
"Kalau begitu semua nya bubar ya, masalah ini selesai, aku akan membawa mereka ke rumah Kyai besar" Kata Ustad Zainal.
"Baik Ustad, Assallamu'alaikum" Salam beberapa santri yang mengikutinya.
"Wa'alaikum sallam, warrahmatullahi wabbarokatuh"
"Ikut Abang!" Kata Raihan menarik tangan Airy.
Namun, Ustad Zainal melarang Raihan membawa Airy, ia juga meminta Raihan kembali ke kamarnya dan beristirahat. Bagaimanapun juga, semua itu kesapahan Rindi, bukan Airy maupun Adam, Raihan tau itu, dia lebih tau saat adiknya bersalah atau tidak, Raihan akan mengetahuiannya dari mata Airy.
Ustad Zainal lalu membawa Adam, Airy dan Rindi ke ruang tamu Kyai Besar. Disana mereka bertiga di sidang. Rindi berharap jika Kyai besar mau memberi keadilan baginya, dalam benaknya, ia ingin menjadi istri Adam dan menjadi menantu di pesantren itu, lalu mengeluarkan Airy dari pesantren.
"Apa yang ingin kalian jelaskan, Jelaskan!" Kata Kyai besar.
"Tidak ada apa-apa di antara saya dan Rindi, saat saya bersandar di bawah pohon, dia menghamoiri saya, kamu belum memulai percakapan, baru saja mengucapkan salam, lalu menyuruhnya masuk, tetapi Mas Zainal sudah keburu datang dengan beberapa santri, dan membuat semua orang salah faham." Jelas Adam.
"Tapi Kyai, saya sudah mendapat malu, apakah tidak ada keadilan buat saya? Contohnya....." Kata Rindi menundukkan kepalanya.
"Contohnya apa Rin? Mas Adam itu calon suamiku, kan juga aku tadi ada disana, kalian nggak berduaan juga kan? Kamu juga Mas, aku ada di atasmu, tapi bicaranya sama Rindi, kamu sudah nggak menghormati perjodohan itu, aku kesal" Kata Airy, dalam hatinya ia tertawa terpingkal-pingkal.
Membuat Adam menjadi kambing hitam, dan skak matt untuk Rindi, adalah hal yang sangat menyenangkan bagi Airy, Airy juga bersandiwara seperti gadis yang sedang menderita karena cinta dan orang ketiga.
"Saya kan nggak tau kamu..... Emm iya maafkan saya Airy, saya tidak akan mengulangi perbuatan saya, jika saya sedang berbicara denganmu, saya akan mencoba menghadapmu, bukan ke wanita lain. Tetapi saat itu kamu kan nagkring di atas pohon, bagaimana mungkin saya akan mengadahkan wajah saya" Kata Adam memutar cerita.
"Apa? Mas Adam dan Airy?" Tanya Rindi lalu pingsan.
Semua panik, karena bukan mahramnya, Ustad Zainal memanggil Ustadzah Ifa agar membawanya ke kamarnya. Begitu dengan Airy yang akan kembali ke kamarnya, namun di tahan oleh Adam.
__ADS_1
"Airy! Mau kemana kamu?" Tanya Adam.
"Tidur" Jawab Airy.
"Kenapa kamu mengarang cerita itu? Itu sama saja berbohong, saya tidak suka dengan kebohongan itu" Kata Adam.
"Aku tak peduli" Jawab Airy.
"Aku suka kau mengumumkan perjodohan kita, tetapi aku yang ingin mengumumkannya dulu Airy, secara resmi, bukan karena ada insiden seperti ini" Kata Adam.
"Lalu? Dah lah aku mau tidur, jangan mimpiin aku Ok! Dosa! Assallamu'alaikum" Salam Airy.
Ada dua sepasang mata yang melihat adegan Adam dicueki seperti itu, yakni Kyai Besar dan Ustad Zainal yang nenertawakan Adam dengan riang gembira.
"Sabar Dam, Abi yakin kamu bisa menakhlukan singa betina hahahha ayo.l Zainal, kita buat Si dingin yang pendiam ini menjadi pasangannya dengan gadus super aktif haha biar tau rasa" Tawa Kyai besar.
"Kyai dan Ustad juga manusia Dam, dirumah ini kan hanya kita bertiga, kita keluarkan sifat kita masing-masing hahaha ya nggak Bi?" Tanya Zainal menepukkan tangannya dengan Kyai Besar.
"Kalian ini, saya mau tidur dulu. Assallamu'alaikum" Salam Adam dengan wajah yang memerah.
"Wuihh, seorang Adam mau bobok gasik (awal), haha jangan bayangin Airy ya Dam, ingat! Belum mahram hahaha" Tawa Ustad Zainal semakin nyaring, membuat Adam menjadi salah tingkah.
-_-_
Dikamar, Airy maaih memikirkan raut wajah Raihan, yang sepertinya marah kepadanya. Sulit untuk membujuk Raihan kembali, sekali ia di kecawakan, pasti akan sulit untuk membuatnya percaya lagi.
"Astaghfirullah hal'adzim, aaaaa aku yakin Bang Raihan pasti ngeri deh, aku dan dia kan kembar, harusnya hati kita saling terhubung" Gumam Airy.
__ADS_1
Tubuhnya ia glindingkan ke kanan dan kiri, hingga membuat Nadia pusing melihatnya. Saat kaki Airy ada di atas dan menempel ke dinding, dengan kerasnya Rindi membanting pintu, hingga membuat Airy salto karena kaget.
"Woy, woy, Astaghfirullah hal'adzim, laillaha illallah" Ucap Airy kaget.
"Astaghfirullah pintunya, kan kasihan... pelan-pelan dong Rin" Kata Nadia langsung mengusap-usap pintu.
"Kamu merusak rencanaku, kalau kamu suka sama Mas Adam, nggak gitu caranya. Sudah ku bilang Mas Adam itu hanya milikku, kenapa kamu ngaku-ngaku jadi calon istrinya sih ha? Dasar nggak tau malu!" Kata Rindi dengan nada kesal.
Di dalam hati Airy yang sebenarnya, ia melakukan itu, mengakui bahwa dirinya adalah calon istri Adam adalah, agar Adam tidak menanggung malu atau mengalami masalah karena ulah Rindi. Airy hanya ingun melindungi kehormatan Adam saja.
"Suka-suka ku lah, kenapa kau yang sewot? Dengar ya Rindi, caramu itu murahan sekali, menjijikkan! Kau bisa ngaji bukan? Maka pakailah ilmu itu, aku memang pethakilan, nakal, dan sering membuat onar. Tapi setidaknya, aku bisa menghormati orang lain, menghormati kaumku sendiri, kau dan aku sama-sama perempuan Rindi, tak mengerti kah kalau perbuatanmu itu sama saja merendahkan martabat wanita?" Kata Airy.
"Hahahhaa bijak baget aku ini" Kata Airy dalam hati.
"Tapi aku mencintainya, aku ingin dia menjadi suamiku. Sebaiknya kamu jangan pernah ganggu dia dan aku lagi. Assallamu'alaikum" Rindi berbalik badan dan pergi begitu saja.
"Dia sudah di jodohkan Rindi, apakah kamu akan menjadi orang ketiga diantara mereka? Lagian kamu masih sekolah, apakah kamu tidak ingin menggapai cita-citanu dulu?" Tanya Airy, kali ini ia menggunakan nada yang halus.
"Cita-citaku menikah dengan Mas Adam, aku akan membuat orang menyesal jika orang itu ingin menghalangiku mendapatkan Mas Adam, termasuk kamu!" Kata Rindi pergi.
Bukan Aiey takut dengan ancaman Rindi, ataupun takut kehilangan Adam, bahkan ia pun juga masih memiliki cita-cita ingin belajar setinggi-tingginya. Tetapi, yang Airy takutkan adalah, jika Rindi melakukan hal yang tidak terpuji lagi untuk mendapatkan Adam, bukan hanya kehormatan Adam saja yang tercemar, tetapi nama keluarga pesantren juga ikut tercemar, baginya keluarga pesantren adalah guru, guru itu ibarat baju bagi muridnya.
"Ry? Kenapa dia nggak ngerti sih? Kan kan kamu udah ngaku, kalau kamu adalah jodoh Mas Asam yang di atur oleh Kyai Besar?" Tanya Nadia.
"Sudahlah Nad, rezeki, maut, jodoh itu sudah Allah yang menentukan, itu rahasia illahi. Jika pun aku dan Mas Adam tidak berjodoh, itu malah membuatku untung, aku dan Bang Raihan bisa kuliah bareng-bareng di luar negri, kita tidur aja yuk, sebentar lagi pasti Ustadzah Ifa bangunin kita, masih ada waktu 3 jam buat tidur" Ajak Airy.
Airy akan menceritakan hal itu kepada Raihan besok, kebetulan, jadwal piket pagi mereka bersamaan, jadi pasti bisa ketemu lebih lama, bukan mengadu, tetapi ini sudah masalah perjodohan itu, hal yang sangat sensitiv ini adalah urusan keluarga, jadi Raihan harus mengetahuinya, menurut Airy.
__ADS_1