
"Assalamu'alaikum, sekitar 1 bulan lagi semuanya harus sudah siap. Bagaimana denganmu? Kita wajib ambil sekolah bahasa selama setahun di sana, aku harap kamu jangan terlalu merepotkanku!" emosi itu sampai terbawa kepada Aminah.
"Wa'alaikumsalam, iya, iya. Aku sudah siap semuanya kok. Kemarin sudah di urus oleh Tante Clara. Biasa aja kali ngomongnya! Kau merusak pagi bahagiaku saja, Wassalam...." Aminah menutup telponnya.
Sejak ciuman itu, Yusuf jadi pendiam dan mendadak tuli ketika di panggil. Ia juga sering menyendiri, bahkan terpikirkan dengan gadis kecil itu. Berkali-kali berusaha melupakan ciuman pertama itu, tetap saja Yusuf tak mampu.
Di kelasnya, banyak siswi yang cantik dan baik, lebih tepatnya mungkin setara dengan usianya. Namun, lagi-lagi ingatannya hanya tertuju kepada gadis pirang yang menciumnya di toko.
"Cukup! Ini sudah tiga hari, dan aku tak bisa melupakan itu. Kenapa? Haih, dosaku semakin banyak!" gerutunya sambil berguling di kasurnya.
Hamdan heran, sejak tiga hari terakhir Yusuf selalu ke kamar lebih awal. Padahal, sebelumnya sering bermain game lebih dulu dengannya. Semakin penasaran, Hamdan pun masuk ke kamar Yusuf membawakan beberapa buku panduan bahasa Korea yang dibutuhkan oleh Yusuf nanti.
"Assalamu'alaikum, aku boleh masuk?" sapa Hamdan mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh. Masuklah! Aku sedang berbaring saja," jawab Yusuf memainkan ponselnya.
"Rebahan doang? Main yuk!" ajak Hamdan.
"Nggak ah, aku sedang malas melakukan apapun. Ada apa ke kamarku?" tanya Yusuf menolak ajakan Hamdan.
"Nih, kamu akan masuk kelas bahasa, 'kan? Jadi aku kasih beberapa buku penting buat kamu belajar di sana nanti," ucap Hamdan menyodorkan buku tebal-tebal belajar bahasa Korea yang benar.
"Ilmu bahasa Inggrismu sudah bagus. Jadi, kamu tidak akan kesulitan untuk berkomunikasi di sana," lanjut Hamdan keluar dari kamar Yusuf.
"Terima kasih, aku juga butuh beberapa peralatan rumah tangga di sana. Kamu bisa mengantarku beli, 'kan?" ucap Yusuf.
Hamdan mengangguk dan mengarahkan jempolnya, kemudian menutup pintu kamar Yusuf. Seketika ingatan tentang gadis pirang hilang. Namun muncul lagi ketika dirinya mendapat pesan dari penjaga toko yang membuatnya semakin gelisah.
"Assallamu'alaikum, maaf malam-malam mengganggu. Yusuf, aku ingin menutup tokoku, tapi anak kecil bule ini tak mau pergi sebelum bertemu denganmu. Tolong temui dia dulu, aku sudah kehilangan kesabaran dengan bocah ini, terima kasih!" pesan dari penjaga toko, adik pemilik toko.
"Apa? Untuk apa dia ingin menemuiku? Bukankah, dia sudah mendapatkan buku hariannya? Mau apa lagi? Hah… aku harus bagaimana?" Yusuf semakin gelisah.
__ADS_1
Yusuf membalas pesan dari penjaga toko itu dengan penolakan, tapi tetap saja sang penjaga toko tidak mau ambil resiko jika menutup gadis itu di dalam toko sendirian.
"Haih, Laillahaillah Muhammadarrosulullah. Cobaan apa lagi ini ya Allah… aku takut terhipnotis dengan matanya yang indah itu," gumam Yusuf beranjak dari selimut hangatnya, lalu meraih jaketnya dan membuka pintu.
"Kakiku juga kenapa enteng banget begini. Lagian orang tuannya kemana, sih? Anak sekecil itu dibiarin keluar sendirian!"
Setelah pamit dengan Hamdan, Yusuf menyalakan motornya dan melaju dengan kecepatan kencang. Pikirnya, cepat sampai dan cepat pulang selesaikan masalahnya dengan gadis itu.
Sesampainya di toko, gadis itu tengah duduk di samping penjaga toko sambil memegangi bukunya dengan sangat erat. Bahkan gadis itu juga tidak memakai jaket, dan celana panjang.
"Assallamu'alaikum," salam Yusuf.
"Wa'alaikumsallam, nah tu sudah datang Kakak yang kamu cari. Terima kasih sudah datang, Bro. Sekarang aku ingin menutup tokoku dulu, kalian bicara di tempat lain saja, oke?" ucap sang penjaga toko merdeka.
Yusuf duduk di sepeda motornya, lalu menanyakan kenapa gadis itu menunggunya sampai malam. Sedangkan benda miliknya sudah ada ditangannya.
"Aku hanya ingin berterima kasih kepada, Kakak. Bisakah kakak membungkuk?" tanya gadis itu.
"No!"
"Kenapa? Aku kan hanya mau berterima kasih, huhuhuhu...." gadis itu menangis.
"Mas, adeknya diapain, sih? Jaga adeknya yang bener, dong. Jangan di buat nangis, kasihan orang tuamu pasti sibuk, sehingga kamu disuruh jagain adeknya," tiba-tiba saja ada seorang Mbak-mbak datang memarahi Yusuf.
"Jangan nangis, dong. Gimana kalau kakak traktir kamu makan saja? Sebagai gantinya kakak membungkuk, lebih baik kamu makan sama kakak. Mau nggak?" usul Yusuf.
"Mau! Kebetulan aku juga lapar Kak. Ayo!" tiba-tiba gadis itu berhenti menangis, dan langsung semangat naik ke motor Yusuf.
"Heh, ternyata aku dikibulin. Ini anak siapa, sih? Kenapa aku jadi berurusan dengan anak sekecil ini! Kalau di sangka nyulik anak gimana?" batin Yusuf menyalakan mesin motornya, sebelum itu Yusuf juga memberikan jaketnya kepada gadis itu.
"Where is your parents?" tanya Yusuf.
__ADS_1
"I don't know," jawab gadis itu.
"Kamu tinggal dimana?" tanya Yusuf.
"Penting ya?" jawab gadis itu ketus.
"Dih!"
"Ya penting, dong. Kakak harus tau kamu tinggal dimana, orang taumu siapa, biar kakak bisa antar kamu pulang. Pasti keluargamu mencarimu, karena kamu belum pulang sampai jam segini, ini sudah malam loh," tutur Yusuf.
Gadis itu tak menjawab pertanyaan Yusuf. Karena sudah lapar sekali, Yusuf mentraktir makan gadis itu ke warung pinggir jalan yang tak jauh dari toko buku. Selama mereka makan, mereka hanya diam-diaman saja dengan sesekali saling melirik.
"Kakak mau nggak, nikah sama aku?" tanya gadis itu tiba-tiba.
Tentu saja membuat Yusuf tersedak ketika makan.
"Astaghfirullah, kamu yang bener saja kalau ngomong. Kamu masih kecil loh, dan kakak juga masih sekolah, mana boleh menikah," tegur Yusuf.
"Kalau besok kita udah gede, kita boleh nikah, 'kan? Nah, mau nggak nikah sama aku?" tanya gadis itu lagi.
"Kamu udah ngantuk ya? Makanya ngomongnya nglantur gitu. Udah gini saja, mending kamu selesaikan makannya, nanti biar kakak antar kamu pulang, oke? Ngeri banget kamu ini," Yusuf kembali makan makanannya dengan cepat.
Melihat ada bagian yang memar ditangan dan pipi gadis itu membuat Yusuf bertanya-tanya. Namun, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi, karena yakin pasti gadis itu akan semakin nempel dengannya.
"Apakah dia.. menerima kekerasan? Atau.. aku tidak boleh ikut campur, atau aku akan mendapat masalah setelah ini." batin Yusuf.
"Aku.. aku tidak mau pulang. Bisakah, kau memberiku tempat tinggal?" tanya gadis itu dengan wajah memelas.
Hati Yusuf mulai luluh kembali, ketika ingin mengatakan 'iya', seorang wanita datang berteriak kepada gadis itu dan menariknya masuk ke mobilnya.
"Kakak.. kakak.. aku mau ikut denganmu! Help me!" gadis itu berteriak sembari melempar sebuah liontin dan buku diary nya.
__ADS_1
Yusuf merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apapun untuknya. Tapi, wanita itu lebih berhak akan gadis itu, karena dia adalah ibunya. Sejak saat itu, hati Yusuf menjadi gundah, setiap otaknya sedang kosong, ia teringat akan malam pertemuan terakhirnya dengan gadis itu. Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Ikuti terus detik-detik akhir season 1 ini yaaa