Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 368


__ADS_3

"Kakak, nunggu siapa?" tanya seorang siswi yang baru saja keluar bersama dengan ketiga temannya.


"Em, nunggu saudara," jawab Hamdan sedikit gugup.


"Saudara kakak siapa? Terus kelas berapa?" tanya siswi itu.


"Dia kelas tiga, namanya Yusuf. Apakah kelas tiga sudah keluar semua?" Hamdan merasa sudah tak nyaman didekati dengan empat siswi itu. Mereka berdiri tepat di samping Hamdan, hanya berjarak beberapa inci saja.


Semua langsung menebak jika Hamdan ini dari Korea, memang wajah Hamdan ini mirip Ibunya, yang asli Korea. Apalagi, mata sipit dan kulit putihnya tak mampu menutupi jika dirinya orang Korea.


"Kakak ini pasti bukan orang Indonesia, pasti Orang Korea, soalnya kalau China atau Jepang, wajahnya tidak se imut ini. Pantas saja Kak Yusuf juga ganteng, saudaraan sama orang Korea, sih," celetuk siswi itu.


"Haduh, Ucup mana, sih? Emangnya terlihat jelas apa kalau aku orang Korea. Wong darahku juga mix Jawa," gerutu Hamdan dalam hati.


Sebelumnya Hamdan hanya cengangas sengeges sabar. Sampai akhirnya Yusuf datang dan segera menyuruhnya pergi menjauh dari keempat siswi yang menggodanya itu. Bukan malah suka di goda ciwi-ciwi, Hamdan merasa geli karena mereka terlalu genit.


"Besok lagi, datang ke sekolahku, oke? Haha, kau sudah memiliki fans saja," ledek Yusuf.


"Meneng!" seru Hamdan (diam).


"Geli tau, mana mereka sok tau lagi. Masa langsung ketebak kalau aku orang Korea. Sedangkan banyak juga kan orang Jogja bermata sipit kek aku?" keluh Hamdan.


"Mungkin mereka pencinta drama, jadi tau bedanya orang Asia. Tapi aku merasa kalau kamu itu lebih mirip orang Thailand yang ganti kelamin," Yusuf tak henti-hentinya meledek Hamdan, hingga telinga Hamdan memerah.


Sesampainya di restoran, mereka bertemu dengan Kenny dan beberapa temannya yang mampir di restoran milik almarhum Rifky itu. Di sana juga ada Raihan dan Adam yang baru saja sampai dengan membawa bahan makanan untuk stok gudang.


"Beruntung kalian datang. Ayo bantu bawa masuk ke gudang, nanti aku akan buatin kalian menu baru di restoran ini," pinta Raihan.


"Janji, ya?" ucap Hamdan.


"Iya janji, bawain masuk dulu. Semuanya ya, di gudang sudah ada Ustad Adam yang nanti mengarahkan kalian menata semua bahan ini," kata Raihan dengan berkacak pinggang seperti bos sana.

__ADS_1


"Ck, biasa aja kali!" Yusuf menepis tangan Raihan.


"Assalamu'alaikum!" datanglah Aminah bersama Mayshita juga ke restoran itu. Ternyata memang mereka ingin mengadakan syukuran karena Mawar sudah sembuh dari sakitnya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"


Selama makan bersama, Yusuf masih saja teringat dengan penjelasan yang ia berikan kepada teman-temannya tentang Alkitab itu. Ia merasa tidak tenang, karena memberi penjelasan setengah-setengah. Apalagi, Cindy dan Jihan nampaknya salah paham dengan Yusuf.


"Kenapa, sih? Dari tadi kelihatan gelisah terus?" tegur Hamdan.


Yusuf membisikan hal tersebut. Sontak membuat nasi yang ada di mulut Hamdan nyembur semua di wajah Gu yang saat itu duduk di depannya.


"Ya, Hamdan! Hish, jorok tau!" kesal Gu.


"Ada apa, sih?" tanya Raihan.


"Ini, si Ucup cerita tentang isi dari Kitab Qurrotul Uyun ke temen-temennya. Malah yang nonis juga di ceritain, bener-bener sinting si Ucup," senang sekali Hamdan jika Yusuf sedang mengalami masalah.


Suasana makan yang hangat menjadi sunyi mendengar ocehan Hamdan. Untung saja, Kenny dan teman-temannya sudah pulang, tinggal Raihan, Adam, Aminah, Mayshita dan Gu di sana. Mereka menatap Yusuf dengan tatapan mencurigai.


"Ucup ini memang sok polos. Ternyata, dia begitu populer di sekolahnya karena selalu bercanda dengan para ciwi-ciwi cantik," lanjut Hamdan dengan mulut comelnya.


"Yusuf, Abang tanya ini? Untuk apa kamu menceritakan hal yang sebelumnya mungkin mereka tidak tahu akan kitab itu?" pertanyaan mbulet Raihan karena dirinya juga sedang fokus dengan pekerjaannya.


"Mulutmu ini harus di cabein! Dasar comel, bawel banget, sih? Ngada-ngada cerita pula!" seru Yusuf melumati bibir Hamdan menggunakan sambal matah di depannya.


Perlu diingat, kitab ini sebagian besar anak santri pasti tahu. Mungkin, yang bukan santri pun juga tahu, tapi tidak semuanya. dengan detail, Yusuf menjelaskan kenapa dirinya membahas Alkitab itu. Raihan dan Adam baru memahami dengan cerita versi Yusuf.


"Hamdan, kamu yang cuci piring." perintah Gu.


"Kok aku, sih, Kak? Tuh suruh yang cewek-cewek," sulut Hamdan.

__ADS_1


"Enak saja, kami mau menyelesaikan tugas sekolah, kamu saja sana. Gu oppa kan menyuruhmu, bukan kami," ketus Aminah.


"Dasar kebo!" seru Hamdan mengangkat piring-piring.


Mendengar kata Kebo, Raihan dan Adam kembali saling menatap. Ternyata mereka belum tau apa arti Kebo bagi Aminah. Dulu, waktu dirinya berusia sebelas belas tahun, Aminah keluar dari area pesantren dengan memakai gaun ala-ala princess dan tidak memakai hijabnya. Mungkin, itu karma Aminah karena membuka hijabnya. Karena jujur, Aminah juga terlihat cantik dengan rambut terurai. Memakai gaun warna merah muda, bandana bunga-bunga dan sepatu yang cantik serasi dengan gaunnya.


Waktu itu, Aminah, Mayshita dan teman-teman lainnya bermain di tepi kali. Ada satu cowok yang Aminah taksir saat itu. Singkat cerita, ketika mereka sedang menari-nari, tepatnya mereka menari di jalan menuju kali, ada tiga ekor kerbau yang hendak ke sawah dengan pemiliknya bernama Pak Mukri. Mereka suka memanggilnya dengan sebutan Lek Mukri.


Saking kaget dan takutnya Aminah ada kerbau tiga dengan dua gudel atau anaknya, Aminah sampai bisa naik ke perengan atau lereng dataran tinggi. Sampai baju yang cantik nan bersih itu seketika kotor karena dirinya merangkak ke atas sambil teriak.


"Kang… tolong, Kang...."


Semua temannya menertawakannya, ia sampai naik ke pohon dengan baju yang kotor penuh lumpur. Karena pas sekali waktu itu selesai hujan. Dengan wajah pucatnya, Aminah menahan nangis agar tidak merasa semakin malu.


Sampai dirinya remaja, hal itu masih saja ia ingat. Jika ada kerbau yang melintas, ia menjadi heboh sendiri karena ingat masa itu. (ini kisah pribadi). Selesai Mayshita bercerita, Raihan, Adam, Gu dan Hamdan tertawa terpingkal-pingkal.


"Puas kalian? Jahat ih!" kesal Aminah.


"Hanya Yusuf yang mengerti keadaanku waktu itu. Dia menyelimuti aku menggunakan sarungnya, uu makasih kakakku…." ucap Aminah merangkul lengan Yusuf.


"Kamu juga ada di lokasi kejadian, Suf?" tanya Adam.


"Iya, waktu itu aku baru saja selesai mandi di kali bareng cowok yang dia taksir," tunjuk Aminah.


"Wahahahaha," tawa Hamdan terdengar begitu sangat jahat.


"Memangnya siapa yang dia taksir? Anak santri kita, kah? Pasti juga sudah sebesar dirimu, 'kan?" tanya Gu penasaran.


"Iya…."


"Yusuf, jangan comel kamu, ya!" potong Aminah.

__ADS_1


"Si Ahmad anaknya Pak Rt, yang kemarin menang lomba main bekel," jujur amat si Yusuf.


Tawa para saudaranya membuat Aminah semakin kesal. Meski begitu, tidak berarti Aminah marah kepada saudaranya. Ia hanya malu saja jika mengingat kejadian itu. Seakan ingin hilang ingatan di waktu, tanggal dan hari itu juga.


__ADS_2