Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 182


__ADS_3

Setahun berlalu, usaha Adam semakin lancar. Hubungan keluarganya juga semakin harmonis. Kini Rafa, sudah menginjak usia 2 tahun kurang sedikit. Begitu juga dengan Zahra yang semakin besar. Airy masih menekuni karirnya di dunia bisnis keluarga, di samping itu, ia juga masih harus kuliah.


"Barakallah fi umrik, ya zawjati," bisik Adam.


"Berkurang umur, bertambah tua. Ya Allah, nggak nyangka aku, udah 20 tahun saja, suwun zawji," jawab Airy.


"Sibuk apa sih, Bu?" tanya Adam.


"Aku harus ke Jakarta, gimana dong?"


"Kuliahku, anak-anak, suamiku. Ah, aku pusing, Mas." keluh Airy.


"Bismillah, pasti bisa. Nanti aku temani, ya. Biar anak-anak sama Umi-nya." tutur Adam.


Bukan seorang ibu jika tega meninggalkan anak-anaknya di rumah. Untuk pergi ke kampus saja, Airy harus banyak drama dengan anak-anaknya. Sebelum berangkat ke Jakarta, Airy ingin menjenguk Papa-nya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Mau ke Jogja dulu? Buat apa?" tanya Adam.


"Ada barang yang Papa pesan, untuk Tante Delia di sana, Mas." jawab Airy.


Janji seminggu lagi akan berangkat ke Jakarta. Sebelum itu, Adam ada usaha di luar pulau. Tetapi, sebelum berangkat ke luar, Adam akan membawa Airy dan kedua anaknya bermain di pantai yang dekat dari daerah tempat tinggalnya dulu.


"Kita beneran ke pantai ini, Mas? Wah jarang-jarang loh, Mas Adam ajak aku dan anak-anak ke pantai," ujar Airy bahagia.


"Iya dong, buat foto terbaru. Besok 'kan, Mas harus ke Bali untuk perjalanan bisnis. Bakal kangen sama istriku yang istimewa, dan anak-anak yang lagi lucu-lucunya itu," ucap Adam mencubit pipi Airy.


"Ulu, ulu, romantisnya suamiku. Tapi, nanti Rafa, Mas yang gendong, ya. No debat!" lanjut Airy.


Wajah Airy memerah, ia tersipu. Ia pun mencubit perut Adam yang sudah mulai buncit itu. Ketika mereka sedang asyik bermesraan, terdengar suara lantang Rafa yang memanggilnya.


"Mama!" panggil Rafa.

__ADS_1


"Rafa, kenapa dia?"


Airy dan Adam berlari menemui Rafa dan Zahra. Saat itu, mereka berdua sedang ada di kamarnya. Ternyata, Rafa jijik melihat Zahra ngompol di celana, bahkan suara teriakan Rafa, membuat Zahra terkejut dan menangis.


Keseruan itu berlangsung sampai malam hari. Setelah Rafa dan Zahra tidur, Airy melanjutkan tugas kampus dan pekerjaannya. Ketika di fase pusing tingkat internasional, tiba-tiba secangkir teh hangat melintas di depan matanya. Buatan suami tercintanya.


"Semangat, jangan capek-capek. Istirahat dulu, yuk." bisik Adam dengan belaian mesranya.


"Terima kasih ya, suamiku. Entah kenapa, aku merasa semakin hari, pekerjaan dan tugasku semakin banyak, Mas. Huft!! Gini amat jadi orang tua dan dewasa!" keluh Airy.


"Bismillah. Semoga, istriku ini bisa menjalankan amanah dengan baik yang di berikan oleh keluarga besar. Di beri kelancaran juga dalam mengejar ilmunya. Amin." tutur Adam, seraya mengecup kening istrinya.


"Aku sangat bersyukur, mendapatkan suami sepertimu, Mas. sangat, sangat bersyukur," ucap Airy dengan senyuman.


"Bahkan, aku tak bisa membayangkan, jika hidup tanpa, Mas Adam di sisiku." imbuhnya.

__ADS_1


"Hust, jangan bicara seperti itu. Allah lah yang memberi hidup, jadi jangan bilang kita ini tak bisa hidup tanpa manusia pula, karena memang sudah takdir manusia lahir dan kembali ke pangkuan Allah SWT. Berdo'alah yang baik-baik saja, ya." tutur Adam.


Mereka pun saling berpelukan, Adam juga mulai membantu tugas Airy yang saat itu numpuk di meja kerjanya.


__ADS_2