Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 23


__ADS_3

Penjelasan Adam begitu jelas, bukan hanya sekedar melerai api antara Airy dan Rindi, namun karena Adam benar-benar sudah siap dengan pernikahan itu. Tetapi, Adam ingin semua merahasiakan hal itu sampai waktunya nanti tiba.


Hari pernikahan Ustad Zainal telah tiba, semua santri membantu menghiasi tempat untuk para tamu undangan. Sedangkan beberapa santriwati sedang memasak untuk hidangan para tamu.


Namoak Ustadz Zainal dengan wajah cerah dipagi hari, semua wali santripun juga datang, termasuk orangtua Rindi dan Airy. Airy duduk termenung di bawah pohon belakang pesantren, ia masih memikirkan bagaimana dengan Rindi jika dirinya akan tunangan dengan Adam.


Pagi itu memang sangat cerah, tidak panas juga tidak mendung, hanya sejuk untuk Airy berfikir dan merenung sendirian. Datanglah Rindi menghampiri Airy, ia juga duduk di samping Airy.


"Assallamu'alaikum,"


"Wa'alaikum sallam," Airy membuka matanya, ia terkejut dengan siapa yang telah datang.


"Aku boleh duduk?" tanya Rindi.


Airy bergeser tempat duduk, mempersilahkan Rindi untuk duduk di sampingnya. Rindi pun duduk, ia juga melihat indahnya lagit yang berwarna biru dibawah.


"Masya Allah, indah banget ya langit itu,"Rindi terus memandangi langit, sampai tak terasa air matanya mengalir begitu saja.


"Kamu nangis? Kenapa?" tanya Airy heran.


"Aku sudah mendengar pertunanganmu juga akan dilaksanakan hari ini bukan? Semalam aku mendengar itu dari Mas Adam sendiri " Rindi menahan air matanya, ia berusaha ikhlas dengan semua kenyataan itu.


Semalam.....


Rindi sudah tidak tahan menahan perasaannya lagi, ia berjalan mengelilingi taman pada malam itu, berfikir ingin mengungkapkan lagi perasaannya kepada Adam. Kebetulan, Adam saat itu lewat di taman, ia baru saja pulang dari masjid membawa tas kecilnya.


"Assallamu'alaikum Mas Adam," raut wajah Rindi sangat bahagia bertemu dengan Adam.

__ADS_1


"Wa'alaikum sallam," jawab Adam langsung memalingkan wajahnya.


"Emm, sudah lama kita nggak ketemu seperti ini Mas, apa kamu lupa dengan apa yang kamu katakan saat itu? Kau menghukumku disini, karena kamu menyayangiku kan? Tetapi kenapa sayangmu kau bagi dengan Airy?" Tanya Rindi.


"Sepertinya kamu salah faham Rindi, saya menyayangi semua santri disini, dan sayang itu cuma ssbatas sama muridnya aja, tidak lebih. Dan soal perasaan saya ke Airy, itu memang lain dan besok insyaallah saya akn tunangan dengan dia," Adam berusaha menjelaskan kepada Rindi.


Sejak malam itu, Rindi terus menangis di kamarnya, ia merenungi semuanya. Mungkin memang ia harus berhenti bermimpi mendapatkan Adam, biarpun Rindi sangat membenci Airy, namun dalam hatinya, penilaiannya terhadap Airy tidak seburuk itu.


"Ustad Adam yang bilang?" Tanya Airy.


Rindi hanya menganggukan kepala, lalu tersenyum kepada Airy, mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat kepada Airy.


"Aku minta maaf, jika selama ini aku bersikap seperti itu denganmu, tapi asal kamu tau, saat kamu menawariku persahabatan, hatiku sangat tersentuh Airy. Aku ingin berteman denganmu, tapi aku bingung harus bagaimana," Rindi menangis lagi, Airy memberikan tisu yang ia bawa untuk Rindi.


"Aku melihat ketulusan dimatamu, aku yakin kamu juga mengatakan itu dengan tulus kan? Tetapi apa yang aku perbuat, aku melukai tanganmu, membuatmu harus dirawat dirumah sakit, bahkan aku tidak menengokmu sama sekali, maaf, maafkan aku Airy," Airy masih terdiam mendengar pengakuan dari Rindi.


Plakkkk...


"Astaghfirullah hal'adzim, Om, Tante, jangan kasar gitu dong sama Rindi, apa yang sudah Rindi lakukan sehingga Om dan Tante menamparnya?" Airy tidak mengira kalau kedua orangtua Rindi tega menamparnya dua kali.


"Eh kamu anak kecil jangan ikut-ikutan ya," Kata Ayah Rindi menampar keras pipi mulus Airy hingga memar.


"Abi, Abi jangan Bi, dia teman Rindi," Rindi menangis.


Tiba-tiba Ibu Rindi menarik jilbab Airy dan membisikan sesuatu yang membuat Airy semakin tidak bisa terkendali.


"Ingat ya, kamu tidak boleh membicarakan ini kepada siapapun, buat pertunangan anak Kyai itu batal, dan kamu juga harus buat Rindi menikah dengan anak Kyai itu, awas kamu kalau nggak lakukan," Ancam Ibu Rindi.

__ADS_1


"Ami, jangan Ami, Airy kamu harus pergi, kamu harus pergi!" Teriak Rindi.


Tangan Airy mengepal, ingin rasanya Airy memukuk Ibunya Rindi, namun Airy tidak bisa memukul orangtua, karena bentuk rasa hormat, Airy mencoba meredam amarahnya, kali ini ia akan diam saja.


"Kamu diam disini! Dan kamu anak nggak berguna, kamu harus menikah dengan salah satu anak Kyai itu, dan setelah itu, kamu akan lebih gampang untuk menjual tanang oesantren ini untuk kami, kami akan membuat penginapan disini!" Ketus Ibu Rindi.


"Jadilah anak yang berbakti Rindi, kau sudah kami adopsi, sejak kecil hingga sekarang kebutuhanmu semua kami cukupi, maka ingat! Berbalas budilah kepada kami!" Ayah Rindi berkata dengan nada tinggi.


"Orangtua biadab, kau adopsi dia hanya untuk kepentingan kalian saja ha? Tidakkah kalian lihat dia tertekan? Lihat dia!" Airy menunjukkan wajah Rindi yang benar-benar ketakutan.


"Siapa kamu ikut-ikutan ha? Bosan hidup?" Tanya Ayah Rindi.


"Saya adalah Airy Calista Putri Handika, cucu dari Ustad Ruchan Al Jazeera yang ingin di jodohkan dengan puta kedua Kyai besar, apa udah jelas? Dan saya tidak akan pernah membiarkan kalian mencapai tujuan kalian, dan saya akan menuntut kalian berdua, lalu melepas nama adopsi Rindi, dan orangtua saya yang akan menjadi orangtua asuh Rindi selanjutnya!" Tungkasnya.


Tanpa aba-aba Ayah Rindi memukul pipi Airy, untuk saat ini Airy tidak ingin melawan karena dirinya sudah berjanji kepada Raihan untuk tidak melawan orangtua. lagi-lagi pukulan itu Ayah Rindi arahkan ke perut, tapu semua itu di hadang oleh Rifky, Papa Airy.


"Papa? Opa Sandy? Kakek? Kalian disini?" Airy terkejut karena ketiga laki-laki yang ia sayang datang menyelamatkannya.


"Tidak ada yang boleh memukul putriku," Emosi Rifky menjadi boomerang untuh Ayah Rindi, Rifky memukul perut dan wajah Ayah Rindi sesuai dengan apa yang sudah dilakukan oleh Ayah Rindi.


"Kami membesarkan putri kami dengan penuh kasih sayang, dan anda memukulnya dengan sangat enteng? Heh, kami akan menuntut kalian berdua, Rifky, Ruchan bawa Airy dan temannya masuk," Perintah Sandy.


"Tapi dia Abiku Om, walaupun mereka orangtua angkatku, tapi mereka sudah membesarkanku," Kata Rindi memelas.


Ruchan membawa Rindi masuk dan menasehatinya, Ruchan juga memberi pengertian kepada Rindi. Sedangkan Rifky kembali membawa Airy masuk ke ruang tamu leqat pintu belakang.


Tugas Sandy mengurus orangtua angkat Rindi, biarpun ia sudah berumur tetapi tubuhnya masih bugar jika mengurus hal itu, Sandy membawa orangtua Rindi keluar dari pesantren dan membawanya ke kantor polisi.

__ADS_1


__ADS_2