
Melihat rumah barunya, Airy merasa bahagia, ia tidak menyangka jika rumah itu sangat sederhana, rapi dan sangat bersih. Airy sangat menyukai itu,apa lagi saat melihat kamarnya yang di cat dengan warna hijau, warna hijau dan putih adalah warna favoritnya.
"Masyaallah, Ustad, ini yakin rumah kita?" tanya Airy.
Adam mengangguk, ia tertegun melihat senyuman manis dari Airy, setiap barang dirumah itu, di sentuh olehnya, betapa bahagianya dia. Semua sesuai dengan keinginannya, bahkan Airy tidak meminta sama sekali kepadanya.
"Kamu menyukainya?" tanya Adam.
"Kenapa tidak? Ini sangat bagus Ustad, lebih bagus dari rumah Papa malah, suka! Makasih hadiahnya." Ucap Airy penuh kegembiraan.
__ADS_1
"Rumahmu jauh lebih bagus Airy, lebih besar. Maaf aku cuma memberimu hadiah sederhana ini Airy," kata Adam dengan lembut.
"Sederhana? Hey Ustadku, kau bilang, eh tunggu, salah kalau aku bilang 'kau', tapi kamu aja hehehe. kamu bilang ini sederhana? Wanita atau seorang istri mana yang tidak bahagia menerima hadiah rumah dari suaminya, jarang sekali Ustad. Pernah Papa bilang seperti ini, 'Airy, Papa selalu berdoa kepada Allah, agar kelak nanti, jika dirimu sudah bertemu dengan jodohmu, Papa harap dia jauh lebih baik dariku, dari segi ilmu agama, maupun hal yang lain." Jelas Airy.
Bagaimana tidak bahagia, rumah yang asih Rifky tinggali adalah rumah pemberian Ruchan saat itu. Bukan masalah karena Rifky tidak bisa memberikan rumah kepada Adam juga, atau merendahkan diri, tetapi impian setiap perempuan, atau seorang istri, setelah menikah adalah berumah tangga secara mandiri, maupun itu ngontrak atau membangun rumah sendiri, sesuai kemampuan. (aku aja menempati peninggalan almarhum kedua orang tuaku, dan lebih syahdunya, Alhamdulillah sejak pertama menikah sampai sekarang, suami mau ikut denganku, tanpa paksaan sedikitpun).
Airy bergegas merapikan bajunya, dan memasukkanya kedalam almari yang baru juga. Menata baju miliknya, dan juga milik Adam, bahkan Adam juga merapikan tempat tidur. Adam ingin memberikan sesuatu lagi untuk Airy, hadiah yang saat itu, sampai harus ia keluar kota bersama dengan Raihan.
Rasa suudzon Airy muncul, fikirnya Adam ingin mengajaknya sesuatu seperti itu. Ia belum siap, dan juga saat itu masih puasa, di bulan ramadhan. Yang namanya Airy hanya berfikir kotor tetapi masih saja bertingkah aneh. Ia membalikkan badan dan malah menyebut nama Adam dengan menggoda.
__ADS_1
"Dalem Ustadku" jawab Airy.
"Hah? Emm aku ada hadiah lagi buat kamu!" kata Adam langsung mengalihkan pandangannya.
"Lagi? Baiknya, aku mana ada hadiah buat Ustad, gimana kalau aku ambilin jambu aja dari pohonya langsung, fresh dari pohonya, aku deh yang ambilin." kata Airy konyol.
"Mau manjat pohon di bulan puasa?" Tanya adam.
"Umm, apakah aku juga dilarang manjat pohon sekarang? Iya aku sadar, aku sudah menjadi seorang istri." Kata Airy menunduk lesu.
__ADS_1
"Bukan gitu Airy, aku nggak akan melarang kamu memanjat pohon lagi, lakukanlah sesuka hatimu. Hadiah darimu, bagaimana kalau kita buka bersama, berdua saja, terserah mau masak sendiri, atau keluar gitu." Kata Adam gugup.
Mendengar kebaikan Adam, spontan Airy memeluk adam dengan erat. Sudah kebiasaan Airy, jika dimanja oleh keluarganya pasti langsung memeluknya. Deg, deg, deg.... Jantung Adam yang sedang senam terdengar oleh Airy, seketika Airy melepaskan pelukannya. Krikk.. Krikkk.. kecanggungan berlangsung......