Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 326


__ADS_3

Aminah merebahkan tubuhnya ke tempat tidur tanpa membasuh tangannya terlebih dahulu. Banyak bumbu kimchi yang masih menempel di tangganya karena ia makan menggunakan tangan bukan sumpit.


"Eonni, tanganmu kotor no! Cuci tangan dulu lah!" Yumna kesal, ia gadis yang sangat pembersih. Melihat noda sedikit saja, ia pasti sudah heboh.


"Nanti, di luar masih ada Bang Dit! Aku nggak mau..." jawab Aminah menutupi wajahnya menggunakan bantal.


"Ih, kotor, Eonni. Iyuh.. cuci tangan dulu dong!" Yumna semakin kesal.


"Tisu basah," ucap Aminah mengulurkan tangannya.


Yumna ini memang sangat jahil, ia keluar dari kamarnya, kemudian meminta Raditya membawakan air untuk cuci tangan. Raditya hanya menurut saja, ia tidak tahu bahwa mereka akan di kunci dari luar oleh Yumna.


"Oppa, tolong ambilkan air buat cuci tangan, ya. Eonni Aminah memintaku, tapi aku mau ke kamar Ibu dulu, tolong... gumawo!" dengan wajah tanpa berdosa Yumna masuk ke kamar Ceasy.


Tanpa curiga, Raditya membawakan air menggunakan baskom kecil ke kamar. Aminah sudah tidak ada di ranjang, ternyata ia sedang menatap dunia luar di samping jendela, dengan tangan yang masih kotor bumbu kimchi. Aminah tidak tahu jika yang membawakan air itu adalah Raditya. Bahkan, ia mencuci tangannya sambil mengomel tidak jelas tanpa melihat siapa yang membawakannya.


"Udah, ngomelnya?" tanya Raditya.


Aminah menoleh. "Bang Dit? Ngapain ke sini?" Aminah langsung melompat dari kursi di samping jendela.


"Kata Yumna, tadi kamu minta air buat basuh tangan. Ya aku bawakan, lah! Tapi sayang, pintunya di kunci dari luar oleh Yumna, adikmu lucu juga ya. Hahahaha," tawa Raditya membuat Aminah kesal.

__ADS_1


Setelah mencuci tangannya, Aminah langsung masuk ke dalam selimut dan meminta Raditya seger keluar ketika Yumna sudah membuka pintunya. Kata ajakan nikah itu selalu terngiang dalam ingatan Aminah.


15 menit kemudian, Raditya mendengar suara kunci di buka, dengan senyuman tanpa bersalah, Yumna masuk dan kemudian tidur. Raditya keluar segera, ia kaget ketika melihat Yusuf, Hamdan dan Falih sedang makan di dapur.


"Mas Radit kenapa keluar dari kamar, Yumna? Bukankah Yumna baru aja masuk ya?" tanya Hamdan heran.


"Yang di kamar kan Aminah, kalian ngapain aja di kamar berduaan?" sahut Falih.


Raditya gelagapan, melihat tatapan Yusuf yang sama seperti tatapan menyebalkan Raihan saja sudah membuatnya panik. Ia berusaha menjelaskan jika dirinya di kunci bersama Aminah oleh Yumna. Namun, mereka bertiga terus saja menggoda Raditya hingga Raditya kesal.


"Ah, yang benar saja? Orang Yumna-nya aja baru masuk, kok?" goda Yusuf.


"Suf.. ck, kalian mah gitu. Kami nggak melakukan apapun. Dah ah, aku mau tidur!"


"Ini bukan karena cewek itu, 'kan?" tanya Falih.


"Bukan!" jawab Yusuf.


"Lalu? Kenapa tiba-tiba ingin pindah?" tanya Hamdan.


"Hooh, kenapa?" sambung Falih.

__ADS_1


"Aku keberatan di ongkos. Lumayan itu untuk beli batagor. Lagian, aku juga harus les di tempat yang berlawanan arah juga. Kalian enak, uang saku masih di transfer orang tua. lah aku...." ucap Yusuf.


"Hey, kau ini anak orang kaya. Aset keluarga hasilnya masuk ke rekeningmu semua. Mau kau gunakan untuk apa uang itu? Biaya hidupmu kan belum banyak sampai waktunya nanti kamu menghasilkan uang sendiri!" seru Hamdan.


"Lagipula, nanggung kali Suf jika pindah hanya sisa satu tahun. Lulusin aja dulu," saran Falih.


"Aku sudah bicarakan ini dengan Kak Airy. Dia juga setuju, kok. Maaf ya aku harus pindah ke sekolah yang lebih dekat dari pesantren," ucap Yusuf.


Dari balik pintu kamar, Ceasy dan Kabir yang baru saja sampai ke rumah pun mendengar keluhan Yusuf. Dari sekian anak-anak yang memang mandiri, Yusuf lah yang paling mandiri. Padahal semua hasil usaha keluarga masuk di rekeningnya. Tapi ia masih saja mau mengirit untuk kebutuhan kedepannya.


"Aku jadi merasa nggak tau diri sebagai adik, Buk!" seru Kabir.


"Keponakan dari Ratu di keluarga kita hidupnya seperti itu. Dia tidak mau membebani keluarga, harusnya kita yang mengerti sendiri. Meski dirinya tidak meminta." imbuhnya.


"Yusuf yang tidak mau. Biarkan dia hidup dengan jalan pikirannya sendiri. Mungkin, ia akan lebih bangga jika bisa menghemat harta keluarga dan mencari sendiri nantinya. Sebaiknya, kita cukup mendukung apa yang dilakukan olehnya. Jika memang sudah mengarah hal negatif, baru kita tegur," saran Ceasy.


Tak tinggal diam, Kabir pun menyampaikan ungkapan bijaksana Yusuf kepada Akbar dan Syakir. Mereka sejak awal memang sudah menduga jika Yusuf akan dewasa sebelum waktunya. Kebanyakan dari seorang anak, anak bungsu itu akan jauh lebih bijaksana dari pada anak tengah dan anak pertama.


"Tapi Bang.. sekolah Yusuf, bagaimana?" tanya kabir di telpon.


"Kabir, uang Yusuf itu banyak loh. Malah sebagian harta orang tuannya saja sudah atas nama dirinya. Biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri, yang penting selalu kita awasi meski dari jauh. Oke?" jawab Akbar.

__ADS_1


Waktunya semuanya istirahat, Yusuf, Hamdan, Falih dan Raditya berada di dalam satu kamar. Sedangkan Aminah tidur bersama dengan Yumna. Masih seputar perasaan Yusuf yang tak bisa tidur karena teringat orang tuanya. Ia duduk di samping kaca jendela kamar Hamdan. Terbangunlah Hamdan dan menemaninya duduk sambil melihat kerap kerlip kota Seoul di Korea.


__ADS_2