Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 390


__ADS_3

"Kalian berdua kenapa, sih?" bentak Ceasy.


"Ibu, apakah aku ini menyedihkan?" tanya Yusuf dengan wajah memelas.


"Tidak, kamu menyedihkan dalam hal apa? Ibu rasa kamu sangat baik, Yusuf. Ada apa? Apakah, Hamdan membuatmu sedih? Apa dia menyinggungmu?" tanya Ceasy kembali.


"Iya, Bu. Dia bilang, aku nggak harus sarapan dan makan malam di sini. Aku ini siapa? Katanya, aku hanya akan menghabiskan jatah ayamnya, karena dia suka paha, dan aku suka dada. Dan semenjak aku datang, Ibu hanya memasak dada ayam saja, dia iri kepadaku, Bu...." drama Yusuf dimulai.


"Wah, fitnah! Ucup, lambemu loh!" Hamdan balas dendam dengan memasukkan sambal ke mulut Yusuf yang comel.


Bertengkar-lah lagi mereka. Hamdan sering heboh, dan Yusuf tak hentinya menggoda Hamdan, perkara ayam bagian paha dan dada terulang lagi di Korea. Aminah dan Yumna malah meneruskan makannya dengan penuh khidmat tanpa terganggu dengan pertengkaran mereka berdua.


"Aku bilang aku bagian paha, kenapa hanya dada yang ada di meja makan? Kamu memang sengaja buat aku kesal, Cup!" emosi Hamdan memuncak.


"Kamu lupa? Yang masak Ibu, bukan aku! Aku mana tahu kalau hari ini masa dada juga, Ham Ham!" Yusuf tak mau kalah.


Ceasy semakin geram dengan keduanya, ia pun mengambil mangkuknya kembali dan menjewer telinga kedua anak bandel itu. Lalu, Ceasy mengurung mereka berdua di kamar mandi mengosek kamar mandi hingga bersih.


"Ibu nggak mau tau, pokoknya kamar mandi ini harus bersih sampai berbunyi ngik ngik!" seru Ceasy menutup pintu kamar mandi sedikit kencang.


Hamdan dan Yusuf menjalani hukuman itu dengan tenang. Setelah selesai, mereka kembali ke rumahnya, dan masuk ke kamarnya masing-masing dengan saling memalingkan wajahnya. Setelah itu, Yusuf kembali belajar beberapa resep makanan untuk membuat kreasi makanan. Yusuf suka sekali memasak, ia juga senang mendekorasi tempat untuk acara sesuatu.


"Jika biru, cocoknya sama pink dan putih. Tapi, kalau dijadikan satu sama hitam cocok juga, tapi biru-nya harus biru muda seperti... seperti mata gadis itu, aku akan belajar jahit juga, setelah nanti sudah aku pelajari, baru aku akan ambil jurusan manajemen." gumam Yusuf.


"Awas kau Yusuf, besok kau sarapan dengan roti aja, aku akan simpan semua daging di kulkas, aku akan makan sendiri hahaha, lihat aja nanti!" disisi lain Hamdan sedang memikirkan bagaimana balas dendam kepada Yusuf dan dia mulai menggila.


Keesokan harinya, Yusuf sudah terbiasa dengan bangun di jam sholat subuh yang sudah Kabir tentukan. Sebelum sholat, ia mandi terlebih dahulu, kemudian sholat di kamarnya, tak lupa mendoakan kedua orang tuanya yang sudah mendahuluinya dipanggil Sang Pencipta.


Usia sholat dan berdzikir, dilanjutkan dengan membuat sarapan, karena ia harus berangkat pagi-pagi sekali untuk pergi ke ruang baca kampus. Ada hal yang ingin ia ketahui di sana.


"Si Hamdan mana? Apakah dia belum bangun? Sebaiknya aku buatkan dia sarapan juga," gumamnya.


Meski mereka sering bertengkar, namun itu hanya sesaat saja. Biasanya keesokan harinya mereka sudah baikan lagi. Yusuf juga meninggalkan pesan di samping piring yang Yusuf tinggalkan. Ketika keluar, ia bertemu dengan Kabir di depan lift.


"Ayah? Assalamu'alaikum," salam Yusuf.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, kamu sudah mau berangkat?" tanya Kabir.

__ADS_1


"Iya, Yah. Pagi ini, aku sudah bertemu dengan Eun Mi untuk bertemu dengan seseorang," jawab Yusuf.


"Siapa Eun Mi?" tanya Kabir.


"Dia teman baruku, kami memulai pertemuan sejak kemarin. Dia teman dari Hae Jun, Hae Jun ini anak dari Ibu Min Ah sahabat Ami," jelas Yusuf.


"MasyaAllah, kamu cepat sekali menemukan teman, ah lift sudah terbuka, ayo!" ucap Kabir.


Kabir menawarkan tumpangan karena dirinya akan ke pelabuhan untuk mengecek stok barang pangan masuk. Namun, Yusuf menolaknya, ia lebih suka menaiki kereta atau bus untuk perginya. Yusuf juga meminta izin untuk. mencari pekerjaan paruh waktu kepada Kabir.


"Apa? Kamu mau bekerja? Apakah kamu kekurangan uang?" tanya Kabir.


"Tidak, Yah. Aku sama sekali tidak kekurangan, uang dari Papa dan Ami masih alhamdulillah, cukup. Tapi, aku akan menghemat untuk biaya hidup nanti. Jadi, mumpung sekarang aku masih muda, aku ingin berjuang, Yah. Boleh?" harap Yusuf.


"Apapun yang ingin kamu lakukan, selagi itu hal positif, Ayah akan mendukungmu. Bismillah, semangat, ya? Jangan lupa, izin juga sama Papa Jamil dan Eomma-mu, mereka juga walimu, 'kan?" Kabir begitu percaya dengan Yusuf, ia bahkan merasa jika Aisyah maupun Rifky sedang berada di dekatnya.


"Alhamdulillah, terima kasih, Ayah. Aku duluan ya.. assalamu'alaikum!" pamit Yusuf.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Kabir.


"Kak Ais, Mas Iky, lihat kan anak kalian? Jika aku diberi kepercayaan memiliki anak lagi, aku ingin satu seperti Yusuf. Tapi, aku bersyukur sekarang, karena aku juga merasakan dia seperti anakku sendiri. Aku janji Kakak, aku akan menjaga Yusuf, sama seperti Kak Ais menjagaku dulu," seketika Kabir mengingat kejadian masa lalu, saya dirinya sering dibully karena gemuk dan berbeda dengan saudara yang lain. Aisyah begitu menyayangi adik-adik, hingga ia berani berkelahi demi adik-adiknya.


"Benarkah? Kau tak punya sahabat perempuan? Kenapa?" tanya Eun Mi.


"Ada teman perempuan, tapi tidak sedekat dirimu dengan Hae Jun. Jadi, aku belum pernah merasakan sedekat itu dengan perempuan," jelas Yusuf.


"Jadi, bisakah kita bersahabat? Aku sangat suka berteman, apalagi dengan orang cerdas sepertimu. Haha, siapa tahu, aku juga ikut cerdas seperti dirimu," Eun Mi terlihat sangat baik kepada Yusuf.


"Meski kalian begitu dekat, apakah kalian tidak pernah saling menyukai? Maksudku, kita jalan berdua seperti ini, apakah Hae Jun tidak akan cemburu?" tanya Yusuf, ia harus berjaga-jaga untuk menjaga hati kedua teman barunya itu.


"Aku tidak tau kalau dia. Tapi, aku menyukainya, tolong jangan bilang ya. Rahasiakan ini darinya, oke? Aku percaya padamu, kalau tidak... aku akan mati karena malu," jelas Eun Mi sedikit ragu.


Yusuf hanya tersenyum mendengar pengakuan Eun Mi yang katanya sudah menyukai Hae Jun sejak kecil. Pagi-pagi sekali, mereka ke rumah Tuan Park dan memberi beberapa kebutuhan untuk kedua anak-anaknya. Setelah itu, Yusuf juga mengajak Eun Mi ke rumah Senior O, senior Ami-nya dulu ketika di rumah sakit. Ia menjadi pengangguran sejak keluar dari penjara.


"Yusuf, dia...? Wajahnya, tidak asing bagiku? Aku pernah melihatnya dimana, ya?" tanya Eun Mi.


"Pasti orang tuamu pernah dengar beritanya. Seorang senior hendak melecehkan juniornya di rumah sakit ternama. Kemudian di hukum karena menusuk suaminya junior itu menggunakan pisau rumah sakit," jelas Yusuf.

__ADS_1


"Ash, aku pernah mendengar rumor itu. Kemarin juga mereka (mahasiswa lain) membahas tentang kejadian 25 tahun silam," ucap Eun Mi mengerti.


"Apakah, junior itu benar Ibumu?" tanya Eun Mi.


Yusuf mengangguk, pertama Yusuf mengucapkan salam kepada Senior O. Kemudian memberinya sedikit uang untuk ia membeli makanan, Yusuf juga membersihkan tempat tinggalnya yang bau dan sangat kotor itu. Ia menjadi depresi lagi ketika mendengar Aisyah sudah meninggal.


"K-Kau, kau anaknya Aisyah, bukan? Wanita yang aku cintai?" tanya Senior itu.


"Iya, Paman. Mulai hari ini, aku akan sering mengubungi paman ketika aku senggang," jawab Yusuf dengan senyuman.


Senyuman Yusuf memang sama persis dengan senyuman Aisyah. Sehingga, membuat semua orang yang mengenali Aisyah akan menganggap Yusuf sebagai Aisyah versi laki-laki.


"Kenapa kau begitu baik padaku? Aku bukan siapa-siapa bagimu? Dan apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Senior itu dengan nada tinggi, hingga membuat Eun Mi kaget.


"Astaga! Heh, aku kaget."


"Ya, Ahjussi. Seharusnya anda bersyukur dengan kehadiran anak dari wanita yang kau cintai itu. Dia sudah pergi ke surga, jangan bebani dia dengan kondisimu seperti ini!" kesal Eun Mi.


"Eun Mi, jangan bicara seperti itu dengan orang yang lebih tua, kita harus perlakukan orang tua dengan lembut," tegur Yusuf.


"Hey, Senior. Jangan seperti itu dengan orang tua. Sejahat apapun mereka, mereka tetap orang tua. Kita harus perlakukan mereka dengan lembut."


Senior O mengingat kata-kata itu pernah keluar dari mulut Aisyah juga. Setelah banyak berbincang, Yusuf berpamitan akan berangkat ke kampusnya. Bukan hanya memberi uang dan membersihkan rumahnya, Yusuf juga memberi semangat hidup kepada Senior O untuk tidak menyerah dengan keadaan.


"Daebak!"


"Kau benar-benar, aku bangga denganmu, Yusuf. Seketika kau mengalihkan duniaku. Ah, bagaimana pulang kelas nanti, kita ke rumah Hae Jun, aku sangat merindukannya hari ini tidak dapat bertemu," racau Eun Mi.


"Bisa, kita akan ke rumahnya nanti. Tapi, apakah kamu mau membantuku sekali lagi?" tanya Yusuf.


"We?"


"Temani aku mencari pekerjaan paruh waktu," jawab Yusuf.


"Apakah kau sedang kesulitan uang?" tanya Eun Mi jadi serius.


"Tidak! Aku hanya ingin bekerja saja," jawab Yusuf.

__ADS_1


Eun Mi menyipitkan matanya yang sudah sipit itu. Beberapa detik kemudian, ia pun mengangguk tanda setuju untuk menemani Yusuf pergi mencari pekerjaan paruh waktu.


__ADS_2