Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 295


__ADS_3

Di ruang tamu, Adam dan Raditya membicarakan tentang pesanan yang Raditya bawa dari kampungan. Ada jenis benih yang memang akan di tanam di perkebunan milik Airy nantinya. Sedangkan di ruang tengah, Yusuf dan Falih sedang bermain game. Jangan tanyakan Hamdan di mana, ia sedang menerima hukuman dari si Ibu, karena memfitnah Kakaknya, Gu.


"Hahaha, kasihan si Hamdan, pasti di jewer noh sama Ibunya," ucap Falih.


"Astaghfirullah hal'adzim, jangan gitu. 'Kan kamu juga ambil peran dari kesalahan Hamdan. Besok kau harus minta maaf sama Ibu Ceasy," tegur Yusuf.


"Iyo, sih. Besok tak ke rumah Uti," ucap Falih.


"Alhamdulillah, ke pesantren yuk. Setor surah,"


Mereka berdua pamit ke pesantren untuk setor surah kepada Ustad di di sana. Meski hujan deras, tetap tidak menjadi penghalang bagi mereka. Jika tidak, mereka akan terkena hukuman lagi.


-_-_-_-_-


Sementara itu, hujan deras di rumah Raihan membuatnya semakin dekat dengan Laila. Mereka sedang buat camilan, canda tawa mereka semakin leluasa. Tak ada lagi kecanggungan dan saling tak enak hati.


"Itu tangan kenapa nggitar gitu?" tanya Laila, melihat Raihan terus saja menggaruk pinggangnya.


"Nggak tau, gatel gini. Coba deh lihatin ada apanya," jawab Raihan menyibakkan kaos oblongnya.


Ketika di cek oleh Laila, ternyata di kaos Raihan ada ulat bulunya. Segera Laila meminta sang suami untuk melepaskan pakaiannya, kemudian menaburkan penyedap rasa di bagian kulit Raihan yang gatal. (Emak kalian pasti juga dulu begini, 'kan? dan ditiru sama kalian, kalau di kampung mah gitu)


"Duduk aja, ya. Lagian ini sudah mau mateng, sebentar aku ambilin kaosnya dulu," ucap Laila.


"Jangan kemana-mana, oke? Aku segera kembali," pintanya.


Teringat masa kecil Raihan, ketika dirinya terkena ulat bulu, Aisyah juga menaburinya dengan penyedap rasa. Ia pun tersenyum, bersyukur, istrinya juga memiliki kepedulian yang sama seperti Ami-nya. Teringat, jika dirinya tak lagi anak kecil seperti dulu.

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa, Laila membantu Raihan memakaikan kaosnya. Allah pun menakdirkan mereka agar semakin dekat, dengan menyambarkan petir-Nya ke pohon, kemudian pohon itu tumbang mengenai kabel listrik, sehingga menyebabkan listriknya padam.


"Yah, mati listrik. Nggak jadi nyamil-nyamil dong kita," sesal Laila.


"Lengan satunya belum masuk. Tolong, dong!" ujar Raihan.


"Lilin menyala, sesajen (gorengan) sudah tersedia, gih Abang keliling," ucap Laila memberikan selimut berwarna hitam kepada Raihan.


"Emangnya mirip, ya?" tanya Raihan.


"Hampir," jawab Laila dengan menahan tawa.


"Jahat, kalau Abang keliling, ketangkap dan terluka bagaimana?" Raihan masih saja menanggapi.


"Nggak papa, muka Abang berubah aja, InsyaAllah Laila masih bisa terima dengan lapang dada," lawak Laila.


"Cie bahas menerima apa adanya...," Goda Raihan.


"Kamu sama Airy lagi usaha apa, sih?" tanya Raihan.


"Oh, itu. Perkebunan sama peternakan. Tapi peternakan Ikan Lele hahaha, lumayan prospek di kampung ini," jawab Laila.


"Airy sudah hamil lagi, Bang Rai nggak nyuruh aku cepat hamil juga, 'kan?" tanya Laila menghadap Raihan.


"Nggak lah, semua itu rezeki. Allah yang mengatur, kita nikmati aja dulu masa-masa berdua seperti ini. Biar kita tahu satu sama lain," ucap Raihan dengan nada yang lembut.


"T-tapi, Bang.... Seandainya keluarga kamu nuntut aku harus punya anak sekarang, bagaimana?" lanjut Laila.

__ADS_1


"Kebanyakan nonton sinetron kamu. Keluargaku mana ada yang begitu, dah lah kita bahas yang lain," tukas Raihan mengakhiri pembicaraan seputar anak.


"Terus apa, dong? Belum ngantuk, mati listrik, hujan deras begini, nggak asik banget...," rengek Laila.


Mereka mulai membicarakan fakta kisah cinta mereka tiga tahun lalu. Di mana mereka tetap masih saling menyimpan rasa, namun malu untuk mengutarakannya. Bukan hanya malu, lebih tepatnya, kekecewaan dalam hati mereka yang menutupi rasa cinta itu.


"Aku mau tanya sesuatu, dong!" seru Raihan.


"Boleh, tapi jangan tanya yang aneh-aneh, oke?" Laila memperingati Raihan lebih dulu.


"Iya, iya...."


"Dulu, waktu di Bandara, kenapa kamu nggak nangis saat aku pergi?" tanya Raihan.


"Siapa, bilang? Aku nangis kejer tau, eh aku baru kali itu, jatuh cinta sama lelaki yang berbeda dari biasanya, terus belum melekatkan hati kita berdua, udah di tinggal aja ke Jerman. Sakit tau, berasa nggak di hargai akutuh!" ungkap Laila.


"Mana, di sana kabarnya deket sama wanita lain lagi. Iya, 'kan? Namanya Mita, ahhh aku kesal kalau ingat itu!" imbuhnya.


"Dari mana kau tau tentang, Mita?" tanya Raihan mencubit hidung Laila.


"Tau lah, apa sih yang nggak ku ketahui. Setiap pagi ketemu, bahkan ke sana ke mari kalian habiskan waktu berdua, hish kesalnya." ujar Laila.


"Hey, nisanak. Ralat! Setiap pagi memang ketemu, tapi kalau menghabiskan waktu berdua, itu kulakukan dengan Radit tau!" jelas Raihan.


"Dusta!" ucap Laila.


"Waw, aku terkejut. Tak percaya ya sudah, besok kalau Mita kembali, aku akan berdua bersamanya," goda Raihan.

__ADS_1


"Tutukno! " kata Laila dengan mulut yang bisa di kuncir.


Kecemburuan Laila membuat Raihan ingin menertawakannya, tapi masalahnya, Mita sudah lepas dari penjara. Mengingat semua kisah dari keluarga dengan adanya orang ketiga, Raihan mengkhawatirkan hal itu.


__ADS_2