Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 306


__ADS_3

"Tuh laki siapa?" tanya Raditya.


"Hih, kok sewot, sih? dia itu cuma teman, lagian tadi aku nggak dapat-dapat taksi atau angkot, jadi ya mau nggak mau terima tawaran dia. Mayan ngirit ongkos," jawab Aminah tanpa wajah berdosa.


Raditya menghentikan motornya, kemudian berbalik menatap Aminah dengan senyum polosnya. Wajah yang begitu mirip dengan Raihan itu membuatnya kesal, dalam hatinya, "Astaghfirullah, bagaimana mungkin saudara yang tak sekandung bisa semirip ini, bikin kesal saja!"


"Kenapa berhenti? Sebentar lagi aku akan telat, Bang Dit!" Aminah memukul punggung Raditya.


"Kamu tau yang namanya bataan nggak?" tanya Raditya.


"Yass," jawab Aminah.


"Lalu, mengapa kamu tak jaga jarak dengan orang asing?" tanya Raditya.


Aminah melihat raditya, kemudian sedikit mundur. raditya menepuk keningnya sendiri.


"Salahkah?" tanya Aminah.


"Kenapa kamu mundur dan mojok sampai ke begel gitu?" tanya Raditya kembali.

__ADS_1


"Lah, katanya harus tau batasan dengan orang asing. Ya aku mundurlah! Salahkah?" jelas Aminah. "Ya bukan ke aku juga, Aminah!" jawab Raditya.


"Lah,"


"Kan Bang Dit juga orang asing, bagaimana, sih?"


"Nggak gitu konsepnya, Aminah!" seru Raditya. Ia kalah telak, memang dirinya orang asing bagi Aminah.


Daripada debat dengan Aminah yang tak ada habisnya, Raditya memilih untuk mengemudikan motornya. Ternyata, Aminah tidak peka apa yang di maksud Raditya.


Sesampainya di tempat les, Aminah meminta Raditya untuk menunggunya. Sebab, ia tidak akan lama dalam mengikuti les itu. Tentu saja Raditya mengiyakan keinginan Aminah. Di susul lah oleh Akmal yang sejak tadi berada di belakang mereka. Keluarlah sifat Akmal mengecam Raditya untuk menjauhi Aminah.


"Heh, carilah wanita yang seumuran denganmu! Dia masih belasan tahun, masa Om mau embat begitu saja, sih?" kata Akmal dengan menunjuk wajah Raditya.


"Dah sana, sebaiknya cepat masuk! Belajar yang rajin, oke? Abang masih menunggu di sini, babay!" Raditya mendorong lembut Akmal masuk.


"MasyaAllah, bocah zaman sekarang. Ada saja kelakuannya," gumamnya.


Sementara Raditya masih menunggu Aminah selesai les, lain dengan Laila yang saat itu baru menyelesaikan administrasi. Siang itu juga, Raihan sudah di perbolehkan pulang. Selesai melakukan administrasi, Mita tiba-tiba menarik tangan Laila, kemudian membawanya di samping kamar mandi yang saat itu masih sepi.

__ADS_1


"Apaan, sih? Main tarik-menarik saja, deh!" desis Laila. Ia terkejut ketika Mita menariknya.


"Aku mencintai, Hans... emm, Raihan maksudku. Tolong, tolong sekali. Sebagai sesama perempuan, kamu harus mengerti perasaanku," pinta Mita.


Laila tersenyum kecut, Mita memang sudah hilang akal. Bisa-bisanya ia mengatakan semua itu dengan dalih perasaan sesama perempuan. Laila tak habis pikir lagi, semakin hari obsesi Mita kepada suaminya semakin menjadi. Ia khawatir jika suatu saat nanti, Mita akan melakukan hal yang tidak wajar hanya karena ingin menggapai obsesinya itu.


"Mita, lu masih muda. Lu cantik, pendidikan lu bagus, mungkin masa depan lu juga akan cemerlang jika kau raih, dan sebenarnya lu itu orang baik, Mit. Gue tahu itu, tapi please, jangan bilang semua ini karena kita sesama perempuan dan harus saling mengerti. Ini masalah hidup rumah tangga orang lain, Mit!" tegas Laila.


"Gue istrinya, istri dari lelaki yang lu cintai itu. Lu bisa nggak sih, ngotak sedikit sebelum bicara. Lu bilang, lu cinta sama, Bang Rai. Gue sakit denger itu, Mit! Hati gue sakit, sumpah,"


"Suami gue di cintai, di dambakan oleh wanita lain. Lu nggak tau seberapa insecure-nya gue, ketika lu punya segudang keuggulan yang nggak bisa di bandingkan dengan gue yang remahan ini. Tapi gua juga berhak mencintainya, mempertahankan posisi gue sebagai istrinya. Sekarang gue balik omongan lu, lepaskan dia... demi perasaan kita sesama perempuan," lanjutnya.


"Nggak!" bentak Mita.


"Raihan hanya aku yang boleh memiliki, kamu yang seharusnya mundur. Aku mencintainya sejak lama, kita pernah dekat dulu, hanya karena kesalah pahaman waktu Jerman, dia menjadi membenciku. Dan aku ingin menebus kesalahan itu sekarang. Aku mohon Laila, aku memintanya dengan tulus kepadamu, berikan dia kepadaku," ucap Mita dengan berderai air mata.


"Kamu sakit!" desis Laila kemudian pergi.


Mita masih saja berteriak jika dirinya mencintai Raihan. Tapi, Laila sama sekali tidak menolehnya, bahkan mempercepat jalannya, agar bisa segera membawa Raihan pulang ke rumah.

__ADS_1


"Banyak sekali wanita yang menginginkanmu, Bang. Semuanya juga memiliki keunggulan yang melebihiku, tapi kenapa kau memilihku sebagai pendamping hidupmu? Apakah, hanya karena perjodohan itu? Atau memang kau benar-benar mencintaiku?"


Laila hanya merasa, dirinya masih banyak kekurangan. Ia merasa tak layak jika di sandingkan dengan Raihan yang begitu istimewa bagi siapapun. Bukan hanya istimewa di keluarganya, Raihan juga sangat istimewa di sekolah, di pesantren dan juga di luar negri sana. Sambil mengelus perutnya, Laila berharap jika tidak ada orang yang tersakiti lagi dengan perjodohan mereka.


__ADS_2