Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 177


__ADS_3

"Adam nggak ikut pulang?" tanya Ustadzah Ifa.


"Mas Adam mengurus, urusan anak keduaku, di negara sana." jawab Airy meneteskan air matanya.


"Hatimu sungguh mulia, Ry. Mbak bangga memiliki adik sepertimu. Kamu seperti harimau saja." hibur Ustadzah Ifa.


"Lebih baik seperti harimau, yang hanya diam saja, tapi ditakuti oleh semua orang. Daripada seperti anjing yang sering dilempari batu ketika ia menggonggong." ucap Airy sambil memeluk, Rafa.


Di Jerman,


Mendengar kabar duka itu, Raihan juga ikut berbela sungkawa. Selama di negri orang, ia juga tak pernah pulang, karena memiliki tanggungan mengurus adik angkatnya di sana.


Siang ketika Raihan menjemput Pearl ke penitipan, anak. Ia melihat, Pearl sedang duduk termenung di depan pagar. Akhir-akhir ini, Raihan sering mendapati Pearl melamun sendirian, entah di mana saja tempatnya, Pearl selalu melamun.


Dulu, sebelum ia masuk di penitipan anak, Pearl adalah gadis yang ceria. Suka bermain dan banyak bicara. Selama tiga bulan terakhir, Pearl jarang mau di sentuh oleh Raihan. Tentunya, membuat Raihan curiga dengan tingkat Pearl yang sekarang.


"Pearl?" panggil Raihan, menyentuh bahunya.


"Aw, sakit!" teriak Pearl.

__ADS_1


"Sakit? Di mana yang sakit?" tanya Raihan panik.


Kemudian, Pearl pun menangis, namun menyembunyikan air matanya. Raihan, segera membawa Pearl ke rumah sakit terdekat. Ia menemukan kejanggalan ketika menggendong, Pearl.


Betapa terkejutnya, Raihan. Di tubuh, Pearl, terdapat luka lebam lama dan baru. Itu mengapa, Pearl sekarang menjadi kurus dan seperti ketakutan. Dokter mengatakan, jika Pearl mengalami kekerasan selama ini.


Hanya ada penyesalan di wajah, Raihan. Ia merasa tidak menjadi kakak yang baik. Sepanjang perjalanan pulang, Raihan hanya memeluk Pearl dan menyesali semua yang sudah terjadi.


Sampai di rumah, Raihan langsung membawa Pearl ke kamarnya. Di rebahkan nya, Pearl di kasur. Segera, Raihan mengambil air minum untuk, Pearl.


"Hansel," panggil Pearl menahan tangan, Raihan.


Pearl tersenyum.


"Hansel, apakah kah tidak menyayangiku?" tanya Pearl.


Jantung Raihan seperti terhenti, mungkin waktu pun juga ikut terhenti. Seketika, air mata Raihan menetes.


"Aku, memang bukan kakak yang baik untukmu, Pearl. Maafkan, aku." ucap Raihan menunduk.

__ADS_1


"Kau sangat baik, Hansel. Itu mengapa kau tidak ingin aku kesepian di rumah, ketika kau belajar." sahut Pearl menyentuh pipi Raihan.


"Tapi, jika aku bisa memilih. Bisakah, aku tetap tinggal di rumah? Menunggumu pulang, dan kita bisa memasak bersama untuk malam?" imbuhnya.


Tubuh yang sebelumnya terasa kaku dan dingin. Kini menjadi hangat, ketika Pearl memeluknya. Air mata, Raihan terjatuh. Ia tidak sanggup mengingat luka lebam yang adiknya miliki.


"Aku akan pulang cepat, setelah kelasku selesai." ujar Raihan.


"Terimakasih, Hansel. Aku menyayangimu." ucap Pearl.


Setelah menidurkan, Pearl, Raihan pun menelfon, Papanya.


Raihan, yang kamu lakukan tidak salah. Kamu ingin, adikmu tidak kesepian di rumah. Dan memiliki teman yang bisa menemani kesehariannya. Papa, beranggapan, jika semua itu terjadi, karena pengasuhnya. Coba kamu selidiki.


"Aku bukan kakak yang baik, Pa. Aku gagal menjadi kakak dari, Pearl. Apakah, karena adik kandungku? Tapi aku sangat menyayanginya. Aku merasa bersalah kepada, Ayahku, Pa." suara Raihan melemah.


Lakukan apa yang menurutmu itu, baik. Kau kakak yang sempurna untuk semua adikmu. Belajarlah dengan giat, jangan lupa sholat, berdoa dan bertasbih kepada Allah. Sering jenguk ibu kandung, Pearl. Papa yakin, kamu akan menemukan jawabannya. Semangat ya, jagoan Papa.


Malam itu, Raihan menemani Pearl tidur. Mulai saat itu, Pearl akan tetap berada di rumah. Dan, Raihan ingin menyelidiki tentang kasus adiknya.

__ADS_1


__ADS_2