
Sesampainya di rumah sakit jiwa. Mita terus saja memberontak ketika hendak di bawa masuk. Yusuf terus berada di belakangnya. Hatinya memang gampang tersentuh, Yusuf tidak tega melihat Mita yang di ikat seperti itu. Tapi, semua ini demi kebenaran mental Mita, sehingga Yusuf bisa melaporkannya ke kantor polisi. Tanpa merusak mental anak orang.
"Memangnya, kamu sudah berusia 17 tahun?" tanya Clara.
"Belum lah, aku masih di bawah umur tau, haha kenapa? Terlihat dewasa, 'kan?" jawab Yusuf.
"Aku rasa... kamu itu mirip banget sama Aisyah. Dulu, waktu dia umur 7 tahunan, pikirannya udah gede banget. Bahkan sampai Oppa Sandy dan Uti Leah bertengkar saja, Aisyah yang menengahnya, hebat! Kamu mengingatkan semua itu," ucap Clara sambil mengusap lengan keponakannya.
"Aku nggak tahu, dengan jalan pikirku sendiri, Tante. Ada bersyukur memiliki keluarga seperti keluarga kita ini," jawab Yusuf memakai jaketnya kembali.
Mereka masih menunggu hasil pemeriksaan, terdengar suara Mita yang terus mengatakan jika dirinya tidak gila. Bahkan berteriak terus memanggil nama Raihan waktu itu.
1 jam berlalu, dokter keluar dari ruangannya. Yusuf melihat Mita yang sedang terbaring di tempat pemeriksaan. Ia tertidur karena pengaruh obat penenang. Dokter itu mengatakan, jika mental Mita memang masih terjebak saat dirinya melukai Pearl waktu di Jepang.
"Hampir 4 tahun lalu berarti, bukan begitu, Dok?" tanya Yusuf.
"Tepat! Kesimpulan saya memang dalam waktu itu. Bagaimana? Mau bawa pulang, atau biarkan tetap di sini melakukan perawatan?"
Yusuf tidak mau gegabah, ia akan berunding dulu dengan keluarga Mita. Ia sadar, bahwa dirinya tidak mungkin langsung memberikan keputusan.
"Tante, aku boleh minta tolong lagi?" tanya Yusuf.
"Tentu, katakan!" jawab Clara.
"Tante harus berunding dulu dengan keluarga Kak Mita. Karena kita tidak berhak memutuskan, lebih baik kita pergi sekarang, sebelum dia sadar kembali!"
__ADS_1
Clara memang tak habis pikir dengan kedewasaan Yusuf yang masih memikirkan keluarga Mita. Jelas saja Clara merasa marah karena Mita sudah mencelakai Raihan serta istrinya. Clara meminta Yusuf untuk pulang terlebih dahulu, karena ia masih harus mengaji. Clara juga berjanji akan menuntaskan masalah itu dengan baik dan tidak ada yang mengetahuinya.
"Baiklah, aku pulang dulu, ya. Jaga wanita itu baik-baik, akun tidak ingin dia lolos begitu saja setelah mencelakai Abang-ku!" seru Yusuf.
"Iya, keponakanku yang ganteng. Pulanglah, Tante akan mengurusnya dengan baik." ucap Clara menyentuh bahu Yusuf.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam, hati-hati!"
Sebelum pulang, Yusuf meminta Hamdan untuk menunggunya di dekat rumah sakit itu. Mereka akan pergi ke toko buku dan bertemu seseorang di sana. Bukan hanya Hamdan, Falih ikut serta juga, karena mereka memang jarang terpisahkan.
"Assalamu'alaikum, udah lama?" tanya Hamdan sampai di lokasi.
"Walah, yo wis ayo berangkat!" ajak Falih.
Di jalan, Yusuf masih memikirkan langkah selanjutnya untuk Mita. Menunggu sembuh bisa memakan waktu lama. Sedangkan dirinya, akan pindah sekolah sebentar lagi, pasti akan sibuk dengan sekolah bari.
Sesampainya di toko buku, Yusuf memiliki ide untuk membelikan Mita beberapa buku. Ia berharap, Mita segera sembuh dan mengakui kejahatannya yang sudah ia lakukan kepada Raihan dan Laila.
_-_-_-_
"Ngerti ora? Aku wingi pamitan karo Pak Guru Bimbingan nek awak dewe arepe pindah seko ndono," ujar Falih ketika mereka sedang di angkutan umum.
(Tahu tidak? Aku kemarin pamitan sama Pak Guru Bimbingan kalau kita mau pindah dari sana 'sekolah').
__ADS_1
"Terus?" tanya Hamdan.
"Haha, rodo nesu (agak marah)!" jawab Falih.
"Lah, kenapa?" tanya Hamdan lagi.
"Kita msih punya utang uang kas selama di kelas 1, haha ngakak aku," jelas Falih sambil tertawa.
Falih dan Hamdan heboh sendiri membahas Guru Bimbingan serta bendahara kelas yang galak, melebihi galaknya Airy ketika makanannya di rebut. Sementara Yusuf masih berpikir bagaimana caranya bisa membuat Mita segera sembuh dan cepat mengakui perbuatannya.
"Astaghfirullah hal'adzim. Ya Allah, ini mimpi buruk bagiku!" batin Yusuf dengan menggenggam erat buku yang baru saja ia beli untuk Mita.
Alih-alih menanyakan soal masa lalu Raihan dengan Mita, Laila justru mendapatkan fakta jika Mita baru saja masuk ke rumah sakit jiwa. Ia mendapat kabar itu dari Naira.
"Kamu tahu dari mana masalah Mita dan itunya?" tanya Laila di telpon.
"Aku melihat dokumen Mita di tas Mamaku, ada apa dengannya?" jawab Naira, kembali bertanya.
Laila tidak bisa menjawab, karena ia juga baru tahu jika Mita masuk ke rumah sakit jiwa. Hatinya sedikit lega, sebab Mita tak mungkin akan mengacau lagi dalam kehidupannya. Namun, di sisi lain ia merasa sedih mendengar kabar itu.
"Kasihan dia," gumamnya.
"Siapa yang kasihan?" tanya Raihan tiba-tiba muncul dari belakang.
"Temenku, dia baru saja di pecat," Laila memilih berbohong soal Mita. Ia tidak ingin membahas tentangnya terlebih dulu sekarang.
__ADS_1