi sadar, jika Quin masih butuh waktu untuk hal tersebut. Abi sudah tau, jika Quin saat sedang mencari cara untuk membatalkan pernikahan mereka. Veer sudah mengatakannya kepada Abi, dan Abi sudah memiliki rencana yang matang untuk mempercepat pernikahan mereka.


Quin mengerutkan keningnya saat Abi menghentikan mobilnya di dekat sebuah penjual yang menggunakan tenda biru.


" Ngapain ke sini?"


Quin tau, ini adalah tempat favoritnya bersama bunda Sasa dan Daddy Bara.


" Kamu pingin makan mie balap kan? "


" Abiii.." Quin terharu dan tersenyum.


Kesal?


Tentu saja,


Bukan seperti ini yang Quin mau, Quin memang ingin makan jajanan yang merakyat, bersama pelanggan lainnya, bukan menyewa seluruh tempat yang hanya ada mereka berdua.


" Kok masih cemberut?"


" Gak nyewa satu tempat juga Bi, aku hanya ingin hidup normal, berbaur dengan yang lainnya."


Abi meraih tangan Quin, dan di genggamnya.


" Aku tau, tapi untuk sementara ini kamu harus sabar, ini demi keselamatan kamu."


" Hmm.... tau gini aku gak mau buka identitas ku."


" Walaupun kamu tidak membuka identitas mu, aku rasa kejadian itu akan tetap terjadi. Karena orang yang menjadi target utama kami yang sebagai dalang di balik penyerangan itu adalah Jamal."


" Huuf, gak usah bahas dia deh, malas dengernya."


" Aku gak bahas, cuma bilang aja kalo untuk saat ini dia yang menjadi tersangka utamanya."


Quin tak menyahut, ia benar-benar malas membahas tentang Jamal. Walaupun ia juga penasaran, apa penyebab Jamal sampai bisa berbuat senekad itu, jika benar Jamal lah pelakunya.


Mie balap pesanan mereka pun tiba, kekesalan Quin pun sedikit menguap, iya meraih piring tersebut dan memulai mengaduknya dengan sambal.


" Bismillahirrahmanirrahim.."


Quin menyendokkan segulung mie kedalam mulutnya, Quin benar-benar rindu dengan rasa yang sangat mengunggah selera lidah orang Indonesia.


" Enaakk.." Gumam Abi yang juga ikut menikmati mie tersebut.


" Enakkan.. Kamu tau kenapa mie ini di sebut mie balap?"


" Eemm, kenapa?"


" Karena cara mengaduk mie-nya itu buru-buru dan sangat cepat."


" Ooh, pantes aja aku lihat cara masaknya itu heboh banget."


" Namanya mie balap."


Quin melupakan sejenak rasa kesalnya. Setidaknya saat ini Quin bisa menikmati jajanan yang merakyat ini.


" Besok aku akan ngajak kamu makan seblak."


Quin tersedak, dengan cepat Abi memberikan segelas air untuk Quin.


" Seblak? emangnya kamu tau?"


" Tau dong. Seblak, cilok, batagor, kerak telor, pokoknya masih banyak lagi yang lain deh."


Quin terkekeh. " Emangnya kamu pernah makan?"


" Enggak sih, cuma kamu akan menjadi orang pertama yang menemaniku makan."


" Iih,,, itu mah kamu nya yang pingin."


Quin dan Abi pun tertawa bersama, tanpa mereka sadari jika di sudut sana ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan tak suka. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.


" Aku gak akan membuat ibu mu dan diri mu bahagia. Kalian harus membayar apa yang telah ibu ku rasakan selama ini."


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.

__ADS_1


__ADS_2