Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 213


__ADS_3

Semua isi kantor tengah memperbincangkan Adam dan Airy. Mereka baru tahu jika Adam adalah suami dari bosnya itu.


"Airy Calista Putri Handika. Aku tidak akan menyerah! Lihat saja nanti, kamu akan membayar semua yang telah terjadi ini!" ancam Hans.


"Aku tunggu waktu itu tiba," jawab Airy.


"Maaf Pak Hans, Airy istri saya. Jadi jangan pernah menatapnya seperti itu lagi. Haram!" sahut Adam menarik lengan istrinya.


Genggaman di lengan itu, turun ke telapak tangan dan mereka pun saling bergandengan tangan seperti akan menyeberang jalan. Hans yang melihat itu pun semakin kesal, tanpa aba-aba apapun, ia memukul Adam dengan sangat keras. Melihat suaminya di pukul, dengan sekuat tenaga, Airy membalas sampai Hans tersungkur.


"Sayang, nggak boleh gitu," bisik Adam dengan lembut.


"Kenapa? Kurang keras, kah? Biar aku coba lagi," jawab Airy.


"Cukup! Pak Hans, ikut keruangan saya. Airy, Ustad Adam selesaikan masalah kalian, di ruangan lain. Untuk semuanya, kembali ke pekerjaannya masing-masing," sela Raihan.

__ADS_1


"Sekarang!!" bentak Raihan dengan suara lantang.


Bak di uber hantu, semua karyawan lari terbirit-birit bahkan ada yang sepatunya lepas. Raihan memang masih muda di kantor itu. Tapi, caranya menjadi pemimpin memang tidak diragukan lagi.


"Ada apa, sih? Rame banget?" tanya Raditya yang baru saja keluar.


"Keruanganku!" jawab Adam dengan singkat.


"Lah? Kena omel juga aku," gerutunya.


"Sayang,"


"Dalem," jawab Airy.


"Orang kampung hidup di kota besar gini amat, ya. Kena fitnah, di rendahkan. Emang salah kerja jadi, OB? " gerutunya Adam.

__ADS_1


"Jangan menggerutu. Tapi emang iya, hahaha. Kan udah aku bilang, kita orang kampung mana cocok tinggal di ibu kota, Sayang!"


"Lagian nih, Papa itu ngada-ngada aja, deh. Masa akun din kasih perusahaan gini, ambyarlah otakku," Sambung Airy.


"Terus gimana solusinya?" tanya Adam.


Hanya ada satu cara untuk Airy, ia harus memiliki anak perempuan kandung. Atau kalau tidak, harus bersabar menunggu antara, Aminah, Mawar dan Yumna besar nanti. Tapi perusahaan itu, memang sudah sewajarnya milik Airy, karena anak perempuan pertama di keluarga Handika. Bukan Naira, karena Naira hanya keturunan dari cucu Akbar yang hamil di luar nikah.


"Oh, jadi Naira nggak bisa mewarisi perusahaan ini? karena dia, anaknya Tante Clara yang hamil bukan di luar setatus keluarga Handika, gitu? Ribet banget, sih!" ujar Adam.


"Permainan holang kaya, kita orang biasa bisa apa, Mas. Hahaha, udahlah, pusing mikirin ini. Kita terima harta ini dengan lapang dada," ucap Airy penuh dengan semangat.


"Aku memang tidak salah memilih seorang istri, dia bahkan tidak memikirkan harta dunia saja. Tapi, bagaimanapun juga, ini sudah jadi tanggung jawabnya. Aku hanya bisa berdoa, semoga istriku ini, bisa membuat perusahaan ini semakin maju, hingga ke anak turun kita nanti. Amin," batin Adam, sembari mengusap pipi istrinya itu.


Di ruangan Raihan, ia sedang berdiskusi dengan Raditya, dan Hans untuk kerja sama kedepannya. Karena Hans ingin mengakhiri kerja sama itu, Hans harus membayar denda kontrak dan beberapa hutang perusahaan dengan perusahaan Handika. Hans yang tidak menerima itu pun, langsung berkata kasar dan segera pergi dari ruangan Raihan.

__ADS_1


Maaf up lama dan ndak banyak. InsyaAllah jika udah lancar kembali, bakal up banyak seperti sebelumnya. Terimakasih atas dukungan kakak-kakak semuanya. 🥰


__ADS_2