Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 204


__ADS_3

Itulah roda kehidupan, perjalanan manusia dari kandungan sampai masuk ke Liang lahat. Airy pernah di masa remaja yang sangat nakal, sekarang harus berada di fase kedewasaan yang mungkin masih sulit untuk nya.


"Aku janji, setelah ini. Aku akan merubah sifat kekanak-kanakanku, aku hanya ingin kembali bersama suami dan anak-anakku. Bahkan, aku juga sangat merindukan Zahra." gumamnya.


Sampai di rumah sakit, ia melihat Rafa yang terus berada di pangkuan Adam. Adam juga sudah mulai mengingat masa lalunya, tidak lama setelah itu, pasti akan mengingat dirinya.


"Mbak Airy, hey!" lamunan indah itu terganggu oleh suara Doni yang cempreng.


"Bisa nggak sih, jangan hancurkan imajinasiku! Asyem, kok. Nih, bawa ke mobil, tunggu parkiran!" kesal Airy, seraya memberikan tas yang berisikan baju, suaminya.


Perlahan, Airy masuk ke ruangan itu. Kemudian, ia pun mencium tangan suaminya dengan lembut. Lalu berbisik, "kita pulang ke rumah, ya?" Adam pun mengangguk dan tersenyum. Banyak hal yang akan Airy lakukan setelah kepulangan Adam.


"Skripsi, kapan?" tanya Adam.


"Anu, itu. Em, anu Mas,"


"Jangan anu-anu aja dong. Katanya mau jadi orang yang sukses, kalau gitu jangan malas kuliahnya. Lulus nanti, kita jalan-jalan ke luar negeri gimana?" tanya Adam.


"Woah, sultan hahaha. Boleh, deh. Mau kemana memangnya?" goda Airy.

__ADS_1


"Kita ke Kairo, yuk. Aku akan mengajakmu keliling di sana. Ya, kita luangkan waktu untuk kota berdua, saja. Bagaimana?"


"Rafa kita tinggal," bisik Adam.


"Ih nakal, aku suka Mas Adam yang sekarang. Lebih romantis," Airy memeluk tubuh Adam.


"Ehem, ada orang di sini. Kalian pikir, saya ini apa? Patung pancoran?" protes Doni.


Meskipun Adam tidak mengingat kisah lalunya dengan Airy. Tapi ia sangat mencintai, Airy. Mungkin, cintanya yang sekarang jauh lebih besar dari sebelumnya. Sampai di rumah, Doni membawa Rafa untuk main dulu, agar Airy dan Adam bisa memiliki waktu berdua.


"Ayo, Rafa main sama kakak, ya. Kita beli ice cream, mau?" tanya Doni, menggendong Rafa.


"Eh, makan ice cream sambil nangkring, gimana?" lanjut Doni.


Mendengar kata nangkring, Rafa pun akhirnya setuju. Ia bahkan lebih semangat untuk beli ice cream bersama, Doni. Di kamar, dengan perlahan Airy menuntun Adam ke tempat tidur.


"Sayang, aku bukannya struk. Aku udah sehat ini, kenapa di tuntun seperti manula gini, sih?" ucap Adam.


"Halah, buatku kau em em, Mas. Aku ikhlas merawatmu sampai sembuh, aku juga akan sabar menunggu kamu mengingat kisah kita dulu. Ning aku luweh seneng karo Mas Adam sik saiki, gemoy." celetuk Airy, sambil mencolek dagu sang suami.

__ADS_1


"Apa itu, em em?" tanya Adam.


"Ada deh," jawab Airy.


"Sayang, duduk dulu."


Adam menahan tangan Airy, kemudian memintanya duduk di sampingnya. Berbeda dengan Adam yang dulu. Dulu, setiap kali Airy meminta hal yang romantis, Adam pasti hanya membelai kepalanya saja. Sekarang berbeda, Adam yang sekarang jauh lebih romantis, dan mungkin akan lebih buat hati Airy nyaman.


"Ada apa, Mas?" tanya Airy.


"Aku mencintaimu, aku ingin mengingat kisah lalu kita, lagi. Apakah, kamu bersedia membantuku?" tanya Adam dengan lembut.


"Yang aku butuhkan sekarang, hanyalah kebersamaan kita, Mas. Ada kamu, aku dan anak-anak. Terakhir kali, kamu menginginkan sekarang anak perempuan, apakah itu masih berlaku?" ungkap Airy.


"Bu Calista ingin dedek lagi?" goda Adam.


"Nakal! Udah mulai gombal sekarang, em." Airy mencubit perut Adam.


Dunia masih terang, tapi mereka sudah bermesraan di kamar berdua. Banyak yang mereka ceritakan, terutama Airy. Ia juga menceritakan sejak awal pertemuan mereka dan alasan menerima perjodohan lalu.

__ADS_1


__ADS_2