
Di tempat Adam.
"Pulanglah, Mas Adam!"
"Pulanglah!"
Adam terbangun dari tidurnya. Saking lelahnya karena bekerja, ia sampai ketiduran hingga kesiangan untuk bangun. Mungkin takdir, atau memang sudah jodoh akhiratnya. Adam bekerja di perusahan milik keluarga Handika. Tempat dimana sang kakek buyut Airy, Arman Handika, mendirikan perusahan yang bercabang di luar negri itu.
Sudah hampir satu bulan ia bekerja di sana. Namun, karena tidak pernah melihat foto masa kecil Sandy dan Leah yang terpampang jelas di depan resepsionis, Adam menjadi tidak mengenali, ataupun mengingatnya. Ia bekerja menjadi office boy di sana.
"Hari ini, katanya ada manager dan direktur baru. Benarkah?" desis seorang karyawan perusahaan.
"Besok, aku dengarnya sih besok. Katanya, mereka saudara kembar. Enak ya, kalau lahir dari keluarga kaya. Haha, nggak punya kemampuan apa-apa aja pun bisa bekerja di perusahaan sebesar ini," sahut karyawan lainnya.
"Garis bawahi, bukan hanya bekerja. Tapi, memegang perusahan, loh. Hahaha kita lihat aja nanti kinerjanya bagaimana." Balas karyawan lain.
__ADS_1
Di dapur, Adam yang tengah sibuk bersih-bersih di panggil oleh kepala office boy. Ia di beri pekerjaan khusus, untuk selalu menyiapkan minum dan menerima panggilan langsung dari manager dan direktur baru mulai besok.
"Iya, Mas. Saya siap melakukannya," ucap Adam.
"Oh iya, Adnan. Kerja yang rajin, ya. Bentar lagi 'kan gajian." tanggap Hasan, sahabat di kantornya. Sembari menepuk bahu Adam.
"Bismillah, nggak mudah juga masuk kerja tanpa kamu di sini, San. Tau sendiri 'kan, aku nggak ada identitas lengkap." Lirih Adam.
"Ya elah, Bro. Woles wae, kita kan bestfriend, yo ra?"
"Rumah sebesar ini, cuma akan di huni kita bertiga aja, nih?" tanya Airy.
"Ya mau gimana lagi? Papa sama Yusuf nggak mandi ajak kesini juga 'kan?" jawab Raihan.
"Harusnya mereka mau. Kenapa keluarga kita nggak nggragas sama harta, sih. Malah di anggurin lagi, di lempar ke sana kemari, nggak ada yang mau ama duit pula!" gumam Airy, sambil merapikan barang-barangnya.
__ADS_1
"Bahasamu, nggragas loh. Ngeri, Ry!" sahut Raihan.
Untung saja, rumah itu selalu ada orang yang merawatnya. Jadi, setua apapun bentuknya. Rumah kenangan itu masih terawat, bersih dan rapi. Ada tiga orang pekerja di sana, Bi Nah bagian dalam, Pak Dar tukang kebun. Serta anaknya yang masih kuliah bernama, Doni.
"Mas Hafiz pilih sendiri kamarnya, ya. Aku bingung soalnya eh, mau ke kamar yang mana gitu," ujar Raihan.
"Opo neh aku," sahut Airy.
"Kalian bingung, apa lagi aku. Mau ke kamar mandi aja ndak tau arah, Ya Allah. Apakah harus menggunakan kompas?" lawak Hafiz.
Setelah membereskan barang-barang nya. Mereka pun istirahat terlebih dahulu. Beda dengan Airy yang masih aja sibuk keliling rumah. Hilang sang supir di kehidupannya, ia bertingkah sama seperti dirinya masih remaja.
"Ada taman kecil di sini. Haha, ada pohon juga. Mumpung Rafa bobok, aku nangkring dulu ah, menikmati hembusan angin Ibukota, haha." gumam Airy.
Tak tanggung-tanggung, ia langsung memanjat dan duduk selonjoran di dahan yang lumayan agak besar itu. Ia memejamkan matanya, berdoa kepada Sang Maha Pencipta, agar segera di pertemukan dengan suami tercintanya.
__ADS_1