
Setelah 7 hari meninggalnya Aisyah, seluruh keluarganya kembali beraktivitas ke aktivitasnya masing-masing. Hari ini Akbar dan Kabir berpamitan untuk kembali ke negara yang mereka tempati saat ini.
"Anak-anak udah siap semua? " tanya Akbar kepada Fatim.
"Udah sih, tapi kita ke makam kak Ais sana leluhur lainnya juga. Anak-anak udah kesana duluan, tinggal nunggu Kabir sama Ceasy juga. Yang lain udah kesana, " jelas Fatim.
"Maaf lama, aku harus nidurin Yumna dulu, " sahut Ceasy dari belakang mereka bedua.
"Lah Yumna sama siapa? " tanya Akbar.
"Sama Mama, Mama nggak ke makam karena lagi datang bulan. Hayuk ah, penerbanganku dua jam lagi soalnya. " jawaban Ceasy malah membuat Fatim dan Akbar memasang wajah datar.
"Yang di tunggu siapa? Yang lama siapa? Sekarang yang ngotot cepat dia, istrimu aneh Bir! " kata Akbar menepuk bahu Kabir.
__ADS_1
Setelah semuanya pulang dari makam Aisyah dan leluhur lainnya, Akbar, Kabir dan beserta keluarganya berpamitan untuk pulang ke negara yang mereka tempati sekarang. Mereka juga berbincang-bincang sebentar dengan Rifky.
"Yang sabar ya Kak, ikhlaskan semuanya, bangkit untuk anak-anak Kak Rifky yang lainnya. Jika ada masalah apapun, kau bisa menghubungiku," kata Akbar.
"Santai aja Kak, aku juga selalu ada kok untukmu. Kami bertiga, aku, Bang Akbar sama Syakir itu kan juga tetep adikmu sampai kapanpun juga. Kak Rifky jika ada hal yang dibutuhkan, bisa kabari kita kok. Lagian kan usaha di Korea juga milik Kak Rifky, hehehe semangat!! " sahut Kabir.
"Makasih ya Bro, hati-hati dijalan ya, jangan lupa selalu kunjungi kita disini. " Rifky bangga dengan adik-adik Aisyah, mereka tetap memperlakukan Rifky bak kakak kandung sendiri.
Rumah tiba-tiba menjadi sepi. Hanya tinggal Ruchan, Leah dan keluarga pesantren. Syakir dan Balqis juga sudah kembali ke rumahnya sendiri di samping pesantren. Kini Rifky juga harus beberes barangnya, kemudian pulang ke rumahnya sendiri dengan Yusuf. Begitu juga dengan Raihan, sejujurnya dia masih berat untuk meninggalkan Papa dan adiknya sendirian di rumah. Akan tetapi pendidikannya juga sangatlah penting untuk masa depannya.
"Loh, Kenapa harus terburu-buru? kamu di sini aja Rifky, biarlah Yusuf dan kamu tinggal di sini saja. Nggak apa-apa, malah nanti rumah ini akan ramai. Kita juga berdua loh disini," sahut Ruchan.
"Kalian juga cuma berdua di rumah sekarang, Adam dan Airy, juga mau pulang ke Jawa Timur kan?" sambung Leah.
__ADS_1
"Aku senang kalau bisa tinggal sama Abi dan Mama disini. Tapi mau bagaimana lagi, rumah itu adalah kenangan aku bersama Aisyah, kenangan saat membesarkan anak-anak kita di sana. Bahkan, rumah itu juga didesain sendiri oleh Aisyah untuk kami tinggali kan? Jadi aku dan Yusuf akan tetap tinggal di rumah itu, maaf ya Bi, Ma! " jelas Rifky dengan mata berkaca-kaca.
Siang hari itu Airy dan Adam juga berpamitan untuk pulang ke rumahnya sendiri. Sebelumnya, ia juga menawarkan diri untuk tinggal bersama Papanya. Tapi itu tidak mungkin karena Airy sudah menjadi milik orang lain, menjadi istri orang lain dan itu memang sudah hukum takdir jika seorang istri harus ikut kemanapun suaminya pergi.
"Kakung, Uti, Papa, Bang Rai dan Yusuf. Aku pamit dulu ya," ucap Airy dengan nada sopan, biasanya juga tidak seperti itu.
"Yusuf jagain Papa untuk Kakak ya. Kakak sayang banget sama Papa, orang tua kita cuma tinggal satu, jagain Papa baik-baik ya. Kakak akan sering kunjungi kalian nanti." tungkasnya.
Rifky mendekati Airy, Ia juga membelai kepala Airy dengan sangat lembut. Ia juga tersenyum manis,
"Kamu jangan khawatir anak Papa yang nakal. Papa akan baik-baik saja, Yusuf pasti bisa menjaga Papa kok. Perlu kamu tau, Papa malah akan lebih bahagia jika kamu menjaga calon cucu Papa ini, " ucap Rifky.
"Oke baiklah, sekarang aku yang anak tiri ini. Dari tadi nggak ada yang ngajak ngobrol aku loh, mentang-mentang aku jauh dari kalian dan sekarang aku dicuekin kayak gini. Aku udah pulang jauh-jauh dari Kairo ke sini loh, meninggalkan tugas-tugasku yang mungkin besok akan menumpuk kek gunung sumbing. Kalian nggak mikirin sama sekali kah? Nggak kangen sama sekali kah sama aku? Seminggu loh aku di sini, nggak ada yang ngajakin ngobrol, jahat sekali kalian! " goda Raihan.
__ADS_1
"Aku juga kangen sama Bang Rai, makasih ya Bang. Sejak awal dateng, Abang langsung mencariku, Aku seneng banget Bang. Maaf belum sempat balas surat dari Abang karena memang situasinya lagi nggak memungkinkan." ucap Airy sembari memeluk Raihan.
Perpisahan hari sore itu juga membuat Raihan sedih, pasalnya ia harus pergi menuntut ilmu lagi esok hari, sedangkan Airy harus kembali ke rumah suaminya.