
Sampai di rumah, Airy langsung bersih-bersih badan. Kemudian bermain dengan Rafa. Ia juga menceritakan kejadian tadi kepada Doni dan Laila. Geram melihat tingkah Hans, Doni seakan ingin melahap pria berusia 27 tahu itu.
"Benar-benar tuh orangnya, kagak ada akhlak!" seru Doni.
"Tapi gue yakin, deh. Tuh laki pasti akan ngelakuin hal konyol lagi yang lebih dari ini. Lu harus waspada, Ry. Jangan sampai lengah pokoknya," sahut Laila.
"Iya, aku takut malah nanti dia berbuat jahat pada Rafa. Berasa kek udah di drama korea tau nggak, sih. Buat dapet emaknya, dia culik anaknya gitu!" ucap Doni.
"Jangan ngadi-ngadi,deh. Lu kebanyakan nonton drama, sih.Tapi lu perlu hati-hati loh, Ry." pesan Laila.
"Jadi takut ini, aku. Kalau aku yang di sakiti mah nggak papa. Kalau Rafa atau Mas Adam gimana?" ucap Airy khawatir.
Malam harinya, Airy menceritakan kepada Adam. Ia juga sudah lega karena urusan suaminya sudah selesai. Dan segera menyusulnya ke ibukota.
"Yang sabar, ya. Serahkan semuanya kepada Allah. Tetap waspada, tapi jangan terlalu takut, insyaAllah besok Mas udah ke sana, kok. Berengan sama Papa dan Yusuf sekalian,"
"Aku udah kangen banget. Tidur sendirian itu nggak enak loh, Mas." ucap Airy dengan manja.
"Yang sabar ya, Sayang. Besok kita bertemu, emm peluklah suamimu ini sepuasnya,"
"Nggak perlu hanya peluk, pengen yang lain." goda Airy.
"Boleh, mau berapa kali? Astaghfirullah,"
"Hahaha, sekuat Mas Adam aja, hehehe. Nggak sabar nunggu besok, tau!"
Malam itu, mereka ngobrol sangat lama hingga tertidur. Ada beberapa hal yang mereka bicarakan tentang masa depan. Airy dan Raihan akan kembali ke pesantren setelah urusan mereka di ibukota selesai.
Hari yang di tunggu telah tiba, Adam, Rifky dan Yusuf telah tiba di ibukota. Mereka saling melepas rindu satu sama lain. Banyak yang Raihan ceritakan tentang ketidak nyamanannya mengolah usaha keluarga itu.
Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pihak keluarga setuju dengan usul yang Raihan dan Airy berikan. Perusahaan mereka lepas lagi, dan di berikan kepada keluarga Delia, yang mana menang sejak awal di kelolanya bersama dengan Aisyah.
Seminggu berlalu, ini hari terakhir mereka di ibukota. Keputusan sudah bulat, Airy ingin kembali ke Jogja, tinggal bersama dengan Papa dan adiknya. Sementara Raihan akan kembali ke Jerman bersama dengan Raditya.
__ADS_1
Dalam satu seminggu itu, kedekatan Laila dan Raihan juga semakin baik. Mungkin ada benih-benih rasa di antara mereka, hanya saja mereka gengsi ingin mengungkapkan satu sama lain.
"Jadi, lu mau balik kampung, nih?" tanya Laila.
"Iya, sorry ya. Kamu kalau kau kerja, bisa kok di perusahaan keluargaku," ucap Airy.
"Nggak, Ry. Gue bakal pulang ke rumah Abi gue aja, mungkin juga akan menerima perjodohan itu," ucap Laila murung.
"Maaf banget, ya." sesal Airy.
Di sisi lain, Raihan sudah mempersiapkan tiket penerbangannya ke Jerman. Sementara Raditya akan pulang dulu ke pesantren dan menengok makam orang tuannya.
"Han, apa kamu nggak mau pulang ke Jogja dulu?" tanya Rifky.
"Raihan mau, Pa. Tapi... "
"Semakin lama aku di Indonesia, semakin lama juga aku melupakan perasaan terlarang yang aku rasakan kepada Laila, astaghfirullah hal'adzim." batin Raihan.
"Ada sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan ke Papa, tapi suatu saat nanti pasti Raihan ceritakan, kok." ucap Raihan pasti.
"Bang, nggak mau balik lagi kah? Di Jerman memangnya ada apa sih?" tanya Airy.
"Abang akan sering kasih kabar ke kalian, ya. Abang berangkat dulu, Pa, Yusuf! Assalamu'alaikum!" salam Raihan.
Raihan berangkat terlebih dahulu, Laila yang mulai resah pun menyusulnya. Karena terlalu lama berfikir, akhirnya ia tidak bisa mengejar taksi Raihan. Laila tidak putus asa, ia terus mengejar Raihan sampai ke bandara, dan akhirnya bisa mengejarnya.
"Raihan!" panggil Laila dengan sangat keras.
Mendengar namanya ada yang manggil, Raihan berbalik badan. Mencari-cari di mana orang yang memanggil namanya itu, hingga akhirnya ia melihat Laila yang berlari ke arahnya.
"Laila, Assalamu'alaikum!" salam Raihan.
"Wa'alaikumsalam,"
__ADS_1
"Kamu sampai disini? Ada apa?" tanya Raihan gugup.
"Gue, gue ingin lu tetap di sini!" ungkap Laila.
"Maksudnya?" tanya Raihan.
"Gue suka lu! Gue nggak mau lu pergi keluar ngeri, bisa nggak kalau lu stay di sini?"
Bukan hanya jantung Laila yang berdebar, Raihan pun merasakan hal yang sama. Karena Laila sudah jujur dengan perasaannya, Raihan pun juga ingin jujur juga.
"Laila, kamu sudah di jodohkan, bukan?" tanya Raihan.
"Tapi gue nggak mau, Han! Gue tau, gue nggak pantes buat, lu. Tapi setidaknya, please beri gue kesempatan," ucap Laila.
"Kamu percaya jodoh bakal bertemu, 'kan?" tanya Raihan.
Laila mengangguk,
"Aku tetap harus pergi," jelas Raihan.
"Mungkin, di hadapanmu gue malu menunjukkan rasa suka, gue. Tapi di hadapan Allah, terang-terangan gue meminta agar dijodohkan dengan lu beberapa hari ini. Maafkan, aku, Han." terang Laila.
"Jangan menyerah saat doa-doamu belum dijawab. Jika kamu mampu bersabar, Allah mampu memberikan lebih dari apa yang kamu minta. Tapi sungguh maafkan aku, La. Aku memang harus pergi, jika kita berjodoh, pasti suatu saat kita akan bertemu lagi. Assalamu'alaikum!"
"Apakah, rasa lu untuk gue nggak ada sama sekali, Han?" tanya Laila.
"Ada, tapi tak lebih besar ketika aku mencintai Sang Pencipta-mu." jawaban Raihan buat Laila lemas.
Laila tertunduk sedih, ia tidak menyangka. Jatuh cinta pertamanya akan pergi. Entah sejak mulai kapan ia memiliki perasaan kepada Raihan. Namun, semua itu masih misteri Illahi, tentang sebenarnya siapa jodoh yang telah Allah atur untuk mereka berdua.
Maafkan aku Laila, kamu sudah di jodohkan dengan Abimu. Sedangkan aku belum siap untuk membina rumah tangga, di usiaku yang masih segini, aku masih perlu banyak belajar apa arti kehidupan. Aku juga masih memiliki keinginan yang belum terwujud sampai sekarang. Semoga, Allah memberimu jodoh yang berakhlaq mulia seperti apa yang kau inginkan, Laila.
Ucap Raihan, menyentuh jendela pesawat. Kepergiannya bukan semata ingin menjauhi Laila. Namun, di Jerman, ia masih memiliki janji yang memang tidak bisa ia ingkari, kepada Ayah angkatnya, Michael.
__ADS_1