
Bergegas mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Tiba-tiba pagi menjelang siang itu hujan turun sangat deras, suasana jadi semakin syahdu jika Adam dan Airy bertemu di klinik. Sampai juga Adam di klinik, ternyata Airy masih belum keluar dari ruang keperawatan, lebamnya masih butuh dikompres sebentar. Sedangkan Rindi menunggunya diluar, karena ia ingin segera menemui Sari ketika Adam sudah datang menjemput Airy.
"Assalamu'alaikum, dimana Airy? " salam Adam dengan terengah-engah.
"Wa'alaikumsalam, masih di dalam Mas, " jawab Rindi.
"Apa yang terjadi dengan kalian? Airy baik-baik aja kan? " tanya Adam panik.
"Alhamdulillah kami baik-baik saja, hanya Airy mengalami lebam di pipinya. Karena pukulan seseorang suruhan Mbak Sari. " jawab Rindi menundukkan kepalanya.
"Sari? Ternyata Sari benar-benar sudah bebas? " tanya Adam.
"Aku sarankan, perhatikan langkah Mbak Sari Mas. Aku mau ke rumahnya dulu, aku mau bikin perhitungan dengannya. Bawa pulang Airy ya, kasihan dia, bukan hanya pipinya saja yang kena pukul. Tapi perutnya juga kena tendangan..! " jelas Rindi.
__ADS_1
"Assallamuallaikum.. !! " salam Rindi.
"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh, hati-hati. " ucap Adam.
"Alon-alon to yo..!! (Pelan-pelan dong) " teriak Airy dari dalam.
Mendengar teriakan Airy, Adam langsung bergegas masuk keruangan itu. Ia khawatir, panik dan risau. Perawat. yang ada disamping pintu sampai terkejut karena Adam mau masuk saja.
"Ngapunten, kulo garwa ne pasien (Maaf, saya suaminya pasien) " jawab Adam menahan malu.
Mendengar ada suara Adam, Airy langsung menolehnya. Bahkan ia berusaha menutupi lukanya itu, menggunakan tisu yang ia bawa. Tatapan Adam seperti orang kesal kepada Airy, ya siapa yang tidak kesal. Mendapat musibah kenapa tidak langsung menghubungi suaminya. Malah orang lain yang menghubungi Adam.
Bahkan, di mobil pun mereka sama sekali tidak bicara. Adam masih kesal dengan Airy yang tidak jujur kepadanya. Sampai dirumah pun, mereka hanya diam-diam an saja. Adam menuntun Airy sampai ke tempat tidur, lalu kembali mengompres pipinya menggunakan es batu.
__ADS_1
"Mas Adam marah? " tanya Airy memulai percakapan. Adam masih diam saja, sibuk mengompres pipi Airy dengan lembut.
"Mas, jangan diam gini dong. Aku paling nggak bisa lihat orang marah tapi cuma diam saja. Cubit aku kek, tampar aku kalau perlu, atau kalau enggak ya bisa hukum aku dengan setimpal. Tapi jangan diam gini, aku nggak suka.. !! " ucapan Airy membuat Adam tidak tega.
Diletakkannya itu lap buat kompres, lalu dengan perlahan, Adam menaikkan dagu Airy. Setelah itu, Adam pun m-e-l-umat (takut sensor) bibir Airy dengan lembut. Seketika Airy menjatuhkan air matanya, entah kenapa mendapat ciuman bibir itu membuat Airy semakin bersalah.
"Kenapa nangis? Udah dihukum kan? Sekarang kamu ceritain semuanya kepada suamimu ini..!! " ucap Adam dengan senyuman.
"Mas Adam udah nggak marah lagi? " tanya Airy.
"Kan zawjati nakalku ini udah dihukum. Lain kali harus jujur ya, jangan merasa membebani Mas. " tutur Adam dengan suara lembut.
Adam pun menyeka air mata Airy dengan lembut, selama ini perlakuan Adam ke Airy memang selalu lembut, bahkan terkesan sangat dimanja. Yang dulu Airy adalah anak nakal, serang menjadi istri manja Ustad Adam.
__ADS_1