Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 78


__ADS_3

Kali ini, mereka sholat subuh berjama'ah berdua saja dirumah. Airy segera bangun dan mengambil air wudhu. Melihat jalannya Airy yang sedikit tertatih, membuat Adam tidak tega.


"Masih sakit?" tanya Adam.


"Stttt jangan tanya lagi, stop nggak usah dibahas oke?" jawab Airy.


"Aku mana tega lihat kamu begitu Airy, aku bantu ya." kata Adam meraih tangan Airy.


"Aku bisa sendiri, kan aku pendekar wani perih. Itu aja, nanti kalau Ustad nggak keberatan, seprai yang kena darah itu tolong cuciin ya, udah mengering soalnya. Takut malah ngeflek. Aku wudhu dulu, kita jama'ah di rumah aja." kata Airy.


Selesai sholat subuh, seperti biasa Airy setor hafalan kepada Adam. Selesai itu, Airy menanyakan hal yang Adam lakukan itu, jika di keluarkan di luar, Airy pasti tidak akan hamil.


"Ustad," kata Airy.


"Dalem sayang," jawab Adam.


"Kok semalam nggak sepeti yang aku baca ya, tentang itu, kenapa........ " tanya Airy gugup, serta mengigit bibir bagian bawahnya.

__ADS_1


"Bukan aku nggak mau Airy, tapi ini belum waktunya. Kau masih berusia 18tahun, jika 1 tahun kedepan kau kita memiliki keturunan, aku tidak sanggup melihat kau menanggung bebanmu itu." jelas Adam.


"Tapi seorang anak itu bukan beban Ustad, aku memang belum siap memiliki anak untuk saat ini, tapi aku mohon. Jika suatu saat kita melakukannya lagi, diskusi dulu tentang itunya. Emm aku malu nyebutnya," kata Airy menutupi wajahnya.


Adam meyakinkan Airy lagi, tak ada tujuan yang tidak baik dalam hatinya. Semua orang pasti menginginkan keturunan di dalam pernikahannya. Tapi, saat ini belum tepat waktunya jika Airy harus mengandung terlebih dahulu.


Setelah pembahasan selesai, mereka segera bersiap ke makam orangtua Adam. Setiap di jalan desa, banyak sekali nyang menyapa Airy dengan sangat ramah, bahkan anak-anak kecil menciumi tangannya juga. Haru dan bahagia, Airy tidak menyangka jika dirinya bisa di hormati seperti itu.


Selesai nyekar, Adam dan Airy merapikan barang yang ingin dibawa ke Jogja. Mereka akan menyambut hari raya di sana. Kali ini, mereka pulang bertiga menggendarai mobil yang ditinggalkan dari Rifky saat pernikahan Airy waktu itu.


"Udah Ustad, eh ada yang tertinggal nding," jawab Airy.


"Apa itu? Segera ambil lah!" seru Adam.


"Kenangan semalam eaaakk," tawa Airy membuat Adam gemas.


Ingin rasanya mengigit pipinya itu, tapi sayang mereka sedang puasa. Selesai berkemas, Adam, Airy dan Raihan berpamitan kepada Ustad Zainal dan Ustadzah Ifa.

__ADS_1


"Kira-kira kalian balik kesini lagi kapan?" tanya Ustad Zainal.


"Kemungkinan lebaran ketiga Mas, itu kalau tidak ada kendala InsyaAllah," jawab Adam.


"Kalau aku kemungkinan nggak balik lagi kesini hehehe," sahut Raihan.


"Kenapa?" tanya Airy dengan tatapan serius.


"Tanggal 9 Syawal Abang udah berangkat lah, ya mungkin nganter kamu kesini dulu gitu." jawab Raihan.


"Kemana? Udah mau berangkat aja, secepat itu?" tanya Airy.


"Iya lah, Papa udah daftarin kita bertiga (Raihan, Raditya, Diaz) . Kita masih harus beradaptasi juga disana kan? Kenapa? Kau mau ikut?" tanya Adam kembali.


"Ohh, enggak kok, sukses ya Bang, belajar rajin-rajin, ayo kita berangkat." Nampak sekali kekecewaan diwajah Airy.


Adam menyadari itu, ia akan membujuknya lagi ketika nanti sampai di rumah. Perjalanan lumayan jauh, dan pasti akan macet karena mereka mengendarai mobil, tetapi, Adam dan Raihan sudah menyiapkan tubuhnya untuk menyetir secara bergantian di perjalanan panjang mereka.

__ADS_1


__ADS_2