Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 280


__ADS_3

Pagi hari, aktivitas rutin teka pernah di tinggalkannya. Raihan dan Adam akan melakukan perjalanan menuju kota di mana Adam tinggal dulu, mereka akan membawa beberapa bibit tanaman pesanan yang di pesanan oleh tetangganya di sana.


Sementara Laila dan Airy, sedang mengamati pohon pisang yang ternyata masih aman-aman saja. Bersyukur, hujannya tak membuat kebunnya menjadi rusak.


"Kamu bawa, apa?" tanya Airy, sambil menunjuk bungkusan kecil di tangan Laila.


"Aku, lagi udzur!" jawab Laila sedikit sewot.


"Kok kamu udah, aku belum, ih! Bulan kemarin juga belum aku," ucap Airy heran.


"Hayo lu, Jangan-jangan bunting lagi, periksa sana!" seru Laila.


Dengan perasaan was-was, Laila mengantar Airy ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan setelah menjemput Rafa dari tempat kursus. Laila terus saja menggoda Airy, tentu saja membuat Airy tidak nyaman.


"Turun, lu!" Airy mulai kesal.


"Lah, masih jauh apotek di depan sana, ngapain aku turun di mari? Ngambek, kamu?" Gerutu Laila.

__ADS_1


"Mobil ini ternodai olehmu, ndang mudun! " ucap Airy.


"Mama, Tante Laila. Kenapa, sih? Mama sama Tante bertengkar terus, kan nggak baik itu," sahut Rafa yang memang saat itu ada di bangku belakang.


Hujan tiba-tiba mengguyur kota, setiap menjelang sore pasti akan hujan seperti itu. Tanpa suami, mereka berdua berpikir bagaimana menjalani malam sendirian di kamar. Terbesit dalam otak Airy untuk mengajak Laila menginap ke rumahnya.


Pulang membeli alat tes kehamilan, mobil mereka melewati warung bakso yang ramai oleh para peneduh. Melihat bakso bulat yang lumayan membuatnya menahan ludah, Airy meminta Laila turun, membeli beberapa bungkus bakso.


Sementara itu, Airy bersama Rafa menunggu di mobil. Ia menawarkan bakso kepada ke lima adiknya, namun sayang, para adik lelaki akan pulang terlambat karena masih mengikuti les.


Kebetulan Aminah dan Mayshita memang akan pulang waktu itu juga. Mereka meminta Airy untuk menjemputnya, ketika hujan deras seperti itu, angkutan umum pasti akan penuh dan membuatnya pusing saat berada di dalamnya.


Laila membuka pintu, "Cuma lima, nih? Naira sama adek-adek lelaki yang bikin pusing itu, gimana? Sama yang ngganteng, si Oppa?"


"Nggak usah lebay, dia adekmu. Kenapa panggil Oppa?" gerutu Airy.


"Heh, tapi emang ganteng, loh. Putih, tinggi, mata sipit," racau Laila.

__ADS_1


"Nanti Rafa bilangin ke Om Abang loh, kalau Tante suka sama Om Gu!" sahut Rafa.


"Jangan, dong. Hahaha, kan bercanda. Rafa juga ganteng, kok. Senam jantung nanti aku, kalau Om Abangmu tahu," ucap Laila.


Karena ingin menjemput Aminah dan juga Mayshita, Airy harus putar balik lagi karena jarak antara sekolah dan tempat kursus Rafa agak jauh. Mereka berdua, ternyata sudah menunggu di depan gerbang, betapa ngakaknya Laila melihat wajah Aminah yang saat itu meringis melihat mobil Airy tiba.


Ketika Aminah hendak membuka pintu depan, "MasyaAllah, penampakan!" ia kaget karena awalnya Laila menunduk.


"Belakang!" seru Laila.


"Rupamu loh, Min. Meringis gitu, mabok ya yang anggun," timpal Airy tertawa.


"Lha kudanan, kok. Bentar, katanya Mayshita lagi ambil buku yang ketinggalan di kelas," ucap Aminah sedikit kesal.


Tak lama setelah itu, Mayshita pun keluar dari gerbang dan berlari segera, masuk ke mobil. Airy pun mengendarai mobilnya secara perlahan, karena saat itu memang sedang hujan deras beserta angin kencang. Sampai dirumah, Airy meminta Aminah dan Mayshita untuk segera ganti baju dan makan bakso bersama.


__ADS_1


__ADS_2