
Laila ingin sekali menenangkannya, tapi ia sadar jika ada yang tidak beres dengan kakaknya. Ia pun segera berlari keluar memanggil orang lain, tapi sialnya, Resti langsung membekap mulutnya. Laila pingsan, Resti mengganti pakaiannya dan memakai kebaya yang Laila pakai sebelumnya.
"Aku tidak akan merelakan, Mas Raihan." gumamnya.
"Maafkan aku, adikku!"
Segera Resti memakai kebaya itu, tanpa berias, ia memakai cadar agar tidak ketahuan. Kemudian, menyelimuti tubuh Laila dengan selimut tebal. Datanglah seorang santri wati menjemputnya untuk segera melakukan akad.
"Loh, kok di kunci kamarnya?" tanya santri itu.
"Ada barang berharga gue di dalam, apakah tidak boleh?" usaha Resti meniru suara dan logat Laila.
Santri itu tak menaruh kecurigaan apapun, karena memang sebelumnya, Laila tak pernah berbaur dengan para santri. Sampai di tempat yang sudah di sediakan untuknya, Resti langsung duduk di antara Umi-nya dan Leah.
"Kenapa pakai niqab?" tanya Naira.
Keringat dingin di rasakan oleh Resti. Mereka pasti akan menebak suaranya, dan dia akan ketahuan. Mungkin sedang beruntung, Aminah menyahut pertanyaan Naira.
"Biar suprise kali, Kak. Good job Kak Lail!" seru Aminah. Lail memang panggilan Laila dari Aminah.
Melihat dari mata Laila, Naira merasa curiga. Laila sebelumnya memakai lensa mata biru miliknya. Naira juga terus memandangi tubuh Resti yang lebih kecil dan pendek dari Laila.
__ADS_1
"Ada yang nggak beres." batinnya, teringat dengan Resti yang memiliki ciri-ciri tubuh seperti Laila palsu itu.
Naira mendekatinya, dan menindihi lengannya ke bahu Resti, "Woy bray! Ada kabar bahagia untukmu. Manggis, kini ada ekstraknya."
Kecurigaan Naira semakin besar, ketika Resti tak meresponnya. Ia pun beranjak pergi dari ruangan itu, kemudian berlari ke arah kamar yang sebelumnya di gunakan untuk merias Laila.
"Di kunci dari luar?"
"Dari baunya, seperti bukan parfum Laila. Parfum Laila baunya kek kecoa, bukan wangi khas parfum thamrin gini," gumamnya.
Ia membuka pintu, melihat ada seseorang yang terbaring di atas kasur berselimut tebal. Mendekat secara perlahan, membuka pelan-pelan, terkejut-lah dia.
"Woy! Laila bangun!"
"Susah banget nih bocah di bangunin, Ya Allah!"
Melihat ada air minum di meja, Naira bergegas mengambilnya dan menyiramnya ke wajah Laila. Dengan gelagapan Laila terbangun, ia merasa sangat pusing karena obat bius itu.
"Dah ku duga. Tunggu di sini sebentar,"
Naira mengirim pesan kepada Airy, memperingatkannya untuk tidak memulai acaranya terlebih dahulu. Naira juga meminta Airy untuk membawa Resti ke dalam kamar lagi.
__ADS_1
"Nih anak kenapa?"
Penjelasan singkat yang di kirim kepada Airy, sudah membuatnya mengerti. Jika yang memakai baju pengantin bercadar itu bukanlah Laila. Melainkan Resti, kakaknya. Aksi Airy di mulai.
"Jika kamu nggak mau Laila celaka, kamu harus ikut aku!" bisik Airy kepada Resti.
Ternyata Airy sudah memiliki senjata untuk mengelabuhi Resti. Resti mengikuti saja apa yang Airy katakan. Akhirnya Airy berhasil membawa Resti ke kamar.
"Laila, kamu nggak papa, 'kan?"
"Kamu nggak di sakiti sama mereka, 'kan?
Resti terlihat panik, dengan jurus ilmu terdalam Airy, Resti pun pingsan karena tak tahan dengan suatu bau yang di telapak tangan Airy.
"Pingsan? Bau apa yang kamu pakai, Ry?" tanya Laila.
"Udah nggak usah banyak tanya, ayo segera ganti baju. Acara sudah mau di mulai!" tegas Naira.
"Tapi aku penasaran banget, loh. Obat bius jenis apa yang kamu pakai?" tanya Laila masih penasaran.
Karena tak suka membuat orang penasaran, Airy pun menyodorkan tangannya kepada Laila. Laila hampir saja pingsan karena mencium bau itu. Bau ketek Airy memang menjadi jurus andalan ketika tak ingin memakai kekerasan.
__ADS_1