Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 28


__ADS_3

Sampai dirumah, Airy langsung istirahat. Sejak pagi tadi ia tidak enak badan, bagaimana tidak, baru kali ini ia memikirkan hal yang tidak pernah ia fikirkan sama sekali. Masalah dengan seorang akhy.


"Udah priksa tuh Airy? Lemes gitu, takut dia kenapa-kenapa," Rifky sangat pengkhawatirkan pendekar wani perih nya itu.


"Papa ini, kan Aminya Dokter, udah Ami periksa dia tadi, cuma kecapekan aja, kurang makan dia ini. Mungkin karena masih shyok tentang pertunangannya," jawab Aisyah.


"Raihan fikir juga gitu, memang itu keinginannya, tetapi di usia yang masih segini,.... emm Ami sama Papa tau lah," Kata Raihan membereskan tas Airy yang ia bawa.


"Biarin dulu dia istirahat, Raihan, kamu besok jadi keluar kota dengan Adam?" Tanya Aisyah.


"Ngapain?" Tanya Rifky juga.


"Ada lah, mungkin Raihan pulangnya tarawih pertama deh, kemungkinan Ustad Adam juga akan sahur pertama disini, boleh?" Raihan memint izin terlebih dahulu kepada orang tuannya.


Tentu saja itu suatu kehormatan untuk Aisyah dan Rifky. Karena perbincangan sudah selesai, Aisyah masuk ke kamar Airy memberikan ponselnya, agar tidak ketinggalan sekolahnya yang masih beberapa hari lagi masuknya, setelah itu akan diadakan ujian akhir semester.


Seperti saat Airy kelas tiga sekopah menengah pertama, ia mengikuti ujian dirumah, karena Airy paling tidak suka mengikuti ujian disekolah, entah apa alasannya, sampai sekarang masih menjadi misteri.


Hari mejelang malam, Airy masih saja berada di kamar, bahkan makan siang saja ia lakukan dikamar. Karena meras kesepian, Yusuf pun mengajak Airy untuk keluar sebentar.


Tok.. tokk.. tok...


"Assallamu'alaikum, Kak, lagi sibuk nggak?" Tanya Yusuf mengetuk pintu.

__ADS_1


"Wa'alaikum sallam, masuk aja. Kakak baru saja selesai sholat maghrib," jawab Airy.


Karena sudah mendapat izin, Yusuf pun masuk ke kamar Airy. Kamar Airy ini lebih luas dari pada kamarnya, jadi disana ada sebuah sofa lumayan besar dan ada tvnya juga. Berbeda dengan kamar Yusuf yang hanya da kasur dan almari saja.


"Ada apa? Setor surah? Sama Bang Raihan sana, Kakak mau makan cari angin," kata Airy merapikan mukenanya.


"Percuma nangkring Kak, pohon samping yang bisanya buat Kakak nangkring udah di tebang sama Mbah Dolah tiga minggu lalu." tutur Yusuf.


"Opo! Wah cari masalah ini, kenapa juga di tebang, itu pohon kan udah Kakak beli Yusuf, nggak boleh asal tebang dong, Kakak harus kerumah Mbah Dolah ini," katus Airy.


"Buat apa kesana? Lha wong yang minta tebang itu Ami, dah lah yuk anterin aku keluar, sekalian kita kerumah Uty. Kata Aminah, Uty baru bakar gurame buat kita," ajak Yusuf sambil menarik tangan Airy.


"Kenapa nggak sama Bang Raihan aja sih?" Kesal Airy.


Yusuf terus saja mendesak Airy untuk ikut kerumah Ruchan, karena Yusuf terus aja memaksa, akhirnya Airy setuju untuk mengantarnya. Sebelum itu, diperjalanan Airy dan Yusuf mampir terlebih dahulu membeli martabak untuk Balqis, ibu sambung dari Aminah.


"Mas, martabaknya 2 porsi ya, tak tunggu di motor itu ya Mas," Kata Airy menunjuk motornya.


Hubungan Yusuf dan Airy ini sangat dekat, jika Raihan sedang sibuk, Airy lah yang sering membawa Yusuf kemana ia ingin pergi. Walaupun Yusuf sering kesal karena kenakalan Kakaknya, tetapi itu tidak menguranginrasa sayang dan hormatnya kepada Airy.


-_-_-


"Hay cantik, ih sama adek gemes, mau Kakak temani nggak?" goda beberapa laki-laki disana.

__ADS_1


"Maaf, kalian bukan seleraku, jadi jngan ganggu kita, pergi!" Ketus Airy.


"Wah sombong banget sih, belagu amat. Jilababan sih, tapi kok keluar malam? Mending hapus tuh jilbab!" Seru laki-laki itu.


"Situ siapa nyuruh aku lepas hijab? Pergi!" Airy semakin merasa tidak nyaman, karena ketiga laki-laki itu, berdiri semakin mendekat di samping Airy.


Saat tangan salah satu laki-laki itu ingin menyentuh dagu Airy, Yusuf menepisnya. Airy siap-siap memakai sarung tangan yang selalu ia sediakan di depan bagasi motor nya.


"Jangan ganggu Kakakku! Atau kalian akan menyesalinya!" Teriak Yusuf.


Dengan hitungan detik, Airy berhasil membereskan tiga lelaki itu, salah satu dari para lelaki itu tanganya ada yang kesleo karena diputar oleh Airy.


"Woy, woy, berhenti!" Teriak tukang martabak seraya memanggil beberapa orang disana.


Tiga laki-laki itu langsung berlari ke motornya dan langsung pergi. Tukang martabak juga memberikan pesanan martabak Airy kepada Yusuf.


"Pie nduk? Ono sik loro?" tanya penjual martabak itu.


"Alhamdulillah, saya dan adik saya baik-baik saja kok Mas, terima kasih nggih, sudah di bantu tadi, saya permisi dulu, Assallamu'alaikum." Airy meyakinkan penjual martabak itu, dan segera pulang kerumah Ruchan.


"Nggih hati-hati. Wa'alaikum sallam warramatullahi wabbarokatuh" jawab penjual martabak.


Hal itu tidak asing bagi Yusuf, jadi ia tidak lagi heran dengan kehebatan sang Kakak. Tetapi, Airy masih menjaga sikap saat berama Yusuf, karena ia tidak ingin memberi contoh yang buruk untuk Yusuf.

__ADS_1


__ADS_2