
"Ayahku masuk rumah sakit, aku tidak bisa mengikuti kelas hari ini. Bisakah kau membantuku?"
Tulis Raihan, mengirim pesan kepada ketika sahabatnya. Mita pikir, pesan itu hanya ditujukan kepadanya. Ia sangat girang, karena merasa menjadi orang penting bagi Raihan. Sampai di rumah sakit,
"Itu dia Hansel, ayo nak! Ayahmu ingin bicara." ucap Ibu Rose dengan penuh air mata.
"Iya, Ayah. Apa yang terjadi denganmu? Aku akan panggil Dokter jika kau sakit," Raihan beranjak dari sebelah Ayahnya, Michael.
"Jangan! Aku ingin kau ada disini. Kau putraku kan? Aku berharap banyak kepadamu, apakah kau mau mengabulkan keinginanku?" ucap Michael dengan nafas tidak teratur.
"Katakan! Apa yang Ayah inginkan?" Raihan panik.
"Jagalah adikmu saat aku sudah tiada, Hansel. Terima kasih kau sudah mau menjadi putraku, sejak dulu aku memang menginginkan seorang putra. Jaga Pearl untukku ya..." kata-kata terakhir dari Michael.
__ADS_1
Michael menghembuskan nafas terakhirnya hari itu juga. Diduga, terkena serangan jantung saat bekerja. Michael dan Rose baru menikah selama dua tahun, kemudian Pearl adalah anak adopsi mereka yang baru di adopsi satu tahun ini. Pearl berusia 5 tahun saat ini.
Dua hari berlalu, setelah kepergian Michael, Rose tak pernah pulang sejak pergi dua hari lalu, tepat saat kematian Michael. Raihan semakin bingung, karena ia harus belajar sekaligus merawat Pearl yang masih balita.
"Raihan, bagaimana ini? Ibumu gak pernah pulang, dan kau harus mengurus balita, bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Raditya.
"Bismillahirrohmannirrohim. Allahummaj’al yaumana haza yauman mubarokan awwalahu sholahan wa ausathuhu falahan wa akhirohu najahan wa ‘afwan wa ‘itqon minan nari waj’alillahumma lana fihi ya allahu min kulli hammin farajan wa min kulli dhiqin makhrojan wa min kulli fahisyatin sitron wa min kulli ‘usrin yusron wa min kulli bala-in ‘afiyatan wakfina ya allahu min muhimmatid daroin washrif ‘anna syarrol manzilatain waghfir lana wa liwalidina wa lisa-iril muslimin." Ucap Raihan.
"Allah Maha tau, gimana kalau Pearl kita bawa pulang ke Jogja. Nenek, Kakek mu kan gemar tuh mengadopsi anak. Kita minta aja tante mu yang pengacara itu mengurusnya." Usul Raditya.
"Nanti coba aku bicarakan dengan Papaku, aku juga butuh saran dari orang tua angkat kalian." Ucap Raihan.
"Agar semua bisa gamblang, kasihan juga jika masa depan Pearl harus... Iya kan?" Tungkasnya.
__ADS_1
"Aku bangga deh, punya teman seperti mu, Han. Baik, dewasa, pengertian, dan punya hati yang besar pula." Ucap Mita tersipu.
"Alhamdulillah, jika aku seperti itu. Ya sudah, ayo antar Pearl ke rumahmu Mit, Ibumu ada kan? Sementara aku titipkan ke mereka dulu, kita harus berangkat ini." Ajak Raihan.
Setelah mengantar adiknya, Raihan dan teman-temannya segera berangkat ke kampus. Di sela-sela waktu, Raihan menghubungi Clara untuk mengatasi masalahnya yang rumit itu. Karena Rose, si ibu angkatnya tidak pernah pulang sampai sekarang.
"Makan siang suku yuk, ke kantin." Ucap Cilo.
"Cil, kamu tau kan? Kenapa kita nggak pernah makan di kantin? Kami nggak tau, makanan di dana halal atau tidak bagi kami. Kalau kamu mau ke kantin nggak papa, aku dan Raihan akan langsung pulang saja." Sahut Raditya.
"Oh iya, kalian kan orang muslim. Yo wis, ayo Mit, aku laper banget e," ajak Cilo.
Mita memberi kode kepada Cilo, kalau dirinya ingin ikut pulang dengan Raihan dan Raditya. Cilo menyipitkan matanya, tak ada rasa tidak senang, ia justru malah bahagia melihat Mita jatuh cinta kepada Raihan.
__ADS_1
"Yo wis lah, Hati-hati pulangnya, aku ak mau ari cewek dulu, bye!" Ucap Cilo pergi.