Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 341


__ADS_3

"Orang berpoligami itu, harus ada keikhlasan dari hati tiga orang ini. Kalau begitu adanya, baru bisa di jalankan poligami itu," jelas Ruchan juga tak mau tinggal diam.


"Lagipula, Mas Hadi bilang aku hanya menjaga istri dan anaknya. Bukan harus menikahinya, tolong mengertilah...." mohon Raihan.


Ada sesuatu dibalik semua itu. Keluarga Syifa tidak ingin Syifa hidup sendiri dan bergantung kepada keluarga. Mereka juga bermaksud lain dengan menikahkan Syifa dengan salah satu putra pesantren.


"Mbak Syifa, mending setelah masa iddah selesai. Mbak kerja saja di kota, semua kebutuhan awal aku yang tanggung sampai Mbak Syifa gajian nanti, bagaimana?" usul Airy.


"Kamu siapa? Kenapa mengatur hidup putri kami?" tanya Ibunya Syifa.


"Oh, saya hanya pahlawan kesiangan, kok. Ya itupun kalau Mbak Syifa-nya mau. Daripada harus menikah menjadi istri kedua dan harus menyakiti wanita hamil," celetuk Airy.


"Sayang...." bisik Adam.


"Lah emang bener loh, Mas. Nggak beres ini, pasti ada apa-apanya, 'kan? Hayo, ngaku?" desak Airy.


Mereka terus di desak oleh Airy dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus menyudutkan mereka. Sampai akhirnya, mereka pamit pulang dan berencana tidak akan pernah kembali lagi. Airy terus tertawa karena dirinya merasa menang.


"Bang, kok diam saja?" tanya Adam.


"Aku merasa bimbang saja. Kenapa aku yang harus hidup penuh wasiat? Aku tidak sanggup jika semuanya mengamanahkan kepadaku. Aku bukan kelak istimewa maupun mulia, aku mohon dengan kelian juga. Setelah ini jangan wasiatkan aku apapun!" Raihan terlihat putus asa. Ia merasa shock dengan semua wasiat yang ditujukan kepadanya.


Ruchan meminta Laila untuk membawa Raihan ke kamarnya. Menjadi anak pertama memang berat, apalagi ia harus menjadi panutan dan pemimpin di keluarga. Begitu dengan Airy yang masih kesal dengan keluarga Syifa membuatnya semakin geram.


"Kesel banget aku, Mas! Masa iya sih mereka maksa nikah gitu? Asli gak jelas banget, deh!" seru Airy sambil menggebrak meja.

__ADS_1


"Jangan su'udzon, tidak baik. Mending kita makan saja, si dedek kembar belum makan juga, 'kan?" Adam mencoba meredam kekesalan sangat istri istimewanya.


"Hayuk! Setelah berkoar, istrimu ini sangat lapar. Masak bareng, yuk." dengan tiba-tiba Airy bersikap manja yang membuat Leah dan Ruchan tersenyum melihatnya.


Di rumah, Syifa terus saja disalahkan oleh keluarganya karena menolak perjodohan itu. Orang tuanya tak ingin keberatan dengan biaya hidup Syifa beserta anaknya lagi. Karena pasti keluarga Hadi juga akan berhenti memberikan bulanan kepada Syifa dan anaknya.


"Harusnya, kamu mau menikah dengan Raihan. Dia putra pesantren, derajatmu akan diangkat olehnya, dasar bodoh!" umpat Ibunya.


"Aku mampu hidup sendiri menjadi Ibu sekaligus Ayah bagi anakku. Kalian juga tidak usah bingung untuk kedepannya nanti, aku tidak akan merepotkan kalian, maafkan aku. Aku tidak bisa menyakiti hati Laila dan memaksakan kehendak," ucap Syifa.


Keluarganya marah besar. Ada maksud terselubung dari kengototan keluarganya. Beruntung Airy dan keluarga yang lainnya menegaskan untuk tidak menyetujui poligami itu. Tak ada wanita yang benar-benar rela dan ikhlas menerima poligami. Masih banyak cara lain menuju surga daripada berpoligami.


-_-_-


Malamnya, Laila berusaha menenangkan Raihan yang masih saja berdiam diri di pojokan kasur. Laila hanya sedih mendapati suaminya yang kewalahan dengan wasiat semua orang.


Laila duduk di samping Raihan, seragam mengucapkan salam. Lalu, menyentuh bahu suaminya dengan lembut. Ia tahu, jika Raihan sudah begitu lelah menjalani wasiat dari siapapun juga. Wasiat itu suatu hal terberat bagi yang menjalankan, gagal akan menjadi dosa, akan tetapi, meraih kesuksesan juga butuh perjuangan dan pengorbanan.


"Abang lelah, Yang. Kenapa semua orang yang meninggal, sebelumnya menitipkan wasiat kepada, Abang. Abang tidak semulia dan sehebat itu," lenguh Raihan.


"Robbanaa Laatuzigh Quluubanaa, Ba'dza Idz Hadaetanaa, wa Hablanaa Milladunka Rohmatan, Innaka Antalwahhaab." lirih Laila.


"Semua pasti ada jalannya. Ingat, dulu Abang saja bisa menjalankan wasiat dari Ayah angkat di Jerman, bukan?" lanjutnya.


"Iya, tapi Abang jadi kehilangan Papa kandung. Abang kehilangan waktu bersamanya, bahkan saat beliau sakit saja, Abang tak ada di sampingnya. Kau tahu, betapa menyesalnya Abang saat itu? Dan penyesalan itu masih Abang rasakan sampai sekarang," ungkap Raihan dengan mengepalkan tangan di dadanya.

__ADS_1


Laila tak akan menyangkal semua itu. Saat semua itu terjadi, dirinya tidak ada di sampingnya, jadi tak ingin mengintimidasi Raihan lebih jauh. Di rumah Airy, dia juga masih teringat dengan keanehan keluarga Syifa yang penuh paksaan.


"Kok, bisa gitu. Kehilangan orang tercinta itu ndak mudah loh, mereka seakan malah menambah luka di hati, si Syifa itu." gerutunya.


"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Semua juga sudah selesai, 'kan? Kasihan dedek kembarnya Rafa ikut bingung nanti," tegur Adam dengan lemah lembut.


"Mas Adam nggak ngerti, sih! Kalau aku diposisi Laila, pasti aku juga akan patah hati menghadapi situasi begini, poligami itu mimpi buruk bagi seorang istri," protes Airy. "Mas nggak ada niatan mau poligami, 'kan?" tanya Airy dengan mengarahkan kepalan tangan kepada Adam.


"Haha, na'udzubillah. Mana ada, niat aja nggak ada. Masih banyak menuju surga tanpa harus berpoligami. Poligami juga ada adabnya, Sayang." jawab Adam.


"Mana mungkin, Mas mau menduakan istri se-istimewa ini? Sayang banget-lah. Anak dah mau tiga juga," lanjut Adam dengan mencubit pipi Airy.


"Kasih paham tentang poligami dong, Ustadku...." goda Airy.


"Sebenarnya banyak pertentangan juga jika membahas poligami ini. Poligami dalam islam itu juga dilakukan bukan semata-mata untuk memiliki istri lebih dari satu. Tapi, harusnya poligami di tujukan untuk mengangkat derajat wanita seperti janda, dan wanita yang tidak mampu (masih lajang) yang tidak bisa mencari kebutuhannya sendiri. Nah, banyak yang bilang kan, mending santuni saja tiap bulanannya dari pada di nikahi. Justru dengan menikahinya, maka akan terhindar dari yang namanya zina karena belum menjadi mahramnya," jelas Adam. "Tapi, zaman sekarang banyak orang yang mengalah artikan poligami itu. Kebanyakan mereka berpoligami juga karena nafsu belaka, na'udzubillah!" imbuhnya.


Airy mengangguk-angguk kepalanya. Ia mengerti maksud Adam dari istilah poligami itu. Tapi, jika Syifa saja tidak mau, maka poligami itu juga tidak perlu dilakukan.


"Poligami juga harus dapat izin istri pertama, bukan?" tanya Airy.


"Jelas, wajib mendapat izin terlebih dahulu dari istri pertama atau istri-istri yang terdahulu. Bila tidak mendapat izin, maka secara hukum pernikahan tersebut adalah cacat hukum. Tetap tidak sah!" jawab Adam.


"Baginda Rasul kita, Nabi Muhammad SAW juga berpoligami, bukan?" Airy masih saja bertanya.


"Setidaknya ada tiga alasan sederhana mengapa Rasulullah memutuskan menikah lebih dari empat. Pernikahan Rasul dengan Khafshah binti Umar bin Khattab, adalah untuk menghormati Umar. Lalu, pernikahannya dengan Zainab bin Khuzaimah adalah untuk mengayomi Zainab yang ditinggal syahid suaminya saat Perang Uhud," jelas Adam.

__ADS_1


Airy hanya mangut-mangut, mengusap-usap dagunya, seakan memiliki jenggot panjang seperti Kakungnya. Ia kemudian meminta Adam untuk bersholawat untuk bayi yang ada dalam kandungannya.


Koreksi jika ada kesalahan, dan tambahi jika ada ilmu lagi, buat edukasi kita sebagai seorang istri/wanita. Untuk lelaki, mohon pengertiannya 😁


__ADS_2