
Dengan pelukan hangat, Adam juga membisikan, "Sudah, ya. Allah Maha tau segalanya. Pak Hans menyentuhmu, bukan salahmu. Berhenti menangis, kita sambung boboknya, ya."
Airy mengangguk. Tak terasa sudah dua hari mereka di Jepang. Surat yang mereka butuhkan juga sudah selesai. Kini mereka sudah bisa pulang ke Jogja. Selama di Jepang, Akbar dan Fatim memperlakukan Adam dengan sangat baik. Begitulah hidup. Lelaki di sambut dengan sangat baik jika berada di kekuatan pihak istri.
"Alhamdulillah, kita bisa pulang. Nih, jangan lupa obatnya di minum dulu, biar tenggorokannya lega," ucap Adam dengan begitu mesra di hadapan Falih.
"Kalian bisa tahan dulu nggak, sih!?"
"Ini ada aku di sini. Aku masih jomblo dan masih di bawah umur. Kalian jangan mentang-mentang udah nikah, terus jauh dari anak, seenaknya begini. Sakit eh, mataku ternodai!" kesal Falih.
Sementara mereka akan kembali ke Jogja. Di rumah, Rifky baru saja mendapat telfon dari teman lamanya ketika sekolah di Jakarta. Ia baru ingat, kalau dirinya punya janji dengan teman lamanya itu, ingin menjodohkan putra putri mereka ketika sudah dewasa.
"Apa? Papa mau jodohin, Abang? Kenapa?"
"Apakah, Papa udah nggak mau Abang temani?" tanya Raihan, sedikit terkejut.
"Bukan seperti itu, hanya ketemu saja kok. Nggak lebih." ucap Rifky.
__ADS_1
"Mau, ya. Mereka akan datang besok, bukankah adikmu juga akan pulang hari ini? Bagus itu!" imbuhnya.
"Bagus apanya? Aku belum mau menikah, dan Papa sudah mencarikan aku jodoh?" batin Raihan.
Raihan hanya mengangguk, ia sulit untuk menolak apa yang di inginkan Papanya. Karena, kini ia hanya memiliki satu orang tua yang harus ia rawat dengan baik.
Malam itu, Raihan jadi sulit untuk tidur. Ia pun berkeliling ke pesantren dan duduk di bawah pohon yang sangat rindang di sana. Muncul lah Gu yang saat itu, baru pulang dari masjid.
"Assalamu'alaikum, Bang Rai?" salam Gu.
"Wa'alaikumsalam," jawab Raihan.
"Duduk sini," pinta Raihan.
Mungkin Raihan dan Gu belum begitu akrab. Seperti Gu akrab dengan ketiga adik lelakinya yang lain, Falih, Yusuf dan Hamdan. Tapi Raihan adalah kakak tertuanya. Ia ingin mendekatkan diri juga kepadanya.
"Mungkin kita belum begitu akrab. Tapi, kita bisa menjadi teman curhat kok, Bang." ucap Gu memecah keheningan.
__ADS_1
"Aku ingin di jodohkan!" ungkap Raihan.
"MasyaAllah, alhamdulillah dong, Bang. Dengan siapa?" tanya Gu.
"Anak dari teman, Papa." jawab Raihan.
"Lalu?" tanya Gu lagi.
"Sebenarnya, aku belum siap untuk menikah. Apalagi di usia yang semuda ini, aku masih ingin membahagiakan Yusuf, kedua keponakanku dan juga adik-adikku yang lain. Termasuk kamu, Gu." jelas Raihan.
"Aku juga ingin menghabiskan waktuku dengan Papa sampai waktunya nanti aku menikah, tapi aku juga nggak bisa untuk menolak keinginan Papa, itu." sambungnya.
"Apakah keluarga ini, semuanya memang menikah dalam perjodohan? Dan apakah suatu saat nanti aku juga begitu?" tanya Gu.
Raihan pun menjelaskan jika tidak semua dari keluarga itu menikah dengan perjodohan. Yang di jodohkan hanya Leah (uti), Aisyah (Ami), Syakir dengan almarhum Zulaikha dan juga Akbar. Yang lain menikah karena pilihan hatinya masing-masing.
Raihan juga menjelaskan, jika perjodohan itu bukanlah hal yang mengerikan seperti yang di pikirkan anak muda pada umumnya. Karena di perjodohan ini, kita berhak menolak. Allah pun mengharamkan pernikahan yang di dasari paksaan. Kecuali, mereka sama-sama ingin menyempurnakan iman dengan cara perjodohan, dan ikhlas Lillahita'ala.
__ADS_1
"Aku bangga menjadi bagian dari keluarga ini. Waktu aku kecil, Ama dan Appa selalu bertengkar di depanku. Mereka sama sekali tidak memperkenalkan aku dengan Allah, Tuhan dengan agama lain,"
"Bang Rai tau, di Korea banyak yang atheis, terutama Appaku, aku sangat bersyukur ketika Ibu dan Ayah mengangkatku menjadi anak mereka!" ucap Gu dengan meneteskan air mata.